Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Jalur Padat Menuju Cikeas

Written By Syafrein Effendiuz on 10/15/04 | Friday, October 15, 2004


TIDAK sudi menjadi presiden yang loyo, Jenderal (purnawirawan) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kini rajin menggembleng diri. Tiap pagi selepas subuh, ia sudah bersimbah keringat, setelah hampir satu jam pria 55 tahun ini beraksi di atas treadmill dan sadel sepeda statis di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor. Sejenak ia istirahat, lalu tensi darah dan denyut nadinya diperiksa dokter. ''Kesehatannya prima, staminanya fit dan terjaga,'' kata dr. Robert. P. Hutabarat, dokter pribadi SBY.

Kebugaran tubuh menjadi kebutuhan mendasar belakangan ini. Sebagai presiden terpilih, setiap hari seabrek kesibukan siap menanti. Senin lalu, misalnya, SBY sudah kedatangan Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang, pukul 08.00. Disusul oleh Muhammad Jusuf Kalla (MJK), wakil presiden, 45 menit kemudian. Tak lama, Laksamana (purnawirawan) Widodo AS, bekas Panglima TNI, juga nongol. Pembicaraan empat tokoh itu --kini banyak yang menyebutnya Tim Empat-- baru berakhir pukul 11.00.

Susilo tak sempat beristirahat, karena Purnomo Yusgiantoro, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada kabinet Megawati, sudah datang. Mereka agaknya bicara panjang lebar, hampir dua jam. SBY meminta keterangan dan data seputar masalah bahan bakar minyak. Beres dengan Purnomo, ia menggelar rapat dengan 11 tenaga ahli muda dan profesional, Andi Mallarangeng dan kawan-kawan, yang selama ini dekat dengannya. Pertemuan berlangsung hingga sore hari.

Kesibukan SBY lebih berjibun lagi, sejak Jumat ini. Hari di mana SBY mulai memanggil orang-orang yang bakal jadi pembantunya di kabinet. Setumpuk daftar usulan calon menteri sudah masuk ke mejanya. ''Tingginya kalau diukur sudah segini saya,'' kata lelaki tinggi besar ini seraya menunjuk dadanya. Pengirimnya beragam, ada yang dari partai politik, kelompok-kelompok profesi, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Tentunya, tak semua usulan itu bisa diterima. Hanya 34 orang yang bakal terpilih, sesuai dengan jumlah kursi menteri yang disiapkan untuk kabinetnya. Untuk mendapatkan orang-orang pilihan itu, SBY akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan langsung. ''Apakah para calon menteri itu layak dalam hal integrasinya, kemampuan, loyalitas, dan apakah mereka disukai pasar,'' ujar SBY.

Dijadwalkan, proses seleksi sudah rampung menjelang pelantikan presiden, 20 Oktober mendatang. Sehingga, sore harinya bisa menyusulkan pelantikan para menteri. Selama menanti hari-H, identitas para menteri ini disembunyikan. Sampai-sampai tempat pemanggilan para kandidat pun disembunyikan. Bisa di Cikeas, bisa pula di tempat lain. Andi Mallarangeng, juru bicara sementara, memberi gambaran, kabinet bakal diisi oleh 40% orang-orang dari partai politik, dan sisanya dari kalangan profesional.

Siapa saja menteri pilihan SBY itu? Tak mudah memastikannya. Tapi setidaknya bisa ditelusuri dari jalur-jalur yang dilewati para kandidat itu sebelum menuju Cikeas. Setidaknya ada empat jalur yang bisa dilalui para kandidat itu sebelum menuju Cikeas. Yakni: partai politik penyokong pasangan SBY-MJK, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan jalur profesi. Di luar itu, ada juga yang memanfaatkan saluran para kiai yang dikenal punya akses ke SBY, dan ada pula yang berjuang sendiri-sendiri.

Geliat penggodokan calon menteri, misalnya, tampak di Partai Demokrat, yang mendorong SBY ke kontes calon presiden. Partai ini telah mengirim daftar "jago"-nya dalam tiga "kloter". Kloter pertama berisi sembilan nama. Kemudian disusul gerbong kedua berisi 21 nama. ''Kloter ketiga menyusul,'' kata Subur Budhisantoso. Padahal, menurut Andi Mallarangeng, masing-masing partai pendukung paling hanya kebagian dua kursi.

Menurut Budhi, sebenarnya calon menteri yang resmi dari kantong Partai Demokrat adalah yang di kloter pertama. Tapi, karena banyaknya keinginan dari pengurus partai yang masuk kabinet dan mengisi jabatan instansi pemerintah serta badan usaha milik negara, Budhi terpaksa meloloskan dua kloter susulan. Itu pun diluluskan oleh gurus besar Jurusan Antropologi Universitas Indonesia ini dengan ngedumel. "Karepmu, tulisen kabeh (Terserah kamu, tulis saja semua)!'' Budhi mengulangi ucapannya kepada orang-orang Partai Demokrat.

Sayangnya, Budhi enggan menyebut nama-nama yang masuk dalam gerbong pertama. Namun ia tak menampik bahwa Irzan Tanjung dan sekretaris jenderal partai, E.E. Mangindaan, masuk dalam daftar. Kabarnya, Irzan diplot untuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Industri, sedangkan E.E. Mangindaan sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Tentu, untuk memperolehnya, mereka harus bersaing dengan kandidat yang masuk dari jalur lain. Sementara Budhi sendiri disebut-sebut bakal mengisi kursi Menteri Sosial atau Menteri Kebudayaan.

Penyokong SBY lainnya, Partai Bulan Bintang, juga sudah menyodorkan sejumlah nama. Namun, kabarnya, yang paling kuat terpilih hanya dua orang. Peluang Yusril Ihza Mahendra sepertinya tak terbendung. Selain posisinya sebagai ketua umum partai, guru besar hukum tata negara Universitas Indonesia ini termasuk orang yang selalu dimintai pendapat oleh SBY. Posisi Sekretaris Kabinet atau Menteri Koordinator Hukum dan Politik Keamanan konon menantinya. Satu lagi calon menteri dari kantong Partai Bulan Bintang adalah M.S. Kaban.

Yang adem-ayem justru Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), partai gurem yang sejak awal telah menjagokan SBY. Semula tersebutlah nama Tato Pratamanggala, Wakil Ketua Umum PKPI, untuk masuk kabinet. Belakangan, kader lain, Muthia Hatta, ikut meramaikan bursa kabinet. Selain menjadi wakil partai, putri sulung proklamator Mohammad Hatta ini sekaligus mewakili tokoh kaum perempuan. Menanggapi peluangnya ini, kepada Elmy Diah Larasati dari Gatra, Muthia hanya berujar, ''Maaf, saya belum mau bicara tentang itu.''

Bursa menteri diramaikan juga oleh partai politik yang belakang mengalihkan dukungannya kepada SBY, yakni Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari PAN, menurut Yasin Kara, Wakil Sekjen PAN, muncul nama Hatta Radjasa dan Bambang Sudibyo. Keduanya sudah disodorkan secara lisan ketika SBY menemui Amien Rais, Ketua Umum PAN, di Yogyakarta.

Namun, baik Hatta maupun Bambang masih bungkam soal pencalonannya itu. ''Saya malah belum tahu,'' kata Bambang, ekonom senior Universitas Gadjah Mada yang juga Menteri Keuangan era pemerintahan Gus Dur itu. Sedangkan Hatta, Menristek Kabinet Gotong Royong, menanggapinya secara diplomatis. ''Saya siap menerima apa pun keputusan partai, namun lebih ingin berkonsentrasi di Senayan,'' kata anggota DPR dari PAN itu.

Dari kubu PKS, kandidat menterinya digodok oleh Lembaga Tinggi Partai, yang terdiri dari Ketua Majelis Syuro, Ketua Majelis Pertimbangan Partai, Ketua Dewan Syariah, sekjen, dan bendahara umum. Lantas, menurut Rahmat Abdullah, Ketua Majelis Syuro, lembaga ini telah memberi mandat kepada tim beranggota empat orang untuk bernegosiasi dengan pihak SBY. Menurut Hidayat Nur Wahid, kini Ketua MPR, SBY pernah mengatakan akan melibatkan kader PKS dalam kabinet. ''Insya Allah, Pak SBY tidak melupakan janjinya,'' katanya.

Siapa saja anggota tim itu dan siapa pula kandidat menterinya? Semua petinggi partai tutup mulut. ''Takut salah nanti saya,'' kata Tifatul Sembiring, penjabat Presiden PKS yang sementara waktu menggantikan Hidayat Nur Wahid, kepada Alfian dari Gatra. Namun, di luaran, beredar nama-nama Fuad Bawazier, Irwan Prayitno, Edi Suparno, Soeripto, dan Anis Matta, kader PKS yang siap masuk jajaran kabinet.

Perebutan kursi kabinet juga seru di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai yang last minute berbelot dari Koalisi Kebangsaan, "rival" kubu SBY. Bachtiar Chamsyah, Menteri Sosial kabinet Mega, yang semula peluangnya "aman", tiba-tiba tereliminasi. Kabarnya, rival Hamzah Haz dalam perebutan Ketua Umum PPP lalu itu tersingkir setelah Hamzah bertemu SBY, Selasa malam lalu.

Kabarnya, dalam pertemuan di rumah Hamzah di Bogor itu, Hamzah langsung menyodorkan empat nama, yakni Ali Marwan Hanan, Surya Dharma Ali, Zarkasih Noor, dan Endin Soefihara. Sementara itu, dari kalangan profesional, Hamzah mengusulkan nama La Ode Kamaloeddin, orang dekatnya Hamzah yang selama ini aktif di kantor wakil presiden.

Namun munculnya nama-nama tersebut dibantah Ahmad Farial, salah satu Ketua PPP, yang menemani Hamzah. Nama-nama itu baru muncul belakangan, setelah Dewan Pimpinan Pusat PPP melakukan musyawarah pada Rabu siang. Hasilnya tak bergeser dari empat nama yang sudah disebut di atas. Ali menjadi calon kuat dari unsur unsur Parmusi, setelah pentolan Parmusi lainnya, Bachtiar, gugur. Sedangkan tiga nama lainnya mewakili unsur Nahdlatul Ulama (NU).

Kalau Ali tanpa saingan, tampaknya rebutan kursi bakal seru terjadi di antara kader PPP dari unsur NU. Maklumlah, PPP belum tentu mendapat jatah empat kursi. Tapi, menurut sumber Gatra di PPP, tampaknya Surya Dharma lebih berpeluang untuk maju. "Yang lainnya pelengkap penderita saja," ujarnya sembari tersenyum kecil.

Peluang besar yang dimiliki Surya ini lebih karena "restu" Hamzah. Maklum, masuknya Surya ke kabinet tentu akan membuat satu kursi PPP kosong di parlemen. Nah, kursi kosong inilah yang nantinya memudahkan Agus Haz, putra Hamzah, masuk di parlemen menggantikan Surya.

Namun "skenario" ini bisa saja tak mulus. Walau sama-sama dari satu daerah pemilihan Jakarta I, Agus hanya bercokol di nomor urut tiga. Sedangkan PPP hanya meraup satu kursi di DPR dari daerah pemilihan ini. Sementara itu, di bawah Surya masih ada Lena Mariana Mukti. Tentunya Lena berpeluang menggantikan Surya. Selain nomor urutnya lebih "jadi", ia juga punya posisi penting di partai, yakni fungsionaris dewan pimpinan pusat.

Jalan lain yang bisa dilalui calon menteri untuk dipanggil SBY ke Cikeas adalah lewat NU dan Muhammadiyah. Kedua organisasi Islam besar ini telah dijanjikan kursi menteri jauh-jauh hari, ketika SBY bicara dalam seminar Badan Musyawarah Antargereja di Surabaya, 24 Agustus lalu. NU akan mendapat pos Menteri Agama, sedangkan Muhammadiyah kebagian Menteri Pendidikan Nasional.

Seakan ingin memenuhi janjinya, SBY menemui Syafi'i Ma'arif, Ketua Umum PP Muhammadiyah, di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu dua pekan lalu. Namun, menurut Syafi'i, pembicaraan itu masih menyangkut hal-hal umum. Belum sampai pada nama-nama calon menteri. ''Jika diminta, saya akan siapkan (kader) yang terbaik,'' kata guru besar ilmu sejarah Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Namun Abdul Mu'ti, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, menuturkan, dari informasi yang beredar, pihaknya mendapat jatah dua posisi menteri. Selain pos Menteri Pendidikan Nasional yang sudah lama didengung-dengungkan, juga posisi Menteri Kesehatan. Untuk mengisi kedua jatah ini, Muhammadiyah sudah menimang-nimang kader unggulannya.

Moeslim Abdurrahman, Ketua Lembaga Pengembangan Buruh, Tani, dan Nelayan, berbagi peluang dengan Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah, Zamroni, dan Sofyan Effendy, Rektor Universitas Gadjah Mada, untuk jadi Menteri Pendidikan. Sedangkan untuk calon Menteri Kesehatan hanya muncul nama Soedibyo Markus, Ketua Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat PP Muhammadiyah yang juga konsultan di United Nation Development Program. "Siapa yang akan ditunjuk, tergantung Pak SBY dan Pak Syafi'i," ujar Mu'ti.

Dari arah yang lain, ada calon menteri dari jalur NU, sekaligus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), seperti dilansir Forum Langitan. H. Fathorrasjid, juru bicara forum itu, menyebutkan lima nama yang diusung ke Puri Cikeas. Mereka adalah Alwi Shihab, Saifullah Yusuf, Mahfud MD, Salahudin Wahid, dan KH Yusuf Muhammad. Dari nama-nama itu, hanya Saifullah Yusuf yang kabarnya sudah dielus SBY untuk jadi Menteri Kepemudaan.

Adapun untuk posisi Menteri Agama, tampaknya Salahudin Wahid, adik kandung Gus Dur, berpeluang besar. ''Gus Solah (sapaan akrab Salahudin) adalah kader NU yang cukup kapabel,'' ujar KH Anwar Iskandar, Ketua Dewan Syuro PKB Jawa Timur, tentang cawapres pasangan Wiranto ini kepada Arif Sujatmiko dari Gatra. Kabarnya, Gus Solah hanya mendapat saingan dari Maftuh Basuni, kader NU yang kini menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi.

Di luar jalur itu, masih ada jalur profesional yang diajangkan untuk mengisi pos menteri bidang ekonomi dan hukum. Misalnya Setyanto P. Santosa, bekas Direktur Utama PT Telkom, yang disebut-sebut bakal mengisi Menteri BUMN. Selama musim kampanye, bekas Deputi Bidang Industri Menneg BUMN ini masuk geng "Lembang Sembilan", tim sukses MJK.

Setumpuk daftar inilah yang menanti panggilan SBY. Dengan sisa waktu yang kurang sepekan dari jadwal pelantikan presiden, wajar kalau SBY harus ekstra keras menyortir mereka. Dibutuhkan kondisi fit agar tak salah pilih.

Hidayat Gunadi, Luqman Hakim Arifin, dan Hatim Ilwan
[Laporan Utama, Gatra Nomor 49 beredar Jumat 15 Oktober 2004]
Friday, October 15, 2004 | 0 comments

Akhirnya hatiku milikmu jua...

Written By Syafrein Effendiuz on 10/13/04 | Wednesday, October 13, 2004

Oleh Zulkifli Md Ali dan Manzaidi Mohd Amin


BEGITULAH seni kata lagu `Kalau Jodoh Tidak Ke mana', nyanyian Allahyarham Seniman Agung Tan Sri P Ramlee dan Saloma dalam filem Anak Bapak. Lagu itu dijadikan muzik latar oleh pelakon M Rajoli bersama isteri keduanya, Wan Chik Othman, 64, untuk memeriahkan majlis perkahwinan ibu beliau, Khadijah Udin, 74, dengan bekas suami kedua, Kamarudin Mohammad, 72.



Seni kata lagu itu menyimpan 1,001 makna kepada pasangan berkenaan kerana selepas bercerai 47 tahun, mereka akhirnya ditemukan jodoh untuk bersatu semula dalam ikatan perkahwinan.

"Aku terima nikahnya Khadijah Udin, dengan mas kahwinnya sebanyak RM2,000," ucap Kamarudin ketika melafazkan akad nikahnya di depan imam Masjid Wakaf Bharu, Tumpat, Abdullah Daud, tepat jam 9.15 malam pada 4 Oktober lalu.

BIDUK lalu kiambang bertaut. Selepas 47 tahun bercerai dengan cara dan haluan masing-masing, mereka kembali sebagai pasangan suami isteri.
- Gambar oleh Syamsi Suhaimi

Majlis akad nikah yang penuh bermakna bagi pasangan pengantin baru itu disaksikan Rajoli iaitu anak sulung Khadijah hasil perkahwinan pertamanya dengan Allahyarham Mohd Zin Abdul Latif.

Ibarat `sirih pulang ke gagang', bapa kepada lapan anak, hasil perkongsian hidup dengan 52 isteri, dua daripadanya berasal dari Bangkok dan Wilayah Songkhla, Selatan Thailand itu tidak menduga sama sekali akan kembali ke pangkuan bekas isteri pertamanya, ibu tunggal anak tiga.

“Ini satu keajaiban. Walaupun bertemu dan berpisah perkara lumrah, namun berkahwin semula dengan isteri pertama setelah 47 tahun berpisah memang luar biasa. Mungkin kisah saya ini boleh jadi rekod dunia,” kata Kamaruddin yang berharap pengakuannya tidak menjejaskan keharmonian anak dan cucunya terutama yang tinggal di sekitar Lembah Klang.

Beliau ada menyerahkan surat cerai kepada Khadijah yang ketika itu hamil lapan bulan dan sempat memberitahu bahawa “kalau ada jodoh semula, kita tak ke mana. Satu hari kita pasti bertemu jua.

"Bagaimanapun, perceraian itu tidak sah kerana selain isteri hamil, saya menyebut nama isteri sebagai Khadijah Wan Ali, bukan Khadijah Udin. Saya sendiri tidak tahu kenapa boleh terkeluar nama Wan Ali iaitu nama datuk Khadijah," katanya ketika ditemui di rumah abang Khadijah, Othman di Kota Kubang Labu, Pasir Pekan, Kelantan untuk satu majlis keraian.

Ketika ditanya mengenai jumlah isteri yang dinikahi selepas bercerai dengan Khadijah, Kamarudin secara berseloroh berkata: "Mana nak ingat... kalau rujuk dalam komputer mungkin ada."

Saudara terdekat yang kebetulan berada di sisinya ketika pertemuan dengan Berita Minggu itu, mencelah sambil berkata: "Bukan 48 (isteri) ke? Kamarudin yang ketika itu termangu seketika terus menjawab: "Oh ye... 52 orang, tapi saya tidak ingat semua namanya."

Perkahwinan beliau dengan Khadijah dikurniakan anak tunggal, Rohana, manakala perkahwinan dengan isteri kedua bernama Maimunah berasal dari Bangkok dikurniakan seorang anak iaitu Norizan.

Anaknya daripada isteri lain iaitu Rahmah dikurniakan Faridah dan Faizal; dengan Maimun memperoleh Shahrul dan Shahril; Roslan (Fatimah); Jefri dan Norafiza daripada ibu berbangsa Inggeris.

Bagaimanapun, Kamarudin tidak dapat mengingati nama ibu Jefri dan Norafiza kerana mungkin keliru berikutan ramai wanita yang dinikahinya.

Kisah hidup pasangan Kamarudin dan Khadijah cukup unik kerana selepas bercerai, mereka masing-masing melalui kehidupan tersendiri apabila Khadijah melayari hidup berkahwin kali ketiga dengan Mohd Zin Ahmad, manakala Kamarudin berkahwin dan bercerai dengan 52 orang isteri dalam tempoh 47 tahun perceraian mereka.

"Niat saya ikhlas, saya tidak main-main. Saya juga tidak bersetuju memadukan isteri. Perkahwinan ini memang cukup menggembirakan terutamanya Rohana.

"Kenyataan Rohana bahawa saya sentiasa terkenangkan ibunya (Khadijah) selama ini memang benar kerana walaupun saya berkahwin dengan ramai wanita, hati, kasih dan cinta saya tetap pada yang satu, Khadijah," katanya.

Menjawab soalan perbandingan ketika usia 70-an, ramai yang semakin uzur dan ada yang meninggal dunia, Kamarudin menjawab: "Itu sebabnya saya rasa Tuhan panjangkan umur saya supaya dapat bertaubat, meninggalkan perkara tidak elok dan dapat kembali hidup bersama meneruskan kehidupan dengan dia (Khadijah)."

Mengenai petua berkahwin ramai, Kamarudin berkata, beliau tidak mengamalkan apa-apa petua untuk memikat hingga berjaya dinikahi wanita yang diminati. “Saya juga tidak menggalakkan lelaki lain buat seperti saya,” tambahnya.

Katanya, apabila berminat dengan seseorang khususnya yang berdahi licin, beliau akan terus bertanya kepada wanita berkaitan sambil menyatakan keinginan untuk bernikah.

"Dan jika dipersetujui... hari sama, esok atau lusa, saya akan bernikah," katanya.

Kamarudin adalah abang kepada beberapa tokoh korporat dan pensyarah universiti, antaranya Datuk Zulkifli Mohamad, bekas suami Seniwati Sarimah dan Tan Sri Rahim Mohamad.

Difahamkan, seorang lagi adik Kamarudin berkahwin dengan anak Primadona, Maria Menado.

Bagi Khadijah, beliau menerima Kamarudin kerana memikirkan hidup bersendirian berikutan lapan anak hasil perkongsian hidup dengan tiga suami, sudah berumah tangga dan masing-masing mempunyai pekerjaan.

Anak Khadijah ialah Rajoli, Muhaini dan Mohd Fauzi dengan suami bernama Mohd Zin Abdul Latif; Rohana (Kamarudin); Maizun, Abdul Rahim, Zalina dan Mohd Khairi (Mohd Zin Ahmad).

"Selepas Mohd Zin (Ahmad) meninggal dunia, tinggal saya seorang diri di rumah tanpa jagaan. Saya hendak bekerja (kembali kepada kerja lama – tukang jahit) anak tidak benarkan. Saya bosan tinggal seorang diri dan nekad mahu berkahwin lagi jika ada orang sudi.

"Walaupun usia sudah lanjut, saya menganggap perkahwinan ini bukan untuk keseronokan tetapi saya memerlukan teman hidup untuk menjaga saya yang hendak menghabiskan sisa-sisa usia dengan beribadat," katanya.

Ditanya kenapa beliau menerima semula Kamarudin sedangkan bekas suaminya itu pernah meninggalkannya, Khadijah berkata, beliau menerimanya kerana tahu bekas suaminya itu sudah insaf dengan perbuatannya yang lampau, lebih lagi semua anak restu.

Pada 1957 beliau berkahwin dengan Kamarudin, tetapi perkahwinan itu tidak kekal kerana ketika hamil lapan bulan (mengandungkan Rohana) Kamarudin meninggalkannya seperti gantung tidak bertali.

"Selepas digantung tidak bertali dan bersalin, saya menerima surat cerai kali kedua daripada Kamarudin. Kali ini lafaz itu sah. Dia menceraikan saya kerana minat kepada gadis lain.

"Saya tahu Kamarudin seorang yang playboy. Tambahan pula ini perkahwinan pertama beliau dan yang kedua bagi saya selepas kematian suami pertama, Mohd Zin (Abdul Latif)," katanya.

Beliau menetapkan beberapa syarat mudah kepada Kamarudin jika mahu kembali, antaranya meninggalkan perangai buruk lamanya dan menyayangi semua anaknya termasuk daripada suami lain.

"Ini kerana sepanjang hayat suami ketiganya, Rohana sentiasa bersikap penyayang kepadanya (Mohd Zin Ahmad) dan saya mahu Kamarudin turut menyayangi mereka sebagai membalas kasih sayang yang Rohana berikan kepada bapa dan adik beradik tirinya," katanya.

Hasil perkongsian hidup antara Kamarudin dengan semua isterinya termasuk Khadijah bersama tiga suami, mereka dikurniakan 16 anak, 50 cucu dan 26 cicit.(http://websekolah.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Perspektif/20041008151303/Article/)
Wednesday, October 13, 2004 | 0 comments

Kamarudin mohon maaf

Oleh Zulkifli Md Ali


KOTA BHARU: Kamarudin Mohammad (gambar), 72, lelaki yang bernikah kali ke-53 pada 3 Oktober lalu, memohon maaf kepada semua bekas isterinya atas segala kesilapan yang dilakukannya.



Hasrat itu disampaikan Kamarudin kepada menantu tirinya, Wan Chik Othman, 64, pada majlis tahlil arwah dan meraikan beliau bersama isterinya, Khadijah Udin, 74, di rumah anak tunggal pasangan itu, Rohana, di Bangi, Selangor, malam kelmarin.

Wan Chik yang juga isteri pelakon, M Rajoli, 59, serta bekas pembaca berita Radio dan Televisyen Malaysia (RTM), berkata bapa mentuanya sedar mengenai kesilapan lalu dan mahu membuang segala perangai buruknya.

Beliau berkata, Kamarudin berhasrat menghabiskan sisa hidupnya dengan beramal dan hidup dalam aman damai.

"Sepanjang berada di Lembah Klang sejak beberapa hari lalu, ramai saudara maranya berkunjung ke rumah Rohana, 47, untuk berkenalan dan bertanya khabar.

"Pasangan itu juga diraikan dalam majlis khas yang dibuat di tempat lain, termasuk hotel dan dipelawa bermalam di rumah anak-anaknya," katanya ketika dihubungi di Kuala Lumpur, semalam.

Majlis tahlil arwah itu diadakan selepas solat Isyak, Sabtu lalu yang dihadiri kira-kira 70 ahli keluarga dan berakhir kira-kira jam 12 tengah malam.

Selain Rohana, empat lagi anak Kamarudin - Faridah, Faizal, Shahrul dan Nor Afiza, turut hadir bersama keluarga masing-masing, manakala tiga anaknya yang lain, Norizan, Roslan dan Shahril, tidak dapat hadir kerana tinggal di luar Lembah Klang dan mempunyai tugas. Seorang lagi anaknya, Jefri sudah meninggal dunia.

Semua lima anaknya yang hadir juga berpeluang meluahkan perasaan khususnya terhadap Kamarudin dan ia berjalan dalam suasana harmoni serta saling bermaaf-maafan.

Akhbar ini pada 5 Oktober lalu, melaporkan Kamarudin dan Khadijah diijabkabulkan sekali lagi selepas 47 tahun berpisah di Masjid Wakaf Bharu dekat sini.

Wan Chik berkata, sebelum lima anak Kamarudin bertemu dengan bapanya kelmarin, Rohana dengan sifat keprihatinannya sudah berusaha mengesan serta menemukan adik beradiknya sejak hampir 10 tahun lalu.

Beliau berkata, tidak timbul soal Rohana tidak mengenali adiknya kerana ia dibuat lebih awal, cuma pertemuan dengan Kamarudin yang belum dilaksanakan.

Bagaimanapun, katanya, anak dan seluruh saudara mara bersyukur kerana mereka ditemukan semula dengan Kamarudin.

"Tambah pula, Kamarudin bukan tidak langsung menjenguk mereka, cuma jarang sekali dan tempoh bertemu pula terlalu pendek," katanya.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Monday/Mukadepan/20041011055407/Article/)
Wednesday, October 13, 2004 | 0 comments

BIDUK lalu kiambang bertaut. Selepas 47 tahun bercerai dengan cara dan haluan masing-masing, mereka kembali sebagai pasangan suami isteri.
- Gambar oleh Syamsi Suhaimi
Wednesday, October 13, 2004 | 0 comments

‘Mustahil anak saya kahwin sesama sendiri’

Written By Syafrein Effendiuz on 10/12/04 | Tuesday, October 12, 2004

Oleh Masrina Mohd Yunos



KAMARUDIN bersama dua anaknya Rohana (kanan) dan
Faridah Hanim. - Gambar oleh Hasan Ismail

BANGI: Kamarudin Mohamad, yang kini berbulan madu selepas perkahwinan ke-53, percaya tindakannya kerap berkahwin cerai tidak menimbulkan masalah kepada keluarga, apa lagi kemungkinan ada antara anak cucunya nanti bernikah sesama sendiri.



“Mustahil ada antara anak saya bernikah sesama sendiri kerana jumlah mereka tidak ramai, hanya lapan orang. Hubungan rapat antara mereka menghalang perkara seumpama itu daripada berlaku,” katanya ketika ditemui di sini semalam.

Kamarudin, 72, yang berkahwin kali ke-53 dengan bekas isteri pertamanya, Khadijah Udin, 74, di Kota Bharu, Sabtu lalu berada di sini menziarahi rumah anak-anaknya di sekitar ibu kota untuk merapatkan kembali hubungan kekeluargaan.

Satu majlis perjumpaan keluarga diadakan hari ini di rumah anak sulungnya, Rohana, 47, di Bandar Baru Bangi bagi membolehkan sanak saudara mengenali satu sama lain serta menjelaskan segala salah faham yang berlaku sebelum ini.

Beliau menolak dakwaan anak keduanya, Norizan, 46, kelmarin yang kesal kerana tindakan bapanya itu menyebabkan dia tidak mengenali dan mengetahui jumlah sebenar adik-beradiknya.

Anak keduanya itu berkata, tindakan Kamarudin yang terlalu kerap berkahwin cerai menyebabkan pelbagai masalah, termasuk kemungkinan ada antara saudaranya nanti bernikah sesama sendiri kerana tidak mengenali antara satu sama lain.

Norizan ialah anak tunggal Kamarudin, dengan bekas isteri keduanya, Maimunah Othman, berasal dari Thailand. Beliau dibesarkan oleh isteri ketiga bapanya, Noriah Kasim, 60-an, sebelum ibu tirinya itu turut diceraikan.

Kamarudin berkata, walaupun beliau tidak membesarkan semua anaknya, pertalian darah membolehkan hubungan kekeluargaan sedia ada terjalin erat, malah semua anaknya sudah mengenali antara satu sama lain sejak dulu lagi.

“Saya mempunyai sembilan anak daripada 52 perkahwinan. Anak keenam sudah meninggal dunia. Jadi adalah mustahil saya tidak mengenali semua anak saya itu kerana bilangan mereka bukannya ramai.

“Malah, Norizan pernah tinggal bersama saya di Taman Seapark selama setahun ketika dia bekerja di Hospital Assunta kira-kira 20 tahun lalu. Saya tidak pernah mengabaikan dia dan masih menjalankan tanggungjawab sebagai bapa dengan menjadi wali ketika pernikahannya dulu,” katanya.

Kamarudin berkata, Norizan mungkin rasa tersisih kerana tinggal jauh di Kedah berbanding adik-beradik yang lain di mana lima daripada anaknya menetap di Kuala Lumpur dan seorang di Kuantan.

“Cucu saya pun tak ramai hanya 19 orang. Jadi mustahil sama sekali keturunan kami akan bernikah sesama sendiri yang ternyata melanggar hukum Islam.

“Bagaimanapun, untuk memastikan ia tidak berlaku saya akan membuat penyelidikan berhubung salasilah keturunan keluarga kami,” katanya yang akan pulang ke Kelantan Isnin ini untuk memulakan hidup baru bersama Khadijah.

Sementara itu, Rohana berkata, hubungan kekeluargaan antara adik-beradik tiri dan saudara lain sememangnya erat sejak dulu lagi.

Katanya, walaupun ada yang tidak pernah dibela dan dibesarkan oleh Kamarudin, mereka tidak pernah membenci atau meleraikan hubungan kekeluargaan sedia ada.

“Hubungan kami adik-beradik mula mesra dan erat sejak 10 tahun lalu atas inisiatif saya mencari dan menghubungi adik-adik lain kerana percaya air yang dicincang tidak akan putus.

“Kami tidak pernah membenci bapa atau adik beradik lain malah sentiasa berusaha membaiki hubungan dan memaafkan kerana setiap manusia pasti pernah melakukan kesilapan,” katanya sambil menambah, Norizan juga dijangka hadir dalam perjumpaan keluarga hari ini.

Anak keempat Kamarudin, Faridah Hanim, 35, berkata memang ketika zaman remajanya, dia pernah mempersoalkan tindakan bapanya yang berkahwin ramai.

“Mungkin jodoh tidak panjang atau tiada keserasian antara faktor penyebab bapa berkahwin banyak kali tapi saya tidak pernah marah. Selepas melihat kejayaan adik beradik lain, saya percaya ada hikmah di sebalik semua ini,” katanya.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Saturday/Mukadepan/20041009091432/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Reuters.com - Man, 72, Marries for the 53rd Time - Wed October 06, 2004 09:16 AM ET

Reuters News Article
dompas (fendi96@hotmail.com) has sent you this article.
 Man, 72, Marries for the 53rd Time
Wed October 06, 2004 09:16 AM ET

KUALA LUMPUR (Reuters) - A 72-year-old Malaysian man married this week for the 53rd time and insisted he was no playboy despite some marriages lasting just days.

Kamarudin Mohamad's latest betrothal was also his first. He remarried his first "ex-wife" Sunday after divorcing her in 1958. She is now 74.

In between, he married 51 other women, including an Englishwoman and two Thais.

"I am not a playboy. I just love seeing beautiful women," the New Straits Times quoted Kamarudin, who hails from northern Kelantan state, as telling the paper.

He said all his previous marriages ended in divorce, except his last wife who died of cancer.

"My shortest marriage lasted for two days several years ago and the longest was with my last wife, a Thai woman from Songkhla, with whom I was married for 20 years."

Kamarudin is a Muslim and his religion allows him to have as many as four wives at a time. Traditionally, divorce can be accomplished simply by the husband announcing it to his wife.


This service is not intended to encourage spam. The details provided by your colleague have been used for the sole purpose of facilitating this email communication and have not been retained by Reuters. Your personal details have not been added to any database or mailing list.

If you would like to receive news articles delivered to your email address, please subscribe at www.reuters.com.


© Copyright Reuters 2004. All rights reserved. Any copying, re-publication or re-distribution of Reuters content or of any content used on this site, including by framing or similar means, is expressly prohibited without prior written consent of Reuters.

Quotes and other data are provided for your personal information only, and are not intended for trading purposes. Reuters, the members of its Group and its data providers shall not be liable for any errors or delays in the quotes or other data, or for any actions taken in reliance thereon.

© Reuters 2004. All rights reserved. Republication or redistribution of Reuters content, including by caching, framing or similar means, is expressly prohibited without the prior written consent of Reuters. Reuters and the Reuters sphere logo are registered trademarks and trademarks of the Reuters group of companies around the world.

Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Bicara: Timbang rasa bukan kelemahan Melayu

MASYARAKAT Melayu memegang dan mengamalkan nilai budaya tersendiri yang membentuk jati dirinya. Sejak wujudnya ketamadunan Melayu, nilai ini mendarah daging dalam pelbagai urusan pentadbiran dan kehidupan. Apakah nilai sebenar yang dipegang masyarakat Melayu dan bagaimana ia berjaya menaikkan martabat Melayu serta mampukah ia terus dipegang bagi menjadikan Melayu bangsa yang terus berdaulat dan bermaruah.



Wartawan Berita Minggu, AZRAN JAFFAR menemui Profesor di Jabatan Antropologi dan Sosiologi, Fakulti Sastera dan Sains Sosial, Universiti Malaya, Profesor Datuk Dr Zainal Kling (gambar) untuk membincangkan perkara ini.

BOLEH Profesor terangkan mengenai kegemilangan masyarakat Melayu dan ketinggian martabat mereka sehinggakan Hang Tuah juga pernah berkata, ‘takkan Melayu hilang di dunia’?

Dalam memperkatakan sejarah ketamadunan Melayu, ada bukti bahawa sejak zaman awal, bangsa Melayu sudah menubuhkan negara yang dalam sejarah dikenali sebagai Sriwijaya... bukan sekadar masyarakat berpindah randah atau masyarakat kecil-kecilan.

Batu Bersurat Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno pada 680 Masihi adalah buktinya yang amat kuat. Kerana itu kita dapati kependudukan di keseluruhan kepulauan di Asia Tenggara dikenali sebagai Alam Melayu. Ini membezakan wilayah ini dari katakan... wilayah India, China atau Arab.

Kenegaraan ini berkembang sehingga kurun ke-11 dan ia sentiasa mempunyai pertentangan dengan satu lagi pusat ketamadunan iaitu Majapahit yang wujud sekitar abad ke-10 hingga ke-15. Apabila Sriwijaya runtuh kuasanya diganti oleh Majapahit, tetapi Sriwijaya mewariskan kenegaraan itu ke Melaka.

Melaka juga mempunyai hubungan yang tegang dengan Majapahit dan menjadi pusat runtuhnya Majapahit, melalui kedatangan Islam.

Ini memberikan kita asas yang kuat tentang kehadiran orang Melayu di Alam Melayu yang memberikan jati diri alam ini atas nama Melayu dan yang penting, keupayaan tamadun Alam Melayu membina sistem ekonomi dan perdagangan antarabangsa serta menjadi pusat persinggahan orang dari Timur dan Barat. Alam Melayu menguasai jalan rempah.

Dengan itu kita dapat katakan dari kurun ke-7 hingga ke-15 adalah satu sejarah Melayu yang tidak berkeputusan, yang memberi jati diri, sistem kerajaan Melayu dan sistem ekonomi kepada Melayu. Ia adalah asas kepada segala tamadun, kebudayaan dan sistem kemasyarakatan yang bernama Melayu.

Bagaimana pula Profesor melihat nilai masyarakat Melayu dulu apa lagi dengan kehadiran pendatang Cina dan India?

Orang Melayu membina tamadun sendiri bermula dengan sistem animisme, yang ditandai dengan sistem kepawangan serta memahami semua benda di alam ini mempunyai semangat.

Dari masyarakat sebegini, orang Melayu didatangi sistem Hindu-Buddha dan membentuk kerajaan misalnya, Palembang, Jambi. Pada kurun ke-12, kedatangan saudagar Arab membentuk kerajaan Islam pertama iaitu di Pasai yang kemudiannya mempunyai hubungan dengan Melaka dan membina tamadun Islam yang besar di seluruh Alam Melayu.

Kerana itu kita dapati nilai orang, masyarakat dan tamadun Melayu berkait rapat dengan pengaruh agama-agama ini. Yang paling terkenal di kalangan orang Melayu tentang nilai ialah yang dikatakan sebagai budi. Ia dalam tiga bentuk iaitu budi bahasa, budi pekerti dan budi bicara. Ini bermakna, ada satu gagasan kelakuan, kehalusan penggunaan bahasa dan kehalusan perhubungan sesama manusia yang menggunakan akal fikiran dan pertimbangan yang dikatakan sebagai bertimbang rasa.

Timbang rasa bukan perkara yang senang. Ia adalah perbuatan yang amat sensitif kepada perasaan orang, mengambil kira kepentingan orang sambil memikirkan kita tidak menjadi punca masalah orang yang mana dalam istilah umumnya adalah ultruism. Orang Melayu amat ultruistic sifatnya kerana sentiasa mempertimbangkan kepentingan, perasaan dan pemikiran orang lain, sebelum membuat keputusan sendiri. Dia sentiasa bertanya apa kata orang, apa pandangan orang, apa jadi pada orang. Sifat ini adalah nilai yang paling asasi dalam kebudayaan dan masyarakat Melayu. Ia bukan berkait rapat dengan rasional tetapi dengan perasaan orang.

Kita lebih mempertimbangkan perkara yang affective daripada yang rasional atau akliah (akal). Tetapi aspek akal ini kemudiannya timbul dalam masyarakat Melayu hasil hubungannya dengan Islam. Jadi akhirnya kita menggunakan konsep akal tentang pertimbangan yang rasional, berdasarkan pemikiran, tidak lagi perasaan. Akal menjadi konsep kepada pemikiran yang rasional, berasaskan pertimbangan hukum dan suatu yang patut dan wajib dari sudut hukum syarak.

Jadi Profesor melihat bahawa nilai akal memantapkan lagi bangsa Melayu?

Kedua-duanya sekali sebenarnya yang kita gunakan dalam kehidupan moden. Ada bahagian yang kita gunakan pertimbangan rasa dan ada bahagian yang kita gunakan pertimbangan akal. Misalnya dalam perhubungan manusia kita lebih banyak menggunakan pertimbangan rasa tetapi dalam hal lebih besar kita banyak menggunakan akal... berdasarkan hukum. Ini berlaku kerana kita sudah mempunyai sikap kenegaraan, kita tidak dapat lagi menggunakan rasa dalam bidang lebih besar seperti jenayah, ekonomi atau politik, tetapi terpaksa menggunakan akal. Kadang-kadang kita mempunyai rasa yang lebih dan kadang-kadang akal yang lebih.

Bagaimana pula Prof melihat nilai rasa ini. Mungkin kerana kita terlalu bertimbang rasa menyebabkan ada yang mengambil kesempatan?

Ini mungkin kerana perbezaan nilai antara kita dengan orang lain. Kita yang sentiasa mempunyai pertimbangan yang lebih halus, tajam, lebih runcing terhadap orang lain...memikirkan halnya... kita beri peluang dia hidup di sini, kesempatan berniaga, berkuasa... pada kita itu wajar, kerana mereka adalah sebahagian kenegaraan kita. Tetapi orang lain, barangkali yang sentiasa bersifat rasional, yang tidak terlalu mempertimbang rasa, maka mereka menganggap barangkali satu kelemahan yang boleh diambil kesempatan.

Menggunakannya sebagai kelemahan orang Melayu, padahal bagi orang Melayu ia bukan kelemahan tetapi sesuatu yang wajar... sebagai manusia. Rasa menjadikan kita kadang-kadang serba salah, tolak ansur dan inilah yang menjadikan kita selalunya membuat keputusan yang tidak tepat. Melayu itu menjadi ragu yang membuatkannya mengambil keputusan yang berbeza-beza dalam keadaan tertentu.

Bagaimana pula kita dapat jadikan nilai bertimbang rasa sebagai satu nilai yang memberi keyakinan kepada kita?

Ia boleh, dengan syarat kita mesti memahamkannya kepada orang lain. Kita terpaksa menyebut kepada mereka bahawa... saya membuat pertimbangan-pertimbangan yang amat sensitif kerana saya fikir orang harus mesti berhubungan atas perasaan saling memahami. Tetapi kalau orang tak faham payah kita nak buat sebegitu. Dalam hubungan antarabangsa misalnya, kita bagi orang air dengan harga yang murah, tetapi dia hentam kita balik.

Orang tidak faham pertimbangan kita, betapa sensitifnya kita terhadap orang. Orang Melayu walaupun ada akalnya yang berfikir tentang undang-undang dan sebagainya tetapi kita lebih menggunakan rasa. Orang mungkin kurang faham dan tidak wajar bersikap begitu. Kita harap orang fahamlah dan kita dapat menjadikannya sebagai asas hubungan antara bangsa.

Mungkinkah juga kerana perasaan yang mempertimbangkan rasa ini menyebabkan Melaka akhirnya jatuh ke tangan Portugis dan negeri-negeri di Utara membayar ufti kepada Siam, juga masalah lain?

Ada kemungkinan. Dalam zaman moden apabila Tun Dr Mahathir Mohamad menggunakan prinsip memperkayakan jiran kita, itu juga berdasarkan nilai ini. Barangkali Dr Mahathir lebih berhati-hati dan tidak terlampau memberi segala-galanya kepada orang, tetapi orang tak beri balik... tak berlaku. Pada zaman dahulu kala tidak... kita beri pulau Singapura kepada Inggeris selagi ada bulan dan bintang. Ini adalah timbang rasa yang sebegitu... kita sering kali dipergunakan. Tetapi perasaan kita baik, tetap ikhlas. Sebab itulah barangkali menyebabkan kita terpaksa menyerahkan banyak perkara... negara, air, misalnya, kepada orang.

Adakah kerana kita terlalu bertimbang rasa, orang mengambil kesempatan terhadap kita akhirnya nilai itu menyebabkan kita menjadi bangsa yang lemah, rendah martabatnya?

Di satu pihak kita mungkin menjadi mangsa kepada ketamadunan orang, tetapi di satu pihak kita selamat daripadanya. Dalam sejarah kita dapati, selepas kejatuhan Melaka, yang berkuasa di Selat Melaka ialah kuasa Portugis, selama lebih 120 tahun. Selepas Portugis pada 1640-an, orang Belanda datang dan berkuasa di Selat Melaka dan keseluruhan pulau yang dinamakan Indonesia. Tetapi Raja-Raja Melayu yang sangat lemah pada masa itu seperti Johor, Jambi, Siak dan Acheh walaupun menyerang Belanda, tidak dapat mengalahkan, namun dalam percaturan politik orang Melayu dengan kuasa besar ini mereka juga menggunakan pertimbangan nilai rasa ini.

Misalannya, sewaktu Raja Johor memohon membantu Sultan Jambi apabila diserang Palembang yang mana Belanda kata tidak boleh, tetapi kita kata tak boleh tak apa nanti kita runding kembali. Ini adalah taktik yang mana apabila menghadapi sesuatu masalah kita berlembut, kita ikut... selama-lamanya kita begitu. Di satu pihak kita mungkin kalah, tetapi di satu pihak kita tak hapus. Orang tidak menghapuskan kerana sifat lemah lembut kita.

Sekarang Alam Melayu dipisahkan oleh garisan politik yang mana masing-masing ada negaranya sendiri. Mungkinkah kerana sikap timbang rasa itu menjadikan kita tak kisah, seperti apa yang berlaku misalnya dalam kes Pulau Pisang, Pulau Batu Putih serta Pulau Sipadan dan Ligitan?

Secara tradisi kita terlampau terbiasa dengan negara tanpa sempadan yang tegas. Contoh Perak, ia tiada sempadan sebelum kedatangan British. Merekalah yang menetapkan bahawa sempadannya di Sabak Bernam atau Melaka sempadannya di Sungai Linggi. Sebelum ini tiada. Kerana terbiasa, mungkin kita memandang ringan, kecuali apabila bertembung dengan orang yang membuat tuntutan kita mula mencari perundangan berkaitan dengannya. Kita faham berkenaan dengan itu, barangkali selama ini ia bukan masalah, kita tak mahu ia menjadi masalah. Ini juga satu nilai Melayu yang mana dia menyerah sampai akhirnya dia terdesak, dia mengamuk, latah... mati pun tak apa... apa yang diistilahkan, menang jadi arang, kalah jadi abu.

Mungkinkah kerana itu kita jadi bangsa yang kurang berdaya saing?

Ia ada, tetapi kita tidak menjadikan persaingan itu sebagai nilai penting. Kita jadikan kerjasama sebagai nilai penting. Apabila orang itu mula bersaing kita katakan orang itu jahat, kasar, tidak beradat sebab dia mula mendesak dan minta itu ini, tetapi tidak mahu kerjasama. Pada dasarnya kita sukakan kerjasama. Berunding, cari kesatuan pemikiran.

Begitulah juga yang kita lakukan dengan negara jiran dan negara dunia lain. Persaingan ini adalah nilai Barat seperti Amerika dengan desakannya dan nilai ekonomi Barat selama-lamanya persaingan. Kerana itu barangkali, inilah keadaannya kita tidak boleh maju dengan segera kerana kita lebih suka bekerjasama. Kita lebih suka ada jawatankuasa untuk menggembeling tenaga, bekerjasama melakukan sesuatu, daripada aku seorang buat, kau seorang buat. Kita tak suka orang perintah-perintah, kita lebih suka minta tolong.

Datuk Malik Mydin dan Datuk Azhar Mansor dikatakan dua Melayu yang mempunyai daya saing yang tinggi. Apakah pandangan Datuk? Sudahkah wujud satu masyarakat Melayu yang bermartabat dan mempunyai daya saing tinggi dan mampu menandingi bangsa-bangsa lain?

Saya ingat kita kita sudah mula menerima konsep ekonomi bebas. Ekonomi bebas yang datang dari Eropah, konsep mereka adalah sistem pemikiran yang lengkap. Ini bermakna, seseorang individu boleh buat apa saja, berniaga apa saja tanpa halangan. Dalam politik dikatakan demokrasi, yang mana individu boleh memilih siapa saja. Dalam perundangan dikatakan hak asasi yang mana seseorang itu mempunyai hak untuk mencari kebahagiaan berdasarkan keinginannya. Dari segi agama pun ia tidak mengaitkannya dengan kenegaraan, ekonomi kerana kata mereka, ia hak peribadi.

Masalahnya ialah, kita menerima ekonomi bebas, demokrasi, hak asasi manusia yang indivualistik ini, tetapi dalam fikiran kita ia bukan satu sistem pemikiran. Jadi kita tidak faham asas tamadun Eropah yang memikirkan ia sistem pemikiran dan kehidupan yang memasukkan agama sebagai satu elemen saja berbanding kita yang menganggap agama sebagai sistem yang menyeluruh. Kerana itu kita menerima ekonomi bebas itu dengan nilai persaingannya dan kita mula bersaing.

Bagaimanapun, pada pandangan saya, orang Melayu, kalau orang itu terlampau ekonomik, terlampau bersaing, mendesak dia tak suka. Anak kita misalnya, kalau dia hendak bersaing dengan adik beradiknya, hendak bersaing dengan bapanya, kita belum suka lagi... belum gemar lagi nilai itu. Bagaimanapun sudah mula... anak muda yang dididik di luar negara sudah mula berpegang kepada nilai ini... saya pun boleh buat, saya juga boleh bersaing. Ini adalah pengaruh kehidupan mereka di luar yang sudah menyerap nilai ini. Ini akan menyebabkan berlaku sedikit sebanyak konflik dalam masyarakat kita dan dalam diri kita. Sedikit sebanyak kita akan serba salah... betul ke buat begini? Dalam institusi keluarga pula, akan mula menunjukkan konflik dengan anak yang mula menunjukkan sifat kompetitif yang dulu kita anggap kasar, sedangkan kita belum menerima nilai ini lagi. Jadi kita kata anak kita kurang ajar, tetapi dari sudutnya dia betul, kerana dia hendak bersaing.

Kita ada nilai budi dan bertimbang rasa. Bagaimana pula Profesor melihat, dengan adanya nilai persaingan ini dan nilai tambahan lain, dapatkah kita mengubah minda Melayu dan akan dapat lahir satu bangsa Melayu yang bermartabat?

Pada pandangan saya, kita sedang dalam proses peralihan. Kita sudah mula menerima nilai Barat yang bersaing, yang suka mendesak dan pada satu aspek kita meninggalkan nilai-nilai tradisional. Kita sudah tidak sentiasa berbudi bahasa lagi. Masalah yang timbul adalah orang tua melihat ia tidak betul. Ini masalah kita, pertembungan antara nilai luar dengan kita yang mahu mengekalkan jati diri Melayu - berbudi, beradat, beradab, bermoral. Kita berhadapan dengan satu suasana yang bermasalah dinamakan ambivalence.

Dalam keadaan ini sama ada kita mahu menjadi seperti Barat yang kompetitif, terbuka ataupun kita berbudi bahasa, jadi baik, kata-katanya berpilih, kelakuan masih halus. Kita perlu membuat keputusan yang tetap. Masyarakat juga tidak membuat keputusan yang mantap, sama ada kita langsung ingin jadi moden sebegitu atau mengekalkan yang tradisional atau menggabungkan. Dalam banyak hal kita cuba menggabungkan, bermakna kita mentafsir kembali nilai tradisional dalam konteks moden.

Kita bercakap pula soal subsidi yang mana ia banyak dikaitkan dengan martabat Melayu walaupun ia adalah pertimbangan untuk membantu sesama sendiri. Bagaimanapun, ada aliran yang mula berkata bahawa sudah sampai masanya kita hentikan semua ini manakala ada sekolah pemikiran lain pula mengatakan itu hak kita dan apa-apa yang kita makan itu adalah hak kita. Bagaimana Datuk melihat perkara ini?

Saya juga berpandangan dengan pemikiran kedua itu. Beginilah, pada satu pihak kita dikatakan orang yang masih lemah dan kerana itu memerlukan bantuan, malangnya kita terlampau simplistik. Kita bercakap soal subsidi seolah semuanya percuma. Sekurang-kurangnya 60 peratus bangsa Melayu adalah di luar bandar dengan kemudahan yang minimum. Kadang-kadang kita lupa mereka yang di kampung tidak mempunyai kemudahan persekolahan, perubatan yang terbaik. Dengan lain perkataan, kita memerlukan ini kerana kita masih lagi tidak menikmati kemudahan seperti di bandar.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Rencana/20041010024753/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Taipei 101 menara tertinggi dunia

TAIPEI: Pencakar langit Taiwan di Taipei, dimahkotakan sebagai bangunan tertinggi di dunia oleh se kumpulan jurubina sedunia, mengatasi Menara Berkembar Petronas di Kuala Lumpur.

Struktur setinggi 508 meter itu yang ada sesetengah pihak menggambarkannya sebagai batang buluh daripada kaca dan besi gergasi, mendapat pengiktirafan Majlis Bangunan Tinggi dan Habitat Bandar.

Ia adalah sebuah pertubuhan bukan untuk mencari keuntungan yang terbabit dalam merancang, mereka serta membina pencakar langit.

Sebelum majlis pengiktirafan itu, Presiden Taiwan, Chen Shui-bian memberitahu pengerusi kumpulan itu, Ron Klemencic, mengenai peri pentingnya bangunan berkenaan kepada rakyat pulau berkenaan.

“Taipei 101 memiliki rekod bangunan tertinggi di dunia. Ia bukan saja mengiktiraf industri jurubina Taiwan, tetapi menjadi kebanggaan 23 juta rakyat Taiwan,” katanya.

Pencakar langit itu adalah 57 meter lebih tinggi daripada Menara Berkembar Petronas. Taipei 101 juga memegang tiga rekod kerana mempunyai struktur di puncak tertinggi, bumbung tertinggi dan lantai berpenghuni tertinggi.

Bangunan itu akan dijadikan ruang pejabat yang masih belum dibuka. Di paras bawah bangunan itu turut menempatkan kompleks beli-belah. – AP (http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Saturday/Dunia/20041008222408/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Iyeth Bustami dan Eka Sapta Hidup Terpisah?

Kapanlagi.com - Usia pernikahan Eka Sapta dan Iyeth Bustami memang terbilang singkat. Mereka melangsungkan pernikahan Siri pada bulan Januari silam, kemudian meresmikannya di KUA Denpasar Barat, Bali pada tanggal 6 April lalu. Keduanya dilaksanakan secara diam-diam. Kini buah pernikahan dari mereka berdua, Iyeth tengah mengandung 8 bulan, akan tetapi ada kabar kini mereka hidup terpisah.
Iyeth dan Eka sama-sama memilih tinggal di rumah orang tuanya masing-masing. Iyeth di Riau, sementara Eka di Jakarta. Mengenai hal tersebut Eka mengatakan bahwa memang sekarang ini Iyeth tinggal di Bengkalis. Kebetulan sekali Iyeth sangat menyukai masakan kakaknya, sehingga sangat sulit jika dia tinggal di Jakarta untuk dapat mendapatkan makanan khas Riau buatan kakaknya tersebut.

Oleh sebab itu, Eka pun mengijinkan Iyeth untuk tinggal disana sementara waktu dan Ia yang rela untuk mondar-mandir dari Jakarta ke Riau. Pisah rumah yang mereka jalani sejak konferensi pers mengenai pengakuan pernikahan mereka ternyata berbuntut kabar tak sedap. Konon banyak yang menganggap bahwa pernikahan tersebut hanyalah rekayasa belaka.

Tentang hal tersebut, Eka pun mengatakan bahwa jika ada orang yang bilang seperti itu, Ia tidak tahu orang tersebut dosanya seperti apa. Sebab Ia telah menganggu ketenangan kehidupan keluarganya. Dan yang kedua adalah orang tersebut sudah membuat fitnah terhadap keluarganya. (ind/erl)

Berita terkait:

13-04-2004 Iyeth Bustami : Optimis Albumnya Bakal Meledak
17-05-2004 Iyeth Bustami Digugat
01-06-2004 Iyeth Bustami Telah Mengaku
07-06-2004 Iyeth Bustami Bermasalah dengan Istri Mantan Suaminya
28-07-2004 Perseteruan Iyeth Bustami dan Tita Rizky Makin Runcing
29-07-2004 Eka Sapta Membantah Menikahi Iyeth Bustami
09-08-2004 Iyeth Bustami Buka Mulut Tentang Ayah Bayinya
09-09-2004 Iyeth Bustami dan Nurham Yahya Belum Temukan Titik Terang
12-10-2004 Iyeth Bustami dan Eka Sapta Hidup Terpisah?

Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Wanita dan Seks: Bimbang persetubuhan tidak berjaya

Bersama Dr Mohd Ismail Tambi


SOALAN: SAYA mengalami masalah persetubuhan dengan isteri kerana dia terasa sakit setiap kali melakukan seks. Ada kalanya kami gunakan bahan pelicin tetapi dia beritahu saya yang dia mahukan lakukan dengan cara yang biasa.



Saya terasa bahawa air mani saya keluar dari alat kemaluannya selepas saya mengalami kemuncak kerana kami gunakan alat pelicin. Saya takut persetubuhan itu tidak berjaya jika air mani saya selalu mengalir keluar dan saya ingin tahu cara melakukan seks yang betul-betul merangsangkan isteri dan akan menghasilkan kelembapan pada kemaluannya.

GOMANESH, Klang, Selangor

JAWAPAN: SUAMI isteri perlu bekerjasama bagi memastikan hubungan kelamin yang dilakukan lebih memberangsangkan.

Dalam keadaan ghairah, sudah tentu pasangan berhajatkan hubungan kelamin dan jika isteri sudah bersedia, dia akan memposisikan kedudukannya, dia akan menyalurkan zakar ke arah pembukaan faraj dan memasukkannya ke dalam faraj sambil melegakan pembukaan alat sulitnya (dengan melegakan otot kemutan seperti mahu membuang air kecil atau besar.

Justeru, perjalanan zakar menjadi lebih selesa untuk mereka. Isteri boleh menggunakan bahan pelicin yang disapukan di bahagian luar pembukaan faraj atau menggunakan air liur.

Apabila kelembapan meningkat dalam faraj maka perjalanan menjadi lebih selesa dan mudah untuk mereka menikmati kemuncak.

Pasangan kelamin perlu ingat bahawa hubungan keintiman seksual suatu nikmat pemberian Allah swt kepada mereka dan mereka berhak mengecapinya dalam konteks perkahwinan saja.

Apabila kemuncak sudah berlaku dan ketegangan zakar dikeluarkan untuk mengelakkan air mani daripada keluar banyak daripada faraj, pastikan jangan kemut faraj kerana angin dalam faraj akan keluar dan menolak air mani itu keluar.

Oleh itu, bagi tujuan mendapat anak, pastikan jangan kemut selepas selesai bersetubuh dan kekalkan posisi dan jangan bangun, malahan boleh tidur atau jika hendak hendak ke tandas, lakukannya selepas setengah jam.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Doktor/20041008155354/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Masalah Orang Muda: Menangani keganasan seksual bermula di rumah

Bersama Prof Dr Syed Hassan Ahmad Al Mashoor


PERILAKU manusia turut dikawal oleh emosi. Jika seseorang itu gembira dan ceria, kita dapat lihat menerusi raut wajah dan gerak-gerinya bahawa ia amat selesa dan puas hati dengan dirinya dan keadaan persekitarannya.



Keceriaan menampakkan keyakinan dalam diri, bersikap positif dan berupaya menjalin perhubungan antara satu sama lain dengan mudah dan mesra. Mereka ini mudah merasa dan menghayati perasaan orang lain, seolah-olah mereka dapat menyelami jiwa orang berkenaan.

Oleh itu mereka seperti ini sentiasa bersedia menghulur tangan bagi membantu individu-individu yang mengalami permasalahan dan kesukaran. Mereka tidak rasa gentar dan resah apabila berhadapan dengan orang yang sedang mengalami krisis umpamanya.

Berbeza dengan orang yang emosinya sempurna dan tenteram seperti ini adalah orang yang emosinya celaru dan resah gelisah. Mereka yang mengalami kecelaruan emosi seperti ini kerap menghadapi masalah dan tindakan serta perilaku mereka sering membawa padah sama ada kepada diri mereka sendiri ataupun kepada orang yang berinteraksi dengan mereka.

Orang yang celaru emosinya tidak cekap mengawal perasaan dan kualiti hubungan sosialnya dengan orang lain kurang baik. Tiada sifat tolak ansur dan bantu membantu, yang ada hanyalah bagaimana orang yang terbabit boleh menunjukkan kekuasaannya kepada orang lain. Oleh itu ramai orang menjadi mangsa kepada individu seperti ini, contohnya permasalahan penderaan termasuk keganasan seksual.

Sudah banyak kes yang berlaku dalam masyarakat kita di mana golongan yang lemah dan tidak berupaya contohnya kanak-kanak, segolongan suri rumah dan juga sesetengah pembantu rumah dipermain, dihina dan diseksa tanpa belas kasihan.

Soalannya di mana perginya perasaan kasih sayang mereka dan kenapa mereka sanggup lakukan perbuatan yang terkutuk ini? Apakah mereka sudah lali dengan kesan ngeri yang mereka lakukan?

Dalam konteks perubatan psikologi, perilaku seseorang adalah satu proses pembelajaran. Apa yang seseorang lihat dan dengar itulah yang menjadi bahan maklumat yang akan diproses dalam minda seseorang. Proses menganalisa maklumat-maklumat yang diterima berbeza dari satu golongan umur ke satu golongan umur.

Contohnya seorang kanak-kanak berumur enam tahun belum bersedia memproses maklumat yang ada kaitan dengan pembunuhan dan peperangan.

Apabila mereka melihat babak-babak tayangan filem contohnya di kaca TV, mereka akan berasa resah dan tidak selesa dengan apa yang mereka lihat. Maka menjadi tanggungjawab ibu bapa untuk memberi penerangan dan penjelasan kepada kanak-kanak tersebut mengenai apa yang mereka telah lihat.

Kepada kanak-kanak yang telah meningkat umur hingga ke tahap remaja, mereka ini akan menunjukkan reaksi yang berlainan apabila melihat episod keganasan. Tambahan pula pada masa sekarang ini dengan adanya video yang mempamerkan perilaku keganasan termasuk keganasan seksual secara berleluasa.

Kadang-kadang sudah menjadi satu hiburan pula kepada remaja dengan adegan keganasan seperti ini. Oleh itu tidak mustahil, lama-kelamaan remaja yang terbabit menjadi lali dengan perilaku keganasan. Ini bermaksud walau bagaimana dahsyat dan ngerinya sesuatu keganasan itu, ia tidak memberi makna lagi kepadanya. Apa yang terjadi adalah satu peristiwa saja, oleh itu individu seperti ini telah tiada lagi perasaan kasih sayang dan belas kasihan.

Selain daripada melihat dan menonton episod keganasan, mereka yang terdedah pada didikan secara ganas juga berisiko mengamal tabiat yang sama apabila dewasa dan berumah tangga nanti. Dari aspek psikologi, mereka seperti ini dikatakan telah hilang perasaan kasih sayang kekeluargaan.

Apa yang ada adalah dendam rasa yang menanti masa untuk menjelma. Individu seperti ini telah belajar bahawa mengawal dan menguasai orang lain adalah asas kepada harga diri. Oleh itu mereka ini berisiko tinggi melakukan perkara yang sama apabila mereka ada keluarga sendiri.

Contohnya jika isteri mereka mula nampak lebih berupaya dari aspek sosio-ekonomi, mereka akan berasa mereka mungkin hilang berkuasa, oleh itu apabila berlaku sedikit pergeseran suami isteri, suami yang terbabit boleh bertindak ganas dan mencederakan isterinya.

Apa yang dihuraikan adalah beberapa punca keganasan, termasuk keganasan seksual. Banyak faktor lain yang boleh mempengaruhi perilaku ganas terhadap wanita dan kanak-kanak. Contohnya penggunaan dadah dan arak serta kes suami mengalami penyakit mental. Tidak kurang juga unsur-unsur fitnah memfitnah yang pernah berlaku dalam masyarakat kita.

Dari aspek membantu mereka yang bersalah dalam kes-kes keganasan seksual, perkara pertama yang perlu diberi perhatian adalah kesanggupan orang terbabit mengaku bahawa memang ia yang bertanggungjawab atas jenayah itu. Ini adalah isu akauntabiliti dan adalah perkara wajib sebelum bantuan seterusnya dapat dijalankan.

Keduanya orang yang terbabit harus belajar bagaimana merasai penderitaan yang dialami oleh mangsa yang berkenaan. Hanya dengan ia merasai betapa pedih dan hinanya akibat perbuatannya barulah ia akan insaf dan cuba berubah supaya perilaku yang terkutuk itu tidak berulang lagi.

Sesungguhnya semua ahli masyarakat ada tanggungjawab, iaitu keganasan seksual tidak harus berlaku. Sudah menjadi kewajipan semua orang untuk menghubungi agensi-agensi yang berkaitan jika melihat keganasan sedang berlaku. Perasaan sabar dan marah ada tahapnya, kita kena bertindak jika ia keterlaluan hingga boleh menyebabkan kecederaan dan kematian.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Kesihatan/20041010013559/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Kesihatan Anak: Cara mengatasi remaja murung

Susunan Raihanah Abdullah


ASUHAN negatif boleh meningkatkan risiko seseorang kanak-kanak untuk mengalami kemurungan dan sentiasa cemas.



Sekumpulan penyelidik di Columbia University of New York yang membuat kaji selidik ke atas hampir 600 keluarga dan kanak-kanak menunjukkan bahawa perilaku keluarga yang negatif seperti terlalu kerap dileter, peraturan tidak menentu, pertengkaran ibu bapa di depan anak-anak dan kekurangan pengawasan boleh menjadikan mereka golongan mudah cemas dan murung ketika kecil.

Pakar Psikiatri Kanak-Kanak, Dr Peter Jensen memerhatikan dengan lebih dekat lagi terhadap beberapa gejala atau simptom serta rawatan untuk mengatasi masalah kemurungan di kalangan golongan itu.

Beliau berkata, berkemungkinan besar, sejarah keluarga memainkan faktor penting kepada masalah kemurungan di kalangan kanak-kanak tetapi masih ada beberapa faktor penyumbang lain bagi masalah itu.

Katanya, sakit yang berpanjangan juga boleh mendedahkan kanak-kanak kepada tekanan yang seterusnya boleh menyebabkan kemurungan.

Siapakah yang sering mengalami kemurungan, apakah kanak-kanak perempuan ataupun lelaki?

Hakikatnya, kanak-kanak perempuan dan lelaki kedua-duanya boleh mengalami kemurungan.

Bagaimanapun, apabila seseorang kanak-kanak mencapai akil baligh, perempuan lebih mudah mengalami masalah kemurungan berbanding lelaki.

Kadar masalah kemurungan bagaimanapun di kalangan lelaki semakin meningkat apabila mereka meningkat dewasa.

Selain itu, perkara berkaitan berat badan dan bentuk badan juga boleh menyumbang kepada masalah kemurungan kepada remaja lelaki dan perempuan.

Bagaimanakah ibu bapa boleh mengesan anak-anak yang bermasalah kemurungan?

Kanak-kanak selalunya tidak mampu meluahkan perasaan mereka dengan kata-kata sebagaimana remaja.

Sehubungan itu, bagi kanak-kanak yang masih muda, ibu bapa perlu mengawasi perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh anak mereka, sama ada mereka lebih mudah bersedih, cepat meradang, sedih berterusan dan hilang minat untuk melakukan kegiatan normal.

Ada lagi beberapa perubahan besar dalam diri mereka seperti perubahan bentuk badan, contohnya, semakin gemuk atau kurus atau kurang tidur atau sering tidur.

Di kalangan remaja pula, perubahan seumpama itu juga boleh berlaku tetapi mereka bijak menyembunyikan perasaan kemurungan itu.

Amat jarang sekali kita melihat remaja menunjukkan kemurungan kerana mereka akan berusaha menyembunyikan perasaan itu daripada pengetahuan ibu bapa dan adik-beradik sendiri.

Keadaan ini boleh menyebabkan ahli keluarga sukar untuk mengesan masalah dihadapi itu, sekali gus menyulitkan ibu bapa untuk membantu anak remaja mereka yang sedang berdepan dengan masalah kemurungan.

Bagaimanapun, jika anak itu kelihatan murung dan menunjukkan gejala seperti mudah terasa hiba dan sedih, meradang, bercerita mengenai kematian dan bunuh diri, hilang minat untuk melakukan kegiatan normal, gemar menyendiri untuk jangka masa yang lama, usah biarkan gejala itu berterusan.

Sebagai ibu bapa, anda wajar memandang berat masalah yang sedang dilalui anak terbabit.

Anda juga perlu bijak menangani masalah yang berbangkit itu dan jika keadaan mendesak, dapatkan pandangan pakar dan kaunselor.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Kesihatan/20041008155843/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Masalah Seksual: Lelaki andropouse, kurang responsif hormon testesteron

Bersama Datuk Dr Mahmood Awang Kechik


SEORANG lelaki dari Langkawi, Kedah dan berusia 67 tahun mengadu masalah ketegangan zakar yang dihadapinya.



Di dalam suratnya beliau menyatakan: "Zakar saya tidak mahu menegang ketika hendak melakukan hubungan seks dan sekiranya menegang pun ia tidak akan lama. Kadang-kadang zakar saya tidak mahu menegang sampai dua tiga hari."

Bagaimanapun, beliau tidak berasa menghadapi masalah mati pucuk dan mengakui belum pernah berjumpa dengan doktor berhubung perkara ini.

Sehubungan itu beliau inginkan penjelasan mengenai keadaan yang dialaminya seperti kaitan antara umur dengan masalah selera seks dan juga apakah puncanya menyebabkan seseorang dalam lingkungan umurnya boleh menghadapi masalah sebegini.

Dalam hal ini, Datuk Dr Mahmood Awang Kechik menjelaskan, sememangnya apabila seseorang itu mencapai usia pertengahan iaitu sekitar 50 hingga 60 tahun, sudah menjadi hukum alam bahawa kita akan mengalami proses ketuaan.

Tua yang dimaksudkan di sini bukan sahaja peningkatan umur setiap tahun, tetapi juga yang berlaku kepada tubuh yang mana ia juga akan mengalami proses ketuaan.

Proses yang terjadi kepada manusia ini ditentukan oleh gene yang sudah ditentukan oleh Pencipta di dalam setiap sel tubuh manusia. Jadi proses ketuaan tidak dapat dihentikan.

Bagaimanapun, bagi sesetengah orang, proses ini mungkin dapat diperlahankan. Bagi sesetengah orang, ada yang akan menjadi tua lebih cepat manakala ada yang akan menjadi tua lebih lambat.

Apa pun, proses ketuaan akan tetap berjalan dan ada beberapa ubat yang dikatakan dapat melambatkan proses ketuaan seperti anti-oksida dan sebagainya. Bagaimanapun, kajian mendalam perlu dijalankan bagi memastikan kebenarannya.

Dalam soal selera seks di kalangan orang tua, kita dapat katakan yang mana terjadi, mereka tidak ada keinginan dan perkara ini dapat dikaitkan dengan faktor ketuaan, yang mana hormon testesteron tidak begitu efektif dalam meningkatkan nafsu seks.

Sama seperti di kalangan wanita yang mengalami proses menapouse, orang lelaki pula mengalami masalah andropouse, berkaitan dengan suasana tubuh yang tidak begitu responsif terhadap hormon testesteron yang dikeluarkan oleh tubuh.

Ini menjadikan seseorang itu tidak ada selera untuk melakukan hubungan seks. Bagaimanapun, selera seks seseorang itu dapat ditingkatkan dengan memakan hormon testesteron.

Sungguhpun begitu, sebelum pengambilan hormon ini dilakukan, seseorang itu hendaklah mendapatkan pemeriksaan dan rundingan daripada dokor terlebih dahulu.

Bagi mereka dalam lingkungan umur yang disebutkan, mereka harus sentiasa memastikan tubuh badan berada dalam keadaan segar dengan mengambil makanan seimbang serta mengamalkan senaman supaya aliran darah dapat berjalan dengan lancar.

Seperti diketahui, ketegangan zakar adalah berkaitan dengan aliran darah ke zakar dan ini adalah jawapan kenapa nafsu seseorang itu menurun.

Bagi pertanyaan mengapa zakar tidak keras dan tahan lama, masalah ini lebih kepada sexual dysfunction, yang mana ia boleh dikaitkan dengan mati pucuk. Seperti yang telah dijelaskan sebelum ini, mati pucuk adalah masalah rumit dan banyak penyebabnya.

Penyebabnya sering dibahagi kepada tiga;

1. Penyebab psikologi - ini sering juga terjadi kepada orang muda. Ia boleh dikaitkan dengan gaya hidup seharian seseorang itu seperti tekanan, hubungan suami-isteri (rumah tangga) yang tidak baik, juga kerana seseorang itu menghadapi masalah psiko-seksual tersendiri yang mana selera seks berbeda-beda.

2. Masalah organik - masalah yang ada sangkut-paut dengan kemaluan itu sendiri. Contohnya, kelainan kepada penis seperti pendek dan bengkok. Ia juga mungkin kerana seseorang itu terpaksa melakukan pembedahan di bahagian kemaluan seperti saraf di bahagian penis yang sudah rosak. Mengalami kemalangan yang membabitkan bahagian kemaluan seperti bahagian pinggang yang patah atau urat saraf yang rosak. Masalah ini juga mungkin disebabkan oleh penyakit tertentu yang dialami oleh seseorang itu seperti kencing manis. Ia juga disebabkan oleh ubatan yang dimakan seperti ubat mengawal tekanan darah tinggi dan ubat anti-kolestrol.

3. Kombinasi antara kedua-dua ini.

Apa pun, bagi kalangan mereka yang berumur, semua faktor ini berperanan dalam menentukan keupayaan dan kebolehan melakukan hubungan seks.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Kesihatan/20041008155714/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Di Luar Lingkaran: Islam yang bagaimana?

Bersama Johan Jaaffar
zulujj@tm.net.my


DALAM ucapan di Oxford Center for Islamic Studies pada 1 Oktober lalu, Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi menghantar mesej yang jelas kepada umat Islam dan bukan Islam yang mencurigai Islam: dalami pemahaman mengenai Islam dan fahami Islam sebenar.



Pak Lah bukan saja bercakap sebagai pemimpin Islam sebuah negara pelbagai kaum tetapi juga sebagai Pengerusi Pertubuhan Negara-negara Islam (OIC). Beliau boleh mendakwa bahawa Malaysia sentiasa memilih jalan tengah atau jalan kesederhanaan dalam soal laluan yang patut dipilih dalam soal agama.

Beliau bermula dengan membuat penilaian diri tentang kedudukan umat Islam hari ini. Bukan saja data yang beliau sebutkan membuka mata, tetapi banyak data dan maklumat lain yang sebenarnya mengesahkan kenyataan beliau. Dalam ucapannya beliau menyebutkan bahawa hanya lima buah negara Islam yang menikmati perkapita Keluaran Negara Kasar (GDP) melebihi RM38,000, 30 negara Islam lain mempunyai pendapatan perkapita kurang daripada RM3,800.

Kenyataan lain yang kita tahu ialah semua 57 buah negara OIC mempunyai GDP terkumpul sebanyak RM5.3 trilion. Ini hanya mewakili sepertiga GDP Jepun, negara yang dianggap ekonomi kedua terbesar dunia. Kajian lain menunjukkan dispariti pendapatan yang amat ketara di antara penganut agama di dunia. Kajian ke atas orang Yahudi di 113 buah negara mendapati pendapatan perkapita mereka ialah RM61,180. Berdasarkan penganut Kristian di 218 negara, pendapatan perkapita mereka ialah RM31,274 sementara kajian ke atas penganut Buddhist di 27 negara mendapati pendapatan perkapita mereka ialah RM25,612. Di mana kedudukan orang Islam? Kajian ke atas umat Islam di 123 negara mendapati pendapatan perkapita mereka hanyalah RM6,536, baik sedikit dari penganut Hindu yang dikaji di 24 negara, yakni RM2,667.

Pada waktu yang sama, Islam ialah agama yang paling pesat pertumbuhannya, mencatatkan peningkatan lebih 34 peratus setahun berbanding 25 peratus bagi penganut Kristian dan 13 peratus bagi penganut Hindu.

Hari ini, ada lebih 1.3 bilion penganut Islam, dan jarak di antara penganut Kristian (sekarang dua bilion) dengan Islam akan menjadi semakin berkurang dalam masa 20 tahun lagi. Hari ini, di negara-negara Eropah, pertambahan jumlah orang Islam sudah dianggap sesuatu yang merisaukan sesetengah pihak. Adalah dipercayai ada 1.3 juta umat Islam di Britain, 3.2 juta di Jerman dan 4.2 juta di Perancis.

Seperti apa yang ditimbulkan oleh Pak Lah dalam ucapannya, rata-rata umat Islam masih dalam keadaan daif dan lemah. Keupayaan ekonomi mereka tidak dapat menandingi penganut agama lain. Mereka masih berdepan dengan masalah kemiskinan, ada kalanya kebuluran dan menjadi mangsa perang, penindasan dan ketidakadilan. Sebahagian besar masalah umat Islam hari ini bagaimanapun berpunca dari kelemahan pemimpin dan kerajaan negara-negara Islam sendiri.

Pak Lah berpendapat bahawa keutamaan dalam dunia Islam ialah untuk memastikan good governance – ini sahaja yang dapat memastikan keamanan, kestabilan dan kemakmuran berterusan bagi umat Islam. Pak Lah menekankan pentingnya umat Islam mencari idea dan belajar dari amalan terbaik dari seluruh dunia. Pada waktu yang sama umat Islam hanya perlu melihat pada teladan para pemimpin mereka yang terdahulu termasuk dari cara pentadbiran Rasulullah SAW dan Khalifah Rashidin. Terlalu banyak pengajaran yang boleh diambil dan contoh yang perlu diikut dalam mentadbir negara Islam hari ini.

Kesediaan untuk menjadi terbuka, menerima kritikan, menjadi adil dan saksama dan melaksanakan apa yang dituntut oleh agama, sepatutnya sudah menjadi amalan pemimpin dan kerajaan Islam. Hakikat bahawa kita selalu melupakan apa yang terbaik dalam sejarah kegemilangan Islam menyebabkan umat Islam hilang pedoman. Krisis kelemahan umat Islam banyak berpunca daripada kegagalan Islam menjunjung kemuliaan ilmu dan menempatkan kejayaan sebagai mercu tanda kehidupan.

Ada kalanya fahaman yang sempit terhadap agama menjadikan umat Islam menganggap mengejar kemajuan dunia sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Lumrahnya semakin terpinggir sesuatu kaum dari arus perdana perubahan, semakin ketinggalan keupayaan ekonomi mereka dan semakin jauh mereka dari teknologi, semudah itulah mereka membina "pagar" di sekeliling mereka. Itu menjadi alasan terbaik untuk "menolak dunia semasa" dan memenjarakan diri mereka dalam kokon keagamaan yang sempit.

Dari keadaan seperti inilah timbul keresahan, kekecewaan dan kebencian terhadap "Yang Lain." Apatah lagi apabila ada elemen fanatisme yang dimasukkan. Juga dendam terhadap dasar dan tindakan pihak lain. Inilah sebahagian dari bom jangka di kalangan umat Islam. Mengapa anak-anak muda bersedia menjadi suicide bombers harus difahami dalam konteks ini.

Namun demikian, seperti kata Pak Lah, kelemahan, kekecewaan dan ketidakadilan ke atas umat Islam bukan alasan untuk mana-mana orang Islam mencederakan atau membunuh orang lain. Pada waktu yang sama punca kemarahan umat Islam itu harus difahami dan ditangani.

Memang mudah bagi Barat dan orang bukan Islam untuk menggunakan beberapa kejadian yang membabitkan keganasan ini sebagai alasan untuk memburuk-burukkan nama Islam. Media Barat yang mengambil pendekatan sensasi akan memberikan label "Islam militan" pada Islam.

Seperti kata Pak Lah, Islam mulai dilihat sebagai agama yang suka berperang dan umatnya sebagai pengganas yang fanatik. Pemimpin Barat berkali-kali menekankan peperangan ke atas terorisme bukan peperangan ke atas umat Islam. Hakikatnya, berbilion umat Islam di seluruh dunia melihat bagaimana tindakan, dasar berat sebelah dan alasan untuk menakluk negara Islam sebagai serangan ke atas Islam.

Maka itu Pak Lah melihat perlunya umat Islam kembali ke asal, untuk mencari kekuatan yang hilang dan menentukan keutamaan dan hala tuju yang baru. Beliau menyebutkan konsep Islam Hadhari yang menjadi teras negara ini. Beliau mengingatkan pendengarnya bahawa Islam Hadhari bukan sekadar retorik, juga bukan sekadar mementingkan bentuk tetapi perisiannya. Pendekatan ini menurut beliau sesuai atau compatible dengan permodenan dan lebih penting lagi bertolak dari nilai-nilai agung dan murni yang terdapat dalam Islam.

Beliau lalu memberikan 10 prinsip Islam Hadhari:


Kepercayaan dan ketakwaan kepada Allah


Kerajaan yang adil dan bertanggungjawab


Umat yang bebas dan tidak dibelenggu


Usaha yang gigih untuk mencari dan menguasai ilmu


Pembangunan ekonomi yang seimbang dan menyeluruh


Kualiti hidup rakyat yang baik


Melindungi hak kaum minoriti dan wanita


Mempertahankan integriti kebudayaan dan moral


Melindungi bahan mentah dan persekitaran


Memastikan keupayaan pertahanan yang kuat.

Pak Lah mengakhiri ucapannya dengan mengingatkan audiens mengenai pandangan seorang tokoh pemikir Iran yang terkenal, Allahyarham Ali Shariati. Ali pernah berkata lebih kurang; ”sayang sekali kerana di kalangan mereka yang mengerti dan mendalami Islam bertanggungjawab menyebabkan Islam menjadi statik (dan lemah) seperti keadaannya sekarang. Lebih malang lagi, mereka yang faham keperluan zaman dan apa yang diperlukan oleh umat Islam pada masa ini, tidak pula memahami agama mereka.”

Pandangan yang walaupun mungkin tidak dipersetujui semua orang, tetapi bernas, berani dan mencabar dan sepatutnya menjadi azimat pada kita semua.(http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Rencana/20041010023546/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Wanita dirogol ‘dari jauh’

BUSHBUCKRIDGE (Afrika Selatan): Penduduk wanita di kampung Edinburgh berhampiran Bushbuckridge kini dilanda kebimbangan untuk melelapkan mata kerana bimbang dirogol ‘dari jauh’.



Mereka mendakwa, penyerang menggunakan sihir bergelar Mtshotshaphansi yang membolehkan lelaki merogol wanita tanpa dilihat secara fizikal, lapor News 24.

“Saya tidak dapat tidur malam kerana sering berasa seolah-olah melakukan hubungan seks dengan seorang lelaki, menyebabkan saya mencapai kemuncak dan menjadi amat letih,” kata seorang wanita, Hleziphi Ngwenya, kepada perhimpunan umum.

Apabila penduduk kampung lain menyambut keterangannya dengan ketawa, dia berkata: “Ia mungkin lucu tetapi saya mengalami masalah itu sekurang-kurangnya sekali seminggu.”

Menurut Ngwenya, 29, dia memberitahu masalah itu kepada suaminya yang mencari kerja di bandar lain.

Julia Khumalo, 30, turut mendakwa dirogol walaupun suaminya tidur di sebelahnya.

“Suami saya tidur di sebelah saya satu malam tetapi saya berasa ghairah dan berasa seperti kemaluan lelaki menembusi saya,” katanya.

Katanya, dia tidak pernah percayakan Mtshotshaphansi sehingga perkara itu berlaku kepadanya.

Seorang lagi yang mendakwa sebagai mangsa, Pinky Gumede, 35, berkata dia mengunjungi doktor untuk mendapatkan bantuan dan diberi ubat selepas doktor mendapati ada ketumbuhan pada rahimnya.

Ketua kampung itu memberi amaran jika insiden itu masih berterusan, dia akan memburu lelaki yang bertanggungjawab melakukan jenayah itu.

Sementara itu, seorang dukun tempatan, Daniel Ngobeni, mengesahkan Mtshotshaphansi wujud dan berkata, kemungkinan lelaki dari puak Tokoloshe yang merogol wanita. – Agensi (http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Dunia/20041010022219/Article/)
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Perkahwinan Imran Khan-Jemima hanya bertahan sembilan tahun - Berakhir kisah cinta dua benua

Laporan NORZAILA ROSLI

TIADA apa yang memeranjatkan apabila legenda kriket Pakistan, Imran Khan menceraikan isterinya, Jemima.

Ramai yang tidak menduga rumah tangga mereka mampu bertahan begitu lama.

Namun setelah sembilan tahun melayari bahtera hidup, mereka akhirnya berpisah setelah Imran yang juga seorang ahli politik mengumumkan perkahwinannya dengan Jemima Goldsmith, anak kepada hartawan terkemuka Britain, mendiang Sir James Goldsmith telah berakhir.

Imran membuat pengumuman tersebut melalui satu kenyataan yang dikeluarkan oleh parti politiknya, Tehrik-e-Insaaf (pergerakan untuk keadilan).

``Dengan rasa sedih saya mengumumkan bahawa saya dan Jemima sudah bercerai.''

``Ketika Jemima cuba sedaya upaya menyesuaikan diri di sini, kerjaya politik saya telah menyukarkannya untuk menjalani kehidupan di Pakistan,'' jelas kenyataan itu.

Ada yang berpendapat, penceraian itu telah mendorong Imran membina pengaruh yang lebih kuat dalam politik Pakistan.

Selama tempoh lapan tahun, parti politiknya berjaya mendapat impak yang kuat daripada pihak media berbanding perhimpunan kebangsaan rakyat Pakistan sendiri.

Imran merupakan satu-satunya wakil pemimpin Tehrik-e-Insaaf yang memenangi kerusi Punjab di Mianwali dua tahun lalu.

Sikapnya yang berani mengutuk secara lantang pertempuran tentera Pakistan dengan puak Pashtun telah berjaya meningkatkan sokongan daripada kumpulan yang berpegang kuat kepada ajaran Islam tetapi membuatkan sesetengah pihak di dalam tentera panas hati.

Semasa menerima lamaran Imran, Jemima hanya berusia 21 tahun manakala Imran pula berusia 42 tahun.

Pasangan itu mendaftar sebagai suami isteri yang sah di sisi Islam pada 20 Jun 1995 di Richmond, barat daya London.

Ketika itu, Imran terkenal sebagai playboy kriket yang cuba mengubah statusnya daripada hero negara kepada ahli politik.

Tidak lama selepas diperisterikan, Jemima yang baru memeluk Islam menukar namanya kepada Jamila Haiqa.

Sejak awal lagi ramai berpendapat, perkahwinan pasangan itu merupakan satu kesilapan besar dan bakal membawa malapetaka buruk kerana Jemima bukan seorang Muslim sebelum itu.

Pada usia yang baru mencecah 21 tahun pada masa itu, Jemima dianggap budak hingusan yang belum layak menjadi isteri yang baik.

Media Barat mengutuk perkahwinan mereka dan berpendapat dia hanya seorang gadis mentah dan tidak mungkin dapat menyesuaikan diri dengan budaya Pakistan yang jauh berbeza ibarat langit dan bumi.

Walaupun pernah melalui pahit manis bersama Imran, wanita itu berjaya mengetepikan telahan itu.

Dia sebaliknya cuba sedaya yang mungkin menyesuaikan diri dengan masyarakat di Pakistan dengan memakai pakaian tradisional negara itu, belajar mengenai budaya dan bahasa selain melibatkan diri secara aktif dalam kerja-kerja kebajikan.

Hasil perkahwinan selama sembilan tahun itu, Imran dan Jemima dikurniakan dua cahaya mata lelaki yang diberi nama Suleiman dan Kasim.

Di samping itu, Jemima dan Imran juga adalah tempat mengadu nasib Puteri Diana ketika mendiang berhadapan masalah dengan kekasihnya, Dr. Hasnat Khan.

Namun begitu, bahtera yang dilayar bersama mula goyah apabila Jemima mengambil keputusan membawa kedua-dua anaknya berpindah dari Lahore ke London tahun lalu.

Sejak itu, khabar angin mengenai masalah rumah tangga mereka mula bertiup kencang walaupun Jemima cuba berselindung dengan memberi alasan dia ingin menyambung ijazah di Britain dan akan kembali ke Pakistan selepas menamatkan pelajaran.

Semasa di London, Jemima bukan sahaja berpeluang menyambung pelajaran tetapi menikmati semula kehidupan sosial yang pernah dirasainya sebagai anak seorang hartawan terkemuka dunia.

Imran pula dikatakan terlalu `taksub' dengan dunia politik sehinggakan sering mengabaikan keluarga. Jemima terpaksa menyambut hari lahir yang ke-30 tahun awal tahun ini tanpa Imran di sisinya.

``Semangat Jemima menjadi lemah akibat serangan peribadi ke atasnya oleh rejim Pakistan, Presiden Pervez Musharraf, dalam cubaan menenggelamkan saya.

``Saya rasa dia sudah bosan. Dia tidak yakin kesusahan yang kami alami akan berakhir dan merasakan saya tidak mungkin berjaya,'' kata Imran.

Walaupun partinya banyak mendapat sokongan daripada masyarakat kelas pertengahan yang warak di Lahore, Jemima dilihat sebagai aset dan dialu-alukan oleh puak Pashtun dari wilayah sempadan barat laut, bersebelahan Afghanistan.

Dalam kempen pilihan raya 1997, wanita berjiwa kental itu berjaya meraih sokongan ramai dengan penguasaan bahasa Urdu yang baik termasuk menggunakan beberapa perkataan dalam dialek Pashtu.

Namun begitu, Jemima tetap menjadi sasaran kerana tindakan Imran menyerang golongan elit yang mengamalkan rasuah.

Jemima yang berdarah Yahudi turut dituduh menjadi sebahagian daripada konspirasi Zionis dalam cubaan merampas Pakistan.

Imran mengakui dia tidak pernah memikirkan perkara tersebut secara serius kerana menyangka tuduhan yang dilemparkan itu langsung tidak masuk akal.

Kritikan itu dapat dipatahkan setelah Jemima membuktikan dia turut terlibat dengan kerja amal mengutip derma bagi pelarian Afghanistan termasuk menjadi wakil khas Unicef dan melancarkan label fesyennya yang banyak berkonsepkan pakaian tradisional Pakistan untuk tujuan amal.

Dua tahun lalu, label fesyen tersebut terpaksa ditutup dipercayai kesan daripada tragedi 11 September dan kerjaya politik suaminya.

Malangnya, jiwa kental Jemima pada masa itu tidak dapat bertahan lagi.

Keadaan menjadi semakin tegang apabila Jemima turut menerima ancaman keselamatan di mana pada Julai tahun lalu, seorang lelaki bertopeng telah memecah masuk kediamannya di Fulham.

Jemima yang menganggap serangan itu mempunyai kaitan dengan politik sempat menyorokkan diri di dalam bilik mandi ketika pengawal keselamatan bertarung dengan penjahat tersebut.

Sementara itu, Imran menganggap laporan yang mengatakan dia kecewa mendengar Jemima telah pun mendapat pengganti sebaik bercerai Jun lalu sebagai ``karut''.

``Jemima sememangnya seorang wanita yang sangat menarik, dan sejak awal saya sudah tahu dia akan bertemu orang baru dan kehidupan baru,'' kata Imran, 50.

Sejak menjanda, Jemima sering dilihat menghabiskan masa bersama aktor tampan, Hugh Grant. Pasangan yang dikatakan sedang bercinta itu ditemui bercuti di Saint-Paul de Vence di selatan Perancis.

Hugh, 43, yang belum pernah berkahwin sebelum ini sememangnya terkenal sebagai ``buaya darat'' di kalangan celebrity Britain.

Hero filem Notting Hill itu pernah menjalinkan hubungan serius selama 14 tahun dengan supermodel dan aktres Liz Hurley tetapi berpisah empat tahun lalu.

``Tiada wanita lain dalam hidup saya.

``Ia bukan satu keutamaan pada masa ini. Saya mungkin tidak akan berkahwin lagi,'' ujar Imran.
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Superman meninggal dunia akibat sakit jantung

NEW YORK 11 Okt. - Pelakon Superman, Christopher Reeve, 52, meninggal dunia semalam akibat serangan sakit jantung.

Pegawai perhubungan kepada Reeve, Wesley Combs berkata, pelakon filem Superman yang menjadi kegilaan kanak-kanak itu tidak sedarkan diri kelmarin akibat serangan jantung semasa berada di kediamannya di New York.

Beliau sebelum ini lumpuh selepas lehernya patah semasa terjatuh daripada kuda ketika menyertai pertandingan di Culpeper, Virginia.

Menurut Combs, Reeve dirawat di Hospital Northern Westchester kerana tekanan pada luka, komplikasi biasa yang dialami oleh pesakit lumpuh.

``Sejak beberapa minggu lalu, luka itu berjangkit dan merebak ke seluruh badan,'' katanya.

Para doktor yang merawat Reeve berkata, kemalangan akibat jatuh kuda itu telah merosakkan saraf tunjang beliau.

Sementara itu, isteri mendiang, Dana Reeve mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung dengan suaminya.

``Bagi pihak seluruh keluarga Reeve, saya mahu ucapkan terima kasih kepada Hospital Northern Westchester kerana menjaga rapi suami saya,'' kata Dana.

Semasa hayatnya, Reeve, bekas atlet bukan sahaja terkenal kerana aksinya dalam Superman, tetapi beliau turut mengarahkan beberapa buah filem termasuk Village of the Damned, Above Suspicion dan In the Gloaming.

Reeve, yang dilahirkan di New York City pada 25 September 1952, mula berlakon memegang watak Superman pada 1978 dan kekal bersama siri itu untuk tiga musim.

Reeve meninggalkan seorang isteri dan tiga anak lelaki iaitu Mathew, 25, Alexandra, 21, dan Will, 11 tahun. - AP
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Shamsi Ali, Imam Masjid Islamic Center New York, sempat heran melihat kejelian dan daya ingat Ida --menurut dia, perempuan itu terkesan culun-- dalam mencatat nama-nama pelanggannya. "Semuanya dicatat rapi," kata Shamsi, yang pernah diminta Chris menjadi saksi saat Faridah memberi kesaksian hebohnya itu. Ia juga heran, kok selama setahun itu Chris tak tahu sama sekali.
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Woodside Community Church Baptist, New York
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Ida pun menjalani profesi sebagai pramusyahwat secara diam-diam
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Faridah di New York
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Surat Pengakuan Faridah
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Hassan Wirajuda
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Gatra Edisi 48/2004
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Pengakuan Farida Gegerkan Masyarakat Indonesia di NY



Pengakuan Farida Gegerkan Masyarakat Indonesia di NY

Jakarta, 4 Oktober 2004 18:10
Farida Abdullah, perempuan tamatan SD, menggegerkan masyarakat Indonesia di New York, Amerika Serikat, karena pengakuannya di hadapan Notary Public bahwa ia telah melakukan skandal seks dengan 41 orang warga dan diplomat Indonesia.

"Dia berasal dari Lombok dan bahasa Indonesianya juga lemah. Anehnya, ia pintar mencatat nama-nama yang pernah berhubungan dengannya," kata M. Syamsi Ali, tokoh masyarakat Indonesia di New York, Senin.

Konsulat Jenderal RI di New York sebelumnya menyatakan ada aktor intelektual yang melakukan rekayasa di balik pengakuan terbuka Farida tersebut. "Pengakuan tersebut tidak berdasarkan bukti yang kuat, bahkan mungkin pengakuan itu dilakukan dibawah intimidasi dan sandera," demikian siaran pers KJRI di New York, Sabtu.

Menurut Syamsi Ali, sebagai tokoh masyarakat Indonesia di kota itu, ia pernah diminta langsung menyaksikan "persaksian" Farida ini. Suatu ketika, Syamsi ditelpon oleh C.J. Kriskarto, majikan Farida untuk datang ke rumahnya. Setelah basa basi sedikit, Kris mempersilahkan Farida mengutarakan kasus itu.

Farida mengaku mantan pembantu dari keluarga Saudi. Majikannya adalah seorang dokter yang kemudian pindah ke Boston. Selama di Boston itu dia diperlakukan tidak baik, sehingga melarikan diri.

Dia kemudian mencari orang Indonesia tapi tidak ketemu, dan akhrinya ketemu dengan orang Amerika yang kenal dengan KJRI NY. Orang Amerika inilah yang menelpon KJRI New York.

Ketika KJRI ditelpon, dia menyerahkan permasalahan Farida ke Kriskarto, yang kebetulan ketika itu memerlukan pembantu. Maka Krislah yang membantunya ketika sampai di New York, dan langsung membawanya ke rumahnya. Tidak begitu runtut ceritanya mengapa Farida bisa sampai terlibat skandal yang menghebohkan itu.

"Singkatnya, dari awal tahun 2003 hingga April 2004, sedemikain banyak yang pernah berhubungan dengan Farida, tapi yang tercatat hanya 41 orang itu...," cerita Syamsi Ali.

Setelah mendengar pengakuan Farida itu, Syamsi langsung mendatangi KJRI untuk menanyakan kebenaran semua itu. Pejabat KJRI mengingkari dan menganggap itu adalah muslihat Kriskarto untuk menjerat mereka yang tertuduh untuk memberikan uang.

"Menurut orang KJRI, Kriskarto sedang terjerat utang piutang," katanya.

Syamsi pribadi mengaku tidak ingin memberikan "judgment" karena ada yang menuduh dan ada yang mengingkari. Hingga saat ini, katanya, kedua pihak sudah melakukan langkah-langkah hukum masing-masing.

Menurut KJRI, ada kemungkinan pengakuan Faridah tersebut dibuat di bawah intimidasi oleh aktof intelektual yang berdasarkan keterangan beberapa saksi sedang mengalami masalah keuangan.

"Aktor tersebut mencoba mendapatkan keuntungan dengan menyebarkan isu tersebut," demikian siaran pers KJRI. [EL, Ant/Gatra]
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Menlu akan Klarifikasi Kasus 41 WNI

Menlu akan Klarifikasi Kasus 41 WNI

Jakarta, 4 Oktober 2004 18:12
Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda akan melakukan klarifikasi atas kasus yang terjadi di New York, Amerika Serikat, yang melibatkan 41 warga dan diplomat Indonesia. "Saya membaca berita hari ini, tentu kami akan mencoba mengecek kebenaran dan klarifikasi atas informasi itu," kata Menlu di Istana Merdeka, Senin, usai mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri menemui beberapa Dubes negara sahabat.



Menlu menduga kasus tersebut tidak lebih dari ulah seorang perempuan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang karena tidak puas kemudian bercerita macam-macam.

Dia mengatakan berita itu harus segera diklarifikasi karena itu belum dapat diambil kesimpulan "Belum bisa diambil kesimpulan," katanya menegaskan.

Mengenai sanksi yang dijatuhkan kepada mereka yang kedapatan terlibat, Menlu mengatakan, "Kita akan klarifikasi dulu.

Standar etika profesional harus mereka hormati".

Farida Abdullah, perempuan tamatan SD, menggegerkan masyarakat Indonesia di New York, AS, karena pengakuannya di hadapan Notary Public, bahwa ia telah melakukan skandal seks dengan 41 warga dan diplomat Indonesia.

"Dia berasal dari Lombok dan bahasa Indonesianya juga lemah. Anehnya, ia pintar mencatat nama-nama yang pernah berhubungan dengannya," kata salah seorang tokoh masyarakat Indonesia di New York, M. Syamsi Ali, pada Senin. [EL, Ant/Gatra]
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Skandal Seks: KBRI Watch Minta Deplu Tangani Serius Kasus di NY

Skandal Seks
KBRI Watch Minta Deplu Tangani Serius Kasus di NY

Washington, 4 Oktober 2004 20:02
KBRI Watch yang berkedudukan di Washington, DC meminta klarifikasi kepada Pemerintah Indonesia via Departemen Luar Negeri mengenai kasus skandal seksual yang melibatkan seorang WNI bernama Farida Abdullah dengan setidaknya 41 warga dan diplomat Indonesia di kota New York, Amerika Serikat.

"Kasus ini sedang dalam penanganan pengadilan distrik di kota New York," kata Ketua KBRI Watch Agung Bayu Waluyo dalam surat yang ditujukan kepada Menlu RI tanggal 28 September 2004 dan diterima ANTARA, Senin.

Menurut Agung, KBRI Watch khawatir kasus itu akan membawa dampak buruk bagi nama baik dan martabat bangsa Indonesia apabila tidak diusut tuntas, karena diduga melibatkan beberapa nama pejabat tinggi/diplomat di lingkungan KJRI New York.

"Kami dari KBRI Watch juga meminta dengan sangat kepada pemerintah Indonesia agar lebih serius dalam menangani permasalahan perlindungan terhadap WNI atau TKI di luar negeri," katanya.

Kasus yang menimpa WNI bernama Farida di kota New York dan beberapa kasus lainnya, menurut Agung, menunjukkan bahwa aparat pemerintah Indonesia di luar negeri masih sangat buruk dalam membela kepentingan warga negaranya sendiri.

"Kami mohon dengan sangat kepada pemerintah Indonesia untuk menarik pulang para pejabat dan diplomatnya di KJRI New York, apabila memang terbukti ada yang terlibat dalam kasus transaksi seksual seorang WNI, yang seharusnya justru mendapatkan perlindungan dari mereka yang bekerja di perwakilan Indonesia di luar negeri," katanya.

KBRI Watch memohon dengan sangat agar pemerintah Indonesia, Departemen Luar Negeri, dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di New York dalam waktu yang sesegera mungkin.
[EL, Ant/Gatra]
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

KJRI NY Harus Pisahkan Faridah dari Majikannya

KJRI NY Harus Pisahkan Faridah dari Majikannya

Jakarta, 5 Oktober 2004 13:26
Konsulat Jenderal RI di New York perlu memisahkan tenaga kerja wanita Faridah Abdullah dari rumah majikannya, Kris Karto, supaya kasus skandal seks yang menggemparkan masyarakat Indonesia di kota itu bisa diklarifikasi dengan baik.

"Faridah harus disehatkan dulu jasmani dan rohaninya, baru ditanya apa yang sebenarnya terjadi. Betulkah pengakuannya itu, atau dia hanya jadi alat majikannya," kata tokoh masyarakat Kristen Indonesia di New York, Efron Sianturi, lewat sambungan telepon internasional, Selasa.

Efron mengaku kenal lama lebih dari 10 tahun dengan Kris Karto serta kenal dengan Faridah, pembantu rumah tangga di rumah Kris Karto, yang kadang-kadang diminta untuk menjaga anak-anak pengusaha di bidang kontraktor itu.

"Faridah itu tak bersalah, saya kasihan melihatnya. Ia korban dari permainan yang didalangi orang-orang tertentu dengan maksud tertentu," kata pemilik perusahaan Gema Citra Construction itu.

Untuk itu, katanya, pihak KJRI bertanggungjawab untuk melindungi TKW itu dan mengungkap benar atau tidaknya pengakuan wanita asal Lombok itu mengenai dirinya yang telah melakukan skandal dengan 41 warga Indonesia di New York, termasuk staf KJRI dan tokoh-tokoh gereja.

"Pengakuan itu sangat meresahkan dan mengganggu keharmonisan keluarga dari orang-orang yang tercantum namanya di daftar itu. Ini sudah berlangsung sejak enam bulan lalu. Bahkan ada pendeta kami yang terpaksa pulang ke Indonesia karena tidak kuat menahan gunjingan," kata Efron yang sudah belasan tahun bermukim di Amerika.

Efron sendiri namanya tercantum di dalam daftar itu, tetapi ia dengan tegas membantah pernah berhubungan dengan wanita itu.

"Ini gila, KJRI harus periksa mental jasmani dan rohani Faridah," katanya.

Menurut dugaan Efron, pengakuan itu sudah diatur oleh orang lain, karena tutur bahasanya bukan mencerminkan kemampuan bahasa Indonesia Faridah yang hanya tamatan SD. Oleh karena itu, perlu diselidiki siapa yang mendalangi pengakuan itu dan apa motifnya.

Kemungkinan pemerasan, menurut Efron, ada saja karena ada sejumlah orang yang namanya masuk dalam daftar dimintai `uang damai`.

Pihak KJRI sendiri sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ada aktor intelektual yang mendalangi pengakuan Faridah. Pengakuan itu tidak didasari bukti kuat dan bahkan ada dugaan itu dilakukan di bawah intimidasi dan sandera.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajudha akan melakukan klarifikasi atas kasus tersebut. Di Istana Merdeka, Senin, Menlu menduga kasus tersebut tidak lebih dari ulah seorang perempuan pekerja seks komersial (PSK) yang karena tidak puas kemudian bercerita macam-macam. [EL, Ant/Gatra]
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Skandal Seks Faridah di New York

Testimoni Berbuah Bantahan

PENEBAR heboh itu bernama Faridah. Lengkapnya: Faridah Abdullah Rahman, tapi biasa dipanggil Ida. Dia sebetulnya bukan perempuan istimewa, setidaknya dari status pendidikan dan pekerjaannya. Ida drop out madrasah aliyah, setingkat SMU. Pekerjaan pokoknya menjadi pembantu rumah tangga di New York, Amerika Serikat.

Perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Indonesianya juga tak bagus. Logat Bimanya amat medok. Siapa sangka, Ida yang terkesan agak culun ini mampu bikin geger masyarakat Indonesia di "negeri Abang Sam" itu. Kalangan diplomat di lingkungan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York kalang kabut dibuatnya.

Sepekan ini, kegemparan itu makin meletup, setelah media massa menyebarkan kisah transaksi seks versi Ida yang katanya melibatkan kalangan gereja dan diplomat. Komentar pun bermunculan atas berita yang kebanyakan diberi stempel "skandal seks" itu. Kalau ini benar, "Kelakuan mereka memprihatinkan," kata Angelina Sondakh, anggota DPR dari Partai Demokrat yang baru dilantik, kepada Rachmat Hidayat dari Gatra.

Agung Waluyo, Koordinator KBRI Watch, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengawasi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Amerika Serikat, menilai, jika pernyataan Faridah benar, berarti para diplomat tersebut telah melakukan tindakan di luar kepatutan moral dan etika sebagai pejabat. "Ini sangat penting ditindaklanjuti Kementerian Luar Negeri," tulis Agung dalam faksimilinya kepada Gatra, Rabu pekan ini.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda tak urung geram. "Saya akan cek kebenarannya," katanya di Jakarta. Kata Hassan pula, isu itu dilemparkan oleh pihak keluarga yang menampung dan memanfaatkan Ida. "Pihak yang mengendalikan wanita ini sedang dalam situasi krisis keuangan, dan alasan-alasan lain. Jadi, labeling skandal KJRI itu terlalu bombastis," Hassan menambahkan.

Nun di New York, di tempat tinggal majikannya, Ida kebat-kebit menyimak perkembangan kehebohan tersebut. Ia merasa keselamatannya terancam. "Ada yang mau menculik saya," ujarnya kepada Gatra. Ida tak menyangka, pengakuannya perihal dagang seks yang dilakoninya berkembang demikian geger, dan makin menyusahkannya.

Kegemparan berbau syahwat, dan kecemasan Ida, itu bertolak dari surat terbuka yang ditulisnya pada 6 Agustus silam. Surat berisi pengakuan Ida ini terkesan tak main-main karena juga ditandatangani Surinder Kaur, notaris publik di Queens County, New York. Ida memberinya judul "Penjelasan kepada masyarakat Indonesia".

Dalam surat sebanyak empat lembar, termasuk lampiran, itu Ida blak-blakan menceritakan bahwa ia telah melakukan hubungan seksual atas dasar komersial dengan banyak orang di New York selama setahun ini. Pelanggannya dari berbagai ras. Ada bule, negro, dan bangsa dewe.

Nah, yang bikin heboh, ya, daftar nama pelanggan Ida yang dijereng satu per satu di lampiran itu. Jumlahnya 41 orang. Sebagian besar orang Indonesia. Sembilan orang di antaranya orang penting di KJRI, termasuk Konsul Jenderal Kristio Wahyono. Sejumlah tokoh gereja tersangkut pula. Di sebutkan juga, beberapa pelanggannya sempat merekam adegan seksual mereka.

"Saya tidak bohong," kata Ida. Seakan untuk makin menguatkan pengakuannya itu, Ida mengawalinya dengan kalimat sumpah atas nama Tuhan. Lalu dilanjutkan dengan, "Bahwa nama-nama orang yang saya cantumkan di bawah ini telah bersetubuh dan berhubungan kelamin dengan saya," tulis perempuan 24 tahun itu.

Apa yang membuat Ida uring-uringan? Ternyata, kata Ida, itu lantaran keringat pelayanan syahwatnya tak membuahkan dolar bagi dirinya. Semuanya diambil sang germo ketika pada 11 Juni lalu sang germo memutuskan berhenti mengeksploitasi Ida karena takut tercium polisi. Di Amerika, bisnis seks memang sering diobrak-abrik petugas. Para pemainnya banyak berakhir di bui.

Ida cuma gigit jari melihat si germo dan konco-konconya membagi rata duit jerih payahnya selama ini. Jumlahnya lumayan: US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,8 milyar. Ia merasa ditipu habis-habisan. Mungkin nasibnya lebih buruk dari tenaga kerja wanita yang melacur di Arab sekalipun, yang masih kebagian riyal dari jerih payahnya itu. Ida kecewa berat. Impian kawin dengan James Stover, atau paling tidak mengumpulkan uang untuk pulang kampung, kandas sudah.

"Bila tak ditipu, biarlah kisah ini saya saja yang tahu," katanya. Lantas Ida mengadu kepada majikannya, Chris J. Karto. Dua bulan berselang, lahirlah testimoni yang menggegerkan warga Indonesia di New York itu. Sebelumnya, kasus itu sudah menyebar melalui bisik-bisik antarwarga Indonesia di sana.

Menurut Ida, testimoni itu dibuatnya agar persoalan jelas, sekaligus membersihkan tuduhan bahwa ia menyebar fitnah. Testimoni tadi lantas menyebar dari tangan ke tangan, dan sampai pula ke KBRI Watch, pertengahan Agustus lalu. Nah, sejak itulah, Ida merasa ada yang membayang-bayanginya terus dan hendak menculiknya. Entah siapa.

Pada 28 September, KBRI Watch yang didirikan 22 Juli 2002 dan berkedudukan di Washington, DC, ini lewat surat meminta Departemen Luar Negeri (Deplu) menyelesaikan kasus transaksi seksual yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi dan diplomat di KJRI New York itu. Surat tertanggal 28 September 2004 itu ditembuskan pula ke media massa. Kasus itu pun meletup kian kencang. Nama Faridah ikut ramai dibicarakan.

Bagaimana Faridah jadi pelacur gelap --dan cuma diperas germo-- di Amrik? Kisahnya cukup berliku dan unik. Mula-mula, pada 2001, ibu seorang anak yang dibelit kesulitan ekonomi ini meninggalkan desanya dan menjadi pembantu rumah tangga di keluarga baik hati di Jeddah. Tahun kedua, ia diminta ikut anak majikannya, Samih Al-Qadra, yang bertugas sebagai dokter di Boston, Amerika Serikat.

Watak Samih bertolak belakang dengan sang ayah. Selama empat bulan bekerja menjadi pengasuh anak pada keluarga itu, Ida mengaku sering mendapat perlakuan buruk. Seperti ditempeleng dan disuruh tidur di lantai. Kerap pula dipotong gaji sebesar US$ 50 untuk mengganti piring majikan yang dipecahkannya. Padahal, gajinya cuma US$ 300 sebulan.

Akhirnya Ida nekat kabur, dan terseok-seok menyusuri jalanan Boston di tengah hawa dingin bulan Desember 2002. Beruntung, ia ditolong Nyonya Fiora, nenek tua asal Italia. Atas kebaikan Nenek Fiora, Ida diantar ke KJRI New York. Ida berjumpa dengan Chris Karto, programer komputer yang bekerja di KJRI. Chris, lelaki asal Malang, Jawa Timur, yang berpaspor Amerika ini lantas menjadikan Ida sebagai pengasuh anaknya yang menderita kelainan saraf motorik.

Sebulan di rumah Chris, pada Januari 2003, Ida berkenalan dengan James Stover. James tetangga Chris, tinggalnya berjarak empat rumah dari kediaman Chris di Woodside, Queens, New York --sebuah kawasan "Kampung Melayu". Sebelumnya, pemuda Brasil berusia 20-an tahun itu memang kerap bertandang ke tempat Chris, terutama kalau ada pesta.

James memperlihatkan rasa suka pada Ida. Keduanya kemudian berpacaran dan tidur bersama. Kesulitan bahasa tak menjadi hambatan. Menurut Ida, mereka berpacaran diam-diam. Majikannya tak tahu. Chris sibuk dengan proyek teknologi informasi di perusahaannya, sehingga sering pulang malam. Istri Chris selalu repot dengan kegiatan gereja. Kesempatan itu digunakan Ida untuk menemui pujaan hatinya.

Selang dua bulan, dalam suatu pertemuan, James menyatakan cintanya dan ingin mengawini gadis Bima ini. Ida menyambutnya dengan hati berbunga-bunga. "Orangnya ganteng, tinggi. Dan dia bilang I love you pada saya," tutur Ida.

Dalam percakapan berikutnya, James menjelaskan bahwa untuk kawin perlu biaya. Dan itu hanya bisa diperoleh bila Ida bersedia melayani lelaki lain dengan imbalan uang jasa. Mungkin sedang dimabuk cinta, Ida tak menolak saran sang kekasih. Ada dugaan, James sedari awal memang mendekati Ida untuk menjadikannya perempuan penghibur. Apalagi ia tahu, Ida lumayan cantik. Bibirnya sensual, tubuhnya sintal.

Suatu pagi, James yang mengaku bekerja sebagai pembantu administrasi di salah satu rumah sakit ini mengajak Ida ke rumahnya. Di sana sudah menunggu David, seorang lelaki berkulit hitam, teman James. David yang ternyata luntang-lantung ini minta dilayani. Ida tak bersedia, tapi dipaksa James sampai akhirnya mau.

Kemudian langganan-langganan lainnya berdatangan. "Saya diminta melayani dua orang dalam sehari. Kata James, untuk ongkos buat kawin," tutur Ida. Maka, sejak itu Ida pun menjalani profesi sebagai pramusyahwat secara diam-diam. Maklum, prostitusi liar dilarang keras di sana. Ida, yang hafal jadwal kerja majikannya, leluasa menerima tamunya di rumah sang majikan. Apalagi, kedua anak majikannya bersekolah pukul 08.00-16.00.

Terkadang ia juga diantar James melayani tamunya di luar rumah majikannya. "Bahkan ada pula yang di dekat sini," katanya sambil menunjuk blok lain di lingkungan rumah majikannya. Yang paling menyedihkan, menurut Ida, ia dijebak dan harus melayani beberapa orang. "Katanya satu orang, ternyata di rumah itu ada empat orang. Saya diperlakukan seperti hewan," katanya.

Penuturan Ida, oleh James, para pelanggan warga asing itu dikenai tarif rata-rata US$ 500 sekali main. Usai melayani tamunya, Ida mendapat uang jasa dan hari itu pula harus ia setorkan ke James. James beralasan, uang akan ditabungnya buat bekal kawin.

Menurut Chris Karto, James Stover kemudian mengajak Sahat Simanjuntak, seorang pengusaha pemborong bangunan, untuk "bekerja sama". "Dia ikut pula mengatur dan mencarikan pelanggan buat Ida," kata Chris, menceritakan Sahat Simanjuntak, kawan karibnya yang sering berkunjung dan sudah dianggap sebagai saudara itu. Chris menduga, Sahat dimanfaatkan karena dia sudah lama di antara masyarakat Indonesia di sana, sehingga gampang mencari pelanggan.

Menurut versi Chris lagi, pelanggan Ida berkembang, merambah ke kalangan pejabat KJRI di New York. Itu berkat peranan Robert Silaen, kakak ipar Chris yang punya istri sebagai staf KJRI. Dalam sejumlah kesempatan, kata Chris pula, Robert menawar-nawarkan "jasa" Ida.

Sejumlah staf dan petinggi KJRI, menurut pengakuan Ida, sempat dilayaninya, juga di rumah sang majikan. Kala itu, Maret 2003, majikannya sedang berlibur ke Kanada. Seingat Ida, pelanggannya dari KJRI itu berjumlah sembilan orang.

Konsul Jenderal Kristio Wahyono, kata Ida, menjadi pelanggan kedua dari KJRI. "Setelah selesai, saya diberinya uang di dalam amplop sebanyak US$ 500. Kalau staf KJRI lainnya US$ 200-US$ 300," kata Ida. Entah benar entah tidak ocehan Ida ini.

Dari kalangan diplomat, Ida mengaku diusung pula ke orang-orang Indonesia yang aktif di gereja. Pelanggannya ini ada yang diantarkan oleh Robert Silaen, ada pula yang sudah tahu dan menemui Ida langsung. Mainnya, kata Ida, di kamar mandi atau podium. Ida mengaku cukup lama bergelut dengan kalangan gereja. Dalam "daftar hebohnya" itu, tercatat setidaknya 18 nama dari kalangan gereja.

Praktek mesum diam-diam ini baru berhenti 11 Juni lalu. James yang berinisiatif menyetopnya. Dua hari berselang, di malam hari, Ida disatroni James di kamarnya di lantai atas. James mengajak Ida kabur untuk dikawini. Entah serius atau tidak. Sadar bakal dikadali lagi, besoknya Ida menceritakan kelakuan James pada Chris.

Kasus masuknya James ke kamar Ida dilaporkan Chris ke kantor polisi Precinct 108, waktu itu ditangani Detektif R. Terry. Kelanjutan kasus ini sampai sekarang tidak jelas. James sendiri kabarnya menghilang.

Nah, sepulang dari kantor polisi, Ida berceloteh pula kepada sang majikan perihal transaksi seksual yang dilakoninya di kamarnya itu. Ida menunjukkan daftar 10 lelaki yang dia ingat sempat menjadi pelanggannya.

Kata Chris, ia terkejut bukan main. Apalagi Ida menyebut pula nama Robert Silaen dan Sahat Simanjuntak. "Saya sempat tak percaya," ujar Chris. Ia baru percaya setelah Ida bersumpah bahwa yang diucapkannya itu benar. Belakangan, daftar nama pelanggan Ida berkembang menjadi 41 orang.

Shamsi Ali, Imam Masjid Islamic Center New York, sempat heran melihat kejelian dan daya ingat Ida --menurut dia, perempuan itu terkesan culun-- dalam mencatat nama-nama pelanggannya. "Semuanya dicatat rapi," kata Shamsi, yang pernah diminta Chris menjadi saksi saat Faridah memberi kesaksian hebohnya itu. Ia juga heran, kok selama setahun itu Chris tak tahu sama sekali.

Benarkah pemilik nama-nama itu pernah telibat esek-esek seperti dituduhkan Ida? Semuanya membantah. Secara institusi, pihak KJRI melalui siaran pers tertanggal 30 September menampik semua pengakuan Ida. Uniknya, siaran pers Nomor 002/PR/IX/04 itu tak jelas diteken siapa. Yang tercantum di situ cuma goresan pena mirip paraf.

Pihak KJRI juga pernah melayangkan tiga kali undangan kepada Ida untuk hadir dan membahas masalah itu. "Tapi undangan itu tidak pernah dipenuhi Ida karena dilarang Chris," kata Iwansyah Wibisono, Kepala Bidang Penerangan KJRI. KJRI tidak bisa main paksa "mengambil" Ida dari Chris, karena itu melanggar hukum Amerika. "Kita sebagai warga Indonesia (sebetulnya) bisa menyelesaikan secara kekeluargaan," kata Iwansyah lagi. Dalam daftar Ida, Iwan masuk di urutan ke-13.

Sejumlah nama lain --dari ke-41 daftar versi Ida-- yang diwawancarai Gatra menyebutkan bahwa pengakuan Ida adalah hasil rekayasa tokoh intelektual di belakangnya: Chris Karto. Menurut mereka, Chris berupaya melakukan pemerasan dengan menebar fitnah.

Kristio Wahyono, misalnya, tegas mengatakan bahwa Chris Karto sakit hati karena sejumlah kontraknya dengan KJRI yang berlangsung 10 tahun distop sejak Kristio menjabat sebagai konjen pada 2003. "Dia kesulitan uang karena gemar judi, kemudian hendak memeras saya yang dianggapnya orang kaya. Faridah itu hanya diperalatnya," kata Konjen RI di New York itu kepada Gatra. Ia di nomor urut enam dalam daftar versi Ida.

Sahat Simanjuntak juga membantah tudingan sebagai germo. Katanya, ia pernah dimintai tolong oleh Ida dan Chris menagih uang milik Ida pada James Stover. Ia mengabulkan permintaan itu dengan mendatangi James. Ia justru heran, kok bisa-bisanya dituduh berkomplot dengan James mengomersialkan Ida secara seksual.

Edyson Simandjuntak, kakak kandung Sahat, menyatakan keheranannya perihal pengakuan Ida bahwa ia melayani pelanggannya di gereja. "Pada setiap kebaktian hari Minggu, kan banyak orang. Mau main di mana?" kata tokoh gereja yang berada di nomor 15 dalam daftar Ida itu.

Chris Karto menolak dikatakan merekayasa cerita dan hendak memeras. Niatnya membeberkan kasus itu, katanya, lantaran kejadiannya berlangsung di rumahnya. Chris berkeras bahwa apa yang disampaikan Ida benar adanya.

Sebaliknya, pihak yang dituding bersikukuh membantah. Lantas, siapa yang benar? Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Soemadi D.M. Brotodiningrat, bertekad ikut menyelesaikan persoalan ini. Untuk itu, "Seluruh benang merahnya harus ditelusuri. Dan yang paling penting, harus ada penyelesaian secara hukum," katanya kepada Gatra di Washington, DC.

Mungkin ada baiknya Menteri Hassan Wirajuda segera bertindak. Kalau diplomat itu tidak bersalah, ya, wajib dibela.

Taufik Alwie, Bernadetta Febriana, Didi Prambadi dan Agung Firmansyah (New York)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 48 beredar Jumat 8 Oktober 2004]
Tuesday, October 12, 2004 | 0 comments

Blog Archives