Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Nomo Koeswoyo Ingin menjual "Hotel Impiannya"

Written By Syafrein Effendiuz on 31/07/04 | Sabtu, Julai 31, 2004




Pemusik senior, Koesnomo atau Nomo Koeswoyo kini lebih banyak menyepi di Magelang. Bukan menjadi pertapa, tapi menunggu orang yang berminat atas tanahnya.
Nomo, 64, sebenarnya boleh dibilang telah lengkap hidupnya. Ia pernah mencapai puncak dalam karir musiknya bersama saudara-saudaranya dalam kelompok Koes Bersaudara (1962-1967 dan 1977-1984) serta dibilang berhasil dalam pelbagai bisnis yang ditekuninya. Termasuk tentunya, mengorbitkan dua anaknya, Chicha dan Helen Koeswoyo sebagai penyanyi anak tahun 1970-an.
Saat ini jamannya telah berubah. Chicha dan Helen pun telah memberi 4 orang cucu bagi Nomo yang kini hidup sendiri sejak ditinggal pergi isterinya, Meis.
"Aku sekarang ya begini saja. Usaha harus jalan terus, yang penting tidak minta-minta orang kan?" katanya di Magelang, Minggu (21/9). Di Magelang, Nomo tinggal bersama putra bungsunya, Reza yang telah berkeluarga dan membuka usaha bengkel body-repair mobil.. Sementara di sekitar kompleks Koes Plus di Jalan Haji Nawi, Cipete, Nomo juga membuka bengkel.
Bercerita tentang bsinis, Nomo langsung bercerita tentang impiannya yang sempat terkubur karena krisis moneter pada 1997 lalu. Pada 1996 lalu, ia membeli tanah di sekitar terminal bus di pusat kota Magelang, Jawa Tengah. Ia ingin mewujudkan impiannya, mendirikan sebuah hotel transit dengan konsep kembali ke alam. "Aku sudah beli tanah satu setengah hektar dengan kontur yang luar biasa, lengkap dengan sawah dan sungai kecil. Bayanganku nanti tamu-tamu bisa mandi di kali yang sudah saya bendung," kata Nomo.
Masih terpengaruh dengan impian lamanya Nomo bercerita lagi tentang hal itu dengan berapi-api. "Aku membayangkan, tamu-tamu duduk di teras kamar itu bisa melihat Gunung Tidar atau Merapi atau dekat ke Borobudur atau ke Medut. Lengkap semuanya," katanya.
Namun ketika diminta untuk "membumi" lagi, nada suara Nomo agak melunak. "Namu ya itu-lah, Tuhan memang penentu segalanya. Tapi ya ada untungnya juga. Aku hampir menandatangani kontrak kredit, dalam dolar lagi. Kalau jadi, mau bagaimana coba membayarnya," katanya.
Saat ini ia berharap dapat memulai hal baru lagi dengan menjual "tanah impiannya" ini. "Aku mau jual lengkap, tanah dengan segala master-plan rencana hotelku dulu," lanjutnya.
Nah, kalau impian masa lalu mau dijual, apa masih punya impina untuk masa depan? "Aku wis tua, aku masih ingin menerbitkan lagu-lagu tentang kisah cintaku sama Meis."

0 ulasan: