Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Daftar panjang perbuatan Benny terhadap Muslim

Written By Syafrein Effendiuz on 29/09/04 | Rabu, September 29, 2004

Mengingat LB Moerdani
Leonardus Benyamin Moerdani atau yang lebih dikenal dengan LB Moerdani, meninggal pada hari Minggu (29/08), dini hari pukul 01.20 WIB di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Ia menemui ajalnya setelah dirawat sejak sejak 6 Juli lalu, akibat kondisinya yang terus menurun karena stroke. Ia salah seorang tokoh intelijen Orde Baru. Bahkan bisa disebut, Benny, begitu ia biasa dipanggil, adalah sebuah legenda. LB Moerdani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Layakkah ia disebut sebagai pahlawan? Atau sudah berubahkah definisi pahlawan di negeri ini sehingga sosok yang begitu penuh dengan daftar kedzaliman atas umat Islam begitu dihormati?

Daftar perbuatan Benny begitu panjang atas umat Islam. Salah satu yang paling fenomenal adalah kasus Tanjung Priok. Tapi sayangnya, ia lolos dari jeratan hukum.

Pada tahun 1983-1985 Benny melakukan penggarapan (penggarapan adalah istilah Ali Moertopo untuk mengobrak-abrik gerakan politik demikian menurut Dahlan Ranuwihardjo) terhadap umat Islam dengan memuluskan perintah Soeharto agar semua ormas dan parpol berasaskan Pancasila.

Garapan pertama Benny adalah PII, Pelajar Islam Indonesia. Organisasi pelajar ini memiliki sejarah harum di masa lalu. Gagasan asas tunggal Pancasila menjadikan PII berjuang di bawah tanah. Sebab tahun 1985 PII merencanakan kongres menolak Pancasila sebagai asas. Dan sejak saat itu, organisasi ini dijadikan ilegal. PII juga dicap sebagai ekstrem kanan oleh pemerintah Orde Baru.

“Kakak” PII yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) juga digarap oleh Benny Moerdani. Hanya bedanya HMI tidak menjadi organisasi ilegal melainkan pecah menjadi dua. HMI Dipo 16 yang menerima Pancasila sebagai asas dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal.

Penerimaan asas tunggal Pancasila oleh HMI berjalan alot. Pada mulanya, dalam persiapan kongres 1983 sudah ada utusan-utusan pemerintah yang alumni HMI atau penyebutan oleh anggota HMI saat itu adalah “antek-antek pemerintah”. Terjadilah konflik antara anggota HMI dengan alumni HMI.

Benih-benih konflik ini semakin tersemai dan terbuka dalam kongres di Padang, tahun 1986. Menyadari potensi reaktif HMI yang radikal, pemerintah mulai menggarap anggota-anggotanya yang dianggap akomodatif. Melalui berbagai lobi yang dilakukan oleh Abdul Gafur dan Akbar Tandjung, mereka berhasil meyakinkan HMI untuk mencari “jalan selamat”. Dalam sidang pleno PB HMI 1983/1985 tanggal 5 April 1985 di Ciloto Jawa Barat, HMI menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas.

Pelaksanaan kongres ini sempat tertunda beberapa bulan karena adanya conditioning oleh pemerintah. Kemudian tokoh-tokoh akomodatif diberi lampu hijau oleh pemerintah dan tokoh-tokoh garis keras seperti Abdullah Hehamanua dan Eggy Sujana diberi lampu merah.

Terpilihlah Saleh Khalid sebagai ketua umum PB HMI. Persoalan tidak berhenti sampai di situ karena keputusan ini ditolak oleh banyak sekali anggota HMI. Mereka berpendapat bahwa penetapan Pancasila sebagai asas tunggal diterima tidak melalui kongres. Mereka yang menolak ini membentuk HMI Tandingan berupa HMI MPO dan mencoba “mengadili” pengurus HMI bentukan pemerintah. Sejak saat itu muncul pengurus tandingan pada banyak cabang HMI di Indonesia. Dan sejak saat itu pula HMI MPO disebut ekstrem kanan.

Catatan fenomenal lain yang terkait nama Benny terjadi pada tahun 1984. Saat meletusnya tragedi Tanjung Priok. Selain kondisi masyarakat yang memang sangat tidak puas terhadap pemerintah dan dipanasi-panasi oleh penceramah-penceramah yang keras, unsur rekayasa dan provokasi juga terlihat (walaupun masih misteri sampai saat ini).

Yang menarik adalah peristiwa sesudahnya yaitu kasus “lembaran putih” yaitu surat protes yang dikeluarkan oleh petisi 50 dan ditandingi oleh penceramah-penceramah yang keras. “Lembaran putih” ini dijadikan alasan oleh Benny Moerdani menangkapi dai-dai seperti AM Fatwa, AQ Jailani, Tasrif Tuasikal, HM Sanusi, HR Dharsono, Oesmany El Hamidy, Mawardi Noor, Tonie Ardhie, dan lain-lain. Menurut Panji Masyarakat yang terbit pasca persidangan, menyebut kasus ini benar-benar seperti dagelan.

Orang-orang di atas juga disebut ekstrem kanan. Beberapa bulan setelah peristiwa Tanjung Priok, tanggal 4 Maret 1985, timbul peristiwa peledakan dua kantor BCA yang mengakibatkan 200 orang tewas. Di malam Natal dua gereja diledakkan di Malang, Jawa Timur. Sebulan kemudian tepat pada tahun baru 1986, sembilan stupa Candi Borobudur diledakkan. Hal yang lucu adalah yang dituduh sebagai pelaku pemboman ini antara lain adalah Hussein Al Habsyi, seorang dai tuna netra. Bagaimana mungkin ia dituduh menjadi pelaku pemboman. Pelaku pemboman ini juga dicap ekstrem kanan.

Pada tahun 1987 di Aceh muncul barisan jubah putih dipimpin Teuku Bantaqiyah. Gerakan ini mencita-citakan tegaknya Islam sedunia. Bulan Mei 1987, dengan berjalan kaki di desa Blang Beuradeh, Beutung Aseuh, Aceh Barat, untuk menyampaikan sikap dan aksinya. Hingga terjadi beberapa kekerasan. Benny langsung menyebutnya sebagai gerakan ekstrem. Dan, beberapa waktu kemudian, Teuku Bantaqiyah berserta pengikutnya ditemukan tewas terbantai, mengenaskan.

Lalu ada pula cap Gerakan Pengacau Keamanan atau GPK yang disandangkan pada penduduk sebuah kampung di Lampung. Gerakan ini meletus ke permukaan pada bulan Februari 1989, mereka membunuh beberapa anggota ABRI. Sedangkan di pihak rakyat Lampung jatuh 27 korban termasuk Anwar alias Warsidi. Pemerintah menyebut pelaku peristiwa ini sebagai Gerakan Pengacau Keamanan dan Ekstrem kanan. Kemudian juga terjadi kasus Daerah Operasi Militer di Aceh dan berubah menjadi arena killing field alias ladang pembantaian.

Begitu juga karir Benny saat pembajakan pesawat Garuda yang lebih dikenal dengan sebutan Kasus Woyla terjadi. Dalam kasus ini performance Benny sebagai seorang intel sejati, betul-betul tergambar. Saat pelumpuhan pembajak telah usai, saat kilauan lampu blitz menyambar-nyambar dari para wartawan dan kesempatan publikasi begitu menyilaukan, justru di saat itulah Benny tak tergoda. Sebagai seorang intel ia benar-benar sempurna menyembunyikan jati dirinya, dan itu pula yang menambah kesan misterius pada sosok ini. Padahal, Benny ikut terlibat langsung dalam proses pelumpuhan. Diam-diam, setelah kasus usai, Benny pergi lewat pintu ekor pesawat. Mencegat taksi dan langsung menuju ke Cendana untuk melaporkan tugasnya pada bos besar kala itu, Soeharto.

Benny kini memang telah meninggalkan apa yang telah ia jaga dan lakukan selama ini. Tapi, masa jabatannya yang lebih dari 40 tahun dalam dinas militer, terutama intelijen, tentu punya arti lain. Untuk umat Islam dan untuk penerus LB Moerdani. Karena gagasan dan pikiran-pikiran Benny, sesungguhnya tak pernah mati. Kematian Leonardus Benyamin Moerdani hanya sebuah pertanda, satu babak telah usai. Dan kini, babak baru sedang dimulai.

Agung Pribadi
Sejarawan, Peneliti di Yayasan Harkat Bangsa