Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Muhammadiyah Ingatkan Bahaya Sekularisme di Indonesia

Written By Syafrein Effendiuz on 3/04/05 | Ahad, April 03, 2005

JAKARTA--MIOL: Organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah mengingatkan bahaya sekularisme di Indonesia yang mengarah ke liberalisme sehingga merusak moral masyarakat Indonesia yang terlihat dari maraknya hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi.
"Sekularisme atau paham yang menyatakan kehidupan manusia hanya di dunia dan tidak mengenal kehidupan sesudah mati, sekarang terlihat semakin merajalela di Indonesia hingga ke tingkat liberalisme yang tidak memperhatikan norma-norma kehidupan," kata Wakil Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Dr Din Syamsuddin di Islamic Centre Muhammadiyah Cipanas, Jawa Barat, Sabtu.
Din mencontohkan maraknya tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi di berbagai media di Indonesia serta sifat masyarakat Indonesia yang bangga dengan hal-hal yang bersifat moderen.
"Hal ini menjadi tantangan berat bagi umat Muslim di
Indonesia ke depannya supaya moral bangsa kita tidak semakin jatuh," kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.
Dia menambahkan, MUI pada tahun 2001 pernah mengeluarkan fatwa tentang pornografi dan pornoaksi, dan dua tahun lalu mengajukan usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) namun hingga kini belum dibahas secara mendalam.
"Menghadapi dekadensi moral yang dialami bangsa Indonesia, kita tidak harus menghadapinya dengan kemarahan, emosi. Tapi kita harus mengajak pihak lain untuk sama-sama berbuat demi bangsa Indonesia, salah satunya dengan membuat RUU itu," ujarnya.
Muhammadiyah juga meminta umat Muslim mewaspadai penyiaran agama yang bermuara pada pemurtadan.
Menurut Din, berdasarkan sensus penduduk pada tahun 1990, penduduk Muslim di Indonesia mencapai 87,8 persen atau 172 jiwa dan tahun 2000 menjadi 88,2% atau berjumlah 177 juta.
"Tapi dibandingkan agama lain, angka pertumbuhan tahunan umat Islam hanya mencapai 1,2%, sedangkan umat lain sudah 2,4%. Suatu saat, bisa saja Islam menjadi agama minoritas di Indonesia," ujar Din.
Selain itu, Muhammadiyah juga mengingatkan mengenai natifikasi atau budaya lokal yang dekat dengan hal-hal berbau bid'ah dan mistis.
"Tayangan di televisi banyak sekali yang bersifat mistis, hal ini amat tipis jaraknya dengan kemusyrikan," ujarnya.
Din mengaku melalui MUI pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan para pengelola stasiun televisi supaya mengurangi atau mengakhiri tayangan-tayangan seperti itu namun kenyataannya masih marak hingga sekarang.
Untuk itu, Muhammadiyah mengajak seluruh bangsa Indonesia membentengi diri dengan agama dan diawali dari keluarga.
"Keluarga memegang peran penting dalam pendidikan agama, banyak keluarga yang 'roboh' karena anak-anaknya tidak di didik dengan agama sehingga terjadi kemerosotan moral," ajak Din.
(Ant/Ol-1)