Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Written By Syafrein Effendiuz on 5/04/05 | Selasa, April 05, 2005


Posisi Nyaman Wanita Islam

ASRA Q. Nomani, mantan wartawan Wall Street Journal dan pendiri kelompok wanita Muslim Women's Freedom Tour, adalah tokoh di balik penyelenggaraan salat Jumat dengan imam perempuan di sebuah gereja New York, Jumat dua pekan lalu.

Salat Jumat dengan imam perempuan itu, kata Nomani, hanya langkah permulaan dan tidak akan berhenti di sini. Nomani bercerita panjang lebar tentang perjuangannya itu kepada Didi Prambadi, wartawan Gatra di New York. Petikannya:

Banyak kritik mengatakan, ada masalah lebih penting bagi wanita muslim ketimbang hanya menjadi imam salat Jumat. Komentar Anda?
Bila wanita bisa menjadi pemimpin di komunitasnya, bisa dipastikan, wanita itu akan menolong kesulitan-kesulitan yang dihadapi wanita lain. Membawa perdamaian di Timur Tengah, misalnya. Juga membantu wanita yang mengalami pelecehan seksual di Amerika Serikat. Ini memang bukan akhir tujuan kami. Langkah kami memang masih panjang.

Apa yang Anda ingin sampaikan?
Saya ingin meyakinkan kaum wanita bahwa kita bisa mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Seperti perdamaian di Timur Tengah. Sejak kecil, saya bercita-cita ingin menjadi bagian dari penyelesaian di kawasan itu. Tapi semua itu tidak akan terjadi bila saya hanya tinggal diam di Morgantown, West Virginia. Menjadi wanita yang terpuruk di belakang masjid.

Bagaimana ceritanya hingga Jumatan bisa dilakukan di gereja?
Saya benar-benar kehilangan akal waktu itu, setelah menerima sejumlah ancaman lewat internet dan perdebatan panjang. Lebih-lebih setelah pemilik galeri di SoHo diancam dengan bom, saya kelabakan mencari alternatif tempat lain. Saya gemetar merasakan betapa besar ancaman kaum ekstremis itu. Setelah gagal mencari tempat ke sana-sini, saya menelepon Mary Lyons, salah satu koordinator di Gereja St. John, dan dia menawarkan Katedral Synod House itu. ''Kenapa Anda bersedia membantu kami?'' saya tanya. ''Lho, kenapa tidak?'' jawabnya. Apalagi, ini membantu kaum wanita memperjuangkan hak-haknya.

Bagi saya, kaum muslim sangat menghormati kehidupan agama lain. Kami juga mengenal Nabi Isa dan Maryam di Al-Quran. Juga mengenal Kristen. Seperti kisah Nabi, di mana ada seorang pengelana Kristen yang beristirahat dan bersembahyang di masjid. Ini merupakan sikap agung dan hormat kaum muslim pada agama lain. Demikian juga sebaliknya. Bagi saya, hidup bersama dengan penganut agama lain harus berdamai. Bukan sebaliknya. Kita harus saling menolong.

Bagi kami, merupakan hal yang indah bila bisa sembahyang di dalam gereja, karena menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran. Kita harus bersatu, dan tidak harus terisolasi dengan keragaman beragama.

Menurut Anda, bagaimana posisi wanita Islam selama ini?
Saya yakin, Islam memberikan tempat atau posisi yang nyaman bagi wanita. Saya yakin, Islam memperlakukan wanita sama dengan pria. Yang membedakan adalah dunia Islam. Saat agama Islam diperkenalkan di Jazirah Arab pada abad ke-7, sejak itulah posisi wanita diubah dan merupakan masa-masa kemunduran bagi wanita.

Kalau sebelumnya wanita bisa sembahyang di tempat yang sama dengan kaum pria, kini di Amerika Serikat, hampir seluruh masjid mengharuskan wanita dipisah dari kaum pria. Bahkan, di seluruh dunia, masjid-masjid tidak mau menerima kaum wanita.

Padahal, Nabi Muhammad mendengar, mengajarkan, dan memberikan kesempatan bagi wanita untuk maju. Ada cerita, tatkala Nabi Muhammad diprotes seorang wanita, kenapa Allah tidak mengizinkan wanita membaca Al-Quran. Nabi tidak marah. Sejak itu, Al-Quran dibaca dan diajarkan kepada kaum wanita.

Ajaran Islam sangat akomodatif kepada kaum wanita. Tapi dunia Islam dan negara-negara muslim lainnya yang mengubah posisi wanita.

Apa yang membuat perjuangan perempuan lebih kondusif saat ini?
Ada sejumlah elemen dasar yang menyebabkan perjuangan hak-hak wanita berlangsung dewasa ini. Salah satunya, kaum muslim wanita Amerika lebih dewasa cara berpikirnya ketimbang pada 1930-an atau 1940-an. Kami, kaum wanita Amerika, dalam posisi yang bebas dari tradisi yang dibuat oleh kaum pria. Kami tidak mau menerima aturan bahwa kaum wanita harus berada di belakang. Dan kami berhasil menempatkan posisi wanita sejajar dengan kaum pria. Kami bisa meraih gelar di Harvard University. Saya bisa bekerja sebagai wartawan di Wall Street Journal.

Semangat untuk memperjuangkan hak wanita, yang tadinya sekadarnya saja, berubah menjadi sangat kuat tatkala kolega saya, Daniel Pearl, wartawan Wall Street Journal, tewas dibunuh di Pakistan. Setiap hari, saya melihat bagaimana istrinya, Mariane, harus tabah mengurus anaknya. Sejak itu, hati saya tergugah agar wanita lebih berperan.

Dengan kata lain, perubahan hak wanita bisa terjadi di negara seperti Amerika Serikat, tidak di negara-negara Islam?
Saya yakin, transformasi yang terjadi di Amerika Serikat akan dialami pula di belahan dunia lain. Memang membutuhkan waktu cukup lama. Tapi saya yakin, hal itu akan terjadi. Perubahan memang memerlukan waktu beberapa dekade. Lihat saja di Amerika, bagaimana mengubah persepsi masyarakat menerima kaum kulit hitam sama dan sejajar dengan warga kulit putih, di dalam bus serta di tempat-tempat umum lainnya.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 21 Beredar Senin, 4 April 2005]

URL: http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=83225