Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

CATATAN JEJAK-JEJAK BOM DR. AZAHARI

Written By Syafrein Effendiuz on 11/11/05 | Jumaat, November 11, 2005

Jakarta (ANTARA News) - Gembong teroris yang selama ini paling dicari Pemerintah Indonesia, Dr.Azahari, dan dua orang pengikutnya diduga tewas meledakkan bom bunuh diri selepas kontak senjata dengan aparat keamanan di sebuah vila di Jalan Flamboyan Blok A No 7, Kecamatan Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu petang.

Pria bernama lengkap Azahari Husin (48) tersebut telah meninggalkan jejak-jejak bom di Indonesia. Ia diduga terlibat dalam serangan bom di gereja-gereja pada malam Natal tahun 2000 hingga yang terkini pengeboman di Kuta dan Jimbaran, Bali pada 1 Oktober 2005 yang menewaskan sedikit-dikitnya 23 orang, dan 196 lainnya luka-luka.

Di malam Natal itu, setidak-tidaknya 16 bom meledak di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Kudus, Mojokerto, dan Mataram.

Jejak pertama warga negara Malaysia itu mengguncang malam Natal tahun 2000 di Indonesia dengan ledakan di puluhan tempat, yaitu di Batam: Gereja Katolik Beato Damian, Bengkong; Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Sungai Panas; Gereja Bethany Lantai II Gedung My Mart Batam Center; Gereja Pantekosta di Indonesia Pelita, Jalan Teuku Umar.

Kota Pekanbaru menerima dua paket bom, yaitu di Gereja HKBP Pekanbaru di Jalan Hang Tuah dan Gereja di Jalan Sidomulyo. Jakarta lima bom di Gereja Katedral, Sekolah Kanisius Menteng Raya, Gereja Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, dan Gereja Oikumene Halim. Bom Sukabumi di Gereja Pantekosta Sidang Kristus di Jalan Masjid 20 Alun Alun Utara dan Gereja di Jalan Otto Iskandardinata.

Di Pangandaran ada satu bom, di Bandung ada di pertokoan Cicadas dan di Jalan Terusan Jakarta 43, di Kudus terletak di Gereja Santo Yohanes Evangelista di Jalan Sunan Muria 6. Di Mojokerto ada empat bom, yaitu di Gereja Allah Baik di Jalan Tjokroaminoto, Gereja Santo Yosef di Jalan Pemuda, Gereja Bethany, dan Gereja Ebenezer di Jalan Kartini.

Di kota terakhir, yaitu di Mataram (Nusa Tenggara Barat) ada tiga bom, yaitu di Gereja Protestan Indonesia Barat Imanuel di Jalan Bung Karno, Gereja Betlehem Pantekosta Pusat Surabaya (GBPPS), Pekuburan Kristen Kapitan Ampenan.

Data dari Mabes Polri mencatat pada malam Natal tersebut terjadi 23 ledakan.

Dr. Azahari juga diduga terlibat dalam peledakan Atrium Plaza Senen, Jakarta pada 11 Desember 1998 yang menciderai enam orang.

Jejak yang paling membekas dengan korban jiwa terbanyak adalah pengeboman Bali pada 12 Oktober 2002, yang membunuh 202 orang, termasuk 88 warga Australia.

Dua bom dahsyat meledak di Sari Club dan Paddy`s Cafe di Jalan Legian, Kuta, pada tengah malam. Tragedi yang terjadi pukul 23.15 WITA itu juga telah merusakkan sejumlah bangunan dalam radius 100 meter dari pusat ledakan.

Target Selanjutnya adalah Hotel JW Mariott pada 5 Agustus 2003. Di hotel bintang lima yang terletak di kawasan perniagaan Kuningan, Jakarta Selatan, itu Azahari menciptakan ledakan dengan sebuah mobil minivan berwarna putih.

Mobil tersebut dikendarai Asmar Latinsani (28) dan berhenti di hadapan pagar besi hotel tersebut. Sementara itu, Azahari dikabarkan menaiki motor dan berhenti di masjid dekat Hotel JW Mariott. Ia berada di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, ketika ledakan berlangsung.

Rakitan bom mobil tersebut menewaskan 11 orang dan menciderai 149 orang lainnya.

Selanjutnya, bau mesiu yang ditebarkan Azahari juga mencapai Kedutaan Australia di Jakarta dan membunuh 11 orang. Masih menggunakan bom mobil, tim teroris Doktor lulusan Reading University, Inggris itu berhasil menggemparkan warga Jakarta hingga radius 5 km.

Pengeboman Kedubes Australia 2004 atau yang biasanya disebut Bom Kuningan terjadi pada 9 September 2004 di Jakarta. Hal itu merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia yang terjadi di Indonesia, setelah Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriott 2003.

Mobil boks merk Daihatsu Zebra itu meledak di depan Kedutaan Besar Australia pada pukul 10.30 WIB di kawasan Kuningan, Jakarta. Jumlah korban jiwa tidak begitu jelas lantaran pihak Indonesia berhasil mengidentifikasi sembilan orang, namun pihak Australia menyebut angka 11.

Di antara korban yang meninggal adalah satpam-satpam Kedubes, pemohon visa, staf Kedubes, serta warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat bom tersebut meledak, termasuk tukang kebun. Tidak ada warga Australia yang meninggal dalam kejadian ini.

Beberapa bangunan-bangunan di sekitar tempat kejadian juga mengalami kerusakan.

Terakhir jejak tersebut kembali tercetak di Bali.

Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang selama ini terjadi di Pulau Dewata itu. Paling tidak telah terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Korban tewas terdiri dari 15 warga Indonesia, satu warga Jepang, empat warga Australia, dan tiga lainnya diperkirakan adalah para pelaku pengeboman.

Peristiwa kali ini tidak menyebabkan pengaruh sebesar Bom Bali 2002. Pemandangan para wisatawan asing yang langsung eksodus ke negara asalnya sehari setelah kejadian tahun 2002 tidak terlalu terlihat pada peristiwa ini.

Mata uang Rupiah sempat melemah pada pembukaan pedagangan sehari setelah kejadian sekitar 100 poin ke kisaran Rp10.400, namun melemahnya Ruoiah berkurang pada penutupan perdagangan ke Rp10.305, sehingga total turunnya nilai mata uang nasional mencapai 15 poin.

Hal yang sama juga terjadi pada IHSG Bursa Efek Jakarta yang mampu pulih dari pengaruh pengeboman di akhir perdagangan sehari setelah peristiwa tersebut.

Secara nasional, perekonomian Indonesia juga diperkirakan tak akan banyak terpengaruh Bom Bali. Sektor pariwisata hanya menyumbangkan sekitar 5% dari perekonomian Indonesia, sehingga dampaknya diyakini kecil.

Dr. Azahari dan kawan-kawannya yang diduga pemerintah Indonesia dan Australia --juga Interpol-- terlibat dalam serangkaian serangan bom, seperti pengeboman di hotel JW Marriott, Jakarta pada tahun 2003, Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004 dan Bom Bali 2002.

Kelompok teroris itu memiliki ciri khas melaksanakan serangan secara beruntun dan pada waktu yang bertepatan, seperti pada 11 September 2001. (*)
12DailyPro

(Foto Dokumentasi: DR. Azahari)