Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

‘Permintaan Maaf Malaysia Wajib Diterima’

Written By Syafrein Effendiuz on 1/09/07 | Sabtu, September 01, 2007

PEKAN BATIK: Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah)di dampingi Gubernur Jateng Mardiyanto (kiri) menyaksikan tarian Gambyong pada pembukaan Pekan Batik Internasional di Pekalongan, Sabtu. Wapres
menyatakan permintaan maaf Malaysia wajib diterima. Foto: ANTARA/Saptono

PEKALONGAN--MIOL: Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan, Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi atas nama masyarakatnya telah meminta maaf kepada rakyat Indonesia karena itu permintaan maaf tersebut wajib diterima.
"Bagi kita, pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai umat beragama kalau orang sudah meminta maaf wajib kita terima," kata Wapres, usai membuka Pekan Batik Internasional di Kota Pekalongan, Jateng, Sabtu.
Lebih lanjut Wapres mengatakan, sebelum ini masyarakat Indonesia mendesak adanya permintaan maaf dari Menlu Malaysia, namun sekarang, justru permintaan maaf itu langsung datang dari PM Malaysia.
"Ini jauh lebih tinggi. Jadi artinya pemerintah menganggap kejadian ini (penganiayaan Donald) sebagai suatu kejadian yang sama sekali tidak diharapkan," Kata Wapres.
Wapres juga mengatakan bahwa PM Abdullah Badawi menyampaikan salam kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan seluruh masyarakat Indonesia. Wapres juga mengaku telah berbicara dengan Wakil PM Datuk Nadjid.
Sementara mengenai kasus penganiayaannya, Wapres menyerahkan kepada korban Donald jika akan melakukan penuntutan secara perdata. Sedangkan untuk kasus pidananya, Wapres telah menginstruksikan KBRI untuk segera menunjuk tim pengacaranya.
Menurut Wapres apa yang terjadi yakni kasus penganiayaan terhadap Donald K tersebut bukan merupakan kesalahan bangsa, tetapi merupakan kesalahan anggota polisi.
"Ini kalau di Indonesia sering kita sebut, kesalahan oknum polisi, tentu bukan kesalahan seluruh bangsa Malaysia, tapi tentu hukum memang harus tetap jalan," kata Wapres. (Ant/OL-03)

Berita terkait 'Arogansi Malaysia'