Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Written By Syafrein Effendiuz on 21/10/04 | Khamis, Oktober 21, 2004


20 Oktober, 2004 - Published 09:57 GMT
SBY dilantik, jalan berat di depan
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) hari ini dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia untuk masa jabatan 2004-2009.
Pengambilan sumpah di depan sidang paripurna MPR itu dihadiri sejumlah kepala pemerintah asing, termasuk PM Australia John Howard, PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, dan Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam.
Pada pukul 10.20 WIB, SBY mengucapkan sumpahnya sebagai presiden baru republik Indonesia yang kemudian diikuti pengucapan sumpah wakilnya, Yusuf Kalla.
Megawati dipuji
Dalam upacara pelantikan presiden dan wakil presiden tersebut, ketua MPR, Hidayat Nur Wahid memuji kerja pemerintah Megawati Sukarnoputri yang telah berhasil menjamin kelancaran dan kesukseskan pemilihan presiden.
Akan tetapi sangat terasa ketidak hadiran mantan presiden Megawati sendiri serta mantan wakilnya Hamzah Haz, dalam upacara pelantikan yang sangat bersejarah ini, walaupun suami Megawati, Taufik Kiemas, datang untuk menyaksikan upacara tersebut.
Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, menjelaskan bahwa Megawati tidak hadir dengan alasan bahwa dia tidak diharuskan menyaksikan pelantikan penggantinya.
Muzadi menambahkan, Megawati hanya menggunakan haknya untuk tidak hadir.
Upacara pelantikan yang berlangsung 45 menit ini dipotong interupsi dari sejumlah anggota DPR yang menginginkan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato pendek di gedung MPR.
Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan, karena Presiden SBY sudah memutuskan akan menyampaikan pidato pertamanya pukul 15 waktu Indonesia Barat di Istana Presiden.
Jalan berat di depan
Dalam pidato pertamanya itu, Yudhoyono mengindikasikan jalan yang cukup berat yang akan dilalui oleh pemerintahnya dalam upaya untuk memperbaiki krisis berdimensi jamak itu.
Dia berjanji akan membasi korupsi yang dilihat sebagai salah satu masalah yang akut di Indonesia, yang selama ini membuat Indonesia tidak bisa melaksanakan pembangunan ekonomi.
SBY juga berjanji akan memerangi terorisme.
Presiden, yang semasa pemerintahan Megawati menjabat sebagai Menko Polkam itu, memperingatkan masyarakat agar tidak mengharapkan perubahan yang dramatis.
Tidak bisa 100 hari
Presiden Yudhoyono mengakui bahwa problem-problem yang rumit dan sulit yang dihadapinya tidak mungkin bisa diatasi dalam waktu 100 hari, seperti banyak dibicarakan media massa selama ini.
Namun dia berjanji akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi.
"Pemerintah akan melancarkan program untuk membasmi korupsi. Saya sendiri yang akan memimpinnya," kata Yudhoyono.
Presiden baru ini juga menyinggung upaya untuk mengatasi konflik di Aceh dan Papua. Dia mengatakan, dia akan memberikan perhatian khusus pada kedua konflik itu.
Tentang ancaman terorisme, SBY juga menyatakan tekad untuk memeranginya dan akan menjadikan itu sebagai prioritas utama pemerintahnya.