Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Skandal Seks Faridah di New York

Written By Syafrein Effendiuz on 12/10/04 | Selasa, Oktober 12, 2004

Testimoni Berbuah Bantahan

PENEBAR heboh itu bernama Faridah. Lengkapnya: Faridah Abdullah Rahman, tapi biasa dipanggil Ida. Dia sebetulnya bukan perempuan istimewa, setidaknya dari status pendidikan dan pekerjaannya. Ida drop out madrasah aliyah, setingkat SMU. Pekerjaan pokoknya menjadi pembantu rumah tangga di New York, Amerika Serikat.

Perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Indonesianya juga tak bagus. Logat Bimanya amat medok. Siapa sangka, Ida yang terkesan agak culun ini mampu bikin geger masyarakat Indonesia di "negeri Abang Sam" itu. Kalangan diplomat di lingkungan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York kalang kabut dibuatnya.

Sepekan ini, kegemparan itu makin meletup, setelah media massa menyebarkan kisah transaksi seks versi Ida yang katanya melibatkan kalangan gereja dan diplomat. Komentar pun bermunculan atas berita yang kebanyakan diberi stempel "skandal seks" itu. Kalau ini benar, "Kelakuan mereka memprihatinkan," kata Angelina Sondakh, anggota DPR dari Partai Demokrat yang baru dilantik, kepada Rachmat Hidayat dari Gatra.

Agung Waluyo, Koordinator KBRI Watch, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengawasi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Amerika Serikat, menilai, jika pernyataan Faridah benar, berarti para diplomat tersebut telah melakukan tindakan di luar kepatutan moral dan etika sebagai pejabat. "Ini sangat penting ditindaklanjuti Kementerian Luar Negeri," tulis Agung dalam faksimilinya kepada Gatra, Rabu pekan ini.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda tak urung geram. "Saya akan cek kebenarannya," katanya di Jakarta. Kata Hassan pula, isu itu dilemparkan oleh pihak keluarga yang menampung dan memanfaatkan Ida. "Pihak yang mengendalikan wanita ini sedang dalam situasi krisis keuangan, dan alasan-alasan lain. Jadi, labeling skandal KJRI itu terlalu bombastis," Hassan menambahkan.

Nun di New York, di tempat tinggal majikannya, Ida kebat-kebit menyimak perkembangan kehebohan tersebut. Ia merasa keselamatannya terancam. "Ada yang mau menculik saya," ujarnya kepada Gatra. Ida tak menyangka, pengakuannya perihal dagang seks yang dilakoninya berkembang demikian geger, dan makin menyusahkannya.

Kegemparan berbau syahwat, dan kecemasan Ida, itu bertolak dari surat terbuka yang ditulisnya pada 6 Agustus silam. Surat berisi pengakuan Ida ini terkesan tak main-main karena juga ditandatangani Surinder Kaur, notaris publik di Queens County, New York. Ida memberinya judul "Penjelasan kepada masyarakat Indonesia".

Dalam surat sebanyak empat lembar, termasuk lampiran, itu Ida blak-blakan menceritakan bahwa ia telah melakukan hubungan seksual atas dasar komersial dengan banyak orang di New York selama setahun ini. Pelanggannya dari berbagai ras. Ada bule, negro, dan bangsa dewe.

Nah, yang bikin heboh, ya, daftar nama pelanggan Ida yang dijereng satu per satu di lampiran itu. Jumlahnya 41 orang. Sebagian besar orang Indonesia. Sembilan orang di antaranya orang penting di KJRI, termasuk Konsul Jenderal Kristio Wahyono. Sejumlah tokoh gereja tersangkut pula. Di sebutkan juga, beberapa pelanggannya sempat merekam adegan seksual mereka.

"Saya tidak bohong," kata Ida. Seakan untuk makin menguatkan pengakuannya itu, Ida mengawalinya dengan kalimat sumpah atas nama Tuhan. Lalu dilanjutkan dengan, "Bahwa nama-nama orang yang saya cantumkan di bawah ini telah bersetubuh dan berhubungan kelamin dengan saya," tulis perempuan 24 tahun itu.

Apa yang membuat Ida uring-uringan? Ternyata, kata Ida, itu lantaran keringat pelayanan syahwatnya tak membuahkan dolar bagi dirinya. Semuanya diambil sang germo ketika pada 11 Juni lalu sang germo memutuskan berhenti mengeksploitasi Ida karena takut tercium polisi. Di Amerika, bisnis seks memang sering diobrak-abrik petugas. Para pemainnya banyak berakhir di bui.

Ida cuma gigit jari melihat si germo dan konco-konconya membagi rata duit jerih payahnya selama ini. Jumlahnya lumayan: US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,8 milyar. Ia merasa ditipu habis-habisan. Mungkin nasibnya lebih buruk dari tenaga kerja wanita yang melacur di Arab sekalipun, yang masih kebagian riyal dari jerih payahnya itu. Ida kecewa berat. Impian kawin dengan James Stover, atau paling tidak mengumpulkan uang untuk pulang kampung, kandas sudah.

"Bila tak ditipu, biarlah kisah ini saya saja yang tahu," katanya. Lantas Ida mengadu kepada majikannya, Chris J. Karto. Dua bulan berselang, lahirlah testimoni yang menggegerkan warga Indonesia di New York itu. Sebelumnya, kasus itu sudah menyebar melalui bisik-bisik antarwarga Indonesia di sana.

Menurut Ida, testimoni itu dibuatnya agar persoalan jelas, sekaligus membersihkan tuduhan bahwa ia menyebar fitnah. Testimoni tadi lantas menyebar dari tangan ke tangan, dan sampai pula ke KBRI Watch, pertengahan Agustus lalu. Nah, sejak itulah, Ida merasa ada yang membayang-bayanginya terus dan hendak menculiknya. Entah siapa.

Pada 28 September, KBRI Watch yang didirikan 22 Juli 2002 dan berkedudukan di Washington, DC, ini lewat surat meminta Departemen Luar Negeri (Deplu) menyelesaikan kasus transaksi seksual yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi dan diplomat di KJRI New York itu. Surat tertanggal 28 September 2004 itu ditembuskan pula ke media massa. Kasus itu pun meletup kian kencang. Nama Faridah ikut ramai dibicarakan.

Bagaimana Faridah jadi pelacur gelap --dan cuma diperas germo-- di Amrik? Kisahnya cukup berliku dan unik. Mula-mula, pada 2001, ibu seorang anak yang dibelit kesulitan ekonomi ini meninggalkan desanya dan menjadi pembantu rumah tangga di keluarga baik hati di Jeddah. Tahun kedua, ia diminta ikut anak majikannya, Samih Al-Qadra, yang bertugas sebagai dokter di Boston, Amerika Serikat.

Watak Samih bertolak belakang dengan sang ayah. Selama empat bulan bekerja menjadi pengasuh anak pada keluarga itu, Ida mengaku sering mendapat perlakuan buruk. Seperti ditempeleng dan disuruh tidur di lantai. Kerap pula dipotong gaji sebesar US$ 50 untuk mengganti piring majikan yang dipecahkannya. Padahal, gajinya cuma US$ 300 sebulan.

Akhirnya Ida nekat kabur, dan terseok-seok menyusuri jalanan Boston di tengah hawa dingin bulan Desember 2002. Beruntung, ia ditolong Nyonya Fiora, nenek tua asal Italia. Atas kebaikan Nenek Fiora, Ida diantar ke KJRI New York. Ida berjumpa dengan Chris Karto, programer komputer yang bekerja di KJRI. Chris, lelaki asal Malang, Jawa Timur, yang berpaspor Amerika ini lantas menjadikan Ida sebagai pengasuh anaknya yang menderita kelainan saraf motorik.

Sebulan di rumah Chris, pada Januari 2003, Ida berkenalan dengan James Stover. James tetangga Chris, tinggalnya berjarak empat rumah dari kediaman Chris di Woodside, Queens, New York --sebuah kawasan "Kampung Melayu". Sebelumnya, pemuda Brasil berusia 20-an tahun itu memang kerap bertandang ke tempat Chris, terutama kalau ada pesta.

James memperlihatkan rasa suka pada Ida. Keduanya kemudian berpacaran dan tidur bersama. Kesulitan bahasa tak menjadi hambatan. Menurut Ida, mereka berpacaran diam-diam. Majikannya tak tahu. Chris sibuk dengan proyek teknologi informasi di perusahaannya, sehingga sering pulang malam. Istri Chris selalu repot dengan kegiatan gereja. Kesempatan itu digunakan Ida untuk menemui pujaan hatinya.

Selang dua bulan, dalam suatu pertemuan, James menyatakan cintanya dan ingin mengawini gadis Bima ini. Ida menyambutnya dengan hati berbunga-bunga. "Orangnya ganteng, tinggi. Dan dia bilang I love you pada saya," tutur Ida.

Dalam percakapan berikutnya, James menjelaskan bahwa untuk kawin perlu biaya. Dan itu hanya bisa diperoleh bila Ida bersedia melayani lelaki lain dengan imbalan uang jasa. Mungkin sedang dimabuk cinta, Ida tak menolak saran sang kekasih. Ada dugaan, James sedari awal memang mendekati Ida untuk menjadikannya perempuan penghibur. Apalagi ia tahu, Ida lumayan cantik. Bibirnya sensual, tubuhnya sintal.

Suatu pagi, James yang mengaku bekerja sebagai pembantu administrasi di salah satu rumah sakit ini mengajak Ida ke rumahnya. Di sana sudah menunggu David, seorang lelaki berkulit hitam, teman James. David yang ternyata luntang-lantung ini minta dilayani. Ida tak bersedia, tapi dipaksa James sampai akhirnya mau.

Kemudian langganan-langganan lainnya berdatangan. "Saya diminta melayani dua orang dalam sehari. Kata James, untuk ongkos buat kawin," tutur Ida. Maka, sejak itu Ida pun menjalani profesi sebagai pramusyahwat secara diam-diam. Maklum, prostitusi liar dilarang keras di sana. Ida, yang hafal jadwal kerja majikannya, leluasa menerima tamunya di rumah sang majikan. Apalagi, kedua anak majikannya bersekolah pukul 08.00-16.00.

Terkadang ia juga diantar James melayani tamunya di luar rumah majikannya. "Bahkan ada pula yang di dekat sini," katanya sambil menunjuk blok lain di lingkungan rumah majikannya. Yang paling menyedihkan, menurut Ida, ia dijebak dan harus melayani beberapa orang. "Katanya satu orang, ternyata di rumah itu ada empat orang. Saya diperlakukan seperti hewan," katanya.

Penuturan Ida, oleh James, para pelanggan warga asing itu dikenai tarif rata-rata US$ 500 sekali main. Usai melayani tamunya, Ida mendapat uang jasa dan hari itu pula harus ia setorkan ke James. James beralasan, uang akan ditabungnya buat bekal kawin.

Menurut Chris Karto, James Stover kemudian mengajak Sahat Simanjuntak, seorang pengusaha pemborong bangunan, untuk "bekerja sama". "Dia ikut pula mengatur dan mencarikan pelanggan buat Ida," kata Chris, menceritakan Sahat Simanjuntak, kawan karibnya yang sering berkunjung dan sudah dianggap sebagai saudara itu. Chris menduga, Sahat dimanfaatkan karena dia sudah lama di antara masyarakat Indonesia di sana, sehingga gampang mencari pelanggan.

Menurut versi Chris lagi, pelanggan Ida berkembang, merambah ke kalangan pejabat KJRI di New York. Itu berkat peranan Robert Silaen, kakak ipar Chris yang punya istri sebagai staf KJRI. Dalam sejumlah kesempatan, kata Chris pula, Robert menawar-nawarkan "jasa" Ida.

Sejumlah staf dan petinggi KJRI, menurut pengakuan Ida, sempat dilayaninya, juga di rumah sang majikan. Kala itu, Maret 2003, majikannya sedang berlibur ke Kanada. Seingat Ida, pelanggannya dari KJRI itu berjumlah sembilan orang.

Konsul Jenderal Kristio Wahyono, kata Ida, menjadi pelanggan kedua dari KJRI. "Setelah selesai, saya diberinya uang di dalam amplop sebanyak US$ 500. Kalau staf KJRI lainnya US$ 200-US$ 300," kata Ida. Entah benar entah tidak ocehan Ida ini.

Dari kalangan diplomat, Ida mengaku diusung pula ke orang-orang Indonesia yang aktif di gereja. Pelanggannya ini ada yang diantarkan oleh Robert Silaen, ada pula yang sudah tahu dan menemui Ida langsung. Mainnya, kata Ida, di kamar mandi atau podium. Ida mengaku cukup lama bergelut dengan kalangan gereja. Dalam "daftar hebohnya" itu, tercatat setidaknya 18 nama dari kalangan gereja.

Praktek mesum diam-diam ini baru berhenti 11 Juni lalu. James yang berinisiatif menyetopnya. Dua hari berselang, di malam hari, Ida disatroni James di kamarnya di lantai atas. James mengajak Ida kabur untuk dikawini. Entah serius atau tidak. Sadar bakal dikadali lagi, besoknya Ida menceritakan kelakuan James pada Chris.

Kasus masuknya James ke kamar Ida dilaporkan Chris ke kantor polisi Precinct 108, waktu itu ditangani Detektif R. Terry. Kelanjutan kasus ini sampai sekarang tidak jelas. James sendiri kabarnya menghilang.

Nah, sepulang dari kantor polisi, Ida berceloteh pula kepada sang majikan perihal transaksi seksual yang dilakoninya di kamarnya itu. Ida menunjukkan daftar 10 lelaki yang dia ingat sempat menjadi pelanggannya.

Kata Chris, ia terkejut bukan main. Apalagi Ida menyebut pula nama Robert Silaen dan Sahat Simanjuntak. "Saya sempat tak percaya," ujar Chris. Ia baru percaya setelah Ida bersumpah bahwa yang diucapkannya itu benar. Belakangan, daftar nama pelanggan Ida berkembang menjadi 41 orang.

Shamsi Ali, Imam Masjid Islamic Center New York, sempat heran melihat kejelian dan daya ingat Ida --menurut dia, perempuan itu terkesan culun-- dalam mencatat nama-nama pelanggannya. "Semuanya dicatat rapi," kata Shamsi, yang pernah diminta Chris menjadi saksi saat Faridah memberi kesaksian hebohnya itu. Ia juga heran, kok selama setahun itu Chris tak tahu sama sekali.

Benarkah pemilik nama-nama itu pernah telibat esek-esek seperti dituduhkan Ida? Semuanya membantah. Secara institusi, pihak KJRI melalui siaran pers tertanggal 30 September menampik semua pengakuan Ida. Uniknya, siaran pers Nomor 002/PR/IX/04 itu tak jelas diteken siapa. Yang tercantum di situ cuma goresan pena mirip paraf.

Pihak KJRI juga pernah melayangkan tiga kali undangan kepada Ida untuk hadir dan membahas masalah itu. "Tapi undangan itu tidak pernah dipenuhi Ida karena dilarang Chris," kata Iwansyah Wibisono, Kepala Bidang Penerangan KJRI. KJRI tidak bisa main paksa "mengambil" Ida dari Chris, karena itu melanggar hukum Amerika. "Kita sebagai warga Indonesia (sebetulnya) bisa menyelesaikan secara kekeluargaan," kata Iwansyah lagi. Dalam daftar Ida, Iwan masuk di urutan ke-13.

Sejumlah nama lain --dari ke-41 daftar versi Ida-- yang diwawancarai Gatra menyebutkan bahwa pengakuan Ida adalah hasil rekayasa tokoh intelektual di belakangnya: Chris Karto. Menurut mereka, Chris berupaya melakukan pemerasan dengan menebar fitnah.

Kristio Wahyono, misalnya, tegas mengatakan bahwa Chris Karto sakit hati karena sejumlah kontraknya dengan KJRI yang berlangsung 10 tahun distop sejak Kristio menjabat sebagai konjen pada 2003. "Dia kesulitan uang karena gemar judi, kemudian hendak memeras saya yang dianggapnya orang kaya. Faridah itu hanya diperalatnya," kata Konjen RI di New York itu kepada Gatra. Ia di nomor urut enam dalam daftar versi Ida.

Sahat Simanjuntak juga membantah tudingan sebagai germo. Katanya, ia pernah dimintai tolong oleh Ida dan Chris menagih uang milik Ida pada James Stover. Ia mengabulkan permintaan itu dengan mendatangi James. Ia justru heran, kok bisa-bisanya dituduh berkomplot dengan James mengomersialkan Ida secara seksual.

Edyson Simandjuntak, kakak kandung Sahat, menyatakan keheranannya perihal pengakuan Ida bahwa ia melayani pelanggannya di gereja. "Pada setiap kebaktian hari Minggu, kan banyak orang. Mau main di mana?" kata tokoh gereja yang berada di nomor 15 dalam daftar Ida itu.

Chris Karto menolak dikatakan merekayasa cerita dan hendak memeras. Niatnya membeberkan kasus itu, katanya, lantaran kejadiannya berlangsung di rumahnya. Chris berkeras bahwa apa yang disampaikan Ida benar adanya.

Sebaliknya, pihak yang dituding bersikukuh membantah. Lantas, siapa yang benar? Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Soemadi D.M. Brotodiningrat, bertekad ikut menyelesaikan persoalan ini. Untuk itu, "Seluruh benang merahnya harus ditelusuri. Dan yang paling penting, harus ada penyelesaian secara hukum," katanya kepada Gatra di Washington, DC.

Mungkin ada baiknya Menteri Hassan Wirajuda segera bertindak. Kalau diplomat itu tidak bersalah, ya, wajib dibela.

Taufik Alwie, Bernadetta Febriana, Didi Prambadi dan Agung Firmansyah (New York)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 48 beredar Jumat 8 Oktober 2004]