Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Bangsa Indonesia Mengutuk

Written By Syafrein Effendiuz on 10/09/04 | Jumaat, September 10, 2004

Jakarta, Kompas - Ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia hari Kamis (9/9) pukul 10.30 dan menewaskan delapan orang dan lebih dari 100 orang luka-luka dikutuk oleh berbagai kelompok masyarakat di Indonesia. Sejumlah pejabat tinggi negara datang ke lokasi kejadian usai ledakan tersebut yang mengejutkan itu.

Presiden Megawati Soekarnoputri begitu tiba dari Brunai Darussalam langsung menuju lokasi kejadian dan menjenguk korban di Rumah Sakit MMC, Jakarta. Sebagai presiden, Megawati yang datang bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Da'i Bachtiar dan sejumlah menteri menyatakan keprihatinan, dukacita mendalam, dan mengutuk aksi peledakan bom itu. Namun, Megawati juga meminta masyarakat tetap tenang dan terus menjaga keamanan."Kita patut terus memerangi terorisme. Mari sama-sama menanggulanginya. Begitu banyak korban yang tidak berdosa. Mari bersama-sama kita bersatu padu memerangi terorisme. Kepolsian sangat perlu bantuan masyarakat untuk mencermati lingkungannya," ujar Megawati.

Sebelum Megawati tiba, calon presiden dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono juga datang menjenguk korban ledakan bom. Yudhoyono juga mengungkap keprihatinannya seraya meminta aparat kepolisian dan intelijen bekerja mengambil langkah-langkah pencegahan yang efektif.

Dalam perayaan ulang tahunnya ke-55 di pendopo rumahnya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat usai peledakan bom, Yudhoyono mengatakan, "Saya prihatin melihat peledakan bom itu. Terorisme dapat terjadi setiap saat. Aparat intelijen dan kepolisian harus bekerja lebih keras mengungkapnya. Hukum harus ditegakkan," ujarnya.

Usai Megawati mengunjungi korban, calon wakil presiden PDI-P Hasyim Muzadi serta Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid juga datang mengunjungi korban. Berbagai ucapan belasungkawa juga dinyatakan berbagai kalangan. Pelaksana Harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar F. Mas'udi menyampaikan belasungkawa dan simpati atas korban kebiadaban itu. "PBNU mengutuk keras aksi teroris biadab itu. Kami mendesak kepolisian mengusut dan menemukan pelakunya dan menghukum mereka sekeras-kerasnya," ujar Masdar.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif juga mengutuk keras tindakan biadab itu, yang tidak berperikemanusiaan serta bertentangan dengan nilai kemanusiaan maupun agama mana pun. "Aparat keamanan harus sungguh-sungguh dan transparan melacak dan menindak pelaku dengan hukuman sekeras-kerasnya. Intensifkanpembasmian terorisme sampai ke akar-akarnya," ujar Syafii..

Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) menyampaikan belasungkawa bagi korban dan penghargaan bagi semua pihak yang memberikan pertolongan bagi korban. "Kekerasan bukan jalan keluar untuk menghadapi masalah kemanusiaan. Kekerasan dan terorisme hanya dapat dilawan bila semakin banyak orang dengan latar belakang apa pun, melakukan penolakan bersama-sama," ujar Kardinal Julius Darmaatmadja SJ dan Sekjen KWI Mgr Ignatius Suharyo.

Penggunaan bom dan kekerasan kepada publik adalah tindakan anti public civility yang bertentangan dengan kemanusiaan. "Kami berharap polisi mampu menangani dan mematahkan mata rantai penggunaan bom di tanah air," ujar Julius.

Hindari spekulasi

Hizbut Tahrir Indonesia lewat juru bicaranya Muhammad Ismail Yusanto juga mengutuk peledakan itu sebagai tindakan zalim. Namun, Hisbut Tahrir juga menyerukan semua pihak, berhati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom di Kedubes Australia dengan kelompok atau organisasi Islam.

"Bisa saja peledakan bom itu dilakukan orang atau kelompok tertentu untuk mengacau, untuk mendiskreditkan organisasi Islam dan melakukan rekayasa sistematis serta provokasi keji untuk terus menyudutkan Indonesia sebagai sarang terorisme," ujar Ismail Yusanto.

Komnas HAM seperti dinyatakan ketuanya Abdul Hakim G. Nusantara juga meminta agar selain mengusut tuntas tragedi ini, juga mengoptimalkan kerja badan-badan intelejennya agar peristiwa serupa bisa dicegah, agar tak terulang.

"Pemerintah juga harus menyampaikan informasi akurat dan menyeluruh atas tiap perkembangan penyelidikan, sehingga masyarakat tidak terpengaruh oleh desa-desus yang menimbulkan rasa aman dan ketakutan," ujar Abdul Hakim.

Aksi pemboman di Kedutaan Besar Australia merupakan praktek terorisme yang bertujuan menghancurkan hak asasi manusia dan demokrasi. "Tindakan tersebut juga mengancam integritas teritorial, keamanan negara dan mengganggu kestabilan pemerintah yang sah".Demikian pernyataan bersama Todung Mulya Lubis, Asmara Nababan, Karlina Leksono, Hendardi, Bambang Widjojanto, Teten Masduki, Ade Rostiana Sitompul, Rachland Nashidik, Binni Buchory, Smita Notosusanto, dan Zoemrotin, Harry Pontoh, kemarin."

Beberapa partai politik seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNBK), Partai Sarikat Islam Indonesia, Fraksi Reformasi DPR dan Fraksi Utusan Golongan MPR juga secara resmi mengajukan ucapan belasungkawa dan desakan agar polisi mengungkap kasus ini serta menindak tegas pelakunya.

Sejumlah tokoh agama dan organisasi juga berharap pemerintah dan aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus itu dan meminta mereka tidak menuduh terlalu cepat.

Ini dinyatakan Sekjen Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin, Sekjen Forum Komunikasi Kristiani Jakarta Theophilus Bela, Ketua Parisadha Hindu Dharma I Made Titib, Pimpinan Generasi Muda Budhis Indonesia Lieus Sungkharisma, dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Abdul Mukti.

Din mendesak penegak hukum untuk mencari siapa aktor intelektual di balik pengeboman di Kedubes Australia itu. "Kami berharap Polri bekerja keras mengusut tuntas tetapi tidak perlu menganalisa yang terlalu prematur. Apalagi negara kita akan menyongsong pemilihan presiden sehingga harus ada jaminan keamanan pasca bom ini," kata Din.



Kaitan dengan pemilu

Presiden Megawati Soekarnoputri mengatakan, terlalu cepat untuk mengaitkan pemboman di depan Kedutaan Besar Australia dengan pemilihan Presiden tanggal 20 September 2004 mendatang. " Tapi mengapa itu terjadi menjelang di saat hanya tinggal 11 hari berlangsungnya pemilihan umum terakhir" kata Megawati di Bandarseribegawan, Brunei Darussalam, sebelum pulang ke Indonesia, Kamis siang.

"Seluruh rakyat Indonesia hendaknya tetap tenang karena ini tentunya merupakan hal yang sangat diharapkan mereka yang tidak menginginkan berhasilnya Pemilu," kata Megawati seusai membicarakan pemulangan TKI dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi di Brunei Darussalam.

Ditanya soal dampak hubungan Indonesia-Australia, Megawati hanya mengatakan, "tadi saya dapat berita tentang kemungkinan Menlu Australia akan datang". Megawati juga menekankan hubungan Indonesia-Australia tetap baik.

Menlu Hassan Wirajuda menjelaskan, pihaknya telah berkonsultasi Menlu Australia Alexander Downer, Duta Besar Australia dan Duta Besar Indonesia di Australia Imron Cotan. "Respons dari Australia cukup simpatik. "Mereka menyatakan kekagetan dan menyatakan duka cita atas jatuhnya korban, termasuk Satpam Kedubes Australia," katanya.

Indonesia dan Australia menegaskan kembali kebersamaan untuk memerangi terorisme. "Karena itu baik pemerintah dan rakyat kedua negara tidak terpancing oleh spekulasi bahwa bom ini ditujukan sebagai rasa antiAustralia dan sebagainya, sebab selama ini kerjasama kita cukup kokoh,," katanya.


Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno mengakui berdasarkan laporan intelijen gerakan teroris memang masih mungkin terjadi. "Aksi teror itu bisa terjadi karena masih ada sejumlah tokoh aksi teror yang belum juga tertangkap," ujar Hari beberapa saat setelah peledakan bom, Kamis.

Namun, sehari sebelumnya, Hari sendiri mengeluarkan pernyataan yang menganggap remeh travel warning dari Amerika Serikat. Dia menilai, peringatan itu terlalu berlebihan.

"Travel warning sebenarnya terlalu berlebihan. Padahal berapa banyak orang AS yang mau datang ke Indonesia. Ketakutan AS itu sama dengan kekhawatiran pakar yang beberapa waktu lalu memprediksi pemilu akan berdarah-darah. Kita tidak usah menyikapinya berlebihan," ujar Hari saat itu.

Ketika ledakan kemarin terjadi, Hari sedang rapat kerja dengan DPR. Begitu mendapat informasi ledakan bom, Hari terlihat terkejut dan langsung meninggalkan DPR. Ditanya wartawan soal pernyataan sebelumnya, Hari tidak memberikan banyak komentar. "Ya sekarang kita belum sampai pada kesimpulan. Sekarang, kita sedang selidiki apakah itu ada kaitannya dengan travel warning.," katanya


Sementara itu Mantan Menteri Pertahanan Mahfud MD, Kamis (9/9), menyayangkan sikap pemerintah, yang meremehkan peringatan Pemerintah AS beberapa waktu lalu menyusul travel warning terhadap warga negaranya. "Saya khawatir ini bukan yang terakhir karena beberapa waktu mendatang ada dua momentum rawan, peringatan tragedi World Trade Center (WTC) dan pemilihan presiden 20 September.," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I Amris Hassan dari Fraksi PDIP menyesalkan kepolisian yang kembali kecolongan. "Early warning system, sistem peringatan dini sepertinya tidak jalan dan bobol lagi," tandasnya.

Penyesalan senada disampaikan anggota Komisi II Patrialis Akbar dari Fraksi Reformasi. "Harusnya polisi dapat informasi lebih awal," tandasnya. "Polisi harus cepat menangkap pelakunya. Akan tetapi, jangan gegabah asal tangkap, sehingga malah memunculkan teroris-teroris baru.," tambahnya.

Tim Kampanye Mega-Hasyim mengharapkan semua pihak untuk tidak mempolitisasi aksi pemboman di depan Kedutaan Besar Australia dengan memojokkan salah satu calon presiden. "Persoalan terorisme telah menjadi masalah internasional yang penanganannya masih sulit dilakukan. Negara besar yang hebat pun masih sering kecolongan," ujar Sekretaris TKMH Heri Akhmadi. (IKA/SIE/OKI/WIN/NUG/SON/VIn/DWA/SUT/INU/OSD)