Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

SBY: Saya akan Datang Lagi ke Riau

Written By SEUZ on 7/11/04 | Ahad, November 07, 2004

Kamis, 4 Nopember 2004 10:17
Pekanbaru - -Bertemu dan berdialog selama satu jam dengan masyarakat Riau dianggap Presiden Susilo Bambang Yudoyono belum mencukupi untuk menampung aspirasi masyarakat Riau. Dihadapan tokoh-tokoh masyarakat, SBY berjanji akan datang lagi dan mengadakan pertemuan lanjutan.

“Dalam pertemuan selanjutnya kita akan bahas berapa betul banyaknya masyarakat Riau yang miskin. Ini bisa dilihat dari rumah masyarakat yang tidak memadai, jaminan hidup yang tidak ada, dan tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya,” ujar SBY dalam pertemuannya dengan tokoh masyarakat di Gedung Daerah Riau, Rabu (3/11) kemarin.

SBY juga menyatakan kunjungannya kali ini merupakan utang yang harus ditebus, karena saat Pemilu lalu tak sempat datang, maka pilihannya adalah Riau untuk melakukan kunjungan pertama ke daerah setelah dilantik sebagai presiden pada tanggal 20 Oktober lalu.

SBY juga menyambut baik dibangunnya proyek-proyek strategis di Riau, karena menurutnya proyek-proyek tersebut sangat penting dan menjangkau ke depan. “Untuk itu perlu menyatukan pemerintah pusat, daerah, dan swasta. Karena kalau hanya mengandalkan APBN saja tidak mungkin dan butuh kerjasama dari swasta. Sementara swasta juga butuh jaminan dari Indonesia seperti kondisi yang aman,” katanya lagi.

DBH Migas

Dalam pertemuan tersebut, tokoh-tokoh Riau, termasuk Wagubri dan wakil Akademisi, senada meminta supaya presiden mempertimbangkan kembali dana bagi hasil minyak dan gas (DBH migas) untuk Riau. Kenaikan DBH 0,5 persen dari 30 persen yang diterima saat ini tidak memadai untuk mewujudkan keinginan Riau menjadi daerah yang maju, makmur, dan terlepas dari belenggu permasalahan yang mendasar.

Seperti yang diungkapkan Ketua Umum FKPMR (Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau) H. Abbas Jamil, bahwa FKPMR menolak kenaikan 0,5 persen dan mendesak pemerintah pusat agar memberikan DBH yang lebih adil dengan perimbangan Provinsi Riau sebesar 70 persen dan pemerintah pusat 30 persen.

“Apabila pemerintah pusat mengakomodir aspirasi masyarakat Riau ini, kami memastikan bersedia membantu menyukseskan sembilan butir instruksi Presiden kepada seluruh kepala daerah atau gubernur se-Indonesia. Serta akan mengawal dan mengawasi secara komprehensif terhadap jalannya instruksi tersebut di provinsi,” jelas Abbas.

Abbas juga menyatakan betapa pedihnya hati masyarakat Riau, karena putra daerah ini tidak terakomodir dalam kabinet Indonesia Bersatu. “Hal ini semakin menambah daftar panjang kepedihan masyarakat Riau selama bergabung sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Abbas.

Dalam jawabannya, SBY mengakui bahwa Riau selama ini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi pemerintah pusat, terutama dalam Sumber Daya Alam. Tetapi untuk memenuhi tuntutan tersebut terdapat Undang-Udang yang harus kembali dibicarakan agar sesuai keinginan masyarakat.

“Saya akan mempelajari terlebih dahulu permasalahan tersebut. Hal ini mengingat waktu pertemuan yang sangat terbatas dan tidak bisa diputuskan begitu saja,” ujar presiden. Good Governance

Dalam kesempatan yang sama, SBY juga mengimbau kepada kepala daerah untuk menegakkan good governance. Bahkan dirinya akan memberikan penghargaan kepada kepala daerah yang bekerja dengan sungguh-sungguh serta akan memberi sanksi yang berat apabila lalai menjalankan tugasnya, atau melakukan penyimpangan.

SBY juga memerintahkan kepala daerah, bupati dan walikota, untuk sering turun ke daerah dan berdialog dengan masyarakat. Hal ini akan mempererat hubungan antara kepala daerah dengan masyarakat dan kepala daerah akan mengetahui benar bagaimana kondisi masyarakat.

“Misalnya melakukan buka bersama dengan masyarakat dan mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihannya. Lantas tahun besok turun lagi dan melihat apakah sudah ada perkembangan di tengah masyarakat tersebut,” papar SBY.

. Kasus Tanah

Bertemu dan berdialog dengan SBY dimanfaatkan betul oleh Kepala Dusun Ampaian Rotan Darpan Arianto, yang membeberkan tindakan yang dilakukan oleh Timbang Sianipar pada tahun 2003 terhadap lahan milik warganya dan rumah warga. Permasalahan ini sebetulnya sudah disampaikan ke DPRRI dan Mabes Polri, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan.

SBY langsung menanyakan persoalannya kepada Kapolda Riau Brigjen Pol Deddy S Komarudin dan dijawab Kapolda bahwa masalah tersebut intinya adalah status tanah yang belum clear. Timbang Sianipar pun menurut kapolda sudah pernah ditangkap dan diproses karena dia menakut-nakuti masyarakat dengan senjata api. Tapi saat diajukan ke Kejaksaan dan pengadilan dia bebas murni.

Jawaban Kapolda ini langsung di cross cek SBY kepada Kajati yang juga hadir saat itu. Menurut Kajati, dalam rapat Muspida sudah diputuskan untuk mendudukkan dulu status tanah tersebut. Setelah itu baru diambil langkah-langkah oleh gubernur. Mengenai perkara bebasnya Sianipar, disebutkan Kajati bahwa hal tersebut merupakan wewenang pengadilan.

Pada kesempatan tersebut juga mengemuka keinginan masyarakat untuk merevisi UU No. 5 tahun 1960 tentang pokok-pokok agraria. Karena hak-hak masyarakat terutama hak ulayat, tidak tergambar secara jelas dalam undang-undang tersebut. Apalagi saat ini semakin tingginya penggunaan lahan yang dianggap akan memicu ketidakadilan.

Menanggapi masalah tersebut, SBY menyebutkan bahwa permasalahan agraria, tata guna, dan tata ruang sewajarnya dieavaluasi. Karena banyak sekali permasalahan yang menyangkut agraria dan pemanfaatan lahan ini. Hal ini perlu diatur agar tidak ada perselisihan antara penduduk setempat dengan perusahaan swasta yang menggunakan lahan itu ataupun negara.

Buka Bersama

Kedatangan SBY ke Riau ini juga diikuti oleh tujuh menteri Kabinet Indonesia Bersatu yaitu Menko Polkam Widodo AS, Menko Kesra Alwi Sihab, Menteri Dalam Negeri M Ma’ruf, Menteri Luar Negeri Hasan Wirayudha, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, Menteri Kesehatan Siti Fadila Subari, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Kemudian Kapolri Da’I Bachtiar, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Ketua PMI Mar’ie Muhammad.

Sementara undangan yang hadir di ruang pertemuan terdiri atas berbagai elemen masyarakat, seperti tokoh masyarakat Riau, perwakilan masyarakat dari kabupaten dan kota di Riau, bupati/walikota se-Riau, pejabat di jajaran Pemprov Riau, Muspida Riau, organisasi pemuda. Tampak juga hadir Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Tri Tamtomo dan Ketua DPRD Riau drh. Chaidir.

Dialog dengan masyarakat pun berakhir beberapa menit sebelum waktu berbuka puasa. SBY bersama istri dan rombongan melakukan buka bersama di kediaman Gubri dan shalat berjamaah di mushala. Setelah menyantap hidangan malam, pada pukul 19.20 WIB SBY dan rombongan berangkat menuju Bandara Sultan Syarif Kasim dan bertolak ke Jakarta. (yp,ey)

 

Ahad, November 07, 2004 | 0 ulasan

Kenapa Bush menang

Written By SEUZ on 6/11/04 | Sabtu, November 06, 2004

SAN FRANCISCO 4 Nov. - Kebimbangan berhubung serangan 11 September
2001 menjadi isu utama yang mendorong ramai pengundi Amerika Syarikat
(AS) menyokong pemilihan semula Presiden George W. Bush, menurut
tinjauan pendapat Republikan, semalam.

Selepas mendengar amaran White House yang dibuat berulang-kali tentang
bahaya yang dihadapi oleh rakyat AS, para pengundi mengubah fikiran
dan mengundi untuk mengekalkan ``presiden zaman perang mereka.''

Analisis-analisis lain tentang pengundian itu menunjukkan bahawa
``nilai-nilai moral'' turut menjadi isu utama yang diambil kira oleh
para pengundi, selain daripada isu-isu sosial seperti perkahwinan
sesama kaum sejenis, hak milik senjata dan pengguguran.

Menurut tinjauan pendapat itu, para pengundi yang mengutamakan
nilai-nilai moral juga menyanjungi pendirian jelas Bush terhadap apa
yang mereka lihat sebagai kecelakaan tentang keganasan dan pucuk
pimpinan diktator.

Tinjauan yang dijalankan di kalangan 800 pengundi melalui telefon di
seluruh negara selepas pengundian itu mendapati keganasan membayangi
isu-isu lain, dengan 23 peratus daripada mereka menganggapnya sebagai
isu utama.

Sebanyak 78 peratus daripada mereka yang ditemuramah dalam tinjauan
pendapat itu menyokong Bush, kata Kellyanne Conway, Presiden The
Polling Company Inc., yang menjalankan tinjauan pendapat itu.

Conway, yang mengelolakan tinjauan pendapat Republikan dan merupakan
penasihat luar untuk kempen Bush berkata, isu keganasan mempengaruhi
pandangan pengundi yang berusia di antara 35 hingga 44 tahun.

Golongan itu termasuklah ibu bapa yang sering menghadiri majlis-majlis
agama, terutamanya mereka yang mempunyai anak-anak kecil.

Conway menyifatkan isu tersebut sebagai ``amat penting'' dalam
mempengaruhi pemilihan semula Bush.

``Kami tahu daripada tinjauan pendapat yang dijalankan sejak satu
setengah tahun lalu bahawa presiden memang selalunya menjadi pilihan
berhubung dengan soal calon yang paling dipercayai untuk menangani
usaha-usaha memerangi keganasan,'' katanya. - Reuters
Sabtu, November 06, 2004 | 0 ulasan

Written By SEUZ on 5/11/04 | Jumaat, November 05, 2004


9 mati balas dendam Tak Bai
ANAK perempuan seorang pekerja kereta api menangis di sisi mayat ayahnya yang ditembak mati bersama-sama seorang lagi pekerja di Sungei Padi, selatan Thailand, semalam. - Gambar AFP.
BANGKOK 4 Nov. - Kejadian pembunuhan di selatan Thai semakin menjadi-jadi apabila sembilan orang lagi termasuk dua pegawai polis terbunuh dalam tempoh 24 jam lalu.
Dalam kejadian terbaru itu, seorang pegawai polis, seorang bekas pegawai daerah dan dua pekerja perkhidmatan kereta api ditembak mati, pagi ini.
Lima yang lain pula dibunuh semalam.
Seorang sami pula, berada dalam keadaan kritikal selepas cedera ditembak oleh seorang lelaki bersenjata yang menunggang motosikal di Songkhla dalam kejadian itu.
Pembunuhan itu dipercayai akibat kemarahan pihak-pihak tertentu berhubung insiden berdarah yang mengakibatkan 87 kematian di Tak Bai, minggu lalu.
Kelmarin, seorang penolong ketua kampung disembelih dan kepalanya ditemui dalam karung baja di wilayah Narathiwat, selepas mangsa dilaporkan hilang minggu lalu.
Polis memberitahu, dalam kejadian pagi ini, Mejar Kraq Kosaikanon, 55, ditembak mati di kepalanya di hadapan kedai runcit milik mangsa di daerah Maung di Yala oleh seorang anggota militan yang menyamar sebagai seorang pelanggan.
Pembunuhan itu berlaku pada pukul 7.40 pagi ini (8.40 pagi waktu Malaysia).
Dalam pada itu, kedua-dua pekerja kereta api pula ditembak mati di wilayah Narathiwat kira-kira pukul 9 pagi (10 pagi waktu Malaysia). Bekas pegawai daerah berumur 61 tahun itu pula dibunuh di ladangnya di Pattani, kata polis.
Dalam kejadian semalam, kata polis, seorang ibu dan anak lelakinya ditembak mati di kedai runcit mereka di Narathiwat, manakala seorang lelaki mati disembelih oleh para penyerang di Yala.
Kumpulan lelaki bersenjata menyerbu masuk sebuah rumah milik seorang anggota polis berpangkat sarjan dan menembak matinya di Songkhla, manakala seorang lelaki lain dan anaknya diserang hendap di jalan raya berdekatan rumah mereka di Narathiwat malam tadi.
Lelaki berkenaan terbunuh di tempat kejadian manakala anaknya cedera ditembak di tangan, kata polis.
Kira-kira 450 orang terbunuh sejak kejadian keganasan bermula 10 bulan lalu apabila kumpulan pemisah itu menyerang depot simpanan senjata di selatan Thailand pada Januari lepas.
Dalam insiden berdarah minggu lalu yang dilabelkan oleh penduduk Islam sebagai pembunuhan beramai-ramai, telah menimbulkan kemarahan dan bertindak melakukan serangan balas termasuk penyembelihan seorang pemimpin kampung baru-baru ini.
Perdana Menteri, Thaksin Shinawatra kelihatan gagal untuk mengawal pemberontakan yang berlaku di selatan negeri itu. - Reuters
Jumaat, November 05, 2004 | 0 ulasan