Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Saddam Hussein divonis mati

Written By Syafrein Effendiuz on 6/11/06 | Isnin, November 06, 2006

Saddam Hussein tetap tegar menantang saat mendengar vonis

Mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein divonis hukuman mati di tiang gantungan setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sang pemimpin terguling Irak dinyatakan bersalah atas pembunuhan 148 warga di kota Dujail yang mayoritas warganya Syiah menyusul percobaan pembunuhan terhadap dirinya pada tahun 1982.

Saudara tiri Barzan al-Tikriti dan mantan hakim ketua Awad Hamed al-Bandar juga divonis hukuman mati.

Sedangkan, Wakil Presiden Taha Yassin Ramadan dijatuhi vonis hukuman penjara seumur hidup dan tiga terdakwa lain dihukum 15 tahun kurungan.

Seorang terdakwa lain, tokoh Partai Baath Mohammed Azawi Ali, dibebaskan.

Saddam Hussein dan para terdakwa lain juga diberi hak untuk mengajukan banding, tapi diperkirakan masa banding itu hanya akan berlangsung beberapa pekan dan berakhir dengan kekalahan para terpidana.

Perdana Menteri Irak Nouri Maliki menyambut vonis bersalah dalam pidato televisi, dan menyatakan hukuman itu "bukan hukuman terhadap seseorang, tapi hukuman terhadap masa gelap dalam pemerintahannya".

"Mungkin ini bisa membantu meredakan rasa sakit para janda dan yatim dan mereka yang dipaksa mengubur orang-orang tercinta mereka secara diam-diam, dan mereka yang terpaksa memendam perasaan dan penderitaan, dan mereka yang telah menderita di tangan para penyiksa," kata Maliki.

Gedung Putih menyambut vonis bagi Saddam.

"Ini hari yang baik bagi warga Irak," kata Jubir Gedung Putih Tony Snow.

"Senyum kemenangan"

Saat memasuki ruang sidang, Saddam Hussein, yang seperti biasa mengenakan jas gelap dan kemeja putih dan memegang mushaf al-Quran, berjalan menuju tempat duduk terdakwa dan duduk.

Saddam Hussein menghendaki dieksekusi oleh regu tembak

Hakim Rauf Abdel Rahman memerintahkan Saddam berdiri saat vonis dibacakan, tapi sang presiden terguling menolak memenuhi perintah hakim dan harus digelandang dari tempat duduk oleh petugas pengadilan.

Saat hakim mulai membacakan vonis mati, Saddam Hussein berpekik "Allahu Akbar!" dan "Hidup Irak! Hidup bangsa Irak! Hancurlah para penghianat!"

Namun, seperti dilaporkan editor BBC John Simpson, setelah beradu mulut dengan hakim, Saddam Hussein terlihat menyunggingkan senyum kecil kemenangan di wajahnya saat dia digiring dari ruang sidang.

Beragam reaksi

Tidak lama setelah vonis diumumkan, suasana suka cita merebak di distrik Syiah Sadr Citu dan kota suci warga Syiah, Najaf. Banyak warga Syiah melepaskan tembakan ke udara sebagai ungkapan suka cita.

Ribuan warga Tikrit berunjukrasa mendukung Saddam

Perayaan di Baghdad berlangsung, meski ibukota Irak itu memberlakukan larangan keluar rumah selama 12 jam di tengah kekhawatiran akan terjadinya tindak kekerasan dari para pendukung Saddam Hussein dari kalangan warga Arab Sunni.

Tiga provinsi yang berdekatan dengan Baghdad juga dikenai larangan keluar rumah, termasuk Provinsi Salahuddin, yang mencakup kota kelahiran Saddam Hussein, Tikrit.

Ribuan warga di sana juga tidak menggubris larangan keluar rumah di Tikrit untuk menyuarakan dukungan kepada Saddam Hussein.

Hampir tiga tahun setelah Saddam ditangkap, tindak kekerasan yang terus meningkat mengantar Irak ke ambang perang saudara.

Tidak banyak warga Irak yang berpandangan vonis pengadilan ini akan meredakan konflik, kata Wartawan BBC Andrew North di Baghdad.

Bahkan mereka yang menghendaki sang mantan pemimpin mati tidak yakin eksekusi akan memperbaiki keadaan, tambanhya.

Pimpinan salah satu partai Syiah Irak, Dewan Tertinggi Revolusi Islam di Irak, Abdelaziz al-Hakim menyambut vonis mati untuk Saddam Hussein.

"Pada hari besar ini, kami menyampaikan selamat kepada seluruh bangsa Irak, khususnya ibu para syuhada, istri para syuhada, putra para syuhada, dan sebagian besar warga Irak, yang yang merupakan bangsa syuhada atas prestasi ini," kata al-Hakim.

Anggota parlemen Kurdistan, Serdar Hirki, menyambut vonis dengan menggambarkan hari Minggu sebagai "hari paling bahagia dalam sejarah hukum di seluruh Irak."

"Saat ini, kami telah mencapai keadilan dan keadilan ini tidak hanya bagi warga Kurdi, tapi juga bagi warga Syiah dan Sunni. Pria ini menindas bangsa Irak, dan memerintah secara semena-mena. Puji Tuhan, kini, dia mendapat balasan setimpal," katanya.

Reaksi luar

Sementara itu, Dutabesar Amerika Serikat untuk Irak, Zalmay Khalilzad mengatakan putusan itu merupakan langkah penting bagi pembangunan masyarakat yang bebas di Irak. Dia mengatakan mengakhiri periode Saddam dan rezimnya adalah kesempatan bagi warga Irak untuk bersatu dan membangun masa depan yang lebih baik.

Sedangkan, Menteri Luar Begeri Inggris, Margaret Beckett mengatakan, dia menyambut baik fakta bahwa Saddam Hussein diadili dan dimintai pertangung-jawabannya atas kejahatannya.

Iran menyambut vonis mati yang dijatuhkan kepada Saddam. Jurubicara kementerian luar negeri Iran, Mohammad Ali Husseini, mengatakan eksekusi Saddam adalah balasan yang paling ringan bagi Saddam.

'Pengadilan cacat'

Banyak pengecam menilai pengadilan terhadap Saddam tidak lebih dari keadilan versi pihak yang menang (victors's justice), mengingat perhatian besar Amerika terhadap proses hukum ini.

Sebelum vonis dibacakan, mantan Jaksa Agung AS Ramsey Clark diusir dari ruang sidang setelah menyampaikan sepucuk nota kepada hakim, yang di antaranya dia menyebut pengadilan Saddam "parodi".

Bagaimana pun, pemerintahan Bush memiliki andil dalam pengadilan dan vonis yang dikeluarkan. Amerika mengucurkan dana jutaan dolar untuk membentuk pengadilan khusus guna mengadili Saddam Hussein, dan para terdakwa lain, serta menyodorkan tim bantuan hukum bersakala besar kepada kejaksaan.

Bagi sebagian pihak, kenyataan ini mengundang pertanyaan apakah bangsa Irak benar-benar menguasai proses hukum ini.

Perdebatan tidak akan terhenti di sini.

Salah seorang Pengacara Perancis yang ikut mendampingi Saddam, Emmanuel Ludot mengkritik vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepada pemimpin terguling Irak.

"Reaksi pertama saya, tidak ada orang yang terkejut bahwa hukuman mati dijatuhkan oleh pengadilan, yang kami tidak pernah akui," ujar Ludot.

"Kedua, perkara Saddam Hussein tidaklah urusan membela diktator, "katanya.

Dan, Ludot menyatakan "tercengang bahwa para intelektual besar yang yang begitu bersemangat menentang hukuman mati, yang tampaknya merupakan perjuangan internasional, tidak angkat bicara untuk mencegah pengadilan revolusi ini menjatuhkan hukuma mati di tiang gantung."

Perdana menteri Irak, Nuri Al-Maliki, yang tokoh salah satu partai utama Syiah, menghendaki eksekusi vonis mati segera dilaksanakan. Ini mungkin berarti terjadi awal tahun depan.

Namun, beberapa tokoh lain, di dalam dan luar Irak, lebih menginginkan proses hukum berlanjut, sehingga Saddam bisa diadili atas dakwaan pelanggaran lain. Mereka berargumentasi, saat ini bukanlah waktu yang pas untuk mengeksekusi sang mantan pemimpin. Irak saat ini tengah bergejolak dan pembantaian sektarian terjadi setiap hari.

Pengamat Timur Tengah BBC, Roger Hardy mengatakan, yang menjadi masalah bukanlah apakah vonis ini akan memperparah tindak kekerasan, tapi apakah hukuman ini akan menjadikan rekonsiliasi nasional, sesuatu yang menurut pemerintah Irak dan sekutunya, pemerintahan Bush, merupakan prioritas utama, semakin sulit lagi untuk bisa dijangkau. [BBC]
Isnin, November 06, 2006 | 0 ulasan

11 tahanan ISA termasuk anak MB Kelantan dibebaskan

Written By Syafrein Effendiuz on 19/10/06 | Khamis, Oktober 19, 2006

BERTEMU KEMBALI... Nik Aziz Nik Mat memeluk anaknya, Nik Adli yang dibebaskan dari tahanan ISA bersama 10 orang yang lain, di rumahnya di Kampung Pulau Melaka, Kota Bharu, semalam. – Gambar ZAKI AMIRUDDIN.

Oleh Ruhaidini Abd. Kadir dan Mazli Bidu

KUALA LUMPUR 18 Okt. – Nik Adli Nik Abdul Aziz, anak Menteri Besar Kelantan, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat yang ditahan di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) sejak lima tahun lepas dibebaskan hari ini.

Nik Adli, 39, adalah antara 11 orang tahanan ISA yang terbabit dengan Kumpulan Militan Malaysia (KMM) dan Jemaah Islamiah yang dibebaskan serentak.

Lima lagi anggota KMM yang dibebaskan ialah Mohd. Rafi Udin (Cheras, Kuala Lumpur), Zid Shaharani Mohd. Isa (Perak Tengah, Perak), Ahmad Pozi Darman (Sepang, Selangor), Zainon Ismail dan Md. Lotfi Ariffin, masing- masing dari Baling, Kedah.

Keenam-enam anggota KMM itu ditahan di bawah Seksyen 73(1) Akta ISA 1960 berkuat kuasa 24 September 2001 kerana mengancam keselamatan negara.

Anggota JI yang dibebaskan ialah Abd. Samad Shukri, Mazlan Ishak, Syed Ali Syed Abdullah dan Abdul Manaf Kasmuri, semuanya dari Selangor manakala seorang lagi iaitu Alias Sani, berasal dari Sandakan, Sabah.

Pembebasan mereka disahkan oleh Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang juga Menteri Keselamatan Dalam Negeri. Abdullah memberitahu pemberita di Putrajaya bahawa beliau menandatangani surat pembebasan semua tahanan ISA itu.

Utusan Malaysia difahamkan, Nik Adli dan lima tahanan ISA KMM itu dibawa ke Tempat Tahanan Polis Mukim Batu di sini dari Pusat Tahanan ISA di Kamunting, Taiping, Perak semalam. Mereka kemudian dibawa ke Bukit Aman dan dibebaskan pagi ini. [UM]
Khamis, Oktober 19, 2006 | 0 ulasan

‘Irwin tidak akan mati dengan tenang di atas katil’

Written By Syafrein Effendiuz on 6/09/06 | Rabu, September 06, 2006

ORANG ramai meletakkan jambangan bunga di hadapan Zoo Australia milik Steve Irwin di Beerwah, Queenslands, semalam berikutan kematiannya akibat disengat pari. – Reuters.

LONDON 5 Sept. – Pakar hidupan liar terkemuka, David Bellamy, menyifatkan kematian ‘Crocodile Hunter’, Steve Irwin sebagai satu kehilangan besar kepada dunia.

Beliau yang sedih dengan pemergian Irwin berkata, Irwin tidak akan mati dengan tenang di atas katilnya.

“Saya sangat sedih apabila mendengar berita ini.

“Mengapa ini terjadi kepada seorang lelaki yang penting dan berbakat?

“Dia pergi terlalu awal,’’ katanya.

Irwin, 44, meninggal dunia semalam akibat tertusuk duri ikan pari di jantungnya ketika sedang membuat penggambaran dokumentari di Batt Reef, berhampiran Low Isles, kira-kira 32 batu nautika dari Port Douglas, di utara Queensland.

Ikan pari selebar lima kaki yang biasanya tenang itu, tiba-tiba menyerang dan mencucuk Irwin di bahagian jantung dengan menggunakan ekornya yang mengandungi duri berbisa.

Berikutan serangan itu, Irwin, bapa kepada dua anak, mati di tempat kejadian.

Pencinta alam semula jadi itu terkenal di seluruh dunia kerana keberaniannya melompat ke belakang buaya liar dan kebolehannya menangkap ular berbisa.

Walaupun Irwin berpengalaman dalam menjinakkan haiwan liar, jutaan peminat beliau sebenarnya bimbang Irwin mungkin diserang buaya ketika mengendalikan binatang ganas tersebut.

Irwin merupakan individu keempat yang mati akibat sengatan ikan pari di Australia.

Beribu-ribu warga Australia yang terkejut dengan kematian Irwin tidak melepaskan peluang melawat zoo Irwin di Beerwah, Queensland.

Perdana Menteri Australia, John Howard turut mengumumkan berita kematian itu di Parlimen.

“Kematian Irwin merupakan kehilangan yang besar kepada Australia.

“Tiada sesiapa dapat menggantikannya,’’ kata Howard.

Agensi
Rabu, September 06, 2006 | 0 ulasan

‘Aku letih, aku nak rehat panjang’

Written By Syafrein Effendiuz on 26/07/06 | Rabu, Julai 26, 2006

Oleh Wan Mohd Hafiz Wan Hamzah

KUALA LUMPUR 25 Julai
– ‘’Letih sangat rasanya, lepas ni aku nak rehat panjang,’’ begitulah luahan terakhir Allahyarham Hani Mohsin Hanafi kepada rakan karibnya, Abdul Halem Mat Som, 40, ketika sedang menikmati makan tengah hari di sebuah restoran kepunyaan selebriti Linda Onn, di Ampang Point, Ampang, semalam.

Abdul Halem, yang bertugas sebagai Pengurus Kanan Hal Ehwal Korporat Syarikat Bekalan Air Selangor (Syabas) berkata, sepanjang pertemuan mereka tengah hari itu, Allahyarham berulang kali mengadu keletihan akibat sibuk dengan penggambaran drama.

“Mungkin inilah yang Allahyarham maksudkan dengan ‘rehat yang panjang’. Ketika itu, saya tidaklah ambil berat luahan Allahyarham sebab dia memang bercadang mahu bercuti dengan anaknya, Hani Karmila ke Langkawi,’’ katanya ketika ditemui di rumah Allahyarham Hani Mohsin di Taman Kelab Ukay, Bukit Antarabangsa, di sini hari ini.

Menurut Abdul Halem, dia pada mulanya tidak percaya apabila mendapat tahu kematian Allahyarham hari ini kerana baru semalam mereka bergurau serta bergelak ketawa.

Katanya, ketika bertemu Allahyarham semalam, beliau perasan riak wajah Allahyarham agak berbeza berbanding sebelum ini.

“Semalam, saya lihat wajah Allahyarham agak berseri-seri. Saya katakan padanya, mengapa wajahnya nampak berseri-seri, tetapi beliau hanya tersenyum,’’ ujarnya. [UM]
Rabu, Julai 26, 2006 | 0 ulasan

Anak lihat ayah rebah

Tiara bersama Effendy Norwawi dan dua anaknya, Hani Karmila dan Eridani memberi perhormatan terakhir kepada Allahyarham Hani Mohsin di Hospital Serdang, semalam.

KUALA LUMPUR 25 Julai – “Ayah jatuh” demikian kata Hani Karmila yang menghubungi ibunya Datin Seri Tiara Jacquelina tanpa mengetahui bahawa bapanya, Hani Mohsin sudah meninggal dunia.

Menurut Hani Karmila, 9, dia menghubungi ibunya menggunakan telefon bimbit bapanya, Hani Mohsin yang rebah di kaunter pendaftaran AirAsia, Terminal Penerbangan Tambang Murah (LCCT) di Sepang hari ini.

Ketika itu, Allahyarham Hani Mohsin Hanafi, 41, dan Hani Karmila baru selesai mendaftar masuk untuk penerbangan ke Alor Star kira-kira pukul 9.50 pagi.

Menurut Hani Karmila, dia terkejut dengan kejadian itu tambahan pula apabila pengawal keselamatan Malaysia Airport Berhad (MAB) dan petugas AirAsia bertungkus-lumus memberi bantuan pernafasan kepada bapanya.

Katanya, bapanya kemudian dikejarkan ke klinik berdekatan Akademi AirAsia, tetapi disahkan sudah meninggal dunia.

Menceritakan detik-detik akhir kejadian itu, Hani Karmila berkata, dia dan bapanya tiba lewat di LCCT dan berada dalam tergesa-gesa menuju ke kaunter pendaftaran.

“Cepat. Kita sudah terlambat,” merupakan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Hani Mohsin kepada Hani Karmila.

Menurut Hani Karmila, dia dan bapanya dalam perjalanan untuk bercuti ke Pulau Langkawi dan Pulau Pinang selama seminggu dan akan pulang pada 1 Ogos ini.

Hani Karmila merupakan anak tunggal Hani Mohsin bersama Tiara Jacquelina hasil perkahwinan mereka pada 11 September 1993. Bagaimanapun pasangan itu bercerai pada 16 Februari 1998.

Tiara Jacquelina kini merupakan isteri kepada Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Effendi Norwawi.

Sementara itu, menurut Tiara Jacquelina, dia menerima panggilan telefon daripada Hani Mohsin kelmarin yang memaklumkan kegembiraannya dapat bercuti panjang bersama anak mereka itu.

“Arwah betul-betul gembira kerana dapat mengatur percutian bersama Mila (Hani Karmila) setelah sekian lama sibuk bekerja,” jelas Tiara.

Katanya, pemergian Hani Mohsin merupakan satu kehilangan kepada industri hiburan tanah air kerana beliau adalah seorang pelakon yang hebat selain amat berdedikasi dengan apa sahaja kerja dilakukannya. [UM]
Rabu, Julai 26, 2006 | 0 ulasan

Actor Hani Mohsin dies

Written By Syafrein Effendiuz on 25/07/06 | Selasa, Julai 25, 2006

KUALA LUMPUR: Actor Hani Mohsin Hanafi (pic), 43, collapsed and died at the low-cost carrier terminal in Sepang at 9.30am while waiting to board a flight to Alor Setar on Tuesday.

Mohsin was traveling with his nine-year-old daughter Hani Karmila -- from his previous marriage to Datin Seri Tiara Jacquelina -- when he complained of chest pains before collapsing.

Hani Karmila immediately called her mother, who rushed to the airport with husband Datuk Seri Effendi Norwawi.

Mohsin's remains have been brought to hospital for an autopsy.

Mohsin was the host of popular TV game show Roda Impian before his death.

[The Star]
Selasa, Julai 25, 2006 | 0 ulasan

Adik sultan mati ditikam -- Disyaki dilakukan anak lelaki yang kemudian meninggal dunia

Almarhumah Tengku Puteri Kamariah Sultan Abu Bakar
Oleh ARSHAD KHAN dan ALI MAHMOOD


KUANTAN 24 Julai – Adinda Sultan Pahang, Tengku Puteri Kamariah Sultan Abu Bakar, 65, ditemui mati berlumuran darah dengan kesan tikaman dan tetakan senjata tajam disyaki dilakukan oleh anak lelakinya yang mengamuk di rumah mereka di Villa Ismaputri, Lorong Kubang Buaya 54, di sini hari ini.

Tengku Puteri Kamariah dipercayai ditikam beberapa kali oleh anaknya menggunakan pisau Rambo dan pemutar skru dalam kejadian pada pukul 1.20 tengah hari.

Pemuda berusia 21 tahun itu yang turut cedera parah dalam kejadian tersebut dimasukkan ke Hospital Tengku Ampuan Afzan (HTAA) di sini dan meninggal dunia pukul 7.30 malam ketika dirawat.

Setakat ini punca kematian anak mangsa bagaimanapun belum dapat disahkan dan bedah siasat akan dilakukan esok.

Turut cedera dalam kejadian itu ialah suami mangsa, Datuk Tunku Ismail Tunku Sulaiman, 68, yang luka parah di bahagian perut dan hadapan badan sehingga terpaksa menjalani pembedahan di HTAA.

SULTAN Ahmad Shah yang ditemani anakandanya, Tengku Abdullah menatap jenazah adindanya, Tengku Puteri Kamariah Sultan Abu Bakar yang meninggal dunia selepas disyaki ditikam oleh anak lelakinya dalam kejadian di rumah mangsa di Taman Kubang Buaya, Kuantan, Pahang semalam

Ketua Polis Negeri, Datuk Abdul Razak Bukhari ketika ditemui di tempat kejadian memberitahu, Tengku Puteri Kamariah ditemui terbaring di bahagian dapur rumah oleh jirannya dan dia disahkan mati di tempat kejadian.

‘‘Polis masih menyiasat motif kejadian dan kita menemui dua senjata dipercayai digunakan dalam kejadian tersebut iaitu pemutar skru dan sebilah pisau Rambo di rumah mangsa,’’ katanya.

Beberapa saksi yang ditemui di tempat kejadian berkata, mangsa yang disifatkan oleh jirannya sebagai wanita yang peramah dan baik hati telah ditetak dengan pisau Rambo di bahagian belakang badan dan ditikam bertubi-tubi dengan pemutar skru.

Selain mangsa dan suaminya serta suspek, turut berada di tempat kejadian ialah orang gaji mereka, warganegara Indonesia yang hanya dikenali sebagai Elis.

Dalam pada itu, salah seorang saksi yang juga saudara serta jiran mangsa, Tengku Ahmad Faizal Tengku Abdul Jamil, 40, mendakwa, semasa kejadian, suspek dilihat terjun dari beranda tingkat atas rumah berkenaan dan meluru ke rumah jiran.

‘‘Suspek merayau-rayau di hadapan rumah dan meracau-racau mengatakan dia sedang ketakutan sebelum masuk kembali ke rumahnya,’’ ujar beliau.

Tengku Ahmad berkata, apabila suspek masuk semula ke rumah, tidak berapa lama selepas itu beliau mendengar jeritan meminta tolong dari mangsa dan suaminya.

‘‘Saya bergegas ke rumah Tengku Puteri dan mendapati mangsa dalam keadaan berlumuran darah di bahagian dapur, saya meletakkan kepalanya di pangkuan saya dan dia sempat berpesan ‘belajarlah agama dan kalau nak jual kereta itu, juallah,” katanya sambil memberitahu beliau tidak faham maksud pesanan Allahyarham itu.

Menurut Tengku Ahmad, suami mangsa pula ditemui dalam keadaan ‘terduduk’ di atas sebuah kerusi di luar rumah dengan seluruh badannya berlumuran darah, manakala suspek kelihatan sedang dalam keadaan keliru.

Katanya, pada masa itu, seorang lagi saksi kejadian yang sedang berkerja sebagai tukang kebun di rumah jiran mangsa datang untuk memberi bantuan.

‘‘Kami berdua selepas itu menahan suspek dan mengikatnya sebelum polis tiba,” katanya.

Sementara itu, adik ipar mangsa, Tengku Abdul I’lal Tengku Sulaiman ketika ditemui pula memberitahu, suspek adalah anak ketujuh dari lapan beradik dan mempunyai seorang saudara kembar.

‘‘Abang saya ada menghubungi kami pukul 10.50 pagi ini meminta mencarikan seorang bomoh bagi merawat anaknya,” kata beliau.

Tengku Abdul l’lal juga tidak menolak kemungkinan suspek berada di bawah pengaruh dadah semasa kejadian.

Sementara itu, Sultan Ahmad Shah yang berada di Cameron Highlands petang ini, tiba di kediaman adindanya di Villa Ismaputri, sebaik sahaja jenazah dibawa pulang dari HTAA kira-kira pukul 5.20 petang, manakala seorang lagi adinda mangsa, Tengku Azlan Sultan Abu Bakar yang juga Timbalan Menteri Pengangkutan, tiba pukul 6.30 petang.

Baginda yang berada dalam keadaan terkejut dan sugul kelihatan mengeluarkan sapu tangan dan mengesat air mata ketika melihat kawasan kejadian.

Turut melawat tempat kejadian ialah Tengku Mahkota Pahang, Tengku Abdullah dan Menteri Besar, Datuk Seri Adnan Yaakob.

Jenazah Allahyarham akan dikebumikan di Makam Diraja Pekan, esok [UM]
Selasa, Julai 25, 2006 | 0 ulasan

Rasa kosong selepas kehilangan bapa - Mawi

Written By Syafrein Effendiuz on 3/07/06 | Isnin, Julai 03, 2006

MAWI menyiram air ke atas pusara bapanya, Allahyarham Ani Ahmad di Tanah Perkuburan Islam Felda Taib Andak, Kulai, semalam.

KULAI 2 Julai - Juara Akademi Fantasi 3, Asmawi Ani merasa dirinya kosong berikutan kembalinya ke rahmatullah bapa beliau, Ani Ahmad di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur semalam.

Ani, 66, meninggal dunia di Unit Rawatan Rapi IJN pada pukul 9.55 malam tadi selepas bertarung dengan komplikasi jantung selama dua bulan.

‘‘Saya merupakan antara anak yang paling rapat dengan Allahyarham. Terdapat perasaan kosong, kehilangan dalam diri saya kerana saya selalu bergurau dengan beliau,” katanya ketika ditemui pemberita di rumahnya di Felda Taib Andak di sini hari ini, sebelum majlis pengkebumian jenazah bapanya.

Kira-kira 2,000 pengunjung turut mengiring jenazah Ani yang dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Felda Taib Andak pada kira-kira pukul 11 pagi tadi.

Ujian

Mawi berkata, walaupun sedih dengan kematian bapanya tetapi beliau redha dengan ketentuan Ilahi bahawa setiap yang hidup akan menemui ajal dan akan meneruskan kehidupan seperti biasa.

Menurutnya, apa yang berlaku adalah satu ujian terhadapnya dan keluarga.

‘‘Ini merupakan suatu ujian, kita perlu banyak bersabar kerana apa yang telah terjadi itu telah ditentukan oleh Allah s.w.t. Apa yang boleh saya buat adalah meneruskan kehidupan,” katanya.

Artis itu berkata, beliau akan berehat daripada menghadiri atur cara nyanyiannya antara satu dan dua minggu untuk menenangkan fikiran serta bersama-sama keluarga di rumahnya di Felda Taib Andak.

Bapa penyanyi terkenal yang kini dilanda kontroversi berikutan keputusan untuk memutuskan pertunangannya, mula dimasukkan ke IJN sejak dua bulan lepas dan menjalani pembedahan jantung tidak lama selepas itu.

Mengenai kontroversi yang menyelubungi beliau dan tunangnya Nor Diana Mohd Naim, Mawi berkata beliau tidak mahu mengulas lanjut dan menyerahkan kepada keluarga untuk menentukannya.

Mawi tidak berada di sisi bapanya ketika beliau menghembuskan nafas terakhirnya malam tadi kerana menghadiri acara perasmian Bulan Citrarasa anjuran Kementerian Pelancongan di Danga Bay, Johor Bahru.

Beliau bergegas ke IJN selepas diberitahu tentang keadaan bapanya.

Bernama/UM
Isnin, Julai 03, 2006 | 0 ulasan

Bapa Mawi selamat dikebumikan

JOHOR BAHRU 2 Julai - Jenazah bapa penyanyi popular Mawi, Allahyarham Ani Ahmad, 66, selamat dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Felda Taib Andak dengan dihadiri oleh kira-kira 200 penduduk, jiran sekampung dan saudara-mara penyanyi tersebut di Kulai, dekat sini hari ini.

Jenazah tiba di rumah keluarga angkat Mawi bersebelahan rumah asal keluarganya yang kini dalam proses pembinaan, kira-kira pukul 4 pagi ini.

Kira-kira pukul 7 pagi, penduduk kampung, sanak saudara serta segelintir peminat Mawi mula menziarahi jenazah Allahyarham Ani atau nama gelarannya Pak Atan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Mawi yang kelihatan tenang dengan pemergian bapanya itu, menyambut ketibaan tetamu yang datang untuk menziarahi Allahyarham Ani.

Allahyarham yang meninggal dunia kira-kira pukul 9.55 malam tadi di Unit Rawatan Rapi (ICU) Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur, akibat komplikasi jantung, dibawa keluar kira-kira pukul 12 tengah malam menuju ke rumah keluarga Mawi di Felda Taib Andak, di sini.

Mawi atau Hasmawi Ani, 23, yang berada di Johor Bahru selepas membuat persembahan di Danga Bay sempena pelancaran Bulan Citarasa Malaysia menerima panggilan mengenai kematian itu kira-kira pukul 10.15 malam semalam dan bergegas pulang ke rumahnya.

Pada pukul 9.40 pagi ini kenderaan jenazah tiba di perkarangan rumah tersebut untuk membawa jenazah ke Masjid Jamek Nurussa‘adah untuk disembahyangkan.

Mawi yang setia berada di sisi bapanya itu turut mengiringi jenazah sehingga ke dalam kenderaan tersebut sambil diikuti oleh beberapa saudara serta jiran kampung.

Selepas disembahyangkan kira-kira pukul 10.20 pagi, jenazah kemudian dibawa ke Tanah Perkuburan Islam Felda Taib Andak di sini untuk dikebumikan.

Allahyarham selamat disemadikan pada pukul 10.35 pagi dan bacaan talkin disampaikan oleh imam dua masjid jamek berkenaan, Mohamed Hanafi Mohd.

Selepas pengkebumian itu, bapa bekas tunang Mawi, Nur Diana iaitu Md. Naim Samijan turut menziarah pusara bapa Mawi bersama rakan-rakannya.

Pegawai Eksekutif Maestro Talent Management Sdn. Bhd., Freddie Fernandez, Penyampai Radio dan Televisyen Malaysia (RTM) Melaka, Isma Halil Hamzah serta kenalan rapat Mawi dan keluarganya turut menziarahi keluarga Mawi.

Mawi ketika ditemui berkata, beliau redha dengan pemergian bapanya setelah menjalani rawatan penyakit jantung di IJN kira-kira dua bulan.

Mengenai langkah seterusnya selepas kematian bapanya, Mawi berkata, buat sementara waktu beliau terpaksa menghentikan aktivitinya dan akan berada di kampung kira-kira seminggu untuk menemani ibu dan ahli keluarganya.

Beliau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak kerana menziarahi jenazah bapanya dan membantu urusan pengkebumian. [Utusan]
Isnin, Julai 03, 2006 | 0 ulasan

Bisnes Omar Ali bertahan lebih setengah abad

Written By Syafrein Effendiuz on 3/06/06 | Sabtu, Jun 03, 2006

AzizahMEMULAKAN perniagaan tidak sesukar untuk mempertahankannya. Sesiapa sahaja boleh bergelar ahli perniagaan asalkan mempunyai modal dan produk yang hendak dijual. Namun, untuk mempertahankannya hingga menjadi warisan keluarga kepada anak cucu, adalah tugas berat yang perlu dilaksanakan.

Beberapa bulan lalu ketika menghadiri majlis perkahwinan seorang rakan di Kampung Baru yang kebetulan cucu kepada Allahyarham Omar Ali, membuka lembaran perkenalan dengan perniagaan warisan keluarga yang telah bertapak selama 71 tahun lamanya. Bermula ketika negara berada di ambang peperangan (Perang Dunia Kedua meletus pada 1942) dan menghadapi frasa berbeza selepas negara mencapai kemerdekaan, jenama Omar Ali masih mampu bertahan.

Kini, Omar Ali Holdings Sdn. Bhd. yang beribu pejabat di Jalan Raja Mahmud, Kampung Baru, Kuala Lumpur diuruskan oleh Azizah Omar, 42, yang bertindak sebagai Pengarah Urusan.

Beliau merupakan anak bongsu daripada 11 adik-beradik dan berkelulusan dalam bidang Ekonomi dari Northern Illinois University, Amerika Syarikat.

Akui beliau, kepercayaan yang diberikan adalah satu tugas berat yang harus dipikul bagi memastikan warisan ini dapat dikekalkan untuk generasi akan datang.

Ikuti wawancara bersama wanita muda yang low profile ini dengan wartawan Zunaidah Zainon dan jurugambar, Nazeri Abu Bakar, baru-baru ini.

Bolehkah anda terangkan serba ringkas mengenai latar belakang Omar Ali Holdings Sdn. Bhd.?

AZIZAH: Omar Ali Holdings Sdn. Bhd. diasaskan oleh ayah saya, Omar Ali sejak 1935. Pada mulanya, beliau membuka kedai di Bazar Melayu (sekarang terletaknya Wisma Yakin di Jalan Masjid India) bersama-sama dengan dua orang pekerja. Beliau memberi tumpuan kepada pakaian tradisional terutamanya baju Melayu.

Memandangkan perniagaan ini bermula pada 1940-an, secara tidak langsung ia turut menerima tempahan daripada baju-baju lain seperti sut. Malah arwah ayah saya pernah mendalami bidang jahitan dengan seorang guru dari Jepun. Selain di Wisma Yakin, Butik Omar Ali juga terdapat di Alamanda, Putrajaya yang dibuka pada Oktober 2004. Ia diuruskan oleh kakak saya, Normadiati Omar.

Selain daripada anda, siapakah adik-beradik anda yang turut terlibat dalam perniagaan ini?

Omar Ali Holdings Sdn. Bhd. adalah warisan daripada keluarga dan saya diberi kepercayaan untuk menggalas tanggungjawab ini sekembalinya dari Amerika Syarikat pada 1991. Kami mempunyai 11 adik-beradik kesemuanya dan tujuh daripadanya terlibat dalam Omar Ali Holdings Sdn. Bhd. manakala empat lagi, sentiasa memberi sokongan yang tidak berbelah bagi. Adik-beradik lain yang terlibat ialah Bahtiar Afandi Omar sebagai Pengerusi Eksekutif, Shaharir Omar, (Pengarah Projek), Dahnar Omar, (Pengarah Pemasaran), Sukmawati Omar (Pengarah Kewangan dan Pentadbiran) dan Muhammad Sohaimi Omar (Projek Konsultan).

Apakah rahsia kejayaan Omar Ali Holdings Sdn. Bhd.?

Kami mampu bertahan kerana hubungan kekeluargaan yang erat dan tekad untuk memajukan perniagaan berdasarkan kepada pengalaman dan pengetahuan yang diraih dalam tempoh lebih 50 tahun ini. Selain itu, kami juga mendapat sokongan dan kepercayaan daripada pembekal termasuklah dari dalam dan luar negara yang banyak membantu kejayaan syarikat ini.

Kebanyakan pengedar datangnya dari Korea, Jepun, Indonesia, China dan Pakistan yang mempunyai agen di Malaysia dan Singapura. Mereka bukan sahaja membekalkan barang-barang jahitan seperti jarum dan benang tetapi mesin jahit hinggalah kepada tekstil dalam pelbagai warna dan tekstur.

Faktor lain juga datangnya dari agensi kerajaan dan swasta seperti bank, hotel dan kilang. Semua faktor ini menjadikan jenama Omar Ali bertahan hingga sekarang.

Sepanjang 71 tahun bertahan dalam dunia perniagaan dan merupakan warisan keluarga, bagaimana jenama Omar Ali meraih kesetiaan pelanggan?

Hingga kini masih ada pelanggan yang menempah pakaian daripada kami sejak dari muda hinggalah bergelar datuk termasuklah anak-anak dan cucu-cucunya juga merupakan pelanggan setia. Ini bermakna tiga generasi dari sebuah keluarga menggunakan jenama Omar Ali. Kami amat mengutamakan kualiti jahitan dan mengambil tahu setiap masalah yang dihadapi oleh pelanggan.

Sebagai seorang ahli perniagaan yang berpandangan jauh, ayah saya menghantar tiga anak lelakinya ke luar negara untuk mendalami bidang jahitan iaitu

Shaharir mempunyai kelulusan dari Tailor and Cutter Academy, London pada 1973 dan Paris Academy School of Fashion, London pada 1974. Beliau pernah memegang jawatan sebagai pensyarah Fesyen dan Seni Reka di Institut Kemahiran Mara.

Sementara itu, Bahtiar Afandi berkelulusan dari Tailor and Cutter Academy, London pada 1974 dan Muhammad Sohaimi pula dari Tailoring and Design Centre, London pada 1982.

Ilmu dan kemahiran yang mereka pelajari amat berguna untuk mengembangkan produk Omar Ali dengan rekaan terbaru dan mutu jahitan yang berkualiti. Misalnya, sewaktu mula-mula dulu, kita hanya menumpukan pada baju Melayu sahaja tetapi semakin berkembang kepada penerimaan tempahan untuk sut korporat dan pakaian seragam daripada pelbagai agensi kerajaan dan swasta.

Apakah keistimewaan jenama Omar Ali?

Kami amat mementingkan mutu jahitan yang kemas dan berkualiti sama ada pada baju Melayu, sut korporat ataupun baju uniform. Apa yang penting, dalam setiap jahitan baju Melayu, kami mengutamakan sentuhan tradisi sejak turun-temurun. Hingga kini, kami mempunyai 30 tukang jahit yang mahir dan terlatih. Malah ada yang sudah berkhidmat di sini lebih daripada 30 tahun. Dari segi mutu jahitan, ia sentiasa dipantau oleh ketiga-tiga abang saya termasuklah rekaan baju-baju terbaru koleksi Omar Ali. Selain pakaian lelaki, kami turut menerima tempahan untuk pakaian wanita seperti kebaya dan kurung.

Bagaimana pula pandangan anda mengenai persaingan dalam perniagaan sebegini?

Persaingan tetap ada dalam apa jua cabang perniagaan. Alhamdulillah, hingga ke hari ini masih ada pelanggan yang setia menggunakan jenama Omar Ali walaupun sudah bertahun lamanya. Cuma, apabila kami memasuki frasa baru dalam perniagaan iaitu mengambil tempahan uniform untuk agensi kerajaan dan swasta, maka persaingannya menjadi sengit kerana bukan mudah untuk mendapatkan kontrak atau tender tersebut.

Apakah cabaran yang dihadapi oleh anda dalam menguruskan serta mempertahankan agar perniagaan warisan keluarga mengikuti edaran masa?

Menjadi ahli perniagaan, dapat atau tidak, kita perlu berhadapan dengan cabaran yang kadang-kadang datang tanpa diduga. Kita jangan cepat berputus asa dan cuba sedaya upaya kerana selagi ada kemahuan, di situ ada jalan.

Di antara sebab utama saya boleh bertahan hingga ke hari ini adalah berkat dorongan dan sokongan daripada keluarga. Malah kepercayaan mereka dan kekuatan ikatan kekeluargaan Omar Ali, sentiasa menjadikan perniagaan ini bagai sebuah keluarga yang hidup bersama di bawah satu bumbung.

Kenapakah perlu orang Melayu terlibat dalam perniagaan dan kemudiannya mempertahankannya untuk generasi akan datang?

Perniagaan yang diusahakan bersama-sama keluarga dapat membentuk persefahaman dan secara tidak langsung menyatukan semua ahli keluarga. Apabila saya diberi kepercayaan untuk menguruskan perniagaan ini, saya telah berazam untuk bekerja dengan amanah dan jujur kerana tujuan utama kita ialah mengukuhkan kedudukan syarikat dan seterusnya boleh diwarisi ke anak cucu. Orang tua kita sudah bersusah payah membina empayar perniagaan ini dengan penat lelah dan keringatnya, jadi mengapa kita hendak hancurkan begitu sahaja? Ayah saya seorang yang tekun bekerja beliau melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Oleh itu, adalah penting, kita terlibat dalam perniagaan, sekurang-kurangnya pelapis akan datang akan mengusahakannya dengan lebih baik. [UM]
Sabtu, Jun 03, 2006 | 0 ulasan

A hero’s farewell

Written By Syafrein Effendiuz on 24/04/06 | Isnin, April 24, 2006

IT WAS a funeral befitting a national hero that Tun Abdul Ghafar Baba had become through his 49 years of service to the nation and people.

Thousands of people from all walks of life turned up at the National Mosque to bid farewell to the man who declined to have titles and remained “Encik Ghafar” throughout his long service in government.

Ghafar, 81, who died of heart, lung and kidney complications at 7.34am yesterday at the Gleneagles Intan Medical Centre in Jalan Ampang, was laid to rest at the Heroes’ Mausoleum in the mosque compound after Asar prayers.

Related Stories:
Funeral with full honours
PM hails a humble leader
Umno veterans mourn loss of nation’s peacemaker
Tamrin: Dad was calm before he died
A humble statesman
MCA ever grateful to Ghafar for his help
Malaysians: Simple, patriotic, people’s leader
A regular guy until the end
Opposition leaders pay tribute
Friend mourns loss
Ghafar Baba – a Malaysian leader through and through
The life and times of Ghafar

[The Star]

Isnin, April 24, 2006 | 0 ulasan

Allahyarham Ghafar diberi penghormatan negara

ABDULLAH Ahmad Badawi dan Najib Tun Razak menyertai sembahyang jenazah untuk Allahyarham Ghafar Baba di Kuala Lumpur, semalam.

KUALA LUMPUR 23 April - Bekas Timbalan Perdana Menteri, Allahyarham Tun Ghafar Baba selamat disemadikan sebagai seorang negarawan di Makam Pahlawan, Masjid Negara di sini hari ini.

Allahyarham merupakan pemimpin negara yang keempat disemadikan di kawasan kubah Makam Pahlawan tersebut yang turut menempatkan Perdana Menteri kedua dan ketiga, Tun Abdul Razak Hussein dan Tun Hussein Onn serta Timbalan Perdana Menteri kedua, Tun Dr. Ismail Abdul Rahman.

Ghafar meninggal dunia di Pusat Perubatan Gleneagles Intan (GIMC) di sini, pada pukul 7.35 pagi kerana komplikasi jantung, paru-paru dan buah pinggang.

Allahyarham berusia 81 tahun.

Anak kedua Allahyarham, Tamrin berkata, semua anggota keluarga terdekat berada di sisi bapanya, ketika Allahyarham menghembuskan nafas terakhir.

Jenazah Allahyarham kemudiannya dibawa pulang dengan van Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) ke rumahnya di No. 15, Lorong Bukit Pantai 5, Bangsar di sini, sebelum dibawa ke Masjid Negara.

Jenazah Allahyarham tiba di Masjid Negara pada pukul 2.10 petang dengan disambut oleh Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.

Sejurus tiba, keranda jenazah yang bersalut Jalur Gemilang dan diusung 10 pegawai tentera dan polis, ditempatkan di tengah dewan syarahan utama Masjid Negara.

Ketibaan jenazah turut diiringi oleh ahli keluarga Ghafar dan bekas isterinya, D. Heryati Abdul Rahim. Hadir sama orang-orang kenamaan terdiri daripada menteri-menteri Kabinet dan ahli-ahli politik.

Sejurus setelah jenazah diletakkan di dewan utama, kelihatan Perdana Menteri membaca doa untuk Allahyarham selepas memanggil ahli keluarga Ghafar turut serta.

Selepas bacaan doa, Abdullah bersalaman dan mengucapkan takziah kepada ahli keluarga Ghafar.

Tepat pada pukul 2.30 petang, orang awam yang berkumpul di pekarangan Masjid Negara mula berbaris panjang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Allahyarham Ghafar.

Ini diikuti oleh golongan pemimpin dan kenamaan termasuk menteri Kabinet, tokoh politik, ahli korporat dan profesional kira-kira sejam kemudian.

Jenazah Allahyarham kemudiannya dibawa ke dewan utama sembahyang, untuk disembahyangkan selepas solat Asar.

Upacara sembahyang jenazah itu diketuai oleh Imam Besar Masjid Negara, Datuk Kamaruddin Zakaria.

Suasana pilu semakin terasa sebaik sahaja jenazah Allahyarham diusung ke Makam Pahlawan untuk disemadikan dengan penuh penghormatan negara.

Sekali lagi, Kamaruddin mengetuai pembacaan talkin, manakala pembacaan doa diketuai oleh Timbalan Mufti Wilayah Persekutuan, Wan Halim Wan Harun.

Cuaca yang pada mulanya cerah, bertukar mendung pada sebelah petang, diikuti dengan hujan renyai-renyai seolah-olah turut menangisi pemergian tokoh yang banyak berjasa itu.

Bacaan talkin dan doa yang mengingatkan manusia tentang kematian dan kebesaran Allah, menambahkan lagi suasana hiba dan sayu di kawasan makam.

Perdana Menteri selepas itu mengetuai majlis menyiram air mawar ke atas pusara Allahyarham Ghafar.

Ini diikuti oleh Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak dan isteri, Datin Seri Rosmah Mansor yang sebelum itu menziarah jenazah Allahyarham di kediamannya di Bangsar.

Kemudiannya, diikuti oleh anak-anak dan ahli keluarga terdekat Allahyarham.

Majlis penghormatan ke atas Allahyarham Ghafar berakhir kira-kira pukul 5.40 petang.

Pemergian Allahyarham itu menyaksikan negara kehilangan seorang lagi pemimpin berwibawa dan tidak jemu-jemu mencurahkan khidmat kepada rakyat dan tanah air. [UM]
Isnin, April 24, 2006 | 0 ulasan

Perginya seorang pejuang

PILU...Tamrin menyiram pusara Allahyarham bapanya, Tun Ghafar Baba sambil disaksikan oleh anggota keluarga dan kenamaan termasuk Abdullah Ahmad Badawi, Najib Tun Razak dan Rosmah Mansor di Makam Pahlawan, Masjid Negara, Kuala Lumpur, semalam.

Oleh: ZULKIFLI JALIL

KUALA LUMPUR 23 April - Negara hari ini meratapi pemergian seorang pemimpin yang menghabiskan hampir seluruh kehidupannya kepada perjuangan bangsa dan negara.

Kembalinya ke rahmatullah Tun Ghafar Baba, 81, di Pusat Perubatan Gleneagles Intan (GIMC) selepas 90 hari terlantar akibat komplikasi jantung, paru-paru dan buah pinggang bermakna negara kehilangan seorang pejuang yang bersikap sederhana.

Jalur Gemilang pada keranda Allahyarham serta penghormatan negara yang diberikan kepadanya merupakan pengiktirafan untuk negarawan yang banyak berjasa.

Ghafar yang disemadikan bersama tokoh negara lain di Makam Pahlawan, Masjid Negara di sini meninggalkan catatan sejarah bukan sedikit dalam perkembangan politik dan pembangunan negara ini.

Allahyarham bukan sekadar pejuang kemerdekaan tetapi juga pengisi kepada kemerdekaan itu sendiri melalui sumbangannya dalam penubuhan dan menggerakkan agensi-agensi bagi meningkatkan taraf hidup rakyat.

Titisan air mata rakan-rakan seperjuangan termasuk bekas Timbalan Perdana Menteri, Tan Sri Musa Hitam yang berasa sebak dengan pemergian Allahyarham jelas menunjukkan betapa mereka akan merasai kehilangan seorang pemimpin yang serba sederhana dalam pelbagai perkara.

Kepiluan ini turut dirasai oleh rakan-rakan yang pernah bersama-sama dengan Allahyarham seperti Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi dan Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak.

Allahyarham mula mengorak langkah untuk memperjuangkan nasib bangsa dan negaranya, apabila melibatkan diri dalam politik pada tahun 1940 dengan menyertai Kesatuan Melayu Muda (KMM) di Melaka ketika berusia 15 tahun.

Dari situlah bermulanya perjuangan Ghafar untuk menuntut kemerdekaan dan kemudiannya mengisi kemerdekaan dengan pelbagai sumbangan kepada parti dan negara.

Kira-kira 11 tahun kemudian, bintang politik Allahyarham semakin terserlah apabila memegang beberapa jawatan seperti Pengerusi UMNO Melaka, Pegawai Penerangan UMNO Malaya, Setiausaha Agung Barisan Nasional dan menjadi Naib Presiden UMNO.

Sikap kesederhanaan dan bijak berdiplomasi telah membolehkan Ghafar yang dilantik sebagai Timbalan Perdana Menteri pada 1986 menangani apa juga masalah sama ada politik atau pentadbiran negara secara tenang.

Sebagai seorang pejuang, Ghafar tidak pernah mengenal erti kekecewaan, apatah kemewahan.

Walaupun sudah menjadi Timbalan Perdana Menteri, kehidupan dan perwatakan Ghafar tidak pernah berubah.

Justeru ia bukanlah suatu yang luar biasa apabila Ghafar yang raut wajah serius tetapi mudah didampingi ini bekerja di bawah empat Perdana Menteri.

Allahyarham pernah melaungkan kemerdekaan bersama Tunku Abdul Rahman, berjuang meningkat taraf hidup orang Melayu terutama di kawasan luar bandar di bawah Tun Abdul Razak dan berganding bahu bersama Tun Dr. Mahathir Mohamad menghadapi krisis politik dan pentadbiran negara.

Walaupun tidak berada dalam Kabinet hampir 10 tahun mulai 1976 namun keringat dan bakti Ghafar kepada parti dan negara tidak pernah `kering'.

Ketokohan dan kewibawaan Allahyarham sebagai seorang pejuang yang tidak mengenal erti putus asa terserlah apabila Allahyarham dipilih menjadi Presiden de facto MCA pada tahun 1985.

Kesederhanaan serta jiwanya yang lembut tetapi tegas telah memungkinkan Dr. Mahathir memilih Allahyarham menjadi Timbalan Perdana Menteri pada tahun 1986.

Sejak itu, sumbangan Ghafar kepada parti dan negara semakin memuncak, ini termasuklah merealisasikan penubuhan UMNO di Sabah.

Walaupun berundur secara sukarela pada tahun 1993 ketika menjawat jawatan Timbalan Perdana Menteri dan Timbalan Presiden UMNO, ia bukanlah satu langkah `orang yang kecewa'.

Ghafar berundur demi menjaga kestabilan dan perpaduan parti, itu lebih penting daripada segala-galanya bagi Allahyarham.

Pemimpin dan ahli UMNO sudah pasti mengenang jasa Ghafar yang berjuang menghidupkan semula UMNO selepas diharamkan oleh Mahkamah Tinggi pada 1988 ekoran perpecahan akibat perebutan jawatan tertinggi parti pada Perhimpunan Agung UMNO 1987. UMNO pulih dan kembali stabil seperti hari ini antaranya juga disebabkan oleh perjuangan Ghafar tanpa mengira masa atau tenaga.

Ironinya, Ghafar disenangi kawan dan lawan politiknya sama ada dalam UMNO mahupun pembangkang.

Justeru tidak hairanlah, semua pemimpin tanpa mengira fahaman politik mengunjungi rumah Allahyarham sejak awal pagi lagi bagi memberi penghormatan terakhir.

Ghafar dikenali sebagai suara yang sentiasa peka dalam menyampaikan pandangan rakyat biasa dan rakyat bawahan ke peringkat atasan.

Bukan sekadar kerjaya politik. Allahyarham juga diingati kerana usahanya dalam memartabatkan ekonomi orang Melayu.

Antara sumbangan terbesar Ghafar ialah menubuhkan Amanah Saham Mara yang memperkenalkan orang Melayu kepada institusi pasaran saham dalam merubah tahap kehidupan mereka.

Kepada parti-parti komponen BN, mereka kehilangan seorang tokoh yang telah memperlihatkan kematangan serta sentiasa menyampaikan suara perimbangan dalam perkara-perkara menyentuh isu sensitif berkaitan agama, kaum, budaya dan bahasa.

Dan ungkapan Allahyarham `walaupun sudah menjadi pemimpin, kita jangan lupa asal usul kita, akar umbi kita' pastinya tidak akan dilupakan. Ghafar adalah seorang pemimpin dan pejuang yang sukar dicari ganti.

Sepertimana hujan renyai-renyai sebaik sahaja pengkebumiannya selesai kira-kira pukul 5.40 petang, begitulah juga jasa yang ditinggalkan oleh Allahyarham, ia akan terus `menyirami' negara ini. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas rohnya. [UM]
Isnin, April 24, 2006 | 0 ulasan

Akhbar Iran anjur lukis kartun -- Mengenai Holocaust uji kebebasan bersuara Barat

Written By Syafrein Effendiuz on 8/02/06 | Rabu, Februari 08, 2006

Join a NEW INCOME program!

TEHERAN 7 Feb. - Sebuah akhbar terkemuka di Iran akan menganjurkan pertandingan kartun mengenai Holocaust untuk menguji sama ada Barat akan menggunakan prinsip kebebasan bersuara yang sama terhadap peristiwa pembunuhan Yahudi di tangan Nazi itu.

Akhbar-akhbar di Eropah telah mempertahankan hak mereka untuk menyiarkan kartun yang menghina Nabi Muhammad s.a.w. itu atas nama kebebasan bersuara.

Hamshahri, antara lima akhbar terlaris di Iran, menjelaskan bahawa pertandingan itu sebagai reaksi terhadap tindakan akhbar Eropah menyiarkan semula kartun yang pada mulanya muncul dalam sebuah akhbar Denmark.

Tindakan mereka telah mencetuskan tunjuk perasaan, boikot produk Eropah dan serangan terhadap kedutaan Eropah di seluruh dunia Islam.

Menurut Hamshahri, pertandingan itu akan dilancarkan pada 13 Februari ini dan dianjurkan bersama-sama Dewan Karikatur, iaitu sebuah pusat pameran kartun di Teheran.

Hamshahri dan pusat kartun tersebut dimiliki oleh Dewan Bandar Raya Teheran yang dikuasai oleh sekutu Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Mahmoud tahun lepas mencetuskan bantahan keras Barat apabila beliau berkata, Israel patut dilenyapkan daripada peta dunia dan peristiwa Holocaust hanyalah satu mitos.

Hamshahri mempelawa kartunis asing menyertai pertandingan itu sambil menyatakan pihaknya ingin melihat sejauh mana Barat bersikap terbuka terhadap kartun tentang Holocaust.

``Adakah Barat memperluaskan kebebasan bersuara untuk menyuarakan jenayah yang dilakukan oleh Amerika Syarikat (AS) dan Israel atau untuk mempersendakan peristiwa seperti Holocaust? Atau adakah kebebasan bersuaranya hanya untuk menghina tokoh-tokoh agama?'' tulis Hamshahri dengan merujuk kepada kartun menghina Nabi Muhammad itu.

Sementara itu, akhbar Denmark, Jyllands-Posten yang membangkitkan kemarahan penduduk Islam seluruh dunia kerana penyiaran karikatur menghina Nabi Muhammad, sekali lagi mencetuskan kontroversi hari ini apabila pihak pengurusan akhbar berkenaan enggan menyiarkan karikatur Nabi Isa.

Menurut akhbar tersebut, keputusan untuk tidak menyiarkan karikatur Nabi Isa dibuat tiga tahun lepas apabila mereka bimbang penyiaran itu boleh membangkitkan sensitiviti dan kemarahan penganut Kristian.

Beberapa siri karikatur Nabi Isa telah dihantar oleh seorang pelukis ilustrasi Denmark, Christoffer-Zieler kepada editor Jyllands-Posten edisi Ahad, Jens Kaiser pada April 2003 untuk tujuan penyiaran namun idea itu ditolak.

Ekoran pendedahan kontroversi itu, seorang jurucakap Jawatankuasa Memuliakan Nabi Muhammad di Eropah, Ahmed Akkari menyifatkan ia sebagai satu keputusan yang berat sebelah dan membayangkan sikap hipokrit media Barat.

``Bagaimana Jyllands-Posten boleh membezakan kedua-dua kes itu? Seharusnya, mereka (Jyllands-Posten) perlu memahami hakikat sebenar isu itu,'' katanya. - Agensi
Rabu, Februari 08, 2006 | 0 ulasan

Jangan cetus masalah -- Pelbagai pihak bantah pelajar guna telefon bimbit di sekolah

Written By Syafrein Effendiuz on 14/01/06 | Sabtu, Januari 14, 2006

Traffic Dinar

KUALA LUMPUR 13 Jan. - Pelbagai pihak daripada ahli politik, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) dan tokoh pendidik meminta Kementerian Pelajaran menarik balik kebenaran bersyarat pelajar menggunakan telefon bimbit di sekolah kerana ia membawa lebih keburukan berbanding kebaikan.

Mereka berpendapat, penggunaan telefon bimbit oleh pelajar di sekolah tidak akan membantu meningkatkan mutu pendidikan, sebaliknya menyumbang kepada masalah disiplin di sekolah-sekolah.

Jika keadaan ini dibiarkan, kata mereka, dasar pendidikan negara yang bertujuan melahirkan pelajar berkualiti dari segi ilmu dan moral tidak akan tercapai.

Pengerusi Yayasan Pendidikan Cheras, Senator Datuk Syed Ali Alhabshee berkata, penggunaan telefon bimbit boleh menyebabkan salah laku moral yang akhirnya menjejaskan dasar pendidikan negara.

``Sebagai contoh, pelajar mungkin akan menghendap dan merakam gambar pelajar atau guru perempuan di dalam tandas.

``Lebih dibimbangi sekiranya gambar ini disebarkan oleh pelajar yang tidak bertanggungjawab menerusi telefon bimbit,'' katanya dalam satu kenyataan di sini hari ini.

Beliau mengulas kenyataan Ketua Pengarah Pelajaran, Datuk Dr. Ahamad Sipon semalam mengenai kebenaran menggunakan telefon bimbit di kalangan para pelajar.

Kebenaran itu yang akan berkuat kuasa secepat mungkin tertakluk kepada syarat-syarat dalam Garis Panduan Penggunaan Telefon Bimbit Oleh Murid Sekolah yang dikeluarkan oleh Kementerian Pelajaran, semalam.

Sehubungan itu, Syed Ali yang juga Ketua UMNO Bahagian Cheras mencadangkan supaya pihak sekolah membenarkan pelajar menggunakan telefon di pejabat sekolah sekiranya ingin menghubungi ibu bapa.

``Sekolah perlu membenarkan pelajarnya yang mempunyai hal kecemasan untuk menggunakan telefon di pejabat,'' katanya.

Bekas Ketua Pengarah Pendidikan, Tan Sri Abdul Rahman Arshad pula percaya, pelbagai masalah akan timbul sekiranya para pelajar dibenarkan membawa telefon bimbit di sekolah termasuk kes kecurian.

Selain itu, katanya, penggunaan telefon bimbit oleh pelajar di sekolah akan menimbulkan jurang pemisah antara pelajar miskin dan kaya hingga mencetus suasana yang tidak harmoni.

Setiausaha Agung Kesatuan Guru-Guru Dalam Perkhidmatan Pelajaran Malaysia (Kongres), Awang Mohamad melihat implikasi buruk mungkin tercetus sekiranya perkara itu dibenarkan.

Menurutnya, para pelajar lebih banyak terdedah kepada penyelewengan penggunaan alat telekomunikasi tersebut.

``Teknologi canggih yang menjadi perisian setiap telefon bimbit berupaya membawa minda para pelajar ke alam lain selain di bilik darjah,'' ujarnya.

Beliau berkata, meskipun pelajar hanya dibenar menggunakan telefon bimbit sebelum waktu persekolahan bermula, semasa waktu rehat dan selepas sesi persekolahan tamat, tanpa disedari teknologi itu `membunuh' masa depan para pelajar.

Presiden Persatuan Perlindungan Pengguna Malaysia (PPPM), Mohd. Firdaus Abdullah turut melahirkan kebimbangan terhadap penggunaan telefon bimbit di kalangan pelajar di sekolah.

``Telefon bimbit boleh menyebabkan masalah pencemaran bahasa, penyebaran gambar-gambar lucah, perhubungan bebas melalui telefon dengan orang tidak dikenali yang seterusnya boleh menjurus kepada keruntuhan moral.

``Malah, dengan menggunakan telefon bimbit semasa waktu rehat, kemungkinan besar para pelajar akan menggunakannya untuk bermain `game' atau SMS dan semua ini mampu menjejaskan tumpuan mereka terhadap pelajaran,'' katanya. [UM]
Sabtu, Januari 14, 2006 | 0 ulasan

Bukan salah kami - Saudi - Kehadiran jemaah tidak mudah dikawal antara punca

JEMAAH-JEMAAH haji melalui kawasan tragedi rempuhan yang menyebabkan 363 orang mati di Mina, semalam. - AFP.

MINA 13 Jan. - Jemaah-jemaah haji bertungkus-lumus hari ini mengesan anggota keluarga mereka yang hilang dalam kejadian rempuhan semasa ibadat melontar di Mina semalam, yang menurut pihak berkuasa Arab Saudi berpunca daripada jemaah-jemaah yang tidak mudah dikawal, khususnya dari benua Afrika.

Dengan mengesat air mata di hadapan dinding yang dilekatkan gambar mangsa yang terbunuh, anggota keluarga berusaha mendapatkan berita mengenai saudara-mara mereka di rumah mayat di sini sejak pagi ini.

Riyadh mendakwa kejadian itu disebabkan jemaah-jemaah haji yang tidak dapat dikawal, dibawa oleh syarikat-syarikat yang tidak dibenarkan.

Bagaimanapun beberapa saksi mendakwa tindakan polis menyebabkan keadaan kelam-kabut yang terjadi apabila mereka secara tiba-tiba menutup laluan ke arah jambatan dan sesetengah jemaah haji panik bila mereka perlu melakukan lontaran terakhir.

Dakwaan itu dinafikan oleh jurucakap Kementerian Dalam Negeri, Major Jeneral Mansour al-Turki kepada BBC.

``Jemaah mahu menunaikan haji mengikut cara yang mereka anggap betul dan anda mempunyai kesan yang terhad dalam menggunakan anggota polis bagi mengawal mereka.

``Anda sebenarnya tidak boleh mengawal mereka menggunakan pasukan polis kerana ia akan menambah masalah,'' katanya.

Bilangan kematian akibat tragedi tersebut meningkat kepada 363 orang termasuk kira-kira 100 jemaah haji Mesir, menurut Timbalan Pengarah Bilik Mayat al-Muaysem, Hussein Saleh Bahashwan kepada AFP.

``Kebanyakan yang terbunuh adalah rakyat Mesir, Afrika dan Saudi, serta beberapa negara Asia,'' kata Pengarah Operasi Menyelamat di Kementerian Kesihatan, Khaled Yassine.

Putera Mahkota Saudi, Sultan bin Abdul Aziz dalam kenyataan yang disiarkan hari ini oleh akhbar Asharq Al-Awsat berkata, ibadat melontar jamrah berlangsung sebelum itu tanpa sebarang masalah.

``Tetapi apa yang berlaku ialah lebih 12 orang menggalas beg-beg besar, jadi apabila keadaan menjadi terlalu sesak mereka terjatuh lalu menimpa satu sama lain,'' kata Sultan.

``Jemaah terjatuh dan menimpa satu sama lain,'' katanya.

``Jemaah haji tidak dibenarkan membawa beg semasa ibadat melontar,'' katanya.

Semalam, Menteri Kesihatan Saudi, Hamad Abdullah Al-Maneh berkata, kejadian rempuhan itu berpunca daripada jemaah haji yang tidak terkawal dan masalah beg.

Tragedi terbaru itu berlaku hanya beberapa hari selepas 76 orang maut apabila sebuah hostel di tengah Mekah runtuh pada minggu lepas. - Agensi



Sabtu, Januari 14, 2006 | 0 ulasan

Editorial: Disastrous Indiscipline

Written By Syafrein Effendiuz on 13/01/06 | Jumaat, Januari 13, 2006

Yet again, hundreds have been trampled to death on the Jamrat Bridge during the ceremonial stoning of Satan even though the authorities have spent millions on improvements to the stoning area to prevent such an accident occurring. People will ask why this happened. There will be many who will be fatalistic about it, pointing out that it is not the first time that pilgrims have been crushed to death during the stoning, and, given the massive numbers involved, it will not be the last, no matter what the authorities try to do to prevent it.

Certainly, following the 2004 stampede, in which 251 pilgrims died, the authorities have done a great deal to ease congestion on the bridge and make the stoning safer, spending millions in the process. The three pillars have been replaced by ones that are wider and taller that enable more pilgrims to perform the rite at the same time. New footbridges have been built. Thousands of more stewards, security personnel and medical staff were deployed to keep order and ensure an incident-free Haj.

That such detailed measures did not prevent this even greater disaster will be enough make anyone fatalistic — but for the fact that it is already clear that things happened yesterday that should not have happened.

It is not at the authorities, however, that the finger of blame has to be pointed; it is at some of the pilgrims themselves. Although there will have to be an inquiry to find out exactly what happened, there are disturbing reports that many pilgrims completely ignored rules and instead of leaving their luggage back at the camp at Mina and retrieving it after the stoning, had broken camp and taken their belongings with them to the crowded Jamrat Bridge, thereby causing a blockage and the resultant tragedy.

Investigations will show whether there were any unforeseen faults with the new system and how it can be improved. But even at this early stage, there is one obvious lesson to be learned: Such disastrous indiscipline must not happen again. Specifically, pilgrims must be prevented from taking luggage with them to the stoning. It can be done by a system of checks and controls. Anyone caught carrying baggage with them in the future should either have it confiscated or they should be forced to take it back to where they were staying. Such punitive measures are more than justified. Pilgrims who take their belongings with them onto the Jamrat are being thoroughly selfish. Lives have been lost as a result. Pilgrims have every right not to have their lives put in danger by the selfishness and thoughtlessness of others. Any indiscipline where such massive numbers are involved is potentially deadly.

But at the end of the day, no amount of extra stewards or soldiers on duty will prevent a disaster if a handful of pilgrims insist on doing something foolish. Pilgrims themselves have to be more disciplined. They have to be more responsible. In many countries those going on Haj have to attend courses so that they know what to expect and what to do. This must be made compulsory for all as a condition for getting Haj visas. [Arab News]
SISTEM MATRIX BULANAN RM10
http://rm10.ringgitcycler.com/cgi-bin/clickthru.cgi?id=kaya

Jumaat, Januari 13, 2006 | 0 ulasan

345 jemaah maut dipijak * 300 lagi cedera * Belum ada rakyat Malaysia dilaporkan terlibat

TRAGEDI... Anggota polis dan pasukan keselamatan menguruskan sebahagian mayat jemaah haji yang terkorban akibat terpijak dalam rempuhan dan berhimpit-himpit di Jambatan Jamratul Usta, Mina semalam. - Reuters.



MINA, Arab Saudi 12 Jan. - Lebih 345 orang terbunuh dan lebih 300 lagi cedera apabila puluhan ribu jemaah haji terpijak sesama sendiri semasa bersesak-sesak untuk mengerjakan ibadah melontar di kawasan Jamratul Usta, di sini hari ini.

Sehingga pukul 11.50 malam ini (waktu Malaysia), tiada laporan jemaah haji Malaysia terbabit dalam insiden itu yang berlaku antara pukul 1 hingga 2 petang waktu tempatan (pukul 6 hingga 7 malam waktu Malaysia).

Ini kerana jemaah Malaysia diarah melakukan ibadah melontar pada waktu malam sahaja iaitu selepas pukul 6 petang waktu tempatan.

Bagaimanapun, Ketua Rombongan Haji Malaysia, Datuk Dr. Azmi Ahmad serta para pegawai Malaysia di sini masih menunggu laporan rasmi berhubung perkara itu.

Menurut pihak berkuasa Arab Saudi, jumlah kematian dijangka meningkat kerana masih ramai lagi mangsa yang belum dihantar ke hospital berada dalam keadaan kritikal.

Jemaah-jemaah haji terbabit dikatakan tergesa-gesa menuju ke tempat melontar itu sebelum matahari terbenam.

Jurucakap Menteri Dalam Negeri, Mejar Jeneral Mansour al-Turki berkata, kejadian tersebut berlaku di laluan masuk sebelah timur kawasan berkenaan.

Tragedi itu dipercayai berlaku apabila beberapa buah beg terjatuh dari sebuah bas yang sedang bergerak di salah satu pintu masuk di situ menyebabkan puluhan jemaah haji tersepak beg-beg berkenaan sebelum terjadi perlanggaran sesama sendiri.

Kejadian rempuhan di kalangan jemaah masih berlaku walaupun pihak berkuasa Arab Saudi berusaha memperbaiki laluan bagi memudahkan kira-kira 2.5 juta jemaah haji dari seluruh dunia mengerjakan ibadah melontar.

Setiap jemaah haji wajib melakukan ibadah tersebut sebagai salah satu rukun haji.

Sebahagian jemaah haji sudah selesai melakukan ibadah melontar hari ini dan kembali semula ke Mekah untuk melakukan tawaf selamat tinggal.

Sementara itu, suasana agak cemas apabila deretan ambulans keluar masuk membawa mangsa yang cedera dan maut dalam kejadian itu.

Beberapa buah helikopter turut terlibat dalam operasi menyelamat selain menjaga keselamatan kawasan berkenaan.

Siaran televisyen Al-Arabia turut menunjukkan visual puluhan mayat dan mereka yang cedera diletakkan dalam dua buah kontena di tepi jalan besar menuju ke Jamratul itu.

Tragedi ini berlaku lima hari selepas kejadian hotel runtuh di kawasan Al Ghazzah dekat Masjidil Haram yang mengorbankan 76 nyawa termasuk empat jemaah dari Malaysia.

Kali terakhir kejadian jemaah mati akibat terpijak ketika hendak melontar di Mina ialah pada 2004 yang mengorbankan 224 jemaah ketika berada di kawasan melontar di Jamratul Aqabah di Mina.

Tragedi paling buruk ialah peristiwa rempuhan besar-besaran sehingga menyebabkan kesesakan di Terowong Al-Muasseim di Mina pada 1990 menyebabkan 1,426 jemaah haji terbunuh termasuk 153 orang dari Malaysia. - Agensi
Jumaat, Januari 13, 2006 | 0 ulasan

Blog Archives