Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pages

Written By Syafrein Effendiuz on 30/08/04 | Isnin, Ogos 30, 2004


Slamet, Christine & Alex - Bercerita di sebalik PGL
Laporan: ABD. AZIZ ITAR


PUTERI Gunung Ledang (PGL) yang akan ditayangkan di pawagam seluruh negara mulai esok mencatat sejarahnya sendiri kerana ia merupakan filem tempatan paling mahal pernah dihasilkan dengan bajet lebih RM15 juta dan ia tidak termasuk kos promosi.
Selain menampilkan pelakon tempatan, filem arahan Saw Teong Hin ini turut mempertaruhkan tiga nama besar dari Indonesia untuk memantapkan lagi PGL.
Mereka ialah Slamet Raharjo Djarot, Christine Hakim dan Alex Komang.
Utusan Malaysia sempat bertemu tiga pelakon terbabit petang Jumaat lalu untuk berkongsi pengalaman mereka tentang PGL.
Slamet - Minum banyak air
WALAUPUN Slamet mempunyai pengalaman berlakon selama 34 tahun tetapi kemampuannya masih teruji dalam PGL.
Slamet, 55, terpaksa minum banyak air untuk melakonkan watak Patih dengan penuh penghayatan.
``Bagi saya, adegan paling susah dalam PGL ialah ketika Gusti Adipati (lakonan Alex Komang) memarahi Bayan (Christine Hakim).
``Gusti Adipati marah kerana Bayan membantu Gusti Putri melarikan diri ke Gunung Ledang.
``Saya yang juga terbabit dalam adegan itu terpaksa melakonkan watak Patih dengan mempamerkan ekspresi wajah sahaja.
``Ini kerana dalam adegan itu, watak Patih tidak mempunyai banyak dialog. Akibatnya, saya banyak kehilangan peluh.
``Saya terpaksa minum tiga botol besar air mineal untuk mengembalikan semula semangat serta tenaga saya,'' kata Slamet.
Menurut Slamet, bila terima sesuatu tawaran dia akan melakonkan bersungguh-sungguh kerana dia amat memilih.
``Sebab itu walaupun sudah 34 tahun dalam bidang ini saya baru berlakon 15 filem sahaja,'' katanya.
Mei lalu, Slamet menerima anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Kerajaan Indonesia.
Anugerah itu disampaikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri kerana jasanya dalam seni teater dan filem.
Christine - Watak Bayan memang sukar
CHRISTINE pernah melakonkan pelbagai watak dalam filem-filem yang dilakonkannya sebelum ini.
Namun, ia tidak sama seperti watak Bayan dalam PGL yang memerlukannya memberi sepenuh penghayatan.
``Walaupun watak Bayan dalam PGL tidak banyak iaitu tidak sampaipun 10 adegan tetapi saya dapati watak itu sungguh berat sekali.
``Watak itu memerlukan saya mempamerkan ekspresi wajah dan nada suara yang perlahan tetapi penuh dengan penghayatan.
``Ia sesuai dengan watak Bayan iaitu sebagai orang suruhan istana. Watak itu mungkin sesuai dengan usia dan penampilan saya,'' ujarnya.
Menurut Christine, 47, dia menerima tawaran berlakon dalam PGL kerana mahu membantu menghidupkan dunia perfileman Malaysia.
``Saya terima undangan Tiara berlakon dalam filem ini kerana saya tahu dia lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk industri perfileman Malaysia.
``Malaysia dan Indonesia bukan setakat dua negara yang berjiran tetapi sudah seperti adik-beradik kembar,'' kata Christine yang datang lewat untuk sesi temubual kerana menjenguk bapanya, Hakim Thahar, 74, yang dimasukkan ke Institut Jantung Negara.
Alex - Enam bulan hayati watak
ALEX Komang atau nama sebenarnya Saifin Nuha, 42, memberikan komitmen yang tinggi apabila menerima tawaran berlakon dalam PGL.
Alex membuat kajian terperinci terutama daripada segi dialog sebelum penggambaran filem terbitan EnfiniTi Productions ini dijalankan.
``Saya mengkaji terlebih dahulu skrip dan dialog yang membabitkan watak Gusti Adipati Handaya Ningrat.
``Saya mengambil masa enam bulan untuk membuat terjemahan dialog daripada Bahasa Malaysia ke Bahasa Indonesia.
``Ini kerana, dialog yang diberi kepada saya pada asalnya adalah dalam Bahasa Malaysia.
``Jadi, saya harus menyesuaikan dialog supaya ia sesuai dengan watak Raja Majapahit yang saya lakonkan itu,'' ujarnya.
Bercerita tentang pengalamannya dalam PGL, menurut Alex dia tidak dapat melupakan adegan pertarungan membabitkan Gusti Adipati dengan Hang Tuah.
``Adegan itu paling mencabar saya kerana adegan itu dibuat di kawasan yang berair. Agak sulit juga untuk berlakon di kawasan yang mencabar seperti itu.
``Saya bukan sahaja terpaksa bersilat dan melompat tinggi tetapi juga terjun ke dalam laut. Walaupun penggambaran membabitkan watak Gusti Adipati cuma 20 hari sahaja tetapi ia sungguh mencabar sekali,'' kata Alex lagi.
Isnin, Ogos 30, 2004 | 0 ulasan

Kantor Gubri Direhab Rp14 M

Written By Syafrein Effendiuz on 28/08/04 | Sabtu, Ogos 28, 2004

Jum'at, 27 Agustus 2004 13:28

Pekanbaru - Tahun Depan Dibangun 9 Lantai

Pemerintah Provinsi Riau mulai berbenah bagaimana fasilitas dan Kantor Gubernur Riau jadi mentereng dan megah. Tak tanggung-tanggung, tahun 2004 ini Kantor Gubernur Riau akan direnovasi berat dengan anggaran sebesar Rp10 sampai Rp14 miliar. Renovasi interior ini diusulkan dalam ABT (anggaran biaya tambahan) 2004. Sedangkan pada tahun 2005 nanti, Kantor Gubri akan dibangun menjadi sembilan lantai dengan dana Rp60 miliar, dan akan menjadi termegah di Sumatera.

“Tahun ini renovasi Rp10 M sampai Rp14 M. Sedangkan tahun depan melalui APBD Riau murni akan dibangun Kantor Gubri baru sembilan lantai dengan nilai yang cukup besar mencapai Rp60 miliar,” kata Kepala Biro Perlengkapan Setdaprov Riau, Raja Indra Bangsawan, Kamis (26/8) kepada Riau Mandiri di ruang kerjanya.

Menurut dia, jika anggaran ini disetujui DPRD maka mulai Oktober 2004 renovasi bangunan akan dimulai. Yang akan direnovasi adalah gedung utama terdiri atas tiga lantai yaitu penataan ulang dalam kantor gubernur. Jadi mulai dari gubernur, wakil gubernur, sekda, asisten, dan biro untuk sementara waktu renovasi pindah ke gubernuran, jelasnya.

Ia katakan, renovasi kantor Gubri memang sudah selayaknya dilakukan karena bangunan ini sudah berusia 27 tahun. Sehingga melihat kondisi bangunan dan interiornya sudah wajar untuk direnovasi.

Setiap tahun itu pasti ada renovasi tapi dengan jumlah yang kecil seperti satu atau dua miliar rupiah. Namun untuk selanjutnya pasti ada lagi yang direnovasi seperti toilet atau ada yang bocor. Daripada demikian maka diusulkan untuk renovasi interior sehingga benar-benar bagus dan sesuai dengan perkembangan mode, paparnya.

Anggaran sebesar Rp14 miliar ini diperuntukkan meubiller, AC sentral, keamanan, pemadam kebakaran, dan telepon. Saat ini pihaknya sudah mempersiapkan desain interior dari konsultan Jakarta.

Indra membantah ketika disebutkan renovasi kantor ini sekedar gagah-gagahan. Sebab, menurutnya jika dibandingkan dengan Kantor Gubernur Jambi atau Sumatera Utara jauh tertinggal.

Ketika ditanyakan bagaimana dengan proses pengerjaannya apakah ditender atau PL (penunjukan langsung), Indra hanya menyebutkan semua disesuaikan dengan prosedur yang berlaku. Namun ditegaskannya, pada akhir tahun ini renovasi kantor sudah harus tuntas.

Sedangkan tahun depan, sambung Indra, akan diusulkan pembangunan gedung baru dengan sembilan lantai di samping kanan perkantoran Gubri. Diperkirakan untuk pembangunan ini akan menelan dana sampai Rp60 miliar.

“Gedung ini nantinya akan diperuntukkan bagi dinas-dinas atau kantor lainnya, sehingga nantinya komplek kantor gubernur ini lengkap. Misalnya kantor dinas atau badan yang masih jauh di Panam akan dipindahkan ke gedung yang baru ini,” katanya menjelaskan. (yp)
Sabtu, Ogos 28, 2004 | 0 ulasan

Padi Pukau Penonton Australia

Jum'at, 27 Agustus 2004 21:23

RMN - Grup musik Padi menggelar konsernya di Perth, Australia Barat. Menurut para penonton yang mayoritas mahasiswa tersebut, aksi panggung Padi pada konser tersebut benar-benar memukau.

Konser yang diprakarsai Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) tersebut digelar di Metro City, Northbridge, Perth.

Sekitar pukul 20.30 waktu setempat, Padi memulai aksinya. Grup musik yang beranggotakan Fadly (vokalis), Piyu (gitaris), Yoyo (drummer), Ari (gitaris) dan Rindra (bassist) itu membawakan sekitar 15 lagu, antara lain "Mahadewi","Hitam", "Rapuh", "Kasih Tak Sampai" dan "Sobat".

Selain membawakan lagu-lagu mereka, Padi juga menghibur para penonton yang mayoritas mahasiswa Indonesia tersebut dengan lagu "With or Without You" (U2) dan "Di Radio" (Gombloh).

Menurut salah seorang penonton yang hadir di konser tersebut, aksi panggung Padi sangat luar biasa dan memukau. Menurutnya, tak sia-sia ia membayar tiket seharga A$35 (sekitar Rp 215 ribu).

"Konsernya keren banget. Gue sampai terkesima. Tapi kayaknya nggak cuma gue deh, teman-teman gue semua juga bilang begitu. Suara gue sampe serak banget nih, kaki gue juga pegel-pegel ikut jingkrak-jingkrakan dan nyanyi-nyanyi. Pokoknya Padi keren banget deh, nggak nyesel sama sekali nonton konsernya," ujar Yuska Widyansyah, mahasiswa Edith Cowan University asal Indonesia, Kamis (26/8).

Sebelum menggelar konser, Padi sebelumnya mengadakan jumpa pers di restoran Taka Kitchen, Perth. Pada jumpa pers tersebut, para penggemar Padi yang bermukim di Perth juga datang dan menggunakan kesempatan tersebut untuk minta tanda tangan dan foto bareng.

Selepas dari Perth, Padi berencana untuk terbang ke Sydney. Apakah di sana mereka juga menggelar konser? "Katanya sih cuma mau jalan-jalan," tutur Yuska menutup pembicaraan. (dtc)
Sabtu, Ogos 28, 2004 | 0 ulasan

SBY-Kalla Resmi Didukung PKS

Jum'at, 27 Agustus 2004 12:54

Jakarta - Kader Muda Golkar Tolak Mega-Hasyim

JAKARTA-Partai Keadilan Sejahtera (PKS) resmi memberi dukungan penuh kepada calon presiden (capres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan calon wakil presiden (cawapres) Jusuf Kalla, pada pemilu presiden putaran kedua 20 September mendatang. Dukungan PKS itu diwujudkan dalam lima nota kesepahaman.

Hal itu diungkapkan Presiden PKS Hidayat Nurwahid dalam keterangan pers di Kantor PKS usai melakukan pertemuan dengan SBY di Hotel Regent, Jakarta, Kamis (26/8). "Lembaga tinggi partai yakni DPP, MPP, dan DSP berdasarkan mandat dari Majelis Syuro PKS memutuskan untuk memberi dukungan penuh kepada Yudhoyono-Kalla," kata Hidayat Nurwahid. Keputusan ini, menurut Hidayat, bersifat mengikat seluruh pengurus dan kader serta menjadi pedoman bagi simpatisan PKS dan konstituen yang bertekad untuk melakukan perubahan bersama PKS.

Pengamat Politik dari Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS), Sukardi Rinakit, menilai dukungan PKS itu akan mengesankan bahwa SBY-Kalla kaum reformis. “Saya kira dengan dukungan PKS, maka akan ada kesan bahwa SBY-Kalla lebih reformis,” kata dia. Sukardi tidak setuju bila dukungan PKS akan mengakibatkan kesan SBY-Kalla sebagai simbol perubahan semakin kuat. “Saya kira tidak sampai ke sana, karena simbol perubahan itu relatif. Mungkin lebih tepat sebagai golongan pembaharu, karena SBY-Kalla lebih banyak didukung partai baru,” kata dia.

Meski begitu, kata Sukardi, dukungan PKS terhadap SBY-Kalla, menurut dia, tidak serta akan memberikan perolehan suara yang begitu besar dari massa PKS. Berdasarkan polling yang dilakukan SSS, dua pertiga massa PKS akan memilih golput (golongan putih).


Lima Nota

Menurut Hidayat, PKS dengan SBY telah membuat nota kesepahaman untuk menjalin sebuah kebersamaan dalam melaksanakan perubahan menuju Indonesia madani yang adil aman dan sejahtera.

Ada lima point nota kesepahaman yang diteken Hidayat Nurwahid dan SBY kemarin. Pertama, konsisten melakukan perubahan, membangun pemerintahan yang bersih, peduli, dan profesional. Di antaranya, dibuktikan dengan keteladanan dan kesiapan menghentikan anggota kabinet yang melakukan korupsi serta tidak mengulangi kesalahan pengelola negara sebelumnya dan tidak menjadikan kekuasaan untuk mendzalimi umat dan bangsa Indonesia.

Kedua, mempertahankan kedaulatan NKRI di tengah-tengah percaturan dan pergaulan dunia internasional. Ketiga, melanjutkan proses demokratisasi dan reformasi di Indonesia dalam rangka terbentuknya masyarakat madani, mengedepankan supremasi sipil dan tidak menghadirkan pemerintahan 'yang militeristik' dan atau 'police state'.

Keempat, meningkatkan moralitas bangsa, kualitas masyarakat dan kesejahteraan rakyat serta mengedepankan penegakan hukum serta penghormatan terhadap HAM. Kelima, menudukung upaya perjuangan bangsa Palestina dalam mencapai kemerdekaannya dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Sikap PKS itu diambil berdasarkan Keputusan Mejelis Syuro III tentang perlunya PKS membentuk koalisi karena perolehan pemilu legislatif kurang dari 20 persen. Keputusan Majelis Syuro III tentang kriteria capres yang didukung PKS. Keputusan Majelis Syuro IV tentang diperlukannya sikap partai dalam pilpres putaran I dan II.

Selain itu, juga didasarkan Keputusan Majelis Syuro VI tentang hasil analisis komprehensif terhadap calon presiden putaran kedua. Pertimbangan lainnya, hasil komunikasi politik yang telah dibangun dengan para capres.


SBY Janji

Dalam kesempatan yang sama, Capres SBY mengatakan dirinya telah membangun kesepakatan dengan PKS untuk membangun Indonesia aman adil dan sejahtera. "Sebenarnya kami telah lama membangun kebersamaan. Namun karena proses politik akhirnya baru sekarang sepakat dalam membangun prinisp dasar pemerintahan," tandasnya.
"Kami juga akan membangun pemerintahan yang baik, bersih, transparan, akuntabel, penegakan keadilan dan kesejahteraan. Insya Allah agenda yang dapat kami jalankan akan lebih baik," ungkapnya.

SBY mengatakan, kesepakatan itu nantinya untuk menuju tanggal 20 September guna mengawal proses demokrasi. "Rakyat dapat mengalami perubahan yang lebih baik," ungkapnya. Ditanya soal implementasi kebersamaan? SBY menyatakan hal itu akan disatukan dalam form dan agenda yang dituangkan dalam nota kesepakatan. "Dan ini akan kami bangun pada tingkat pemerintah dan juga dukungan dari tingkat legislatif," tegasnya. "Yang menyatukan komitmen kami adalah perubahan, pemerintahan yang bersih menuju keadilan dan kesejahteraan," kata SBY.

Pada kesempatan itu SBY memastikan dirinya sama sekali tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hal tersebut membantah kabar kalau SBY berniat akan meninjau kembali hubungan dengan Israel jika terpilih nanti. "Pembukaan hubungan diplomatik itu bertentangan dengan semangat perjuangan rakyat Palestina," kata SBY. Menurut SBY, dukungan terhadap perjuangan di Palestina tetap merupakan posisi dasar Indonesia dalam politik luar negerinya. "Tentu hal ini yang harus kami serukan," kata SBY. "Dan masalah Timur Tengah harus selesai. Karena itu komitmen dan perjuangan tersebut akan menjadi landasan keputusan kami nantinya," katanya.

Tolak Mega-Hasyim

Sementara kemarin kader-kader muda Partai Golkar yang tergabung dalam Forum Kader dan Pemilih Partai Golkar menolak keputusan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Golkar yang mendukung pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.

Dengan koalisi itu Partai Golkar dapat dianggap oportunis karena hanya mementingkan urusan bag-bagi kekuasaan ketimbang memperhatikan aspirasi warganya yang berkembang di arus bawah. Pernyataan ini disampaikan bersama di Hotel JW Marriott, Jakarta. Hadir mendukung pernyataan antara lain Penasihat Partai Golkar Muladi, anggota DPR/MPR dari Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso, dan tokoh Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Yorris Raweyai. Mereka memasang spanduk-spanduk antara lain bertuliskan "Kader dan Pemilih Partai Golkar Kecewa dengan Hasil Rapim Partai Golkar" dan "Partai Tak Hanya Pengurus tapi Juga Kader dan Pemilih".

Dalam pernyataan sikapnya disebutkan, keputusan Rapimnas Partai Golkar dianggap bertentangan dengan janji Golkar kepada kader dan pemilihnya. "Ketika Pemilu Legislatif 5 April dan Pemilu Presiden putaran pertama 5 Juli 2004 di mana-mana elite Partai Golkar mengatakan, pemerintahan saat ini sudah gagal, Partai Golkar juga menjanjikan kepada kami akan berjuang mengganti pemerintahan, kini rapim ternyata mengkhianti janji kepada kami karena ternyata mendukung status quo," M Azhari.

Andi Sinulingga, tokoh AMPG, menambahkan, forum ini bukan berarti mendukung Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Kalau pun Golkar medukung Yudhoyono itu juga karena pertimbangan pembagian kekuasaan. "Yang kami inginkan adalah Golkar memainkan peran oposisi sebab calon kita sudah kalah. Kalau Golkar memainkan perannnya sebagai balancing control itulah sumbangan Golkar berikutnya bagi Indonesia setelah konvensi," katanya.

Jangan Main Ancam

Dalam kesempatan yang sama, Penasihat Partai Golkar Muladi mengingatkan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung agar jangan bersikap reaktif terhadap kader Golkar yang menentang keputusan mendukung pasangan Megawati-Hasyim.

"Saya anjurkan kepada Pak Akbar Tandjung jangan mengancam-ancam orang untuk dipecat dari Golkar, suara yang berbeda ini harus disikapi dengan bijak bukan sebagai musuh," ujar Muladi di Jakarta.

Muladi sendiri mengaku kecewa dengan keputusan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Golkar yang menyatakan berkoalisi dengan pasangan Mega-Hasyim. Langkah itu disebutnya sebagai political gambling karena Golkar berkoalisi dengan calon yang belum tentu menang. Akan lebih elegan jika Golkar beroposisi, itu lebih menarik simpati rakyat. "Yang menyakitkan dalam Pemilu Presiden kemarin, mesin poltik Golkar tidak bergerak sepenuhnya, tapi sekarang bergerak semua untuk orang yang bukan calon dari Golkar," ungkapnya. Muladi juga mengingatkan pimpinan Partai Golkar untuk tidak menekan masyarakat atau mempengaruhi masyarakat melalui mesin politik yang dikerahkannya menjelang Pemilu Presiden putaran kedua. Biarkan masyarakat menentukan sendiri sesuai hati nurani untuk memilih. "Rakyat jangan dipengaruhi untuk memilih siapa, biarkan rakyat memilih sesuai dengan hati nuraninya, rakyat sekarang bukan rakyat yang bodoh lagi, tidak perlu ada koalisi yang menekan dengan berbagai cara, saya kira ini tidak demokratis," katanya. (irmn/dt,kc,an,edt)
Sabtu, Ogos 28, 2004 | 0 ulasan

Abbas dihukum gantung sampai mati
Oleh: WAN RAHIMAH DERAMAN dan MOHD. FAIRUZ YUSOF

MOHD. ABBAS.
JOHOR BAHRU 27 Ogos - Bekas pengawal keselamatan, Mohd. Abbas Danus Baksan dijatuhkan hukuman gantung sampai mati oleh Mahkamah Tinggi di sini hari ini setelah didapati bersalah atas tuduhan membunuh pelajar Nurul Huda Gani, 10, pada 17 Januari lalu.
Abbas, 47, yang berkemeja biru muda dan berdiri di kandang salah kelihatan menundukkan kepala sebaik sahaja jurubahasa mahkamah menerangkan penghakiman dalam bahasa Tamil yang dibaca oleh Pesuruhjaya Kehakiman K.P. Gengadharan.
``Kamu telah mengambil nyawa seorang kanak-kanak yang tidak bersalah hanya kerana untuk memuaskan nafsu.
``Saya dengan ini mendapati kamu bersalah di atas tuduhan dan hanya satu hukuman itu iaitu hukuman mati,'' kata Gengadharan.
Turut berada di mahkamah ialah ahli keluarga Allahyarham Nurul Huda.
Sebaik sahaja sidang mahkamah selesai, ibu Nurul Huda, Zainon A. Bakar, 46, kelihatan menangis lalu ditenangkan anaknya, Nuraien Azlynah dan Norashikin.
Keadaan sedih itu turut dirasai oleh bapa Nurul Huda, Gani Juni, 52, yang berada di ruang legar bangunan mahkamah di Menara Ansar sehingga terpaksa ditenangkan oleh peguam pemerhati bagi keluarga tersebut, Mohamed Zaini Mazlan.
Abbas menghadapi tuduhan membunuh Nurul Huda di pondok pengawal pencawang masuk utama Tenaga Nasional Berhad (TNB), Kampung Pekajang, Tanjung Kupang dalam daerah Johor Bahru, pada 17 Januari lalu, antara pukul 9.20 pagi hingga 1 petang.
Tertuduh dibicarakan mengikut Seksyen 302 Kanun Keseksaan yang membawa hukuman mati mandatori jika sabit kesalahan.
Abbas diwakili oleh peguam Hanif Hassan manakala pendakwaan dikendalikan oleh timbalan-timbalan pendakwa raya, Abd. Rashid Sudin dan Mohd. Noordin Ismail manakala Mohamed Zaini Mazlan dan Mohamed Harmy Yusof sebagai peguam pemerhati bagi keluarga mangsa.
Dia kini menjalani hukuman penjara 20 tahun dan sebatan 24 kali setelah mengaku bersalah merogol mangsa di tempat dan pada tarikh yang sama dengan tuduhan kes membunuh itu.
Gengadharan yang menyampaikan penghakiman lisan kira-kira 40 minit berkata, beliau berpuas hati apabila pihak pembela gagal mewujudkan keraguan di dalam perbicaraan tersebut.
Sebelum hukuman dijatuhkan Hanif berkata, tertuduh tidak pernah bersekolah, seorang yang buta huruf, tidak boleh membaca dan tinggal bersendirian setelah ibu bapanya meninggal dunia.
Katanya, Abbas juga tidak pernah terlibat dalam jenayah terancang, kegiatan kongsi gelap dan sebelum ini bekerja sebagai buruh lori balak serta pekerjaan terakhirnya sebagai pengawal keselamatan.
Abd. Rashid pula berkata, hanya ada satu hukuman terhadap Abbas iaitu hukuman mati kerana dia juga mempunyai sembilan kesalahan jenayah termasuk merogol Nurul Huda, rompakan bersenjata, pecah masuk rumah dan mencuri.
Sabtu, Ogos 28, 2004 | 0 ulasan

Written By Syafrein Effendiuz on 27/08/04 | Jumaat, Ogos 27, 2004


Nicole Kidman menghidap osteoporosis
LOS ANGELES 26 Ogos - Bintang terkenal Hollywood, aktres Nicole Kidman dilaporkan berhadapan dengan ancaman osteoporosis iaitu sejenis penyakit kerapuhan tulang.
Menurut satu sumber di Los Angeles, pelakon berusia 35 tahun itu telah menjalani ujian kepadatan tulang baru-baru ini bagi memastikan sama ada beliau benar-benar menghidap penyakit berkenaan.
Menurut sumber itu, jadual kerja Kidman yang kini membintangi filem Stepford Wives terlalu ketat dan beliau juga dikatakan tidak mengambil pemakanan yang betul sehingga berhadapan dengan risiko tersebut.
``Nicole terkenal sebagai seorang pelakon yang bekerja terlalu kuat, menghadapi tekanan dan sering bimbang selain kurang makan.
``Beliau juga tidak gembira sejak berpisah dengan kekasihnya, Lenny Kravitz dan kerana itu beliau bekerja keras daripada satu projek ke projek lain bagi melupakan kesedihannya,'' kata sumber itu.
Kidman sebelum ini menghadapi pelbagai masalah kesihatan termasuk pernah keguguran dan patah tulang rusuk sebanyak dua kali sewaktu di set penggambaran Moulin Rouge.
Osteoporosis adalah sejenis penyakit yang menyebabkan kepadatan tulang semakin berkurangan dan rapuh serta mudah patah.
Bagaimanapun penyakit tersebut biasanya memberi ancaman kepada wanita yang berusia lebih 50 tahun atau di kalangan mereka yang telah menopaus. - Agensi
Jumaat, Ogos 27, 2004 | 0 ulasan

Tayangan Perdana Diraja Puteri Gunung Ledang
Laporan: ABD. AZIZ ITAR

TENTU ramai peminat filem Melayu yang tidak sabar untuk menonton filem Puteri Gunung Ledang (PGL).
Walaupun PGL akan ditayangkan kepada umum pada 31 Ogos ini, tetapi bahang kemunculannya sudah mula dirasai.
Fenomena itu dapat dilihat ketika Tayangan Perdana Diraja PGL diadakan di pawagam TGV, KLCC malam kelmarin.
Sebanyak lima daripada 13 pawagam di pusat beli-belah terkemuka itu ditutup kepada orang ramai mulai pukul 5 petang hari tersebut kerana mahu memberi laluan Tayangan Perdana Diraja itu.
Yang Dipertuan Agong, Tuanku Syed Sirajuddin Tuanku Syed Putra Jamalullail dan Raja Permaisuri Agong, Tuanku Fauziah Tengku Abdul Rashid adalah antara tetamu diraja yang hadir menyaksikan tayangan itu.
Turut hadir Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan, Datuk Seri Utama Dr. Rais Yatim dan wakil khas kementerian bertaraf menteri di Kementerian Pengajian Tinggi, Datuk Effendi Norwawi.
Selain Seri Paduka berdua, ramai lagi jemputan khas termasuk para pelakon PGL turut hadir menyaksikan tayangan sulung filem dengan kos lebih RM15 juta itu.
Sebelum tayangan, para jemputan khas dan pelakon PGL diraikan pada satu majlis koktel.
Selepas itu, tetamu diarak melalui karpet merah menuju ke pawagam untuk menyaksikan tayangan filem paling mahal dalam sejarah industri perfileman tempatan itu.
Justeru, orang ramai tidak melepaskan peluang untuk menyaksikan kemunculan bintang-bintang PGL di pusat beli-belah tersebut.
Antaranya Tiara Jacquelina yang melakonkan watak Gusti Putri Retno Dumilah, M. Nasir (Hang Tuah), Adlin Aman Ramlie (Sultan Mahmud Shah), Sofia Jane (Tun Teja), Khir Rahman (Tun Mamat).
Tiga pelakon ternama Indonesia yang turut menjayakan filem itu, Slamet Rahardjo (Patih), Christine Hakim (Bayan) dan Alex Komang (Gusti Adipati Handaya Ningrat) juga didatangkan khas untuk memeriahkan majlis.
Filem terbitan Enfiniti Productions dan arahan Saw Teong Hin ini mengisahkan tentang Gusti Putri Retno Dumilah yang melarikan diri dari Pulau Jawa ke Gunung Ledang.
Tujuannya semata-mata kerana mahu mengejar cinta lelaki yang paling dikasihinya iaitu Hang Tuah.
Cinta Gusti Putri terhalang apabila Sultan Mahmud Shah mahu melamarnya. Bagi menolak pinangan itu, Gusti Putri mengenakan tujuh syarat.
Anda akan tahu sejauhmana kehebatan cinta Gusti Putri dan Hang Tuah selepas menyaksikan filem ini di pawagam.
Jumaat, Ogos 27, 2004 | 0 ulasan

ATHENS 26 Ogos - Atlet angkat berat Iran, Hossein Rezazadeh membuktikan dirinya sebagai `Hercules Era Moden' apabila berjaya mencipta rekod baru dunia acara clean & jerk kategori super heavyweight dengan angkatan 263.5kg di Sukan Olimpik, semalam.
Kejayaan Hossein itu membolehkannya memenangi pingat emas dalam dua Sukan Olimpik berturut-turut.
Sambil turut diiktiraf sebagai `Lelaki Terkuat Dunia', Hossein, 26, yang memiliki ketinggian enam kaki dan berat 163kg mengangkat jumlah keseluruhan 472.5kg untuk menyamai rekod dunia yang dipegangnya sendiri.
Dalam acara snatch, Hossein yang merupakan juara dunia sebanyak dua kali mengangkat 209kg.
``Pingat emas Olimpik adalah sesuatu yang berharga serta penting untuk saya dan negara saya.
``Saya berlatih kuat demi kerananya dan Allah membantu saya memilikinya. Ia adalah persembahan terbaik saya.
``Saya datang ke sini dengan penuh kekuatan dan begitu yakin untuk meraih emas kedua.
``Saya hadiahkan pingat emas ini kepada rakyat Iran dan sesiapa sahaja yang telah membantu saya sebelum ini,'' katanya sambil memegang al-Quran ketika majlis penyampaian pingat.
Viktors Scerbatihs dari Latvia pula meraih pingat perak dengan mengangkat jumlah keseluruhan 455kg manakala Velichko Cholakov dari Bulgaria yang mengangkat 447.5kg meraih gangsa.
Sementara itu di Tehran, rakyat Iran di selubungi perasaan bangga apabila atlet angkat berat mereka itu mencipta nama sebagai lelaki terkuat dunia di Sukan Olimpik Athens.
Presiden Iran, Mohammad Khatami turut menghantar perutusan tahniah kepada Hossein. - Agensi
Jumaat, Ogos 27, 2004 | 0 ulasan

PM baru mahu rakyat tambah anak

Written By Syafrein Effendiuz on 26/08/04 | Khamis, Ogos 26, 2004

SINGAPURA: Kerajaan Singapura semalam mengumumkan pemberian cuti bersalin yang lebih lama, insentif wang dan beberapa kemudahan lain bagi menggalakkan rakyat mempunyai lebih ramai anak dan memperbaiki kadar kelahiran yang menurun begitu ketara.

Pakej bernilai sekurang-kurangnya S$300 juta (RM660 juta) setahun termasuk pelepasan cukai, cuti bersalin ditambah sebulan daripada dua bulan sekarang, pemberian subsidi jagaan bayi dan caj lebih rendah bagi mengambil pembantu rumah warga asing untuk menjaga anak-anak mereka.

Sementara kerajaan tidak mahu campur tangan dalam kehidupan peribadi pasangan, Menteri Perdagangan Lim Hng Liang yang mengetuai sebuah jawatankuasa untuk menggubal langkah-langkah berkenaan, negara mempunyai peranan untuk mewujudkan kerangka yang sesuai bagi mereka mempunyai keluarga yang lebih besar.

“Kami percaya mempunyai anak adalah satu keputusan yang sangat peribadi. Orang ingin mempunyai anak kerana mereka menyukai kanak-kanak dan mereka ingin membina kehidupan keluarga mereka sendiri,” katanya dalam satu sidang akhbar.

Peruntukan sebanyak S$300 juta adalah perbelanjaan tahunan tambahan kepada insentif tahunan sebanyak S$500 juga (RM1,100 juta) bertujuan menggalakkan rakyat mempunyai lebih banyak anak.

“Kadar kelahiran yang menurun adalah isu kesan jangka panjang. Usaha sedang dijalankan bagi menggalakkan orang berumahtangga dan ini mewajarkan kerajaan membuat pelaburan yang besar,” kata Lim.

Kadar kelahiran Singapura yang rendah sudah menjadi satu kebimbangan kebangsaan yang segera selepas kadar kesuburan mencecah paras rendah pada 1.26 kanak-kanak bagi seorang wanita pada 2003 kerana rakyat melewatkan rancangan untuk berkahwin atau mempunyai sedikit anak disebabkan tekanan kerjaya dan kos hidup yang tinggi. – AFP
Khamis, Ogos 26, 2004 | 0 ulasan

Puteri Gunung Ledang - Mengimbau ekonomi Melaka

Written By Syafrein Effendiuz on 25/08/04 | Rabu, Ogos 25, 2004

KETIKA puteri Majapahit Gustri Putri Retno Dumillah atau lebih dikenali sebagai Puteri Gunung Ledang duduk di atas satu pangkin di Sumatera beliau termenung memerhatikan perairan Selat Melaka yang terbentang luas di hadapannya.

Fikiran beliau melayang teringatkan Hang Tuah, satu nama yang terkenal pada zaman itu, hujung abad ke-15.

Puteri Gunung Ledang sedar yang ingatannya pada Hang Tuah terpisah oleh laluan perairan yang sangat penting.

Apa yang bermain di fikirannya ialah untuk menyeberangi perairan yang memainkan peranan penting kepada para pedagang pada zaman itu.

Bagaimana pun, perjalanan yang dihajatkan oleh Puteri Gunung Ledang untuk merentasi Selat Melaka bukanlah bagi tujuan perdagangan tetapi persoalan hati dan perasaan.

Ini merupakan sejarah awal bagi perkembangan kerjasama di rantau ASEAN walaupun ia tidak berakhir dengan sesuatu yang indah seperti yang diharapkan oleh Puteri Gunung Ledang.

Bayangkanlah bagaimana bahtera Puteri Gunung Ledang belayar menuju pelabuhan dagang yang sibuk dan menjadi perhentian lebih 2,000 kapal dari Asia dan Eropah.

Hubungan kasih Puteri Gunung Le-dang dan Hang Tuah pada masa itu bukan sahaja menimbulkan tanda tanya pada pihak-pihak tertentu tetapi turut menimbulkan ketegangan di perairan Selat Melaka yang di bawah kekuasaan Kesultanan Melaka. Bagaimanapun, Kesultanan Melaka yang pada masa itu diperintah oleh Sultan Mahmud Shah (1488-1511) dilihat semakin lemah dan dingin.

Kesultanan Melaka merupakan satu empayar perdagangan selama 100 tahun yang dianggap sebagai zaman kegemilangan Melayu dan penca-paian paling baik masyarakat Melayu.

Namun apa sebenarnya yang ada di sebalik kuasa ekonomi Melaka atau Malaqua, nama yang tertulis pada satu peta tahun 1552 yang dihasilkan oleh seorang pelukis peta Jerman bernama Sebastian Munster. Dari mana datangnya sumber kewangan pada zaman tersebut?

Melaka ditemui pada 1400 oleh Parameswara, atau Permaisura seorang putera India dari Palembang. Nama Melaka diberikan berdasarkan sebuah pokok iaitu (phyllantus pectinata).

Bagaimanapun, Melaka tidak menjadi pusat perdagangan dunia dalam sekelip mata sahaja kerana terdapat fakta yang mengatakan penempatan Melayu sudah wujud di Melaka sebelum pelabuhannya dibuka.

Sejarah lama juga menyebut mengenai kewujudan kerajaan-kerajaan sebelum Melaka iaitu Gangga Negara di kawasan Bruas-Dinding, Terengganu, Kedah, Kelantan dan Pahang.

Selepas Parameswara, Melaka diperintah oleh Megat Iskandar Shah pada tahun 1414 dan Sultan Muhamad Shah.

Empat orang Sultan yang memerintah di zaman kegemilangan kesultanan Melaka ialah Sultan Muzaffar Shah (1446-1459), Sultan Mansur Shah (1459-1477), Sultan Alauddin Riayat Shah (1477-1488) dan Sultan Mahmud Shah (1488-1511).

Kawasan pemerintahan Melaka termasuk Kampar, Inderagiri, Bengkalis, Kepulauan Carimun, Bintang, Pasai, Siak dan Kepulauan Riau-Lingga.

Terdapat juga pihak yang mendakwa Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) turut mempunyai kaitan dengan Kesultanan Melaka. Jika dakwaan ini benar, bermakna orang Melayu di Malaysia mempunyai darah Yunani.

Kejatuhan Melaka kepada Portugis pada tahun 1511 merupakan faktor utama kepada kejatuhan Melaka sebagai pusat perdagangan antarabangsa.

Walaupun rempah-ratus merupakan sebab utama pedagang Eropah datang ke Melaka, komoditi dan bahan-bahan dagangan lain tidak harus dinafikan.

Seorang bangsa Portugis, Tom Pires yang tinggal di Melaka selama dua tahun pada awal kurun yang ke-16 pernah menyatakan di dalam salah sebuah penulisannya yang semua barang dagangan dari Timur dan Barat diperdagangkan di Melaka.

Ini bermakna Melaka tidak ubah seperti Venice pada masa itu.

Melaka pada ketika itu merupakan pusat dagangan bagi cengkih, kayu cendana dan buah pala daripada Kepulauan Maluku, lada hitam dan emas dari Sumatera, kain daripada India, sutera dan tembikar dari China, gula dari Filipina serta timah dan emas daripada negeri-negeri Melayu.

Ketika di puncak kegemilangan, jumlah dagangan Melaka pernah mencecah 2.4 juta cruzado berbanding pelabuhan Seville yang mencatatkan jumlah dagangan 4 juta cruzado pada zaman ini.

Jumlah penduduk Melaka pada zaman itu pula dilaporkan 100,000 bagaimanapun buku Sejarah Melayu menyebut yang penduduk Melaka pada masa itu adalah 190,000.

Pembangunan Melaka dan integrasi yang berlaku pada zaman itu ekoran aktiviti dagangan dan perpindahan merupakan fasa pertama globalisasi yang berlaku dalam sejarah dunia.

Polisi dan pelbagai institusi di Melaka juga berasaskan perkembangan aktiviti dagangannya.

Keterbukaan amalan dagangannya mungkin boleh mendapat pujian daripada Pertubuhan Perdagangan Sedunia (WTO).

Antara faktor yang menyumbang ke arah kejayaan pasaran ekonomi Melaka ialah kedudukan dan lokasinya yang strategik.

Bumi Melaka juga terletak tidak jauh daripada Sungai Muar dan Pahang yang sering digunakan untuk mengangkut rotan dan gula dari kawasan pedalaman.

Melaka turut menjadi tempat persinggahan dan kemudahan kepada para pedagang untuk menyimpan barang dagangan mereka.

Waktu yang paling sibuk ialah daripada Disember sehingga Mac di mana angin monsun akan membawa pedagang ke Melaka.

Gudang bawah tanah yang dibina membekalkan kemudahan penyimpanan selain memastikan bekalan yang disimpan selamat daripada terbakar.

Kehidupan pelbagai etnik di dalam satu kawasan yang boleh dianggap sebagai lingkungan diplomatik mengamalkan kebebasan amalan budaya masing-masing.

Satu lagi faktor ialah Melaka mempunyai sistem dan pegawai pentadbiran yang peramah dan disenangi ramai. Undang-undang yang diamalkan pada masa itu ialah Undang-Undang Melaka dan Undang-Undang Ma-ritim.

Mekanisme perundangan dan pentadbiran Melaka pada masa itu juga lancar dan teratur.

Temenggung yang bertanggungjawab mengenai budaya dan adat dibantu oleh empat orang Syahbandar atau ketua pelabuhan.

Setiap Syahbandar akan diberikan tanggungjawab untuk menjaga pedagang-pedagang daripada negara-negara tertentu termasuk berat barang dagangan yang dibawa, bayaran dan sebarang masalah.

Duti kastam (eksport dan import) akan dibayar kepada Temenggung dan biasanya mereka turut menyertakan hadiah bersama cukai yang dibayar berdasarkan nilai dan bentuk barangan.

Kapal-kapal dagangan yang besar akan membayar duti setinggi enam peratus daripada nilai kargonya dan biasanya mereka akan dikecualikan daripada memberi sebarang hadiah.

Pedagang Melaka biasanya akan berurusniaga dengan nakhoda kapal atau pedagang asing dan kemudiannya menjual barangan tersebut di kampung halaman mereka atau menukarnya untuk barangan lain di nusantara.

Dasar luar yang diamalkan Melaka semasa zaman kegemilangannya juga memberi kekuatan kepada perkembangan perdagangan dan ekonomi Melaka.

Selain dasar luar yang diyakini, Melaka turut menjalinkan hubungan dengan China yang mendorong kepada lawatan beberapa laksamana daripada dinasti Ming dan perkahwinan salah seorang Sultan Melaka dengan Puteri Hang Li Po, anak kepada Maharaja China.

Peranan Melaka sebagai bandar raya perdagangan tentunya memberikan banyak pendapatan kepada penduduknya. Bagaimanapun, agihan pendapatan kepada para penduduk tidak dapat diketahui dengan jelas.

Kegiatan lanun memberikan pendapatan lumayan kepada sebahagian golongan Melayu. Ini bermakna ekonomi orang Melayu pada zaman itu termasuk pelbagai aktiviti yang dilakukan di sungai dan laut.

Perdagangan antarabangsa yang berlaku di Melaka semestinya membuka banyak peluang pekerjaan seperti mengangkat barang, bekerja di stor atau gudang penyimpanan, pengawal, pembaik kapal dan pelbagai lagi.

Apa yang pasti, pertanian dan perkhidmatan perdagangan merupakan penyumbang utama kepada Keluaran Dalam Negara Kasar (KDNK) Melaka pada ketika itu.

Struktur pemerintah dan rakyat biasa menjadikan tidak ada golongan berpendapatan sederhana menyebabkan jurang perbezaan tahap kehidupan penduduk Melaka begitu besar. Orang kaya hidup di dalam serba kemewahan manakala si miskin benar-benar terhimpit.

Daripada 100,000 penduduk Melaka pada masa itu berapa ramaikah yang miskin jika diukur dengan tahap kemiskinan yang digunapakai pada masa ini?

Bagaimana pula dengan jangka hayat penduduk Melaka pada penghujung abad yang ke-15?

Apakah kegemilangan empayar Melayu pada masa itu memainkan peranan di dalam menentukan jangka hayat orang Melayu.

Dalam menjawab pelbagai persoalan yang timbul mengenai kehidupan orang Melayu pada zaman kegemilangan Melaka kita juga mungkin bertanya apakah Puteri Gunung Ledang menjadi orang yang pertama melihat kedatangan kapal perang Portugis ke Melaka?

Ini kerana beliau sering termenung di puncak Gunung Ledang apabila memikirkan dilema rasa cinta dan pengaruh kekuasaan pada zaman itu.

Nantikanlah kemunculan kisah legenda Puteri Gunung Ledang yang akan ditayangkan serentak di seluruh negara pada 31 Ogos.
Rabu, Ogos 25, 2004 | 0 ulasan

JUARA Akademi Fantasia 2 (AF2), Ahmad Zahid Baharudin (Zahid) tidak pernah berselindung mengenai kehidupan silamnya apabila mengakui pernah berniaga burger tepi jalan di Nilai, Negeri Sembilan sebelum mendaftar diri menyertai uji bakat AF2 yang lalu. Selain meminati sukan bola sepak, di mana Holland adalah pasukan pujaannya, Zahid juga pernah melalak di tepi tembok sambil memetik 'gitar kapoknya'. Kini, segala-galanya berubah. Begitu juga dengan rakan seperjuangannya, Farah Diana Anuar (Farah), dari seorang penyanyi karaoke, secara tiba-tiba berjaya menempatkan diri di Konsert Akhir AF2, sekali gus memenangi tempat ke-4. Farah juga menerima pengiktirafan tertinggi daripada Pengetua AF2, Ramli MS apabila menyamakan range suaranya yang besar seakan-akan artis terkenal dunia, Chaka Khan!


ANAK kepada pasangan Baharudin Md Arif dan Jamilah Mohd Ali, Zahid yang dilahirkan pada 19 Disember 1980, memberitahu dia bukannya dilahirkan daripada sebuah keluarga berdarah seni seperti kebanyakan artis lain, sebaliknya mula mendekati dunia hiburan apabila kemunculan superstar dunia, Michael Jackson (MJ) menjadi ikutan sehingga orang kampung menggelarnya Zahid MJ!

“Zahid memang minat menyanyi sejak kecil lagi walaupun emak dan ayah tak ada darah seni. Dalam masa sama, nama MJ tengah meletup ketika itu dan Zahid pula terlalu meminati tarian MJ menerusi lagu hitnya, Billy Jean. Ketika itu juga Zahid hanya minat menari, belum lagi teringat nak serius dalam bidang nyanyian.

“Tapi, apabila kakak sulung, Norhazleen dan kakak nombor dua, Nurul Asyikin sering memasuki pertandingan karaoke, lama-lama Zahid pun terpengaruh. Zahid mula memasuki pertandingan karaoke sejak berumur 11, 12 tahun lagi. Zahid pernah masuk pertandingan karaoke di Warta Selayang, masa tu kakak juara, Zahid tempat ke-2.

“Bermula dari situ, Zahid sering menyertai pertandingan karaoke. Masuk saja sekolah menengah, Zahid dah mula jamming dan masa tu kami ada kumpulan sendiri, tapi Zahid bukan vokalis, tetapi pemain dram. Lepas SPM (Sijil Pelajaran Malaysia), kumpulan kami berpecah sehingga bertemu kembali pada 2001.



“Kami terus jamming sehinggalah masuk pertandingan Centre Stage anjuran Karyawan (Persatuan Karyawan Malaysia) pada 2003. Akhirnya kami dapat masuk final. Masa tu juga Zahid dah mula jadi vokalis,” kata Zahid mence­ritakan detik-detik awal perjalanan kerjaya seninya.

Sebelum bergelar penyanyi versatile seperti hari ini, di mana AF2 dianggap jambatan emas penyambung cita-citanya, Zahid tidak malu-malu mengakui dia pernah berniaga burger tepi jalan di Nilai, Negeri Sembilan suatu ketika dulu.

“Masa Zahid berniaga burger tu, Zahid dah dengar pasal AF1, tapi mula-mula tu tak berminat nak mencuba, siap tergelak jika ada member yang nak masuk AF1. Akhirnya apabila AF2 datang, Zahid saja nak cuba bakat dan tak sangka diterima masuk, sekali gus jadi juara seperti hari ini!

“Zahid tak nafikan, AF adalah tempat atau platform yang paling sesuai untuk seseorang yang meminati nyanyian mendalami ilmu. Zahid rasa bertuah sangat dapat masuk AF kerana mendapat bimbingan tenaga pengajar profesional terutama Cikgu Ramli, Cikgu Siti (Hajar) dan Cikgu Adnan (Abu Hassan).

“Sekalipun Zahid dah jadi juara AF2, Zahid tetap nak sambung belajar ilmu muzik terutama vokal dan persembahan,” kata Zahid yang menyertai band Power House dan menjayakan persembahan di Bernard's Place, Bandar Utama serta Cat City, Kuching, Sarawak sebelum berkurung di AF2 tiga
bulan lalu.

Meminati penyanyi popular Misha Omar dan mengakui hasratnya untuk makan malam bersama Misha masih belum tercapai, Zahid menganggap gelaran penyanyi versatile yang sering diberikan kepadanya oleh pengkritik AF2, masih terlalu awal baginya kerana album sulungnya pun belum menemui peminat.

Sekalipun bakal mengecapi kehidupan glamour selepas ini, Zahid rupa-rupanya tidak selesa apabila dirinya dikaitkan dengan gosip terutama dengan Sarah Raisuddin dan Amy (peserta www The Malaysia Top Star). Dia memberitahu Sarah sekadar kenalan adiknya, Nurul Farihan dan Amy pula vokalis wanita Power House.

“Sejak zaman sekolah lagi Zahid memang tak minat bercinta kerana asyik ingat muzik dan jamming saja. Zahid juga tak pernah terjebak dengan cinta monyet. Tapi, selepas masuk AF2, Zahid rapat dengan Farah kerana Zahid dah anggap dia macam adik Zahid, si Farihan.

“Kami memang boleh 'ngam' kerana Farah ni gila-gila orangnya. Tapi, apabila orang nak gosip Zahid dengan Farah bercinta, itu yang Zahid tak selesa. Pun begitu, siapa yang tak mahu bercinta, tapi ketika ini masanya belum sesuai. Zahid nak berjaya dulu dalam kerjaya yang baru saja nak bermula,” kata Zahid yang berhasrat berduet dengan rakan seperjuangannya, Zarina Zainoordin jika diberi kesempatan berbuat begitu.


Sementara itu, Farah yang memulakan perjalanan seninya dari persembahan karaoke di majlis keraian di kawasan perumahannya, terlalu meminati artis popular, Ziana Zain dan lagu kegemarannya ialah Anggapanmu.

“Kalau nyanyi karaoke, Farah mesti pilih lagu Ziana (Zain). Mula-mula tu susah juga nak bawa lagu bernada tinggi dalam album Kak Ziana, tapi apabila selalu mencuba, lama-lama okey. Masa tu Farah tak tahu apa-apa, tapi apabila masuk AF2, baru Cikgu Ramli beritahu, Farah mempunyai range suara yang besar, alhamdulillah...,” kata Farah yang berasal dari Kedah dan kini menetap di Putrajaya.

Sama seperti Zahid, Farah juga menyertai live band iaitu D'Prime Putrajaya dan D'muse. Justeru, Farah terpaksa berehat dari meneruskan pengajiannya di Universiti Teknologi Mara (UiTM) dalam Kursus Seni Persembahan kerana batasan waktu dan dia akan menyambung semula pelajarannya tidak berapa lama lagi apabila kerjaya nyanyiannya bersama Maestro Talent dapat diseimbangkan.

Pun begitu, rata-rata peminat Farah tidak dapat menerima keputusan Farah sekadar menduduki tempat ke-4 dan menganggap Norlinda Nanuwil (Linda) yang menyandang gelaran Naib Juara AF2 adalah penghalang utama, sekali gus Linda diejek apabila namanya diumumkan sebagai pemenang tempat ke-2.
Linda pula seakan-akan tidak dapat menerima keputusan itu, daripada air mukanya, dia kelihatan begitu sedih, mungkin kerana dia adalah pelajar yang diserap semula ke AF2 selepas tersingkir pada konsert minggu ke-8, dia berasa rendah diri.

“Semua keputusan ditetapkan undian peminat. Justeru, Farah reda dengan segala keputusan. Apabila Farah gagal memenangi hati peminat, itu bermakna Tuhan menyuruh Farah berusaha dengan lebih gigih. Linda pula tak sepatutnya berasa sedih dengan kemenangannya kerana dia tetap yang terbaik, justeru penonton mengiktiraf bakatnya.

“Selain itu, Linda ada pakej dan keputusan itu memang dah rezekinya. Farah juga terkilan apabila Linda 'diboo' penonton. Situasi seperti itu tak sepatutnya berlaku kerana kemenangan Linda adalah pilihan peminat. Tapi, dia menjadi mangsa keadaan kerana diserapkan semula ke AF2,
di mana kejutan itu tidak boleh diterima kebanyakan peminat.

“AF2 sudah pun berakhir, Farah harap kontroversi seperti ini akan turut berakhir, terimalah segala keputusan seadanya,” kata gadis periang ini mengakhiri bicaranya.
Rabu, Ogos 25, 2004 | 0 ulasan

PEMINAT Adam menunggu sejak awal pagi untuk melihat
dari dekat bintang AF itu.
Rabu, Ogos 25, 2004 | 0 ulasan

Adam disambut bagaikan VVIP

Laporan: Normah Bitong

PEMINAT Adam menunggu sejak awal pagi untuk melihat
dari dekat bintang AF itu.

BARANGKALI Adam pun tidak pernah menjangka kehidupannya akan berubah
sebegini rupa iaitu mendapat sambutan bagaikan seorang VVIP apabila
menyertai Akademi Fantasia (AF) dan akhirnya meraih tempat ketiga
hasil undian peminat program realiti tv anjuran Astro itu.

Tetapi itulah yang berlaku baru-baru ini apabila dia kembali semula ke
tanah tumpah darahnya Sabah setelah tiga bulan bertungkus lumus
bersama 12 lagi pelajar bagi memastikan impiannya menjadi realiti di
AF.

Suasana di Lapangan Terbang Antarabangsa Kota Kinabalu (LTAKK)
benar-benar kecoh Ahad lalu, apabila peminat Adam atau nama sebenarnya
Mohd Aizam Mat Saman, 21, tak sabar-sabar menunggu kepulangan bintang
kelahiran AF2 itu dari Kuala Lumpur.

Walaupun Adam dijadualkan tiba pada jam 9.50 pagi tetapi peminatnya
kelihatan mula datang berpusu-pusu seawal jam 8 pagi lagi kerana takut
terlepas bertemu dan menatap wajah artis idola mereka itu.

Bagi keluarga Adam pula, kepulangan anak sulung daripada empat beradik
itu bukan saja menjadi pengubat rindu selepas hampir empat bulan
berada di Semenanjung iaitu sejak memasuki AF2, malah mereka juga
turut menjadi tumpuan dan ada juga yang mahu mengambil gambar bersama.

Setibanya di LTAKK, Adam terus dibawa ke bilik kenamaan dengan
diiringi bapanya, Mat Saman Sapong, 45, ibunya, Norsarinah Duel, 40,
adik bongsunya, Nurhidayah, 4, serta saudara mara yang lain.

Di bilik kenamaan itu, Adam kelihatan berpelukan dengan ibu bapanya
serta saudara mara lain bagi melepas kerinduan. Bahkan, ada di
kalangan saudaranya turut menitiskan air mata dengan kepulangannya.

Selepas itu, Adam meluangkan masa kira-kira 15 minit bersama wartawan
untuk sesi temuramah dan ternyata dia (Adam) boleh berkomunikasi
dengan baik serta menjawab setiap soalan dengan bersemangat.

Bahkan, ketika salah seorang wartawan mengajukan soalan dalam bahasa
Bajau, dia yang juga berbangsa Bajau tidak kekok menjawab dengan
bahasa ibundanya itu.

"Adam balik Sabah untuk berehat dan bertemu dengan keluarga selepas
hampir empat bulan di Kuala Lumpur. Di sini, Adam tiada apa-apa
program dan tak tahulah pula jika ada yang diatur keluarga dan saudara
mara," kata jejaka berbintang Virgo itu.

Menurut Adam, dia akan berada di Sabah selama tiga hari sebelum balik
ke Semenanjung untuk membuat persiapan konsert Merdeka di Kuala Lumpur
City Centre (KLCC) pada 30 dan 31 Ogos ini.

ADAM menerima ciuman
ibunya, Norsarinah dan
bapanya Mat Saman Sapong.

Katanya, sehingga hujung bulan ini jadualnya penuh dengan pelbagai
program yang diatur Maestro Talent and Management.

"Selepas saja habis di AF2, kami semua sibuk dengan program
masing-masing dan saya pun perlu berusaha gigih dalam mengejar
cita-cita," katanya.

Wartawan juga sempat bertanya mengenai hubungan sebenar Adam dengan
Farah yang sering dikaitkan mempunyai hubungan cinta selepas beberapa
paparan berkaitan mereka berdua ditayangkan dalam diari menerusi
saluran Ria Astro.

"Itu hanya gosip dan kami hanya kawan biasa. Itu pun saya sudah
melakukan kesilapan besar kerana dalam paparan diari itu saya mengelap
peluh Farah. Sebenarnya, ketika itu tangan dia (Farah) penuh minyak
dan saya pun tolong lapkan peluhnya, lagipun bukan saya seorang saja
yang tolong lap tetapi dalam kamera itu saya pula yang terkena,"
katanya.
Rabu, Ogos 25, 2004 | 0 ulasan

Mesti yakin guna bahasa Malaysia

KUALA LUMPUR: Pengamal undang-undang perlu mempunyai keyakinan
menggunakan bahasa Malaysia apabila mengendalikan prosiding mahkamah
supaya dapat menguasai bahasa itu dengan lebih cepat, kata Ketua Hakim
Negara, Tan Sri Ahmad Fairuz Sheikh Abdul Halim.

Beliau berkata, pada masa ini bahasa Malaysia masih kurang digunakan
di Mahkamah Persekutuan dan Mahkamah Rayuan kerana kebanyakan peguam
kanan serta hakim lebih selesa berbahasa Inggeris berikutan sesetengah
bahasa perundangan sukar diterjemahkan.

Bagaimanapun, generasi muda semakin fasih berbahasa Malaysia, termasuk
peguam muda yang lebih selesa berhujah dalam bahasa Malaysia di
Mahkamah Majistret dan Mahkamah Sesyen.

"Mungkin pada masa depan, generasi peguam muda ini dapat berhujah
dalam bahasa Malaysia jika kes mereka sampai ke Mahkamah Persekutuan
atau Mahkamah Rayuan tetapi usaha ini perlu mendapat sokongan hakim
yang mengadili kes terbabit.

"Pada masa sama, lebih banyak buku dan laporan perundangan berbahasa
Malaysia perlu diterbitkan penulis tempatan supaya pergantungan kepada
bahan rujukan asing dapat dikurangkan," katanya pada majlis pelancaran
buku staf akademik Universiti Malaya (UM) di sini semalam.

Lima buku yang dilancarkan semalam ialah Civil Trial Advocacy: A
Parctical Guide tulisan Prof Gurdial Singh Nijar, Remedi-Remedi Bagi
Kemungkiran Kontrak Di Malaysia (Dr Cheong May Fong), Euthanasia-A
Malaysian Perspective (Dr Norchaya Talib), Introduction to Cyberlaw of
Malaysia (Izura Masdina Zakri, Tay Pek San dan Chew Li Hua @ Nurjaanah
Abdullah) dan Indigenous Peoples' Knowledge Systems And Protecting
Diversity yang disunting oleh Prof Gurdial dan Dr Azmi Sharom. Semua
penulis terbabit adalah kakitangan Fakulti Undang-Undang UM.

Ahmad Fairuz berkata, beliau sendiri sudah lama menulis penghakiman
dalam bahasa Malaysia, termasuk dalam satu kes murtad dan satu lagi
kes tribunal perumahan baru-baru ini, tetapi mengakui sering kali
terpaksa menggunakan bahasa Inggeris kerana rakan sejawatannya lebih
selesa dengan bahasa itu.

Penggunaan bahasa Malaysia dalam mahkamah adalah selaras dengan
peruntukan Perkara 160B Perlembagaan Persekutuan (Pindaan 2001) dan
Seksyen 6 Akta Bahasa Kebangsaan 1967.

Bagaimanapun, kata Ahmad Fairuz, undang-undang tidak menghalang
penggunaan bahasa Inggeris ketika prosiding mahkamah tetapi
sekurang-kurangnya perlu ada usaha untuk menulis penghakiman dalam
bahasa Malaysia bagi menggalakkan penggunaannya dalam semua aspek
perundangan.
Rabu, Ogos 25, 2004 | 0 ulasan

Written By Syafrein Effendiuz on 24/08/04 | Selasa, Ogos 24, 2004


Buruan Cium Gue


Kisah sinetron agaknya mulai menjadi lahan baru untuk diangkat ke layar lebar. Setelah Sinemart, Multivision Plus tak mau ketinggalan untuk ikut arus tren ini. Setelah cukup lama dikenal sebagai pabrik sinetron, kini mereka memboyong cerita plus pemain dari serial ABG untuk dinikmati di bioskop. Lewat judul Buruan Cium Gue! MVP mencoba kembali mengulangi kiprah mereka yang dulu dikenal lewat bendera Parkit Film. Film remaja ini disutradarai oleh Findo Purwono HW dengan naskah cerita dari Ve Handojo. Kemudian ada nama Rizal Mantovani yang bertindak sebagai produser eksekutif yang juga membuat opening title-nya. Ceritanya memang based on sinetron dengan konflik yang ringan-ringan saja. Namun isu yang ditawarkan agak-agak kontroversial, bahkan menyentuh ranah abu-abu yakni soal ciuman. Urusan cium-mencium memang sensitif, apalagi pada masa berpacaran. Bagi anak muda, pacaran tanpa ciuman ibarat sayur tanpa garam. Ciuman sudah menjadi menu wajib bagi dua insan yang dibuai asmara. Pakem itu nyatanya tak berlaku bagi Ardi (Hengky Kurniawan Chova). Anak kuliahan ini justru malah tergolong kalem. Sejak dua tahun berpacaran dengan Desi (Masayu Anastasia), yang masih duduk di bangku SMU, belum pernah sekalipun mereka berciuman. Bagi Ardi, satu ciuman sejuta rese-nya. Sebaliknya, Desi betul-betul kepengen merasakan ciuman itu. Tak ayal, cewek yang bekerja sebagai penyiar radio ini kebingungan saat ditanya bagaimana rasanya ciuman pertama. Karena terdesak, Desipun berdusta. Tindakan Desi ini mengundang kemarahan sang pacar. Pasalnya, Desi juga bertindak lebih jauh dengan menerima tawaran tampil dalam acara bincang-bincang di televisi. Ardi juga dipaksa ikut dalam acara yang ditayangkan langsung itu. Sebelum hari yang penting itu, Desi tetap berusaha agar mendapatkan ciuman dari sang pacar. Upayanya itu juga didukung oleh teman-temannya Gladys (Ratu Felisha), Amel (Imelda Therine) dan Indra (Tommy Kurniawan). Merekalah yang membujuk Desi untuk mencoba kontak fisik itu saat mereka pergi ke sebuah pesta pantai. Taktik memakai judul vulgar sebagai senjata untuk menarik perhatian penonton boleh juga. Memang agak aneh jika hanya sekedar mengadopsi judul sinetron ABG the movie semata. Inti ceritanya memang sudah mengarah ke sana, bagaimana seorang remaja berusaha keras mendapatkan ciuman kekasihnya. Pakem yang selama ini dipakai MVP dalam sinetronnya kembali terulang. Soal tokoh misalnya, pemain utamanya pasti cantik-cantik ataupun tampan produk bidikan majalah Aneka Yess. Sedangkan untuk pemain pelengkapnya dipakai figur yang sangat komikal. Bisa jadi jelek secara fisik. Tengok saja tokoh yang overweight ataupun anak terbelakang yang selalu menjadi sasaran mainan dari teman-temannya. Ceritanyapun tak terlalu njelimet banget. Desi, sang frontwoman, punya pacar yang alimnya setengah mati. Sementara cewek-cewek yang menjadi teman Desi adalah cerminan anak gaul yang hobinya ngobrol saat clubbing. Dinamika pergaulan mereka inilah yang direkam apa adanya. Dan, judul filmnya sendiri sudah mencerminkan ujung ceritanya bakal seperti apa. Pastinya, everybody’s happy. (bat)

Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

BURUAN CIUM GUE!
Kendati Dikecam Malah Menyedot 200.000 + Penonton!

Jakarta, Disctarra.Com
FILM komedi remaja Buruan Cium Gue! produksi Multivison Plus ternyata banyak menuai protes dan kritikan pedas. Sebaliknya tak ayal pula, ada yang pro dengan film yang dirilis sejak 5 Agustus 2004 lalu.
Tanggapan negatif dari sebagian masyarakat terhadap film tersebut sepertinya lebih banyak dibanding yang pro. Sebut saja tokoh agama Aa Gym dalam ceramahanya di Masjid Istiqlal yang disiarkan langsung SCTV, Minggu (8/8). Dalam ceramahnya, Aa menyayangkan peredaran film tersebut.
Menurut pandangannya, film Buruan Cium Gue! mengandung unsur pornografi yang jelas membahayakan generasi muda Indonesia. Bahkan Aa Gym merubah judul film tersebut menjadi Buruan Zinahi Gue!.
"Bagi pria dan wanita yang bukan muhrimnya, bersentuhan apalagi berciuman adalah perbuatan zinah. Dan film yang kira-kira judulnya Buruan Zinahi Gue! itu sama saja mengajak generasi muda kita untuk berzinah. Oleh karena itu saya menghimbau para sutradara dan pemain yang beragama Islam agar merenungi hal ini," papar Aa Gym yang sebenarnya belum pernah menonton filmnya namun terusik oleh judulnya. Padahal cium bukan hanya antar bibir, namun juga bisa cium tangan (!).
Sebelum Aa Gym membahas masalah tersebut dihadapan jutaan pemirsa televisi, berbagai mailing list perfilman dan pertelevisian juga sudah ramai membicarakan film yang digarap Findo Purwono HW itu. Dari mailing list tersebut muncullah sikap pro dan kontra.
Bagi mereka yang kontra, umumnya sepakat dengan pernyataan Aa Gym. Bahkan ada yang berpendapat bahwa film Buruan Cium Gue! tak jauh berbeda dengan Blue Film (BF) atau Semi BF.
Berikut tanggapan mereka yang kontra. "Kalau film porno, seperti film Blue Film (BF) atau semi (BF), kita semua tentu sepakat itu berbahaya! Dan siapa yang ketahuan memilikinya, bisa ditahan pak polisi. Tapi sadarkah kita, bahwa ada unsur pornografi lainnya yang jauh lebih halus ketimbang film BF? Saking halusnya, ia bisa jauh lebih berbahaya."
"Yang saya sayangkan, film Buruan Cium Gue! ini sangat-sangat vulgar dalam menggambarkan pergaulan bebas remaja yang berhubungan dengan cium plus dengan kostum para pemain yang sangat seksi."
"Potongan adegan yang diperlihatkan memang sangat kurang ajar. Bagaimana jika ditiru oleh kaum remaja kita? Melihat judulnya saja, setidaknya menjijikan dan sangat tidak pantas."
Kalangan yang kontra tersebut harus disebut mengumbar omong kosong belaka karena hakekatnya mereka tidak menonton filmnya!
Bagi anggota mailing list ada pula yang pro terhadap film yang dibintangi Masayu Anastasia, Ratu Felisha dan Hengky Kurniawan itu. Mereka menganggap film tersebut gambaran realita anak muda Jakarta masa kini dan patut menjadi pembelajaran bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
"Mungkin film Buruan Cium Gue! memang mengangkat tema gaya hidup remaja kita. Dan sebenarnya itu pesan yang mau disampaikan sutradara film itu. Supaya penonton mau menilai diri sendiri dari film itu atau membawa pesan moral bagi generasi dibawahnya."
Sekilas kita lihat potongan cerita film tersebut yang dikisahkan Desi (Masayu Anastasya) telah dua tahun berpacaran dengan Ardi (Hengky Kurniawan), namun Ardi berusaha menjauhi segala bentuk kontak fisik antara mereka, termasuk ciuman. Hingga pada sebuah siaran radio, Desi harus membual mengenai pengalaman ciuman pertamanya dengan Ardi. Padahal sebenarnya belum pernah mengalaminya.
Hingga saat ini, kubu Multivision Plus belum mengeluarkan pernyataan resmi seputar kontrovesi terhadap film yang digarapnya. Yang jelas film remaja yang produser ekeskutifnya Rizal Mantovani ini dalam tempo sepekan telah berhasil mengumpulkan 200.000 penonton dan akan terus bertambah besar jumlahnya. Oleh sebab itulah pernah produser Raam Punjabi sempat punya ide untuk bikin sequelnya dengan judul lebih berani lagi, Buruan Kawini Gue!
Perihal ciuman sendiri, bukankah sudah ada filmnya Garin Nugroho, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, yang dibintangi Lulu Tobing? Ada pula adegan ciuman antar siswa-siswi SMU yang dimainkan oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro dalam Ada apa dengan Cinta? Bahkan siswi SMP, Shandy Aulia, sudah dikecup bibirnya oleh Samuel Rizal dalam Eiffell … I'm in Love! (06/01)
Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Gonjang-ganjing Film "Buruan Cium Gue!"

KONTROVERSI film "Buruan Cium Gue!" (BCG!) terus berlanjut. Setelah film produksi Multivision Plus itu diprotes masyarakat - atas prakarsa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh agama AA Gym - dan terpaksa ditarik dari peredaran di bioskop-bioskop Indonesia, berbagai tanggapan pro dan kontra tetap saja mengemuka. Di satu pihak, penarikan BCG! dinilai sudah benar - setidaknya menurut MUI dan AA Gym - karena dianggap merusak moral dan meresahkan masyarakat. Di lain pihak, penarikan BCG! yang merupakan film pop biasa untuk konsumsi kaum remaja - khususnya menurut produser, sutradara, penulis skenario dan pendukung BCG! tentunya - dinilai lucu dan mengejutkan.

Film yang dibintangi Masayu Natasya dan Hengky K Chova itu terhitung sejak Jumat (20/8) harus ditarik dari peredaran karena surat lulus sensor film tersebut ditarik kembali oleh Lembaga Sensor Film (LSF) atas permintaan Menbudpar (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata) setelah menerima masukan dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N). Ketua LSF Titie Said sendiri bertekad akan meneliti ulang dan melakukan revisi atas materi film tersebut. Belum jelas, apakah setelah dilakukan penelitian dan revisi ulang, film tersebut bisa kembali diedarkan. Sebagai film pop biasa (bukan film idealis), BCG! bukan tergolong istimewa. Menurut sutradara Findo Purwono HW, film BCG! mengungkapkan realitas pergaulan remaja saat ini (tentu bukan secara umum). Film tersebut berkisah tentang seorang pelajar kelas 3 SMU, Desi (Masayu Natasya) yang bekerja sebagai penyiar radio. Ia pacaran dengan Ardi (Hengky KC) yang sudah mahasiswa. Ardi ingin hubungan percintaan dengan pacarnya tidak harus dengan berciuman. Sedangkan Desi ingin sekali mencium pacarnya, tetapi selalu ditolak pacarnya itu. Sungguh kisah cerita yang sangat biasa.

Dalam film tersebut, tokoh Desi dan Ardi melakukan adegan ciuman tiga kali, yang sudah lolos sensor dari LSF. Menurut Ketua LSF Titie Said - seperti dikutip di media massa - pihak LSF sudah menyensor adegan ciuman lainnya yang dinilai kelewat hot. Misalnya, ciuman di bagian leher yang sudah dibasahi minuman keras serta ciuman lama di bibir. Demikian pula LSF juga telah meng-cut adegan teknik mencium yang dicontohkan dengan buah anggur dan buah pisang dan tak ditayangkan di BCG! Seperti kata Titie Said pula, sebagai sebuah karya seni dengan tema soal "ciuman remaja", tentu tak semua adegan ciuman harus di-cut LSF.

Adegan "panas" lainnya hampir tak terlalu menonjol dalam film BCG! Bahkan dibandingkan dengan film-film nasional lainnya yang beredar - setelah diloloskan LSF -, seperti Eiffel... I'm in Love, Arisan, dan 30 Hari Mencari Cinta, serta 25 film lokal lainnya, adegan panas dalam film BCG! tak lebih 'seru'. Di film Eiffel... I'm in Love, misalnya, adegan ciuman secara terang-terangan dilakukan pemeran utama Samuel Rizal dan Shandy Aulia. Demikian pula film 30 Hari Mencari Cinta juga menampilkan adegan seorang laki-laki seks maniak yang menawarkan hubungan intim di luar nikah. Sementara film Arisan malah menampilkan adegan ciuman bibir antarsepasang laki-laki yang terlibat cinta sejenis.

Sudah barang tentu adegan panas dalam BCG! mungkin juga masih kalah 'dahsyat' jika dibandingkan dengan sejumlah film asing dari 510 judul film impor lainnya yang diloloskan LSF dari awal tahun 2003 hingga Agustus 2004.

Yang jadi pertanyaan, mengapa BCG! mendatangkan protes masyarakat? Bukankah - seperti kata Titie Said - untuk meloloskan film tersebut agar bisa diputar di bioskop, LSF telah menyensornya lewat lima orang anggota, termasuk tokoh agama?

Dalam kasus BCG, mungkin permasalahan sebenarnya hanya sepele, yakni terkait dengan judul film yang dinilai terlalu vulgar. Ini juga terungkap ketika Aa Gym menyoroti judul film tersebut yang dinilai tidak sesuai dengan budaya ketimuran, karena mengesankan mengajak remaja untuk berzina. Kendati secara materi dan isi sebenarnya tak bermasalah, namun penjudulan yang kurang pas pada sebuah film terbukti bisa mendatangkan protes dan malapetaka. Di sinilah kepekaan dan kehati-hatian dalam memperhatikan hal-hal yang kelihatannya sepele perlu lebih dikedepankan, baik bagi seluruh insan film maupun LSF dan mungkin BP2N.

Bagaimanapun penarikan film BCG dari peredaran sangat disesalkan. Sebagai suatu karya seni yang telah dikerjakan secara serius dengan menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar, idealnya, film tersebut mendapatkan apresiasi masyarakat. Namun yang terjadi, film tersebut ternyata malah menimbulkan protes, dinilai meresahkan masyarakat dan dianggap merusak moral anak bangsa sehingga terpaksa ditarik dari peredaran. Ini tentu sangat tidak dikehendaki.

Namun terlepas dari itu, penarikan BCG bisa menjadi bahan introspeksi dan koreksi bagi semua insan film untuk lebih berhati-hati dalam memproduksi film-film baru lainnya di masa-masa mendatang. Bahwa orientasi mengejar selera pasar lewat penjudulan yang wah memang sah-sah saja. Namun hendaknya tetap memperhatikan budaya yang ada untuk menghindari penolakan pihak-pihak tertentu yang sangat menjunjung tinggi akhlak dan moral bangsa. Bahwa apa yang dirasakan baik sebagai suatu karya seni, belum tentu dapat diterima kalangan masyarakat tertentu. Ini harus dipahami secara arif dengan kepekaan tinggi.

Di lain pihak, perlu digarisbawahi, penilaian sebuah karya seni harus dilakukan secara seimbang dan proporsional. Sebuah karya film dapat merusak moral bangsa, tentu harus dibandingkan dengan fakta praktik "seks bebas" yang terjadi secara diam-diam di masyarakat. Harus dikaitkan pula dengan merebaknya karya sastra lainnya yang berbicara soal seks secara vulgar, tayangan iklan buka-bukaan dan program televisi lainnya yang kurang mendidik. Penilaian sebuah karya seni harus dilakukan secara jujur dan jernih agar tidak tergelincir pada kemunafikan.
Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Film Buruan Cium Gue diprotes

LSF: JUDULNYA SERAM


- JAKARTA – Lembaga Sensor Film (LSF) jadi sasaran protes sehubungan peredaran film Buruan Cium Gue (BCG). Banyak pihak bahkan mendesak LSF agar segera menarik film produksi Multivision Plus itu dari peredaran. Ketua Pelaksana Harian
LSF, Titie Said menghargai reaksi masyarakat yang diketahuinya dari Media. “Tapi mereka juga harus tahu, film itu Cuma mencantumkan judul “seram” isinya sendiri tak seseram yang dibayangkan,” tukas Titie, Kamis (12/8) di ruang kerjanya.

Secara resmi LSF, dikatakan Titie belum menerima reaksi atau protes tersebut. LSF meluluskan BCG sesuai aturan penyensoran yang melibatkan berbagai unsur termasuk wakil Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Kami berani memutuskan film itu beredar karena sudah bersih dari adegan vulgar,” lanjut Titie.

Sementara Humas Multivison Plus yang memproduksi film tersebut, Lia belum bisa menentukan sikap atas reaksi masyarakat. “Film BCG itu hanya drama remaja biasa yang menceritakan tentang remaja kota besar yang sedang mencari jati diri,” katanya.

BCG menceritakan seorang gadis penyiar radio yang memiliki pacar idealis dan mengharamkan ciuman sebelum resmi menikah. Hubungan mereka mendadak retak ketika si gadis yang diperankan Masayu Anastasia mengaku pernah dicium kekasihnya saat ditanya penggemar.
Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

MUI DESAK LSF TARIK FILM BURUAN CIUM GUE

Kamis,8/19/2004 10:42:04 AM
-
JAKARTA – Kontroversi film Buruan Cium Gue (BCG) berlanjut. Tokoh ulama KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dan Ketua Serta Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Amidhan dan KH Din Syamsudin mendatangi lembaga Sensor film (LSF), Rabu (18/8).

Rombongan yang didampingi para artis seperti Inneke Koesherawati, Astri Ivo, Cheche Kirani dan lain-lain

Para ulama ini menyesalkan tindakan LSF yang meluluskan film itu yang kemudian mengundang keresahan. Beberapa alasan utama yang memperkuat MUI bertindak adanya beberapa penggalan adegan ciuman yang tergolong hangat dan dialog yang tak pantas diungkapkan anak-anak sekolah.

Demikian pula dengan Aa Gym yang menyadari adanya protes akan merangsang orang untuk menonton film itu. Ia sendiri tak menonton film produksi Multivision Plus itu. “Kalau memang itu duren busuk, kenapa saya harus memakannya. Saya cukup menampung aspirasi teman-teman di MUI yang menyaksikan secara langsung,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian LSF, Dra.H.Titie Said berterima kasih atas koreksi para ulama. LSF sudah melaksanakan tugas sesuai dengan criteria yang ada. “Untuk menarik film dari yang sudah lulus sensor memang ada aturannya. Sebagaimana tercantum dalam No.8 tahun 1992 dan wewenang pemerintah pusat dan daerah,” urai Titie.

Sedangkan dari pihak Multivision Plus, belum diperoleh keterangan pasti tentang langkah yang akan ditempuh. “Bos kami sedang berada di luar negeri. Yang pasti film itu sudah mengumpulkan diatas 100 ribu penonton,” tutur Humas Multivision Plus, Nilia.
Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Buruan Cium Gue! Ditarik dari Peredaran
FILM Buruan Cium Gue! (BCG) akhirnya ditarik dari peredaran. Bos MultiVision Plus (MVP) Raam Punjabi tak tahan dengan kritik yang melandanya sejak BCG beredar, 5 Agustus silam. Selain itu, Raam tidak ingin timbul perpecahan di kalangan masyarakat Indonesia. Keputusan itu diambil Raam usai berdialog dengan Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym di Jakarta, Kamis (19/8).

Sebelum berdialog dengan Raam, Aa Gym bersama Majelis Ulama Indonesia mengajukan protes kepada Lembaga Sensor Film. Menurut kiai kondang asal Parahyangan ini, film BCG terlalu vulgar dan mengajak orang berzina. "Ini adalah karya yang tidak layak bagi orang-orang yang merindukan kebaikan," kata Aa Gym.
(Yn-200804)
Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Kiriman Artikel: Kita Butuh Fikih Bercorak Pluralistik

Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: dompas@gmail.com
-------------------------------------
IslamLib.com, Selasa, 9 Desember 2003

Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer:
Kita Butuh Fikih Bercorak Pluralistik

Sebagai negara yang pluralis, baik dari sudut etnis, bahasa, budaya, dan agama, Indonesia jelas membutuhkan rumusan fikih yang mempunyai visi dan wawasan yang pluralis. Untuk menanggapi kenyataan ini, baru-baru ini, Yayasan Paramadina sebuah lembaga yang dimotori Dr. Nurcholish Madjid dan berkecimpung dalam kajian keagamaan dan sosial, sedang mengembangkan dan merumuskan gagasan tentang fikih lintas agama yang dirampungkan dalam bentuk buku yang berjudul “Fiqih Lintas Agama”. Inilah buku pertama yang secara spesifik membahas soal fikih hubungan antar umat beragama di Indonesia.

Untuk mengetahui lebih detail tentang “Fikih Lintas Agama” tersebut, Nong Darol Mahmada dari Kajian Islam Utan Kayu mewawancarai Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yang juga menjadi salah seorang tim perumus gagasan “fikih lintas agama” ini pada Kamis (17/10/03) lalu. Berikut petikannya:

Pak Kautsar, Anda dan kawan-kawan di Paramadina menggagas konsep fikih yang bernama “fikih lintas agama”. Apa yang dimaksud “fikih lintas agama” itu?

“Fikih lintas agama” yang sedang digagas, bukan berarti semacam klinik fikih yang lintas agama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, atau apapun. Yang dimaksud adalah fikih Islam yang khusus membahas tentang hubungan antaragama. Di dalam konsep fikih ini dibahas tema-tema yang terkait langsung dengan hubungan antaragama. Misalnya dibahas soal perkawinan antaragama, doa bersama, mengucapkan salam kepada nonmuslim, menghadiri dan mengucapkan selamat Natal, dan persoalan-persoalan yang terkait langsung dengan hubungan umat Islam dengan umat agama-agama lain.

Apa pentingnya membahas tema-tema tersebut untuk konteks Indonesia sekarang?

Tema-tema itu tidak datang dengan sendirinya. Kita mengambilnya dari realitas sosial yang terjadi di masyarakat kita sehari-hari. Kita sering menyaksikan --misalnya-- para pejabat menghadiri peringatan Natal dan mengucapkan selamat Natal. Pembawa acara di televisi pun umumnya tak sungkan mengucapkan selamat Natal. Kita secara ringan saja mengucapkan salam kepada nonmuslim, atau ada juga yang melakukan perkawinan beda agama.

Nah, semua itu merupakan persoalan-persoalan yang real di masyarakat. Tapi sayangnya, belum ada fikih yang membicarakan persoalan tersebut secara agak tuntas. Kalaupun fikihnya ditemukan, dia hanya berbentuk fikih klasik yang belum tentu mampu memberi jawaban atas persoalan-persoalan kekinian yang real di masyarakat yang bercorak pluralistis. Makanya kita butuh fikih baru. Saya melihat, fikih lama yang menurut saya cenderung eksklusif itu, tidak cocok lagi menanggapi tantangan-tantangan masyarakat kini, yang anggota-anggotanya sudah memiliki kesadaran akan pentinganya pluralisme. Jadi, kalau ada teologi pluralis, kita juga butuh fikih pluralis. Fikih yang eksklusif tidak akan cocok dengan teologi pluralis. Fikih yang cenderung eksklusif hanya cocok untuk teologi yang eksklusif. Jadi, memang ada pasangannya masing-masing.

Tadi Anda menyebut fikih klasik sudah membahas sebagian dari tema-tema fikih lintas agama, tapi visinya masih eksklusif. Bisa Anda lebih jelaskan lagi?

Hm, memang untuk sebagaian sudah ada (pembahasannya). Misalnya, soal kawin beda agama. Dalam soal itu, sudah ada dua pendapat. Pendapat yang mayoritas dan sangat populer memang mengharamkan nikah beda agama. Meski begitu, bukan berarti tidak ada pendapat yang membolehkan. Hanya saja, yang dominan kan yang mengharamkan. Itu satu contoh.

Nah, ada persoalan-persoalan lain seperti soal doa bersama, yang juga perlu dibahas. Saya tidak tahu, apakah pada zaman Nabi dulu, doa bersama punya preseden atau tidak. Sekarang, praktik itu sering dilakukan orang. Kalau kita lihat, yang melakukan itu justru tokoh-tokoh dari semua agama. Itu persoalan real. Perlu ada jawaban konkret.

Nah, apa yang baru dari produk fikih ini yang Anda rumuskan ini? Dan pendekatan apa yang Anda pakai untuk merumuskannya?

Dikatakan baru seratus persen, tentu tidak. Untuk soal pendekatan, kita selalu berpegang pada watak asli Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kedamaian. Watak asli Islam itu kan lebih mengutamakan kemaslahatan. Maka dari itu, untuk menetapkan sebuah produk hukum, yang harus diperhitungkan adalah: apakah produknya akan membawa kemaslahatan atau tidak. Jadi, ketetapan sebuah produk hukum selalu ditentukan oleh tujuan syariat. Itu metode atau pendekatan yang selalu kita pertimbangkan sebagai prinsip. Inilah yang membuat kita membolehkan doÂ’a bersama atau mengucap salam kepada nonmuslim misalnya. Kalau dihitung-hitung, hal itu kan untuk kemaslahatan juga. Itu bisa mempererat persahabatan dan keakraban, selain untuk saling menghargai.

Dalam memproduk hukum fikih, tentu kita butuh dalil. Apakah ada dalil-dalil untuk kasus-kasus itu?

Tentu harus ada. Setiap muslim tentu berpedoman pada dalil Alqur’an dan Hadis. Hanya saja, pada titik ini kita perlu garisbawahi. Penafsiran tiap orang atas Alqur’an dan Hadis bisa berbeda-beda. Contohnya, penafsiran dan penyikapan terhadap dalil tekstual nikah beda agama. Kalimat “walmuhshanât minalladzîna û’tul kitâb” (QS.5:5) misalnya ditafsirkan secara berbeda-beda. Selain dalil tekstual, kita juga berhadapan dengan dalil historis. Nabi sendiri menikah dengan seorang perempuan Kristen bernama Mariah Koptik (dari Mesir). Beliau juga sempat menikah dengan seorang perempuan Yahudi bernama Shafiyyah binti Huyay. Jadi, inilah perumpamaan dalil-dalil yang kita gunakan untuk menyikapi kasus nikah beda agama.

Tadi Anda sempat menyebut soal pertimbangan maslahat dalam menelorkan produk fikih. Bagaimana bila pertimbangan maslahat tadi bertentangan dengan teks-teks yang termuat dalam AlqurÂ’an?

Ayat Alqur’an yang bersifat kontekstual seperti jatah harta rampasan perang di antara umat Islam, dalam Alqur’an diatur dengan sangat jelas. Tapi Umar bin Khattab tidak menggunakan ayat itu. Dalam kasus pemberian jatah rampasan perang di Khaibat tersebut, para tentara dan panglima perang waktu itu tidak menggunakan ayat Al-Anfâl. Jadi, ada kesan Umar melawan ayat Alqur’an. Di dalam kasus itu, konteks yang menjadi pertimbangan Umar adalah soal kemaslahatan. Pada masa itu, para tentara sudah cukup kaya raya, sementara banyak orang miskin yang lebih membutuhkannya. Jadi, pertimbangannya kala itu: lebih baik harta itu dibagikan kepada orang miskin. Pertimbangannya adalah soal kemaslahatan.

Artinya, sekalipun pertimbangan maslahat bersifat relatif, kandungan teks pun bisa jadi relatif juga?

Saya tidak mengatakan (kandungan) teks itu relatif. Tapi teks harus dipahami secara kontekstual (di dalam konteks tertentu). Dalam berbagai diskusi, kita sepakat akan kemestian membedakan antara tujuan dengan cara yang dikandung oleh teks-teks agama. Tujuan tidak boleh diubah, sementara cara boleh. Prinsip-prinsip keadilan, persamaan dan kemaslahatan, misalnya, tidak boleh diubah. Tapi apakah para tentara itu --dalam konteks ayat Al-Anfâl-- mendapat jatah harta rampasan perang atau tidak, itu menyangkut soal cara saja. Itu salah satu contoh.

Masih ada contoh lain yang perlu dikemukakan juga. Dalam AlqurÂ’an surat 9:60 diterangkan bahwa para muallaf (orang yang baru masuk Islam, Red) itu mendapat bagian dari harta zakat. Umar justru tidak memberikan jatah mereka, karena konteksnya yang sudah berbeda. Di sini kita melihat, bukan berarti suatu ayat berubah, tapi cara memahami ayat yang mengalami pergeseran ke arah yang lebih kontekstual karena perbedaan konteks.

Nah, wilayah mana saja yang jadi concern fikih lintas agama: apakah hanya pada wilayah muamalah atau juga merambah wilayah ibadah?

Konsep fikih lintas agama yang kita garap ini bukan hanya membahas soal muamalah, tapi juga menyangkut persoalan ibadah. Misalnya bahasan soal doa bersama. Doa bersama itu dalam teknisnya bisa banyak bentuk. Misalnya, semua peserta yang berbeda-beda agamanya berdoa dengan dipimpin oleh seorang pendoa dan dibuatkan teksnya sedemikian rupa sehingga orang mudah mengamininya. Ada juga bentuk doa bersama antara agama. Artinya dalam suatu pertemuan itu, masing-masing kelompok agama berdoa menurut agamanya masing-masing. Yang muslim berdoa dengan cara Islam, sementara yang nonmuslim dengan cara mereka pula.

Sekalipun yang dibahas soal ibadah, tapi fikih lintas agama ini nampaknya membatasi diri pada persoalan ibadah yang terkait langsung dengan hubungan antar agama yang juga wilayah muamalah. Benar begitu?

Ya. Contohnya ritual doa bersama itu tadi. Saya tidak tahu, apakah menghadiri perayaan Natal bagi kalangan muslim yang diundang untuk itu termasuk dalam bidang ibadah atau muamalah. Tapi, mungkin di situ ada dimensi ritual ibadahnya, sekaligus dimensi muamalah. Kita sering melihat kasus seperti itu terjadi. Pejabat-pejabat kita tak keberatan untuk menghadiri perayaan Waisak, Natal, Nyepi dan hari-hari besar agama lainnya.

Nah, di sini kita perlu tegaskan; sekalipun membahas soal ibadah, kita tetap tidak akan mengubah atau menukar tata cara salat --misalnya-- atau ibadah lainnya. Sebagai seorang muslim, salat dan puasa tetap akan dijalankan seperti yang kita pahami; sebagaimana yang diajarkan AlqurÂ’an dan praktik Nabi. Itu tidak akan diotak-atik. Kalau itu diubah, keislaman kita bisa menjadi hilang.

Intinya, ini semacam upaya untuk membangun hubungan harmonis antara kalangan muslim dengan nonmuslim?

Ya. Di dalam bukunya nanti akan ada judul kecil begini: membangun masyarakat inklusif dan pluralis. Jadi orientasinya jelas: membangun masyarakat yang mendambakan kedamaian. Dan memang, fikih yang kita rumuskan ini merupakan produk fikih yang --kalau bisa-- menjawab tantangan pluralitas yang ada. Sebab, realitas masyarakat kita memang sangat plural; terdiri dari beragam etnis, budaya dan agama. Karena itu, kita tergerak untuk membuat rumusan fikih yang bercorak pluralistis, sekaligus tidak bertentangan dengan tuntunan AlqurÂ’an dan Sunnah.

Intinya, bagaimana Islam membuat peraturan-peraturan --baik dalam soal ibadah, maupun muamalah-- dalam kaitannya dengan hubungan Islam dengan agama lain. Ini memang tantangan pluralisme yang tidak mudah untuk ditanggapi. Dari sisi produknya, mungkin akan banyak pihak yang tidak setuju. Tapi, semangat yang ingin diperjuangkan, saya kira akan sangat penting nilainya. []

Versi asli dapat dibaca di:
http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=457

Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Kiriman Artikel: Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah.

Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: dompas@gmail.com
-------------------------------------
IslamLib.com, Jum'at, 12 Desember 2003

Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah.

Oleh: Soplo


Partai Islam selalu mengatakan bahwa apa yang dilakukan serta menjadi programnya semuanya berdasarkan syariat Islam. Dan seolah-olah mereka yang paling mewakili kelompok Islam.

Disini kita melihat bahwasanya agama digunakan serta dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan massa. Agama dibawa serta dijadikan kendaraan untuk menuju panggung kekuasaan, serta tidak segan-segan para juru kampanye menyitir ayat-ayat al-Quran yang bertujuan untuk kepentingan partai tersebut.

Kita tentu masih ingat di mana sebelum Megawati duduk menjadi presiden, kelompok partai yang berasaskan Islam berlomba-lomba menjegal Megawati untuk menjadi presiden. Dengan menggunakan isu bahwa perempuan haram untuk menjadi seorang pemimpin, dengan menyebutkan beberapa ayat-ayat alquran yang membicarakan masalah tersebut. Bahkan dalam berkampanye mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa seseorang yang beragam Islam, tetapi tidak memilih partai Islam maka orang tersebut akan masuk neraka.

Tapi setelah kepentingan bermain dengan adanya bargaining politik yang dapat menguntungkan partai tersebut maka dengan sendirinya isu-isu tersebut pun menjadi hilang. Mereka balik membela serta mendukung dengan masih menggunakan ayat-ayat Alquran. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, karena maksudnya adalah satu yaitu: kepentingan, kekuasaan dan golongan.

Hal ini terjadi khususnya di desa-desa, di mana masyarakat yang seharusnya mendapatkan pembelajaran dalam hal menghormati kelompok lain, serta pembelajaran dalam berdemokrasi justru malah diprovokasi oleh juru kampanye. Sehingga, apa yang terjadi konflik horisontal dengan menggunakan nama Tuhan serta agama. Hal ini tentu mencemarkan nama Islam yang sesungguhnya. Islam yang menjunjung tinggi demokrasi, Islam yang menghormati adanya perbedaan, berubah menjadi Islam yang menakutkan.

Di sini seharusnya Islam diletakkan dalam hati kita masing-masing. Kita tidak perlu mengaku Islam kalau perbuatan kita tidak menunjukkan keislaman, yang malah dapat mencemari serta menodai kesucian Islam itu sendiri. Islam itu kelakuan bukan pengakuan. Di sini jargon yang terkenal dari pak Nurcholis Majid bahwa beliau mengatakan "Islam Yes, Partai Islam No" patut dijadikan contoh, meskipun beberapa kalangan menganggap hal tersebut diucapkan dari seorang yang sekuler.
Wallahua'lam Bisshawaab.



Versi asli dapat dibaca di:
http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=462

Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Kiriman Artikel: Ini bukan Prioritas Kita...

Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: dompas@gmail.com
-------------------------------------
IslamLib.com, Senin, 23 Agustus 2004

Hamid Basyaib Mengomentari Kontroversi Film Buruan Cium Gue
Ini bukan Prioritas Kita...

Protes Majelis Ulama Indonesia (MUI), AaÂ’ Gym, dan sebagian masyarakat atas film Buruan Cium Gue yang ditengarai mengusik perasaan susila masyarakat, merupakan bagian dari rumitnya prosedur menentukan standar moralitas publik. Akibatnya, iklim kebebasan dinobatkan sebagai biang keladi rendahnya standar moral tayangan publik. Padahal, hakikatnya tak jarang berawal dari rendahnya imajinasi kreatif para seniman, sehingga tak mampu melahirkan karya-karya nan bermutu dan cemerlang. Demikianlah sekelumit perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Hamid Basyaib, peneliti Yayasan Aksara yang cukup akrab dengan dunia musik dan perfilman pada Kamis, 19 Agustus 2004. Berikut petikannya:

NOVRIANTONI (JIL): Bagaimana Anda menilai film Buruan Cium Gue?

HAMID BASYAIB (HB): Saya harus akui, kalau saya belum menonton. Dan saya sama sekali tidak tertarik menontonnya. Dari judulnya saja, belum dari segi substansi, saya melihat adanya bias Jakarta, bahkan bias Menteng. Ungkapan “buruan cium gue!” memang bisa saja dimengerti orang Palembang, tapi terkesan jauh sekali dari mereka. Begitu juga bagi orang Makassar, Kalimantan dan lain-lain.

Dari sisi substansi, saya juga tak tertarik. Skenarionya biasanya jelek atau tidak diolah lebih jauh. Tema seperti itu mestinya bisa dieksplorasi lebih baik kalau penulis naskahnya bisa mengembangkan filosofi ciuman. Kita tahu, ada banyak sekali jenis ciuman; cium tangan, cium kekasih, cium anak, cium ibu-bapak dan lain-lain. Tapi saya pastikan film ini bukan dalam arti itu. Tema yang diangkat cium eros; ciuman antarkekasih, atau ciuman orang yang sedang pacaran.

Tapi reaksi atas film ini, apalagi disebut “keprihatianan nasional”, juga berlebihan. Saya kira, orang sekelas Aa’ Gym tak perlu terlalu dramatis memplesetkan judul menjadi “buruan zinahi gue!” Ciuman jelas berbeda dengan zina. Dari sudut Islam pun, beda sekali implikasi moral dan hukumnya. Makanya, saya ingin sekali kita melihat persoalan apapun secara proporsional. Kalau ada keluhan-keluhan, disampaikan saja. Tidak perlu didramatisasi secara berlebihan.

JIL: Anda melihat reaksi yang muncul sudah berlebihan?

HB: Saya kira, ya! Karena sudah jelas tak mungkin sebuah film —apalagi film yang cetek dan dangkal semacam itu— bisa menimbulkan keprihatinan nasional. Ada banyak hal lain; soal kepastian hukum, hakim, jaksa dan polisi yang berprestasi buruk dalam menegakkan hukum. Isu itu langsung mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

JIL: Dalam pandangan MUI dan AaÂ’ Gym, film ini sudah mencederai susila masyarakat. Mereka menuntut ditarik dari peredaran. Apakah tuntutan itu masih proporsional?

HB: Saya kira tidak. Bagi saya, biarkan saja orang berekspresi sepanjang memegang kaidah-kaidah yang—katakanlah--disepakati bersama. Masalahnya, dalam soal ini kita juga belum kunjung punya kesepakatan yang jelas. Ini masalah lama, dan puluhan tahun tidak diselesaikan. Nah, kalau kembali ngomong soal film, film-film tahun 1970-an dan 1980-an itu banyak sekali yang vulgar. Saya bukan bermaksud membela film-film seperti itu. Bagi saya, film seperti itu tidak perlu dibela, apalagi dari segi kualitas. Yang saya persoalkan adalah ihwal kebebasan berekspresi. Jadi jangan disalahpahami seolah-olah saya membela film ini.

Kalau tuntutan semacam itu terus diakomodasi, orang akan gampang membuat tuntutan serupa. Jangan-jangan kontroversi ini bisa menjelma menjadi promosi terselubung. Dengan larangan, orang jadi penasaran. Padahal dulu, di SCTV pernah diputar serial berjudul Melrose Place. Serial itu sebetulnya lebih vulgar. Serial itu bercerita tentang profesional muda yang hidup satu kos atau mengontrak rumah sendiri-sendiri, lalu tukar-menukar pasangan dengan santainya. Di situ kevulgarannya memang tidak ditunjukkan secara visual. Dan ingat, serial itu diputar sekali seminggu selama beberapa tahun.

JIL: Apa ada standar ganda dalam menilai film nasional dan film impor?

HB: Ya, itu juga persoalan. Tapi tafsiran bahwa film yang sedang kita persoalkan ini the first step to adultry atau selangkah maju menuju perzinahan, amat saya ragukan. Dalam psikologi, hubungan seks itu memang ditafsir berlapis-lapis. Ngobrol dengan lawan jenis dianggap hubungan seks yang paling luar. Berikutnya pegang tangan, cium pipi, sampai coitus atau persenggamaan yang dianggap sebagai the ultimate sexual relationship. Nah, kalau dilihat dari segi itu, langkahnya tentu masih panjang. Lompatannya jauh sekali ke zina.

Soal standar ganda, nampaknya kalau bangsa sendiri yang bikin memang diterapkan standar khusus. Tapi kalau produksi orang luar, standarnya beda lagi. Padahal dari segi ini, yang penting kan bukan siapa yang bikin, tapi apakah film itu diputar di sini atau tidak. Kalau soal siapa yang bikin, penonton tak peduli. Jadi kalau mau konsisten, keluhan yang sama juga harus dialamatkan pada film lain, siapa pun yang buat. Dalam zaman global begini sudah tidak relevan lagi membicarakan soal itu.

JIL: Film itu juga dianggap memamerkan budaya ciuman sebagai budaya asing. Apakah sebuah film harus mencerminkan budaya masyarakat tertentu?

HB: Ada banyak teori tentang itu. Ada yang melihat film sebagai karya seni. Ada yang melihatnya sebagai realitas sosial. Justru, sebuah film menciptakan suatu realitas baru. Artinya, pembuat film ingin realitas sebenarnya mengikuti realitas buatan yang disajikan di film-film itu. Dua-duanya tidak ada yang salah dan benar, dan dua-duanya sah. Tapi kalau kita ngomong soal mencerminkan moral bangsa atau tidak, persoalannya adalah siapa yang merumuskan? Kalau cuma rumusan orang tertentu saja itu tidak valid. Mungkin hal itu harus dirumuskan dalam bentuk hukum. Para wakil rakyat yang notabene dipilih rakyat itulah yang mestinya merumuskan batasan-batasannya. Secara teknis, bisa saja itu dibuat.

Yang perlu dipertimbangkan di sini: ciuman, di belahan dunia manapun, tak pernah menjadi budaya tertentu masyarakat. Apa sih ciuman itu? Ciuman bibir? Di Amerika juga tidak, karena sebagian besar masyarakatnya masih konservatif. Apalagi, Kristen di sana kuat sekali. Nah, kalau cuma ciuman pipi di kiri dan di kanan seperti salaman, siapa bilang bukan budaya kita? Kita punya itu, dan kalau saya sebut siapa saja yang mempraktekkan itu, pasti banyak orang kaget, termasuk tokoh-tokoh agama.

JIL: Dalih yang paling menonjol dari reaksi terhadap film ini adalah dalih moral. Apakah telah terjadi reduksi makna “moral” itu dalam logika agamawan?

HB: Betul! Itu tepat sekali. Kita jarang sekali mendengar imbauan MUI mengenai masalah-masalah bangsa yang lebih berat. Misalnya soal korupsi yang merajalela, penggusuran di mana-mana, dan pameran kemewahan. Persoalan seperti itu tak pernah digubris MUI secara serius. Mereka malah membidik masalah-masalah yang masuk wilayah moralitas individual semacam ini. Kalau kita tetapkan prioritas, ini sebenarnya bukan prioritas kita. Sebenarnya, ada tindakan elite yang jauh lebih destruktif dan berskala lebih luas, karena mereka memegang kekuasaan. Sekali mereka bertindak, implikasinya bisa luas sekali. Kalau mereka korupsi 1 milyar, artinya ada sejumlah anak sekolah yang tidak bisa bersekolah; ada sejumlah gedung sekolah yang tidak bisa dibangun. Mestinya itu prioritas sorotan agamawan.

Makna moral telah direduksi khusus pada wilayah susila. Agama-agama terlalu obsesif atau terlampau mempedulikan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, sampai melampaui proporsinya yang wajar. Saya tidak tahu sebabnya. Mungkin karena dalam kitab-kitab suci, persoalan ini dipaparkan cukup detail, tekstual atau harfiah. Akibatnya, masalah moral yang besar-besar tidak tersentuh secara memadai. Mestinya, agamawan mengembangkan konsep moralitas secara lebih luas

JIL: Sejauh pengamatan Anda, bagaimana perkembangan perfilman nasional pasca-reformasi yang cenderung bebas?

HB: Tahun 1970 dan 1980-an, film-film yang vulgar banyak beredar. Dari judulnya saja kita sudah tahu itu film vulgar. Misalnya, Akibat Pergaulan Bebas, Seks dan Kriminalitas, Ranjang Pengantin, dan lain-lain. Saya pribadi sangat tidak suka. Karena bagaimanapun, seks itu bisa dibilang sakral. Tidak ada hubungan yang lebih intim dari hubungan seksual. Hubungan seksual adalah dasar eksistensi kita. Kita semua hadir di dunia ini berkat hubungan seks orang tua kita.

Teman saya berkelakar, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit dan berat melebihi hubungan seksual. Sebab pekerjaan lain, seberat-beratnya tidak perlu sampai membuka celana. Intinya, hubungan seks itu merupakan hubungan paling initm. Maksud saya, jangan sembarangan dan melakukannya dengan ngawur.

JIL: Artinya, kalau diangkat ke dunia perfilman, diperlukan teknik-teknik khusus dalam meraciknya?

HB: Ya. Coba diberi pengertian makna seks itu sendiri. Tak perlu akademis, karena bicara seks itu bisa panjang lebar. Orang menulis berpuluh-puluh buku untuk mengulas persoalan ini, dan tidak kunjung beres-beres. Tapi setidaknya, ada penghormatan dan apresiasi yang baik atas persoalan seks, bukan vulgar seperti yang sering ditampilkan. Nah, dalam hal ini saya menyesalkan mengapa penulis skenario film kita, juga para penulis lagu, tak kunjung mampu mengeksplorasi tema ini secara wajar. Kita misalnya bisa melihat aspek filosofis dari seks.

Lagu-lagu Barat memang banyak sekali yang vulgar, apalagi jenis rap. Tapi saya teringat lagu Speak Softly Love dari Andy William yang menjadi tema musik film The Godfather. Sebagian baitnya berbunyi: wine-colored days warmed by the sun (hari-hari yang warnanya seperti anggur yang dihangatkan mentari). Ini ungkapan tentang hari-hari yang dilaluinya bersama sang kekasih. Lalu: deep velvet nights when we are one (malam-malam seperti beludru tua ketika kita menyatu). Yang dimaksud di situ adalah hubungan seks, tapi disajikan dengan indah dan halus, sesuai dengan harkat atau martabat hubungan seks itu sendiri.

JIL: Jadi seks itu luas dan selalu menarik untuk diangkat ke dunia seni?

HB: Menarik sekali! Pertama, karena seks itu impuls manusia yang paling hewani. Jadi, karena impulsnya sangat mendasar, dia menjadi universal. Di manapun, dan zaman apapun, seks selalu memukau. Dia terus laku. Tak heran kalau pedagang film, kalau ingin produknya laku, mereka mengeksplorasi hal yang satu ini. Masalahnya, kalau kesadaran insan perfilman kita tak bisa diandalkan, maka dia harus diatur dengan peraturan. Begitulah lazimnya yang berlaku di suatu negara. Dalam soal ini, kita tidak kunjung beres. Kalau ada pengaturan, muncul semangat untuk mengatur keseluruhan, yang malah menghapus hak (untuk berkarya). Di situlah kita selalu sulit mencari titik temu.

Dalam hal ini, menarik membandingkan dunia perfilman kita dengan Iran. Di Iran, perempuan tidak berjilbab tidak boleh ditayangkan di muka umum. Tapi kita lihat, film-film Iran tumbuh begitu hebatnya, justru di masa Revolusi Islam yang sangat ketat itu. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, di Iran tumbuh sutradara-sutradara yang baik. Ada Abbbas Kiarostami, Mohsen Makhmalbaf, Samirah Makhmalbaf, dan Majid Majidi. Di sana banyak sekali film-film yang memperlihatkan adegan perempuan dan laki-laki dengan sangat indahnya.

Uniknya, ternyata energi kreatif muncul di Iran justru karena pembatasan. Ini soal bagaimana kita mempersepsi soal pembatasan. Di sini, umumnya orang mengeluh kalau dibatasi. Di sana, orang seperti Abbas Kiarostami itu wawasannya sehat sekali. Dia pernah ditanya: “Pemerintahan Anda suka melarang-larang!?” Dia jawab, “O, ya! Tapi apakah dengan larangan kita lalu berhenti, meratap, menangis, atau justru terus kreatif? Saya memilih untuk terus bekerja dengan segala risikonya. Kalau film saya disensor, it’s find! Saya membuat film dengan durasi 2 jam. Kalau ada yang disensor setengah atau satu menit tidak jadi soal, asal struktur dasar film saya tidak rusak.” Itu ungkapan seorang sutradara yang filmnya menang di festival film cukup bergengsi di Cannes.

JIL: Dalam iklim yang relatif bebas ini, mestinya kita lebih kreatif?

HB: Justru itu yang saya maksud. Tapi insan perfilman kita, ditekan salah, diberi kebebasan juga mutu karyanya tak kunjung meningkat secara wajar. Saya kira, persoalannya bukan pada disensor atau tidak, tapi soal kreativitas. Seni itu intinya kreativitas. Kreativitas itu tidak bisa dipelajari. []

Versi asli dapat dibaca di:
http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=646

Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Kiriman Artikel: Buruan Cium Gue dan Soal Moral

Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: dompas@gmail.com
-------------------------------------
IslamLib.com, Senin, 23 Agustus 2004

Buruan Cium Gue dan Soal Moral

Oleh: Novriantoni


Selalu ada promosi cuma-cuma atas sebuah produk sebagai akibat tak terduga dari kontroversi hebat seputar produk tersebut. Rumusnya: yang dilarang justru yang diidam-idamkan (al-mamnû’ al-marghûb). Itulah yang kini terjadi pada film remaja, Buruan Cium Gue (BCG) yang menuai kritik dan protes Majlis Ulama Indonesia (MUI), dai kondang Aa’ Gym, dan beberapa eleman masyarakat. Sejak dari judul, Buruan Cium Gue dianggap sudah mengundang kritik. Makanya, dengan tafsiran yang agak jauh, Aa’ Gym memelesetkan judulnya menjadi --maaf-- Buruan Zinahi Gue! Menurut Aa’, dialog dan adegan berciuman --tentu saja dilakukan di luar nikah, karena para pemainnya masih belia dan belum mencicipi mahligai rumah tangga-- yang ditampilkan film BCG sudah setapak langkah menuju perzinahan. Sementara Alquran menganjurkan jauh-jauh dari perzinahan, BCG seolah memanggil untuk menghampiri perbuatan asusila tersebut. Begitu kira-kira logika yang ada di benak mereka yang mengritik film ini.

Tidak hanya dari judul, film produksi Multivision Plus (MVP) ini bisa dikritik. Siapapun yang sempat menyaksikannya mungkin berkesimpulan bahwa, dari segala aspek penilaian mutu perfilman, BCG dapat dikategorikan “kurang bermutu”. Akting para pemainnya nyaris tanpa penghayatan, dialognya tidak cerdas, skenarionya cetek, suaranya sayup-sayup, penuh iklan di mana-mana, dan sangat kentara kesan penggarapan tanpa standar mutu yang ketat. Dibandingkan sebagian film nasional lain yang pernah digarap beberapa sutradara muda berbakat Indonesia, seperti AADC, Arisan dan terakhir, Mengejar Matahari, jelaslah BCG akan terperosok ke tangga terendah dari segi mutu.

Tapi lepas dari itu, sudah barang tentu banyak biaya dan tenaga yang dikerahkan mereka yang terlibat dalam produksi BCG. Film ini juga sudah lolos sensor --meskipun dinilai sebagian pihak terlalu longgar-- dari Lembaga Sensor Film (LSF). Mestinya, tinggal mekanisme pasar yang bekerja. Bila BCG dianggap bermutu, pasar tentu akan bereaksi positif: menerima, mengapresiasi, dan dengan sendirinya memberi banyak keuntungan. Tapi nampaknya itu tidak terjadi, sampai muncul kontroversi yang sialnya menjadi promosi gratis untuk produk yang bermutu rendah. Kontroversi yang disulut MUI dan Aa’ Gym, rupanya menjelma jadi “berkah” bagi film yang tidak lebih baik dari film-film Warkop tahun 1970 dan 1980-an ini.

Rupanya di era globalisasi dan pasar bebas ini, mekanisme pasar tidak bisa diandalkan --dan memang bukan kewajibannya-- untuk menyeleksi produk-produk yang bermutu rendah. Makanya, sebagian pihak merasa terpanggil untuk melakukan proses seleksi atas komoditas yang dikuatirkan berekses negatif pada norma susila masyarakat. Dalam konteks itulah, BCG didaulat potensial menggoncang sendi-sendi “moral” masyarakat, khususnya kawula muda. Masuk akal!

Namun masih tersisa beberapa pertanyaan mendasar. Umpamanya: tidakkah di balik “misi mulia” itu tersirat pengandaian bahwa masyarakat mengidap sindrom ketidakdewasaan yang abadi, sehingga selalu memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk? Tentang moral kita bertanya: mengapa kepedulian dan reaksi kalangan agamawan terhadap kategori soal pornografi dan pornoaksi selalu lebih gesit dan lantang dibandingkan reaksi atas isu-isu moral kemanusiaan seperti penggusuran, diskriminasi, manipulasi, korupsi, dan lain sebagainya? Apa kita tidak sedang mengalami reduksi yang paling menakutkan atas makna moral itu sendiri? Pada akhirnya saya berharap, reaksi dan “keprihatinan nasional” atas kasus ini bukan bagian dari tontonan yang paling memprihatinkan tentang lakon reduksi massal atas makna moral. [Novriantoni]

Versi asli dapat dibaca di:
http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=649

Selasa, Ogos 24, 2004 | 0 ulasan

Blog Archives