28.1.05


Datin Paduka Sharifah Mazlina Syed Abdul Kadir

25.1.05

Si Mata Biru Mangsa Tsunami

Senin, 24 Jan 2005
Mata Biru Tinggal Separo
MEULABOH - Kawasan pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama ini populer dengan gadis-gadis cantik bermata biru, berkulit putih, dan berambut pirang. Mereka adalah keturunan Portugis yang sudah menetap beratus-ratus tahun di beberapa desa di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Akibat bencana tsunami, warga Aceh keturunan Portugis yang berjumlah 2.000 itu tinggal separonya. Mereka yang selamat kini tinggal di sejumlah tempat pengungsian.Menurut Tengku M. Yahya Wahab, banyak warga keturunan Eropa itu yang menetap di Desa Ujung Muloh, Gle Jong, Gampong Biru, dan Kuala. Setiap desa yang berada beberapa meter dari bibir pantai tersebut dihuni sekitar 1.000-2.000 penduduk. Warga bermata biru membaur bersama dengan penduduk asli Aceh. Membedakan warga keturunan dengan warga pribumi relatif tidak sulit. Warna kulit dan mata mereka berbeda. Tubuh mereka juga tinggi seperti orang Eropa. Yang menarik, meski berparas cantik, kebanyakan di antara mereka agak pemalu jika bertemu dengan orang luar. Mereka juga menolak difoto. "Karena sifat pemalu itu, mereka terkesan eksklusif," kata Tengku Yahya, warga Lamno yang menjadi anggota DPRD Aceh Jaya. Mereka kebanyakan menikah dengan sesama keturunan Portugis. Tapi, belakangan, beberapa gadis mata biru bersedia diperistri laki-laki dari luar komunitas mereka.Gelombang mahadahsyat tsunami mengurangi jumlah warga keturunan tersebut. "Kalau dihitung, kisarannya bisa mencapai separo dari sekitar 2.000 warga," kata Yahya yang ditemui wartawan koran ini di posko Satkorlak Penanggulangan Musibah Tsunami di Meulaboh.Jarak ke Lamno sebenarnya lebih dekat dari Banda Aceh (60 kilometer) daripada lewat Meulaboh (150 kilometer). Namun, kawasan itu masuk dalam teritori Korem 012/Teuku Umar yang berpusat di Meulaboh. Karena itu, penanganan pengungsi di Lamno dikendalikan dari Satkorlak di Meulaboh.Menurut Kepala Bappeda Pemkab Aceh Barat Tengku Irwansyah, nenek moyang si mata biru itu berasal dari Portugis dan Spanyol. Mereka adalah sisa-sisa tentara dinasti Islam di Spanyol (Al-Hambra). Mereka mengasingkan diri ke luar Eropa setelah kekaisaran runtuh pada abad ke-14. Sebagian tentara kalah perang itu kemudian terdampar di wilayah pantai barat NAD, khususnya di Lamno. Sebagian di antara mereka menaklukkan kekuasaan kerajaaan Hindu di Aceh (Indrapuri) dan mendirikan kesultanan Aceh yang berlatar Islam. Di Lamno, mereka mendirikan kesultanan Lamno. "Karena itu, selain cantik, gadis-gadis mata biru itu dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat, seperti warga Aceh lainnya," terang Irwansyah.Pindah ke LamnoKerusakan total seluruh fasilitas pemerintahan dan fasilitas umum di Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, membuat pelayanan pemerintahan nyaris mandek. Karena itu, pemerintah pusat berencana memindahkan sementara ibu kota kabupaten pecahan Aceh Besar tersebut ke Lamno.Menteri Koordinator Bidang Kesra Alwi Shihab menyampaikan hal itu ketika meninjau pembuatan empat tempat relokasi sementara di Banda Aceh serta Aceh Besar kemarin. Menurut mantan menteri luar negeri era Abdurrahman Wahid tersebut, salah satu pertimbangannya, fasilitas publik di Lamno relatif utuh. Meski, kota kecil itu kehilangan sekitar 12.400 penduduk akibat tsunami."Bencana membuat Calang seperti terisap ke laut, sehingga seluruh fasilitas publik hancur total. Menjadi lebih menguntungkan bagi kita bila ibu kota Aceh Jaya sementara dipindah ke Lamno. Tentunya kalau masyarakat Aceh Jaya menginginkannya. Bupatinya sudah tidak keberatan," jelas Alwi.Dengan pemindahan tersebut, kata dia, diharapkan operasional pemberian bantuan bagi korban bencana selama masa tanggap darurat menjadi lebih terorganisasi. Seperti diketahui, akibat bencana itu, Bupati Aceh Jaya Zulfian Ahmad terpaksa berkantor di tenda TNI akibat seluruh kantornya hancur. "Pemerintah daerah dan pemerintah pusat pada masa depan bisa memikirkan apakah akan tetap menggunakan Calang atau memperluas fasilitas publik di Lamno," ungkapnya.Berdasarkan data Satkorlak Penanganan Bencana Aceh, Kota Lamno masih memiliki infrastruktur yang memadai untuk menjadi ibu kota kabupaten. Di kota tersebut masih terdapat fasilitas pemerintahan, pendidikan, masjid, listrik, telekomunikasi, pasar, serta fasilitas publik lainnya. Saat ini, fasilitas-fasilitas itu menjadi kamp konsentrasi pengungsi dari Kecamatan Jaya, Sampoiniet, Setia Bakti, Krueng Sabe, serta Panga. Di kota yang saat ini hanya dijangkau 15 sorti (penerbangan) helikopter US Navy tersebut juga telah berdiri rumah sakit lapangan yang dikelola International Medical Corps dengan tenaga-tenaga medis asal AS. Rumah sakit yang dikepalai dr Jeffry Goodman itu mampu melayani 1.000 pasien rawat jalan per hari serta puluhan tempat tidur untuk pasien rawat inap. Rumah sakit tersebut juga menjalin kerja sama rujukan dengan rumah sakit lapangan yang dikelola ICRC (International Committee of the Red Cross) di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Setiap hari, pasien-pasien yang membutuhkan perawatan medis intensif serta tindakan operatif akan diterbangkan menggunakan helikopter ke RS ICRC. Saat ini juga telah dimulai pembangunan jembatan penghubung Lamno-Jantho di Kabupaten Aceh Besar yang memungkinkan pengiriman bantuan dari Banda Aceh dilakukan melalui jalur darat. Jembatan yang dikerjakan Korps Zeni TNI-AD tersebut direncanakan mulai bisa dioperasikan pekan pertama Februari mendatang. Berdasarkan data di Posko Induk Lamno, jumlah penduduk di Kabupaten Aceh Jaya sekitar 96 ribu jiwa. Di antara jumlah tersebut, 50.758 orang dinyatakan selamat dari musibah tsunami pada 26 Desember 2004. Sedangkan sekitar 45.200 orang dinyatakan menjadi korban. Saat ini, sekitar 46 ribu penduduk Aceh Jaya menghuni tempat-tempat pengungsian. Mereka berasal dari Kecamatan Jaya sekitar 10 ribu jiwa, Sampoiniet (8 ribu jiwa), Krueng Sabe (11 ribu jiwa), Panga (3.500 jiwa), Setia Bakti (3.500 jiwa), serta Teunom (10 ribu jiwa). (agm/noe)

20.1.05


askardera03

askardera02

Askar Britain dera tahanan Iraq




LONDON: Akhbar Britain semalam menyiarkan gambar penderaan dan serangan seksual banduan Iraq yang didakwa dilakukan oleh tentera negara itu serta menyifatkannya sebagai mengejut dan memualkan dalam skandal Abu Ghraib Britain.

Gambar itu didedahkan di Osnabrueck, Jerman, tempat mahkamah tentera Britain membicarakan tiga tenteranya atas tuduhan melakukan serangan dan memaksa banduan melakukan aksi seks.

Akhbar Guardian menyiarkan tajuk muka depan ‘Imej menggemparkan terbongkar dalam perbicaraan Abu Ghraib Britain’, rujukan terhadap kes penderaan hampir sama yang terbongkar tahun lalu di sebuah penjara kendalian Amerika di pinggir Baghdad.




Pendedahan gambar itu di Britain besar kemungkinan akan meningkatkan bantahan rakyat terhadap keputusan Perdana Menteri, Tony Blair, untuk menyertai Amerika menakluk dan menduduki Iraq.

Gambar muka depan akhbar Guardian itu menunjukkan seorang pegawai tentera Britain menumbuk banduan Iraq yang bahagian atas badannya dibungkus dengan jaring.

Akhbar lain turut menyiarkan lebih banyak gambar. Independent pula menyiarkan siri gambar muka depan dengan sebahagiannya menunjukkan dua banduan Iraq yang bogel didakwa dipaksa melakukan aksi liwat.

Tajuk lidah pengarang akhbar The Sun pula bertajuk ‘Aib tentera’.

“Negara ini hanya mengemukakan satu soalan hari ini. Bagaimana tentera Britain boleh membenarkan perkara amat buruk ini berlaku.”

“Kebenarannya di sini adalah hanya segelintir individu yang memberontak membenarkan diri mereka tenggelam ke martabat paling rendah. Tetapi ia bukan alasan.

“Kita sudah melihat penderaan dan penghinaan yang dilakukan tentera Amerika di penjara Abu Ghraib, tetapi tidak pernah terbayang tindakan sama berlaku di kem tentera Britain,” tulis pengarang akhbar The Sun.

Sementara itu, Blair berkata, Britain tidak akan bertolak ansur terhadap sebarang bentuk penderaan.

“Kami akan sedaya upaya memastikan bahawa kami tidak akan bertolak ansur terhadap sebarang bentuk penderaan mengikut prinsip prosedur,” kata jurucakap Blair yang memetik kenyataan perdana menteri itu semalam.




Tentera Britain dikerah ke rantau Basra di selatan Iraq dan mereka biasanya tidak memakai baju kalis peluru kerana keadaan di situ agak aman. – AFP

Akhbar Daily Mail dalam lidah pengarangnya menyatakan gambar itu amat menyakitkan hati serta mungkin menyebabkan reputasi Britain hancur. – AFP

Tiga anggota tentera elit Britain, Koperal Daniel Kenyon, Lans Koperal Darren Larkin dan Mark Cooley, menghadapi sembilan pertuduhan berkaitan dengan serangan, memaksa banduan melakukan aksi seks serta melanggar tatatertib angkatan tentera. AFP

18.1.05

Kisah ajaib Tsunami Aceh

Karomah dari Tanah Duka
Bermacam keajaiban dan kebesaran Allah, nampak di Aceh. Mulai dari besarnya gelombang sampai cara-cara selamat yang tak masuk akal.

Pagi itu, daerah Krueng Raya yang berada di pantai barat Privinsi Nanggroe Aceh Darussalam ramai. Seperti biasa. Perkampungan di garis pantai itu, dipenuhi anak-anak yang turun bermain di bibir laut. Di daerah itu pula, Taufik bin Ahmad tinggal bersama istri dan seorang anaknya.

Rumah sederhananya berdiri di samping sebuah meunasah, atau mushalla, An Nur. Di meunasah itu pula, Taufik bin Ahmad setiap malam sampai subuh mendirikan shalat tahajud dengan sujud-sujud panjangnya. Mengajar ngaji anak-anak kecil dari perkampungan pantai dan juga berdakwah. Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu, hari Ahad (26/12) langit juga cerah. Awan putih bergumpal dan berarak di langit biru. Tapi tiba-tiba bumi berguncang dengan kuatnya. Kepanikan, sesaat melanda penduduk perkampungan di garis pantai itu.

Tapi tak lama. Kepanikan yang mengepung segera sirna. Maklum, gempa memang bukan hal yang aneh pagi penduduk Serambi Mekkah ini. Tapi bukan karena itu saja, air pantai yang surut hingga lebih dari satu kilometer yang menyisakan ikan-ikan yang menggelepar di pantai begitu menggoda penduduk. Berduyun anak-anak dan juga orang dewasa, turun ke pantai yang garisnya sudah jauh surut. Mereka berebut ikan yang menari-nari di atas pasir.

Tapi, tidak dengan Taufik bin Ahmad. kepada SABILI ia mengaku perasaannya begitu ngeri melihat air surut dari pantai dengan cepatnya. Ia berteriak-teriak pada orang-orang untuk tak turun ke pantai. “Jangan. Jangan ke pantai,” pekiknya. Tapi tak ada yang hirau pada teriakan itu.

Ia berlari dan bilang pada istrinya, untuk segera menjauh dari pantai. Meski ia tak tahu apa yang bakal terjadi, perasaannya mengatakan ada yang tak wajar. Ia menyuruh istri dan anaknya untuk kembali ke rumah. Tak berapa lama, hanya dalam hitungan tak sampai beberapa menit ombak yang seperti tembok tingginya datang bergulung-gulung. Menggulung pantai, orang dan rumah-rumah. Taufik bin Ahmad pun terpisah dari anak dan istrinya.

Istri Taufik dan anaknya, masuk ke dalam meunasah. “Saya yakin, Allah tidak akan berbuat apa-apa dengan meunasah ini. Saya yakin, Allah akan menyelamatkan meunasah dan orang-orang di dalamnya,” ujar istri Taufik pada SABILI beberapa hari setelah badai usai.

Dan memang, meunasah itu tak apa-apa. Meunasah sederhana yang terbangun dari papan itu memang terbawa arus sampai beratus-ratus meter dari tempatnya berdiri semula. Begitu juga istri dan anak Taufik bin Ahmad. Dari dalam meunasah ia merasakan hantaman ombak tsunami, pusaran air yang menggulung-gulung. Tapi meunasah itu selamat, begitu juga anak dan istri Taufik bin Ahmad. Beberapa jam setelah air surut, suami, istri dan anak itu bertemu. Dengan selamat.

Padahal, tak jauh dari sana, masih di Krueng Raya, tangki-tangki Pertamina yang berukuran besar, dari besi dengan bobot berton-ton telah poranda. Bentuk aslinya telah hilang oleh gelombang tsunami yang menghantam. Meunasah kecil An Nur yang sederhana, adalah keajaiban Allah yang dituturkan oleh keluarga Taufik bin Ahmad, keluarga yang selamat di dalam rumah Allah itu.

Masih di Kreung Raya, keajaiban dipertontonkan pada manusia. Sebuah dayeuh atau pesantren, Darul Hijrah namanya, adalah saksi sekaligus penerima dari karomah yang luar biasa itu. Pesantren yang berdiri di tepi pantai itu cukup indah dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Tapi itu adalah pemandangan sebelum gelombang tsunami menghantam.

Meski pantai sudah tak seperti dulu lagi, Darul Hijrah masih tetap seperti semula. Dayeuh dengan enam bangunan yang terbuat dari rumah panggung papan itu bahkan tak bergeser sedikit pun. Puluhan santrinya selamat, tak kurang suatu apa.
Menurut keterangan santri dan penduduk sekitar, gelombang tsunami memang menerpa. Namun, tepat di sekitar dayeuh, arus gelombang seakan melemah. Bahkan gelombang seolah terbelah dan membiarkan dayeuh selamat dari terjangan tsunami. Padahal, sekali lagi, Pertamina yang tak jauh dari tempat itu, hanya berjarak beberapa kilometer saja, lantak oleh tsunami. Tangki-tangki besar yang berbobot mati berton-ton penyok, tak sesuai bentuk asalnya. Bahkan tangki-tangki itu tak berdiri di tempatnya semula.

Pesantren atau dayeuh lain yang selamat adalah Nasrul Muta’alimin, di kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Dayeuh yang berada hanya beberapa ratus meter saja dari laut yang menjadi pusat tsunami ini selamat tak kurang suatu apa. Begitu juga para santrinya, tak seorang pun menjadi korban. Menurut seorang santri, Halimah, yang ditemui SABILI, para penghuni pesantren mengamati terjangan tsunami sejak awal. Detik demi detik. Sementara itu, di dalam pesantren, seluruh santri dan guru berzikir tak putus dan memanjatkan doa tiada henti.

Dan alhamdulillah, doa mereka seakan terjawab. Gelombang air yang begitu dahsyat itu seolah terpisah saat sampai di Pesantren Nasrul Muta’alimin. Air hanya lewat dengan begitu tenang di bawah bangunan pesantren yang berbentuk rumah panggung. “Kami semua membaca al-Qur’an dan berdoa tak henti-henti ketika ombak laut datang,” ujar Halimah yang saat itu tak menyangka akan begitu banyak korban yang ditelan tsunami yang melintas di hadapannya.

Masjid Kreung Raya pun tetap utuh seperti sedia kala. Air memang sempat masuk ke bangunan masjid. Tak tak satu pun tiang atau sudut bangunan masjid ini yang roboh. Masjid ini masih berdiri kokoh di ujung muara kreung (sungai, Aceh). Jika melihat posisi masjid yang benar-benar nyaris di bibir pantai, rasanya mustahil bagi akal untuk menerimanya tetap berdiri tak kurang suatu apa. Allah memang telah memilih apa yang hendak diselamatkan, dan apa pula yang hendak dilumatkan.
Daerah garis pantai Kreung Raya memang menyimpan banyak cerita setelah tsunami reda. Di pantai itu pula ulama besar dari abad silam, Syiah Kuala dimakamkan. Makam yang indah di tepi pantai.

Di tepi pantai itu pula, dua malam sebelum bencana, menurut keterangan penduduk yang selamat, beberapa anggota Brimob yang beragama Kristen merayakan malam Natal. Acara cukup meriah, ujar seorang penduduk yang selamat. Tapi tak hanya perayaan Natal. Pada malam berikutnya, perayaan Natal berganti dengan pesta. Tak jelas, apakah orang-orang yang berada di tempat tersebut sama dengan orang-orang sebelumnya, tapi yang jelas, malam itu lebih meriah dengan malam sebelumnya.

Pesta api unggun hingga pagi hari. Tenda-tenda juga didirikan. Suara-suara perempuan terdengar oleh penduduk dari kejauhan. Entah sedang berlangsung pesta apa di pantai dekat makam Syekh Syiah Kuala itu. Pesta memang terus berlangsung hingga sinar matahari memecahkan gelap langit. Penduduk sekitar menceritakan, orang-orang tersebut bahkan masih berada di pantai saat gempa mengguncang. Peserta pesta semalam itu, dituturkan, terkaget-kaget juga saat air pantai surut hingga jauh ke laut. Mereka terbengong-bengong dan tak tahu apa yang terjadi.

Di saat seperti itulah, air datang. Tapi anehnya, menurut penduduk, air tak hanya datang dari arah laut. Air keluar dari arah makam. Air hitam, tinggi menjulang. Dan para peserta pesta pun terkepung. Dari depan mereka, arah laut, sebelum sempat sadar, gelombang dengan kecepatan setara jet komersial datang menghantam. Sedangkan dari belakang, air yang memancar tinggi, setinggi pohon kelapa dan juga bagai tembok, panjangnya menghalangi jalan keluar.

Benarkah cerita yang dituturkan penduduk Kreung Raya itu? Tentang air hitam yang keluar dengan dahsyat dari areal makam? Wallahu a’lam. Yang jelas, makam Syiah Kuala yang berusia ratusan tahun itu kini telah hilang, nyaris tak meninggalkan bekas di tempatnya.

Keajaiban dan karomah lain diperlihatkan lewat pemeran lain. Kali ini hewan-hewan, bukan manusia. Sebelum gempa dan gelombang tsunami menghantam, tanda-tanda yang disampaikan oleh alam dan hewan telah bertebaran. Kawanan burung putih terbang berarak-arak di langit kota Banda Aceh. Menurut kakek nenek dan orang-orang dulu, jika kawanan burung putih melintas di atas langit, akan ada bencana yang datang dari laut. Begitu juga jika air laut surut dengan cepat dari pantai. Orang tua dulu telah memberikan nasihat turun-temurun, jika air surut dengan cepat, depat-cepat lari naik ke hutan. Karena tak lama, ombak setinggi pohon kelapa akan segera datang.

Setelah bencana terjadi pun, keajaiban yang ditunjukkan oleh alam dan binatang juga terjadi. Mayat-mayat yang terbengkalai di mana-mana, hingga hari ini dikhawatirkan menimbulkan gelombang bencana susulan. Gelombang wabah kolera.

Tapi hingga hari ini, dua pekan lebih setelah hari bencana, belum diketahui ada korban selamat yang terjangkit kolera. Dan ini adalah keajaiban lain.

Keajaiban yang lain adalah, tak ada lalat-lalat yang mengerumuni mayat yang sudah pasti akan membantu cepatnya penyebaran virus atau bakteri kolera. Keheranan akal ini dicermati dengan teliti oleh dr. Mastanto dari Posko Keadilan Peduli Umat (PKPU). “Saya heran, benar-benar tidak ada lalat. Saya tak bisa membayangkan kalau lalat-lalat ada. Kolera pasti tak terbendung,” ujarnya.

Keajaiban dan karomah, kebesaran dan karunia Allah memang tak pernah absen dari kehidupan manusia. Asal kita pandai membaca tanda-tanda, kebesaran Allah selalu ada di mana-mana. Dan seharusnya, kebesaran itu pula yang akan membuat kepala kita kian tertunduk, hati dan jiwa kita kian mengerti bahwa hidup tidak lain kecuali untuk beribadah. Kepada-Nya.

Herry Nurdi

sabili cybernews 2004
Cipinang Cempedak III No.11A Polonia Jakarta Timur 13340

16.1.05

Link Berita - Kompas Cyber Media
















dompas@gmail.com mengirimkan bagi Anda sebuah link berita dari KOMPAS Cyber Media

yang berjudul :


Organisasi, Koordinasi, dan Komando Titik Lemah Penanganan Bencana Tsunami


Pengorganisasian, koordinasi, komando dan pengendalian adalah titik lemah dalam penanganan bencana di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.


dengan
pesan :


"
"








Copyright@
2002 KOMPAS Cyber Media, All right reserved privacy policy.




15.1.05


KARYA al-Muqatha'ah, iaitu catatan huruf-huruf tunggal khat Nasta'liq oleh seniman dari Iran dengan menggunakan buluh khaizaran.
Pena khat - Rahsia tulisan indah
KETIKA menatap lembaran khat yang indah, pernahkah kita bertanya, apa rahsia di sebalik keindahan karya itu? Antara rahsianya ialah pena yang terselit dicelah genggaman jari penulis.
Pena telah digunakan sejak ribuan tahun dahulu dalam tamadun manusia, sama ada untuk seni mahupun kegunaan umum. Pada zaman awal, ia berperanan sebagai alat melakar lukisan dan simbol pada dinding gua atau batu seperti inskripsi tulisan tamadun Sumeria, Mesir purba, Phoenix dan lain-lain.
Pena mengalami evolusi daripada melakar hingga kepada penggunaan tinta. Proses ini turut berlaku dalam penyalinan wahyu pada zaman Rasulullah s.a.w. Setiap catatan sama ada pahatan atau menggunakan tinta, termasuk dalam kategori penggunaan pena.
Lorekan pena yang tidak bertinta di atas bahan keras seperti batu atau lain-lain menghasilkan corak tulisan Arab yang tegak dan keras (Yabis). Sementara catatan pena bertinta di atas lembaran lembut menghasilkan tulisan yang lembut (Jaff).
Tulisan Cina yang bergaya bebas pula dihasilkan daripada pena berus bulu haiwan kerana ia sesuai dengan corak tulisan tersebut. Manuskrip al-Quran dari China unik kerana menggunakan pena yang dibalut dengan kain sutera. Pena menggunakan tinta digunakan secara meluas sehingga hari ini mungkin kerana ia membuka lebih banyak ruang untuk berseni atau aktiviti lain.
Dalam kecanggihan teknologi ICT, prinsip pena masih lagi dimanfaatkan misalnya dengan kewujudan pena elektronik yang dilakar di atas skrin komputer. Pena disebut di dalam al-Quran antaranya dalam surah al-Qalam, maksudnya: Nun. Demi pena dan demi apa yang mereka catatkan'' dan surah al-`Alaq, maksudnya:''Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang mengajar melalui perantaraan pena.
Allah s.w.t. membuat perumpamaan pena seperti dalam surah Luqman ayat 27: Seandainya pohon di bumi menjadi pena, dan lautan (menjadi tinta) ditambah kepadanya tujuh lautan sesudah keringnya, tidak akan habis kalimat Allah.''
Ayat ini menunjukkan kegunaan pohon sebagai pena. Pohon adalah dalam kategori tumbuhan. Daripada pengalaman dan kajian, didapati pena daripada tumbuhan jauh lebih baik daripada pena moden berjenama dan berharga ribuan ringgit. Inilah yang mendorong seniman khat untuk menggunakan pena daripada tumbuhan dalam penyalinan al-Quran sejak dahulu lagi.
Pena boleh dihasilkan daripada pelbagai bahan dan didapati di mana sahaja di muka bumi ini. Selain itu, bahan lain seperti kulit gandum, kulit padi dan sebagainya turut dijadikan mata pena. Ini memudahkan ia digunakan untuk menyalin ayat al-Quran dan kegunaan yang lain. Kemudahan ini menggalakkan manusia untuk mendalami rahsia ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. melalui ilmu dan penyalinan ayat-ayat-Nya.
Pena boleh diperbuat daripada pelbagai bahan sama ada tumbuhan atau logam. Namun pena yang diperbuat daripada tumbuhan ada keistimewaan yang tersendiri. Struktur rawan dan seratnya mampu menyerap dakwat secara semula jadi. Ia anjal dan membantu penulis untuk mengawal aliran tinta sewaktu membentuk huruf. Saiz mata penanya juga boleh diubah mengikut saiz huruf yang diperlukan. Banyak lagi keistimewaan pena tumbuhan selain daripada ini.
Pena tumbuh-tumbuhan lebih dekat dengan jiwa penulis. Keindahan tulisan terpancar daripada cahaya hati dan disalur melalui pena yang baik. Tidak hairanlah jika Plato sendiri pernah mengatakan, ``Tulisan adalah mekanisma jiwa yang dizahirkan melalui perkakas jasmani (pena).'' Selain khat, pena daripada tumbuhan juga baik untuk tanda tangan dan hasil kesenian lain yang mengkagumkan.
Bumi kita kaya dengan bahan yang baik untuk pena. Ini tidak menghairankan kerana Malaysia mempunyai `Green Gold' atau emas hijau.
Di antara tumbuhan hebat untuk pena di negara kita ialah handam atau resam. Ia adalah daripada sejenis pokok paku yang tumbuh meliar di tepi jalan, desa dan hutan. Ia amat diminati oleh seniman khat dari seluruh dunia. Malah ada yang merentasi ribuan batu demi mencari `pena emas' ini dan ada peniaga di negara mereka yang menjualnya dengan harga yang lumayan.
Keistimewaan ini membuatkan Black & Brown suatu ketika dahulu istiqamah untuk menyalin manuskrip Al-Quran Mushaf Malaysia beriluminasi penuh selama tiga tahun dengan menggunakan handam dan tidak tertarik untuk menggunakan pena khat biasa.
Pena
Selain handam atau resam, bilah daripada pohon ijuk yang amat keras dan kurus juga amat baik digunakan sebagai pena. Buluh juga tidak kurang pentingnya. Penulis khat di Asia Barat gemar juga menggunakan buluh untuk penulisan khat. Di Iran, penulis menggunakan sejenis buluh yang di panggil Khaizaran. Sejenis tumbuhan seperti bemban yang dipanggil Dusfuli turut menjadi pilihan mereka.
Jika manusia perlu diasah, pena juga perlu dibentuk dan diasah agar menjadi pena yang baik. Pena baru `dilatih' supaya benar-benar bersedia untuk tulisan. Biasanya penulis mempunyai beberapa jenis saiz mata pena. Saiz dan kecondongan mata pena amat penting dalam menentukan ketepatan khat.
Pena dan tinta disimpan dalam bekas yang tersendiri dan diasah dari masa ke masa. Malah ada penulis khat zaman dahulu `memulangkan' cebisan pena ke dalam tanah dan ada yang menyimpan baki pena penyalinan ayat al-Quran dengan baik demi menjunjung tinggi Kalam Allah s.w.t.
Antara petua mengasah pena ialah membentuk sisi mata seperti bentuk ikan. Antaranya lagi ialah memotong matanya mengikut kecondongan antara hujung jari telunjuk dan jari tengah. Kadar ukuran lilit batang pena juga turut menjadi ukuran untuk bahagian yang terlibat dalam meraut mata pena.(Lihat gambar di bawah)
Penggunaan pena ini tidak menolak kemajuan, bahkan ia menjadi satu elemen pemangkin pembangunan budaya sesebuah bangsa. Black & Brown berusaha mengembangkan dan memperkenalkan penggunaan pena kepada masyarakat. Kajian turut dijalankan supaya nikmat Allah s.w.t. melalui pena yang tidak ternilai ini akan dapat dihayati oleh semua.
* Artikel di atas adalah hak intelektual Black & Brown Resources Sdn. Bhd. Ia sebuah syarikat bumiputera yang berpengalaman dalam seni Islam, penerbitan dan pengiklanan selama 15 tahun dan pembinaan manuskrip al-Quran beriluminasi selama 10 tahun.
Tel: 03-61565660 Faks: 03-61565661 E-mel: sisipanseni@blackbrown.com.my
http://www.blackbrown.com.my

Sharifah Maslina disambut meriah

Sharifah Maslina disambut meriah
Oleh: ABDUL MUIN SAPIDIN

SEPANG 14 Jan. - Wanita Asia pertama berjaya merentasi Antartika secara solo, Datuk Paduka Sharifah Maslina Syed Kadir disambut meriah setibanya di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) hari ini.

Ketibaannya disambut oleh Timbalan Menteri Belia dan Sukan, Datuk Ong Tee Keat; Menteri Pengajian Tinggi, Datuk Dr. Shafie Mohd. Salleh dan Naib Canselor Universiti Teknologi Mara (UiTM), Prof. Datuk Seri Dr. Ibrahim Abu Shah.

Lebih 300 pelajar UiTM yang menunggu seawal pukul enam pagi bersorak sebaik sahaja Sharifah Maslina tiba dan dia turut menerima ucapan tahniah daripada wakil penaja dan kakitangan Kementerian Belia dan Sukan.

Beliau yang juga pensyarah Psikologi Sukan, Fakulti Sukan dan Rekreasi UiTM memulakan ekspedisi merentasi Antartika dengan kaedah ski sailing selama 22 hari bermula dari Kutub Selatan sehingga melepasi garisan penamat di Hercules Inlet pada pukul 10.45 malam, 29 Disember lalu.

Kejayaan itu lebih manis apabila pihak Ekspedisi dan Logistik Antartika (ALE), iaitu badan yang mengurus dan mengendalikan ekspedisi itu, turut mengiktiraf kejayaan beliau memecahkan rekod 24 hari yang dicatat sebelum ini.

Sharifah, 39, yang ditemui pada sidang akhbar menceritakan detik-detik sukar apabila terpaksa berdepan angin kencang dan ribut salji sehingga pada satu ketika beliau menangis dan hampir berputus asa.

``Saat paling kritikal itu berlaku pada hari ke-18 dan cukup pantas, dalam satu hingga dua saat semuanya berubah, ribut salji berlaku secara mengejut, permukaan laluan juga berubah sehingga saya tidak nampak apa-apa.

``Saya mula hilang kawalan dan tersungkur dengan salah satu ski terbenam dan sebelah lagi melintang keluar menyebabkan saya tidak dapat bergerak langsung,'' katanya.

Menurutnya, apabila keadaan mula reda, beliau mengerah tenaga yang ada untuk membuka kasut ski bagi membolehkannya bergerak tetapi angin ribut yang lebih hebat datang sekali lagi sehingga menyebabkannya melayang di udara.

``Saya terdengar bunyi `krek' pada lutut saya dan ia membuat saya berfikir kaki saya mungkin patah, ia terlalu sakit sehingga membuat saya menangis... saya mula ketakutan dan berfikir adakah patut saya teruskan ekspedisi ini.

``Tapi melihat logo-logo yang ada pada baju membuat saya berfikir betapa saya tidak boleh mengalah begitu sahaja, mengenangkan harapan besar seluruh rakyat Malaysia, saya gagahkan juga,'' ujarnya lagi.

Sementara itu, Tee Keat berkata, Sharifah Maslina akan dilibatkan dalam program bagi membentuk kekuatan minda di kalangan belia di negara ini.

Katanya, kementeriannya akan bekerjasama dengan UiTM untuk membolehkan beliau menjelajah ke seluruh negara untuk memotivasikan golongan belia.

Tsunami Aceh: Awasi Penipuan

Jumat, 14 Januari 2005 18:58:00
Penipuan dengan Dalih Minta Bantuan untuk Korban Tsunami Aceh


Bekasi-RoL-- Lama menjadi pengangguran, membuat Ahmad Jundi (22 tahun) nekad melakukan penipuan. Hal ini dilakukannya dengan memanfaatkan bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh.

Ahmad Jundi melakukan penipuan dengan mengaku-ngaku sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT). Kemudian ia berkeliling untuk meminta bantuan kepada warga di Jalan Siliwangi, Narogong, Bekasi Timur. Bantuan tersebut ia katakan akan diberikan bagi korban gempa dan tsunami di Aceh.

Untuk meyakinkan warga setempat, dalam aksi tersebut ia mengenakan jaket almamater Universitas Terbuka. Masyarakat yang merasa terusik dan curiga dengan aktivitas tersangka, kemudian melaporkan tindakan tersebut ke Polsek Bekasi Timur.

Mendapat laporan tersebut, petugas langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas pun lantas membawa dan mengamankan tersangka. Dari tangan tersangka, polisi berhasil menyita barang bukti berupa uang sebesar Rp 96.500 dan sebuah jaket almamater.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Bekasi Timur, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Sambodo, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia juga menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap aksi penipuan yang berkedok bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Aceh.

Sambodo juga mengatakan bahwa aksi pengumpulan bantuan tersebut seharusnya mendapat ijin dari Dinas Sosial. Ia pun berharap Dinas Sosial dapat lebih menertibkan aksi-aksi tersebut. c26


Umat Islam Aceh, pasukan keselamatan, sukarelawan dan para wartawan mendirikan solat Jumaat di Masjid Baiturrahman di Banda Aceh yang tidak terjejas strukturnya semasa bencana tsunami melanda wilayah itu 26 Disember lalu dan mengorbankan kira-kira 250,000 penduduk.
Masjid berusia lebih 300 tahun itu yang menjadi simbol Banda Aceh, sebelum ini tidak dapat digunakan untuk solat Jumaat berikutan bencana tersebut.
Dalam khutbahnya, imam besar masjid berkenaan, Muhammad Daud Zamzuri berkata: ``Bencana gempa bumi dan ombak tsunami itu merupakan hukuman Allah ke atas kita semua.''

Yatim Aceh: Selamatkan Aqidah Mereka

MUI desak yayasan Kristian pulangkan anak yatim Aceh
Daripada: ZULKIFLEE BAKAR

JAKARTA 14 Jan. - Majlis Ulama Indonesia (MUI) mendesak sebuah yayasan Kristian yang berpusat di Virginia, Amerika Syarikat (AS) memulangkan segera 300 anak Aceh yang dibawa keluar dari wilayah itu semasa bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Disember lalu.

Setiausaha Agung MUI, Din Syamsuddin menegaskan kesemua anak Aceh yang kini diasuh oleh yayasan itu dan sebahagiannya sudah berada di luar Jakarta perlu dikembalikan ke wilayah asal mereka melalui saluran pemerintah.

``Jika permintaan ini diabaikan kami akan bertindak lebih tegas kerana kami mempunyai nama pemimpin kelompok yang membawa anak-anak tersebut,'' katanya seperti dipetik detik.com hari ini.

Beliau mengulas tindakan Yayasan WorldHelp yang mengaku telah membawa 300 anak yatim Aceh, mangsa bencana gempa bumi dan ombak tsunami ke Jakarta.

Yayasan ini mempunyai rangkaian di Jakarta yang mengelola rumah anak yatim.

Dalam laporan akhbar Washington Post, 13 Januari lalu yayasan tersebut menyatakan bencana besar di Aceh memberi peluang kepada mereka membawa anak-anak Aceh yang sebahagian besar berumur di bawah 12 tahun keluar dari wilayah itu untuk ditukarkan agama mereka.

Ini kerana, menurut yayasan itu, pada waktu biasa Aceh tertutup untuk orang asing dan penyebar agama.

``Mereka trauma, yatim-piatu, tidak punya rumah, tidak tahu mahu pergi ke mana dan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan,'' kata WorldHelp seperti dipetik akhbar harian Republika hari ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum ini mengeluarkan larangan mana-mana pihak membawa keluar anak yatim Aceh dari wilayah itu semasa isu penculikan dan perdagangan anak tersebar luas.

Din seterusnya menjelaskan kes seumpama itu tidak boleh dibiarkan kerana akan menjadi isu serius kepada umat Islam.

``Kami mengetahui 300 anak Aceh yang diambil oleh kelompok fundamentalis Kristian yang dibiayai oleh WorldHelp ini sudah berada di luar Jakarta,'' kata Din lagi.

MUI juga kata Din menyeru pemerintah bertindak tegas mengusir WorldHelp dan organisasi asing lainnya yang menggunakan dalih memberikan bantuan kemanusiaan di Aceh tetapi sebaliknya mempunyai tujuan lain.

WorldHelp yang dikatakan telah mengumpulkan sumbangan sebanyak RM1.3 juta untuk bantuan ke Aceh mengaku mendapat izin pemerintah Indonesia untuk membawa keluar anak-anak Aceh.

Yayasan itu yang ditubuhkan pada 1991 kini mempunyai 100 tenaga kerja di AS dan sejumlah aktivis di 50 buah negara.

Selain WorldHelp beberapa pertubuhan seperti WorldVision, Catholic Relief Services and Church World Service dan Advancing Native Missions (Charlottesville, AS) dikatakan telah berada di Aceh untuk menyebarkan agama Kristian.

Sementara itu, jurucakap Kementerian Luar Indonesia, Marty Natalagawa menegaskan, pemerintah Indonesia tidak pernah mengeluarkan izin untuk WorldHelp membawa keluar anak-anak Aceh.

Sehubungan itu, katanya, pihaknya akan mendapatkan penjelasan daripada WorldHelp melalui Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Syarikat. - Utusan

14.1.05


PARA sukarelawan menyembahyangkan mayat-mayat mangsa tsunami yang dikumpulkan di atas sebuah trak di Banda Aceh semalam. - AFP.

13.1.05

Ari Afrizal: 15 hari di Lautan Hindi




KLANG 12 Jan. - Ari Afrizal Samsuddin, orang hanyut Aceh yang diselamatkan oleh sebuah kapal dagang setelah terapung selama 15 hari di Lautan Hindi kelmarin, hari ini menerima berita gembira.
Sebahagian daripada keluarganya di Aceh terselamat daripada tsunami.
Malam tadi, perasaannya masih pilu teringat kampung halamannya yang musnah sama sekali akibat ombak besar itu.
Khabar gembira itu dimaklumkan oleh pihak Kedutaan Indonesia yang mengatakan ibu dan dua orang adik-beradiknya terselamat daripada malapetaka tersebut. Mereka kini berada di Desa Kabung, Krueng Sabee, Aceh Jaya.
Namun, perasaan sedih bercampur sugul tetap tergambar di wajahnya apabila nasib bapanya, Samsuddin, 60, abangnya, Fikri, 24, dan adik bongsunya, Mona, 15, masih belum diketahui.
Ari Afrizal, 22, yang masih dirawat di Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) berkata, ibunya, Rayah, 40-an bersama abangnya, Mahaya, 26, dan adiknya Mahruzal, 18, berjaya menyelamatkan diri pada hari kejadian walaupun telah dihanyutkan ombak.
``Saya sangat gembira apabila mendapat berita ibu, abang Mahaya dan adik Mahruzal selamat,'' katanya ketika ditemui pemberita di HTAR di sini.

12.1.05


KAMARUIDDIN MAPE (dari kiri) dan Zainal Ariffin Ismail menemu bual Mohd. Nasir Abas, Jaafar Anwarul, Shamsul Bahri Hussein dan Amran Mansor dalam wawancara khas TV3 malam tadi.

11.1.05

Binaan rumah ibadat lebih kukuh

Forum

Binaan rumah ibadat lebih kukuh
Saudara Pengarang,
SESUNGGUHNYA bencana tsunami yang melanda kawasan Asia pada 26 Disember lalu banyak memberikan pengajaran kepada mereka yang mampu berfikir secara rasional. Dalam al-Quran ada banyak ayat-ayat yang dimulai dengan ``tidakkah engkau berfikir?'' Oleh itu ternyata Allah menghendaki kita menggunakan pemikiran apakah implikasi di sebalik musibah tersebut.

Dari gambar-gambar yang disiarkan melalui akhbar terhadap kerosakan di Aceh di dapati ada banyak terdapat masjid yang terselamat dari ombak besar itu misalnya masjid Baiturahman di Banda Acheh. Begitu juga ada masjid-masjid lain yang tidak terjejas walaupun kawasan di sekitarnya menjadi `padang jarak padang tekukur'. Akibatnya ramailah yang menganggap masjid itu sebagai Rumah Allah dan Allah telah menyelamatkan rumah-Nya.

Secara logiknya kalau kita bersedia menggunakan pemikiran yang rasional kita tentu tertanya-tanya juga tentang beberapa kejadian lain yang serupa. Misalnya di Sri Lanka terdapat beberapa buah kuil Hindu yang tidak terjejas; di Thailand ada pula Wat Siam yang turut tidak diganggu oleh ombak tsunami dan di beberapa tempat lain ada patung Buddha dan salib Kristian serta gereja yang juga terselamat walaupun kawasan sekelilingnya rosak teruk.

Semua binaan-binaan itu terletak dekat dengan pantai. Kita tentu akan tertanya-tanya apakah kuil Hindu, patung Buddha dan gereja itu juga sebagai rumah Allah dan Allah menyelamatkan rumah-Nya ?

Kalau kita bersedia melihatnya secara yang lebih terperinci kita akan dapati bahawa struktur binaan rumah-rumah ibadat tersebut didirikan dalam bentuk yang lebih kukuh daripada binaan rumah-rumah di sekitarnya. Masjid Baiturahman di Aceh itu misalnya sudah lebih dari 700 tahun dibina.

Ternyata struktur pembinaannya sangat teguh untuk menghadapi ombak yang sangat besar itu. Begitu juga rumah-rumah ibadat agama lain yang turut tidak terjejas. patung Buddha itu terselamat kerana ia dibuat daripada konkrit atau logam yang sangat berat dan teguh. Oleh itu memang wajar kalau binaan-binaan tersebut tidak menghadapi kerosakan bila ombak tsunami melanda. Ternyata bukan masjid saja yang terselamat.

Marilah kita membuka mata dan bersedia melihat suasana di keliling kita dengan menggunakan pemikiran yang Allah s.w.t. kurniakan kepada kita sebaik mungkin. Janganlah kita hanya melihat apa yang ada di kawasan kita saja tanpa mempedulikan tempat lain.

Sesungguhnya Islam itu rasional dan Allah s.w.t. tidak menyuruh hamba-Nya berfikiran subjektif sehingga menjadi jumud dan tidak bersedia berkongsi pengalaman dengan orang asing yang tidak sehaluan dengan kita. Subhanallah. - HAMBA ALLAH RASIONAL, Nashville, Amerika Syarikat.

Sekolah masih dipenuhi pelarian
ACEH BESAR 10 Jan. - Sekolah mula dibuka semula di seluruh kawasan yang dilanda tsunami di Aceh hari ini tetapi ramai pelajar yang masih dihantui bencana itu menjauhkan diri dari pekarangan sekolah yang dipenuhi pelarian.
Sebilangan pelajar yang hadir meninggalkan kelas-kelas biasa untuk menyertai majlis membaca doa beramai-ramai.
Pegawai Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) menganggarkan separuh daripada 104,000 korban di Sumatera adalah kanak-kanak.
Gegaran-gegaran susulan berikutan gempa bumi 9.0 pada skala Richter pada 26 Disember lalu menakutkan mangsa yang terselamat dan menjejaskan usaha kerajaan untuk memulihkan keadaan terutamanya bagi kanak-kanak.
``Dengan membuka semula sekolah, kami hanya cuba menceriakan kanak-kanak. Mereka dalam keadaan sangat bersedih,'' kata Guru Besar Sekolah Rendah Guegajah, Sutrisni di Aceh Besar, tiga kilometer ke barat Banda Aceh.
Hanya separuh daripada 130 pelajar di sekolah itu berhimpun di dalam dua bilik darjah yang tidak diduduki oleh keluarga-keluarga yang hilang tempat tinggal.
Pelajar beruniform itu yang disertai oleh kira-kira 60 anak pelarian membaca ayat-ayat suci al-Quran.
Guru akan kembali mengikuti kurikulum kerajaan dalam masa beberapa minggu akan datang, kata Sutrisni.
``Hari ini kami hanya mengajar mereka membaca doa pada waktu sukar ini,'' katanya.
Kerajaan hari ini menyatakan sejumlah 420 buah sekolah musnah dan 1,000 orang guru terbunuh di Aceh. - AP

Tsunami: Zulkifli sebak terima bantuan RM100,000
BALIK PULAU 10 Jan. - Zulkifli Mohd. Noor, yang kehilangan lima orang anak sekelip mata dalam tragedi ombak besar tsunami tidak dapat menahan rasa sebak dan hiba sebaik sahaja menerima bantuan ehsan wang tunai berjumlah RM100,000 hari ini.
``Saya tak mahu sikit pun duit ini, (sebaliknya) saya akan berikan (peruntukan) kesemuanya untuk dua orang lagi anak saya yang tinggal demi masa depan mereka.
``Terima kasihlah kepada kerajaan,'' kata pemandu bas kilang berusia 42 tahun itu dalam nada suara tersekat-sekat ketika ditanya pemberita mengenai wang yang diterimanya dari Tabung Bantuan Mangsa Tsunami Malaysia itu.
Zulkifli sebelum itu menerima akaun Bank Simpanan Nasional (BSN) bernilai RM100,000 daripada Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak pada satu majlis penyampaian bantuan wang ehsan kepada waris 36 lagi mangsa tsunami yang turut terkorban.
Majlis yang diselubungi kesedihan di kalangan mereka yang hadir itu berlangsung di Dewan Perda, Teluk Kumbar di sini petang ini, sejurus selepas Najib pada sidang akhbar di Kuala Lumpur mengumumkan bantuan sebanyak RM20,000 untuk setiap mangsa yang terkorban akibat bencana itu.
Dalam tragedi 26 Disember lalu, Zulkifli dan isterinya, Jamilah Majid, 39, tidak sempat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan lima daripada tujuh anak mereka setelah dipukul dan dihanyutkan ombak besar ketika berkelah di Pantai Pasir Panjang, Pulau Betong di sini.
Walaupun pasangan itu cuba menyelamatkan anak mereka, namun ombak besar secara tiba-tiba itu menyebabkan mereka hanya mampu melihat kelima-limanya hilang dibawa arus.
Lima anak Zulkifli yang terkorban ialah Siti Nurain, 17, Mohd. Shukri, 12, Siti Nur Shuhada, 10, Siti Nur Atikah, 9 dan Siti Suraya, 5.
Anak yang terselamat ialah Siti Fairuz, 16, dan Siti Zulaikha, 1.
Zulkifli turut kehilangan anak saudaranya, Erdawati Shamimi, 23, dalam kejadian itu, yang hamil enam bulan.
Pihak media yang menemu bual Zulkifli selepas majlis petang ini tidak sanggup meminta beliau meneruskan komennya berikutan keadaannya yang terlalu sebak.
Pemandu bas kilang itu juga kelihatan masih belum pulih dari kecederaan di bahagian pinggang yang dipercayai dialaminya ketika berhempas-pulas untuk menyelamatkan anggota keluarganya dalam kejadian tersebut.

ANDA ACEH 10 Jan. - Lebih 200 anak-anak yatim Aceh mangsa tsunami yang mengorbankan ibu bapa mereka di dua pusat perlindungan di sini sedang menghadapi krisis kebuluran.

Anak-anak itu yang berusia antara setahun dan 13 tahun, hanya menjamah makanan dua kali sehari iaitu roti pada pagi dan nasi pada petang.
Pada malam, mereka terpaksa berlapar. Ramai yang menangis, tetapi rumah kebajikan itu tidak boleh berbuat apa-apa. Bekalan makanan amat terhad.
Kanak-kanak itu yang kelihatan masih keliru kerana kehilangan sanak saudara dan orang yang paling dikasihi, buat masa ini berada dalam lindungan Pesantren Babul Maghrifah dan Babul Najah di Cot Keueung, Kuto Baro di sini.
``Jika kami tidak mendapat bekalan makanan dan kelengkapan memasak selewat-lewatnya minggu depan, anak-anak yatim ini akan kebuluran.
``Sekarang pun bekalan kami semakin berkurangan,'' kata Timbalan Pengurus kedua-dua pesantren tersebut, Umi Sapura Abu Bakar dalam nada sebak kepada Utusan Malaysia di sini hari ini.
Walaupun pelbagai usaha dilakukan oleh pihak pengurusan pesantren (madrasah) bagi mendapatkan bekalan makanan dan peralatan memasak daripada pasukan bantuan, namun segala-galanya tidak berhasil.
Ini berpunca daripada kerenah birokrasi di pusat pengumpulan dan pengedaran makanan di Pengkalan Udara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang.
Utusan Malaysia difahamkan bukan sahaja kedua-dua pesantren itu, malah beberapa penempatan mangsa tsunami yang mempunyai anak-anak yatim turut menghadapi pelbagai masalah termasuk terpaksa berasak-asak dalam khemah yang sempit.
Umi Sapura membuat kenyataan itu bukan sekadar rekaan tetapi ia adalah fakta dan ini terbukti apabila beras seberat 70 kilogram yang diserahkan oleh wakil kerajaan Malaysia kepada mereka semalam sudah habis dimasak kepada anak-anak yatim itu.
Menurut Umi Sapura, bekalan makanan di situ bukan sahaja untuk anak-anak yatim tersebut malah untuk hampir 3,000 lagi mangsa tsunami yang turut berlindung di kedua-dua pesantren berkenaan selepas kehilangan tempat tinggal berikutan bencana itu.
``Kami sudah berusaha sedaya-upaya untuk mendapat bekalan makanan daripada pasukan bantuan tetapi semua gagal, kesudahannya anak-anak yatim semakin kelaparan kerana kita terpaksa mengurangkan jumlah makan seharian,'' katanya.
Ketika masalah makanan masih menghantui pesantren itu, anak-anak yatim berkenaan berhadapan dengan satu lagi keadaan apabila pihak berkuasa tidak menyediakan sebarang khemah untuk mereka, akibatnya kesemua mereka terpaksa berhimpit-himpit dalam bilik asrama yang ruangnya terlalu sempit.
Bilik yang pada asalnya hanya layak diduduki oleh enam orang kini didiami oleh 12 orang dan mereka juga tidak menukar pakaian sejak hari pertama memasuki pesantren itu pada 27 Disember lalu.
Lebih menyedihkan mereka tidur tanpa tilam, bantal mahupun selimut. Apa yang ada pada mereka hanyalah baju yang dipakai dan diganti sejak dua minggu lalu. - Utusan

9.1.05

`Kekebalan' masjid kebesaran Tuhan

`Kekebalan' masjid kebesaran Tuhan
Oleh Siti Mariam Md. Zain


KEBESARAN Tuhan! Itulah hakikat yang dapat dilihat di sebalik kehancuran ketamadunan manusia akibat tragedi tsunami yang menyerang dunia khususnya negara-negara Asia pada 26 Disember lalu.

Biarpun di kawasan yang ditimpa bencana, hampir seluruh bandarnya musnah dan ratusan ribu nyawa terkorban, namun masjid-masjid masih berdiri megah.

Lebih menakjubkan, ada di antaranya seolah-olah langsung tidak disentuh walaupun banyak bangunan di sekelilingnya runtuh menyembah bumi sekelip mata.

`Kekebalan' masjid-masjid berkenaan bukan sahaja memberi peluang kepada ratusan ribu mangsa untuk berlindung, malah menginsafkan mereka yang masih hidup.

Keadaan yang sama juga berlaku di Turki dan Iran (Bam) tahun lalu apabila masjid yang terlibat dalam gempa bumi tetap utuh.

``Itulah kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa taala. Dia mampu melakukan apa sahaja yang dikehendaki-Nya,'' kata Mufti Perak, Datuk Seri Harussani Zakaria.

Walaupun wujud dakwaan mengatakan kemusnahan yang diturunkan itu mempunyai kaitan dengan kejahatan yang dilakukan oleh manusia, tetapi perkara itu hanya Tuhan yang lebih mengetahuinya.

``Apa sahaja bencana yang berlaku merupakan ujian Allah.

``Sama ada mereka membuat dosa atau tidak, kalau Tuhan hendak menurunkan bencana atau bala, Dia akan melakukannya.

``Maknanya setiap manusia tidak akan terlepas daripada melalui ujian tidak kira dalam apa sahaja bentuk,'' katanya.

Dalam soal ini jelas Harussani, Tuhan tidak menetapkan untuk menurunkan bala hanya kepada umat manusia yang terlupa kepada tanggungjawab mereka sahaja.

``Bagi orang yang beriman, mereka akan mati syahid dan masuk syurga tetapi kepada yang melakukan dosa, tempat mereka ialah di neraka,'' kata beliau lagi.

Menurut Harussani, keadaan itu sama seperti melihat masjid-masjid yang terselamat daripada bencana.

``Ada juga masjid yang musnah apabila ditimpa bencana. Kemusnahannya mungkin kerana ia didirikan atas sebab-sebab tidak baik seperti untuk menunjuk-nunjuk atau angkuh dan sebagainya,'' jelasnya.

Tambah beliau, kesan daripada bala yang diturunkan oleh Tuhan sebenarnya adalah terhadap manusia yang masih hidup.

``Sebab itu adalah wajib bagi kita menghulurkan bantuan untuk mengembalikan semula kehidupan normal mereka,'' katanya.

Sesungguhnya banyak kejadian yang boleh dijadikan iktibar kesan daripada peristiwa mengejutkan dunia itu.

Kemusnahan yang menimpa Banda Aceh, iaitu tempat paling teruk menerima tamparan tsunami, juga tidak menunjukkan kesan ada masjidnya yang rosak teruk.

Ombak besar yang memusnahkan beratus-ratus rumah di Kampung Kaju yang terletak berhampiran kawasan itu, hanya menyebabkan masjidnya mengalami keretakan kecil di bahagian dinding.

Keadaan yang sama berlaku di Pasi Lhok, kira-kira 20 kilometer dari utara bandar Sigli apabila penduduk di lima buah kampung terpaksa mendapatkan perlindungan di masjid setelah bangunan lain musnah.

Di Sigli sendiri, sebuah masjid yang hanya didirikan daripada kayu juga terselamat.

Begitu juga masjid-masjid di Meulaboh yang terletak di pantai barat Sumatera.

Jarak yang hanya kira-kira 150 kilometer dari pusat gempa bumi dan mengorbankan sekurang-kurangnya 10,000 nyawa, tidak menggugat masjid-masjid di kawasan itu.

`Kehebatan' masjid-masjid yang mampu melawan serangan ganas tsunami menyebabkan ia kini dijadikan tempat perlindungan dan berurusan masyarakat tempatan.

Bahkan Masjid Baiturrahman iaitu masjid utama di Banda Aceh sendiri telah berubah sebagai `rumah sementara' paling selamat bagi mangsa-mangsa tsunami.

Dalam al-Quran, kisah rumah Allah dilindungi bencana berlaku pada zaman sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Gabenor Parsi, Abraha yang memerintah Yaman datang bersama tentera bergajah untuk menghancurkan Kaabah ketika itu.

Bagaimanapun pada masa yang sama, Allah telah mengerahkan burung Ababil menyerang tentera-tentera Abraha sebelum mereka dapat menghampirinya.

Di Aceh sahaja, lebih 100,000 penduduknya terbunuh akibat tsunami setakat ini.

Sejarah mencatatkan, Aceh sebenarnya mempunyai latar belakang yang amat rapat dengan kegemilangan Islam itu sendiri.

Dikenali sebagai Serambi Mekah, di situlah bermulanya Islam di rantau ini.

Indonesia pula adalah negara yang mempunyai paling ramai umat Islam di dunia.

Menyaksikan begitu banyak kejadian luar biasa sejak akhir-akhir ini, termasuk perang yang tidak berpenghujung dan turunnya salji di negara Arab yang dikenali sebagai kawasan panas dan bergurun, ada yang mengaitkannya dengan ketibaan kiamat.

``Untuk menentukan bila berlaku kiamat adalah di luar kemampuan kita. Mungkin kita boleh kata bahawa ketika ini dunia dah nyanyuk,'' kata Dr. Anisah Abdul Ghani.

Pensyarah di Jabatan Siasah Syariah Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya itu bagaimanapun tidak menafikan tindak-tanduk manusia yang semakin menyimpang daripada ajaran Tuhan yang sebenarnya menyumbang kepada berlakunya bencana.

``Apa yang harus kita ingat ialah, bala Allah tidak pernah mengenal bulu. Jika bala ditimpakan di sesuatu tempat, bukan sahaja mereka yang melakukan dosa menerima akibat tetapi apa sahaja kehidupan yang ada di situ,'' ujarnya.

Keadaan itu berbeza apabila Tuhan mahu memberikan nikmat kerana hanya individu yang khusus akan menerima rahmat-„ya.

Menyentuh hakikat kebesaran Tuhan, Anisah berpendapat, setiap kejadian pasti mempunyai alasan yang tersendiri.

``Memang kita katakan tsunami ini kejadian alam, tetapi kita kena kaitkan juga dengan sikap manusia. Mungkin Allah memberi peringatan kepada kita,'' katanya.

Atas faktor tersebut, tegas Anisah, menyebabkan pentingnya setiap lapisan masyarakat memainkan peranan mereka dengan berpesan-pesan sesama sendiri.

``Ini adalah amaran Tuhan bahawa ada kuasa yang mampu melakukan apa sahaja.

``Kerana itu manusia perlu sentiasa sedar dan mengelak diri daripada menerima kemurkaan Allah,'' kata beliau lagi.



Menyumbang atau membuang sampah?

Menyumbang atau membuang sampah?
Oleh NOOR AZAM SHAIRI


KETIKA kemuncak zaman reformasi di Indonesia beberapa tahun lalu, penyair dari tanah seberang, Taufik Ismail menulis: ``Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada/tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang/ menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.''

Sajak yang ditulisnya pada tahun 1998 itu bertajuk Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Ketika kita di negara ini dihadapkan dengan bencana dan krisis kemanusiaan yang parah di Aceh, potongan sajak itu semacam boleh dilemparkan ke muka kita sendiri.

Kita seharusnya mula belajar malu menjadi orang Malaysia.

Agensi berita Associated Press Khamis lalu menyiarkan satu laporan ke seluruh dunia yang seharusnya membuatkan kita merah padam muka.

``Sebahagian rakyat Malaysia menderma `sampah' untuk mangsa tsunami di luar negara,'' jerit tajuk berita pendek itu.

Kita tidak boleh mengatakan ini laporan jahat media asing. Berita yang merosakkan ini adalah apa yang sebenarnya berlaku, bukan sesuatu yang sengaja diada-adakan.

Kita tidak boleh juga menyalahkan para sukarelawan yang mendedahkan berita itu kepada umum. Mereka sudah cukup terbeban dengan kesibukan menangani usaha-usaha kemanusiaan akibat daripada bencana 26 Disember itu.

Carian di Internet menunjukkan berita itu dipetik oleh sekurang-kurangnya sebuah akhbar luar, The Hindustan Times di India.

Seorang pembaca akhbar itu di New Delhi memberikan komennya: ``Sungguh menyedihkan! Betapa tidak sensitifnya orang mendermakan barang-barang yang tidak berguna.''

Tidak malukah kita menjadi rakyat Malaysia dengan berita buruk itu?

Ketua Pegawai Operasi Persatuan Bantuan Perubatan (Mercy) Malaysia, Shareen Shariza Abdul Ghani memberitahu sesetengah barangan yang dihantar oleh orang ramai itu tidak ada langsung gunanya untuk masyarakat yang terlibat dalam bencana itu.

``Ada yang menghantar pakaian yang sudah koyak, pakaian dalam, trofi dan plak cenderamata,'' katanya.

Malah bayangkan saja: Apakah maknanya baju tidur yang menjolok mata kepada mangsa-mangsa bencana yang cukup menderita itu?

Apakah orang yang tidak bertanggungjawab itu mahu berlawak jenaka atau mereka sebenarnya gagal memahami penderitaan dan krisis kemanusiaan yang semakin buruk dari hari ke hari ini?

Mereka itu bukan saja memberi nama buruk kepada negara malah menyusahkan para sukarelawan yang bekerja mengejar masa. Bayangkan saja berapa banyak masa yang terbuang untuk mengasing-asingkan sampah-sampah itu.

``Timbunan barangan yang boleh dikatakan sampah itu sama tingginya dengan pakaian yang kami longgokkan untuk dihantar ke luar negara,'' kata Shareen.

Sikap tidak bertanggungjawab sebilangan ahli masyarakat yang menjadikan pusat pengumpulan bantuan itu sebagai `tapak pembuangan sampah' itu hanya menambahkan beban mereka yang sedia ada.

Ini bukanlah kali pertama orang kita menelanjangkan sikap buruk mereka di khalayak ramai.

Di majlis jamuan rumah terbuka pemimpin negara dan juga majlis yang sama anjuran kerajaan sempena hari perayaan pun ceritanya sama.

Orang berebut-rebut mengambil makanan seperti kebuluran. Apa yang lebih menyakitkan mata ada yang membungkus makanan yang disajikan untuk dibawa pulang makan bersama ahli keluarga.

Pada lapis yang lain, ada baiknya juga kita dikejutkan dengan berita seumpama ini. Kempen berbudi bahasa yang akan dilancarkan oleh Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan sebelum akhir bulan ini adalah sesuatu yang sebenarnya sangat diperlukan oleh masyarakat negara ini.

Adalah sesuatu yang malang; kita perlu diajar tentang hal-hal yang sepatutnya sudah boleh diselesaikan di peringkat keluarga. Tetapi itulah realiti wajah buruk masyarakat kita.

Jumlah mereka tidak ramai tetapi yang sedikit itulah yang menyebabkan kita malu menjadi orang Malaysia.

Masyarakat Aceh akan bangkit semula

Masyarakat Aceh akan bangkit semula
MINGGUAN: Bagaimana Tan Sri melihat proses pembangunan semula selepas ini?

SANUSI: Apa yang penting sekarang ialah tempat kediaman serta infrastruktur dan kemudahan asas termasuk sistem komunikasi, jalan raya, sekolah dan hospital. Jabatan kerajaan juga perlu digerakkan semula kerana banyak juga pegawai daerah dan penghulu yang terkorban. Hal-hal itu menjadi tanggungjawab kerajaan Indonesia sekarang.

Saya juga dapat tahu bahawa separuh daripada cerdik pandai dan tenaga profesional termasuk guru dan doktor yang ada di Aceh meninggal. Saya percaya kekurangan tenaga ini boleh ditampung oleh Indonesia. Tetapi kalau ada kemampuan dari negara-negara lain termasuk Malaysia kita boleh memberikan bantuan.

Memandangkan penguasaan bahasa Inggeris masyarakat di Aceh lemah, tidak dapat tidak ia akan banyak bergantung sama ada daripada Malaysia atau Indonesia. Harapan mereka kepada kita ialah kerana faktor bahasa. Kita juga dihubungkan oleh faktor keturunan dan agama.

Apakah keutamaan sekarang?

SANUSI: Air dan ubat-ubatan. Hal-hal ini sedang diuruskan oleh beberapa pihak dan perlu sampai ke sana dengan banyak dan segera. Tentang ubat-ubatan, ia tentulah memerlukan nasihat daripada doktor-doktor dan pasukan bantuan perubatan yang berkhidmat di sana.

Di Medan, ada sebuah hospital, Rumah Sakit Islam Malahayati yang pengarahnya orang Aceh. Hospital itu tahu contact di seluruh Aceh. Ini salah satu saluran yang boleh digunakan.

Saya bukan hendak mempromosikan satu-satu saluran dan mahukan saluran yang lain ditutup. Cuma saya melihat masalah ini terlalu besar dan tidak ada satu organisasi yang boleh menyelesaikannya secara sendirian. Malah negara-negara yang terlibat juga memerlukan bantuan daripada luar.

Dunia sedang memberikan tumpuan kepada Aceh. Apakah yang boleh diharapkan selepas ini?

SANUSI: Aceh sebuah wilayah yang kaya tetapi kekayaannya terlalu sedikit yang dapat dinikmatinya. Kita berharap dengan adanya kepimpinan baru Indonesia di bawah Presiden Bambang Susilo Yudhoyono - yang juga mendapat sokongan bulat hampir 75 peratus daripada Aceh - supaya bermurah hati, jangan seperti pada zaman-zaman dulu.

Ketika itu, kekayaan Aceh itu tidak membantu kemajuan di wilayah itu. Sekarang kekayaan itu bukan datang dari Aceh tetapi dari serata dunia. Apa yang menjadi kegusaran di kalangan orang Aceh sekarang ialah kalau sebelum ini kekayaan Aceh tidak banyak yang dikembalikan kepada Aceh, apakah kekayaan dari luar itu juga akan ke sana.

Apa yang saya suarakan ini ialah apa yang bermain-main dalam fikiran orang Aceh, persepsi mereka. Hal-hal ini apabila difikirkan cukup menyebakkan mereka.

Tetapi kita mempunyai harapan kerana Indonesia ada Presiden dan Naib Presiden baru. Saya yakin bantuan-bantuan itu akan sampai ke Aceh kerana kepimpinan sekarang ini mempunyai wawasan.

Apakah itu saja kebimbangannya?

SANUSI: Aceh masih lagi di dalam perang. Saya rasa sudah cukup korban, tentera sudah banyak mati dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga. Dendam yang ada itu harus dihapuskan, baik di kalangan tentera mahupun orang Aceh sendiri. Cukuplah dengan kematian yang ada ini.

Semua orang rasa hiba dengan kehilangan yang berlaku akibat bencana ini. Cuma bezanya, mati akibat gempa bumi tidak menimbulkan dendam kerana tiada sesiapa yang boleh dipersalahkan.

Apakah konflik yang berlarutan ini akan reda seketika untuk proses pembangunan semula Aceh?

SANUSI: Saya rasa konflik di Aceh dulu antara tahun 1956 hingga 1963 itu kerana agama, konflik yang berlandas janji waktu merdeka. Konflik yang kemudian daripada itu ialah kerana masalah ekonomi. Aceh wilayah yang kaya dengan minyak dan balak. Saya sebagai orang luar melihatnya sebagai konflik ekonomi.

Tetapi sekarang (selepas bencana ini) tiada lagi kekayaan ekonomi, sudah habis musnah semuanya. Masalah yang ada di Aceh sekarang tidak memungkinkan orang berebut kekayaan di Aceh. Persoalan siapa menguasai apa tidak lagi timbul sekarang.

Masalah sekarang ialah siapa yang hendak menolong Aceh membangun semula daripada kemusnahan ini. Tiada apa lagi yang hendak diambil daripada Aceh; soalnya sekarang siapa yang hendak memberi.

Apakah yang harus dilakukan oleh kerajaan Indonesia untuk penyatuan semula, misalnya?

SANUSI: Masalah yang ada sekarang ini cuma soal maruah saja. Tetapi para pemimpin GAM yang hendak memikirkan soal maruah ini bukannya duduk di Aceh tetapi di luar negara. Ada sesetengahnya tidak pernah duduk pun di Aceh.

Saya fikir mereka (GAM) perlu menimbangkan hal ini. Janganlah kerana soal maruah ini masyarakat Aceh yang lain menderita. Mereka harus memikirkan apakah yang perlu diberikan keutamaan sekarang.

Kita melihat tentera yang dulunya dihantar untuk membendung gerakan GAM di Aceh sekarang ini memberikan bantuan kemanusiaan kepada mangsa-mangsa bencana. Apakah maknanya ini semua?

SANUSI: Itukan tanggungjawab sebuah negara; Aceh sebahagian daripada Indonesia. Pihak yang mengisytiharkan perang ke atas Aceh ialah Indonesia dan yang hendak menolongnya sekarang pun tentulah Indonesia. Kita yang dari luar ini termasuk saudara-mara menolong atas dasar kemanusiaan, dan kita juga mengharapkan kerajaan Indonesia membantu.

Kerajaan Indonesia sedang berusaha bersungguh-sungguh melakukannya dengan sebaik mungkin. Apa yang penting ialah jangan ada rasa curiga dan dendam; semua pihak harus terbuka. Kita perlu menghidupkan semangat rumpun Melayu, itu yang penting dan bukannya semangat mengikut suku dan keturunan.

Masalah yang dihadapi sekarang ini boleh diselesaikan dengan semangat rumpun Melayu. Inilah cabaran kepada rumpun Melayu.

Inilah barangkali apa yang tersirat di sebalik bencana ini? Sekarang ini seluruh dunia sedang bertumpu kepada Aceh.

SANUSI: Ya. Aceh yang dulunya tertutup, sampaikan bencana datang pun orang tidak tahu kerana tidak ada wartawan luar yang boleh masuk, sekarang ini sudah terbuka.

Kita memerlukan satu gempa bumi untuk membuka Aceh kepada dunia, membebaskan Aceh sehingga orang luar boleh masuk. Begitu hebatnya, Tuhan terpaksa campur tangan untuk membebaskan Aceh.

Kalau di Aceh itu diisytiharkan perang, ia memang sudah jadi seperti zon peperangan dengan segala kapal perang dari serata dunia yang ada di sana sekarang. Tetapi itu bukan zon peperangan untuk membunuh tetapi menyelamatkan yang masih hidup.

Saya melihat situasi ini sebagai sesuatu yang cukup poetic.

Apakah yang penting untuk masa depan Aceh?

SANUSI: Ada dua perkara: Pelajaran dan agama untuk anak-anak Aceh. Usaha hendak membawa keluar anak-anak Aceh dari tanah airnya untuk diberikan bantuan harus dikurangkan. Ia perlu dibendung dan dipantau betul-betul.

Saya menyokong langkah kerajaan Indonesia yang tegas dalam hal ini. Saya melihat kalau wilayah sudah musnah begitu, proses pembangunan semulanya tentu memerlukan manusia yang banyak untuk membantu.

Orang yang hendak mengambil anak angkat ini tidak akan mengambil mereka yang capek dan tua tetapi yang boleh memberikan harapan. Ini bermakna sudahlah Aceh itu sekarang ini miskin hasil buminya ia juga akan miskin manusia.

Apa yang penting dalam hal pembangunan semula ini bukannya hasil bumi tetapi tenaga manusia. Lihat Jepun, ia tiada hasil bumi tetapi manusianya dapat membangunkan negara dan bangsa itu. Aceh yang sekarang menjadi padang jarak padang tekukur kalau dibangunkan nanti boleh menjadi pekan-pekan yang lebih tersusun dan cantik, kalau perancangannya betul.

Apakah yang diperlukan untuk pembangunan semula ini?

SANUSI: Harus ada kelonggaran kepada para pelabur asing untuk masuk ke sana dan membantu. Ini memerlukan kerjasama kerajaan Indonesia. Ini saya fikir tidak ada masalah.

Tan Sri menyebut tentang manusia sebagai aset. Ada kebimbangan bahawa Aceh sekarang kehilangan generasi masa depan akibat bencana ini.

SANUSI: Ini soal takdir. Memang banyak anak kecil yang meninggal tetapi keluarga yang hidup itu akan melahirkan lagi anak selepas ini. Lagi pula tidak ada gunanya kita memikirkan masalah itu kerana kita tidak boleh berbuat apa-apa untuk menghalangnya daripada berlaku. Adalah lebih baik kita memikirkan apa yang boleh dibuat.

Orang banyak bercerita tentang kekuatan semangat yang ada pada orang Aceh. Sejarah perjuangannya berdepan dengan Belanda adalah satu contoh terbaik. Orang melihat semangat itu juga kekuatan untuk mereka bangun semula.

SANUSI: Ini bukan satu masalah. Di Malaysia pun, tidak ramai orang Aceh tetapi mereka terlibat juga dalam pembangunan negara ini. Ada banyak juga orang Aceh yang mempunyai kedudukan dan jawatan penting di negara ini. Tidak semestinya duduk di Aceh baru boleh turut membangun. Kita rumpun Melayu; sesiapa pun boleh ikut sama membangunkan semula Aceh.

Saya tidak pesimistik dalam soal itu. Kalau ada gerakan umpamanya mahu berebutkan ekonomi Aceh, apa yang hendak direbutkan itu sudah hancur semuanya. Jadi rasional sekarang ini ialah kita menghidupkan semula semangat rumpun Melayu. Ini adalah cabaran kepada rumpun itu.

Apakah yang boleh kita berikan?

SANUSI: Banyak. Kita yang paling dekat dengan Aceh dan Sumatera. Pertama, kita boleh ke sana untuk membantu baik dari segi perniagaan atau sekurang-kurangnya membina rumah kebajikan untuk ditadbirkan oleh orang di sana. Kita boleh rundingkan hal ini dengan kerajaan Indonesia.

Kedua, kita juga boleh membawa anak-anak Aceh yang dewasa untuk belajar di sini. Mereka memerlukan pendidikan dalam pelbagai bidang. Dalam bidang perikanan misalnya, kalau kerajaan Indonesia bersetuju kita boleh melatih mereka di sini.

Itu yang barangkali timbul cerita tentang anak angkat?

SANUSI: Banyak orang salah faham tentang hal anak angkat. Ada sebuah badan di Kuwait yang mempunyai 10,000 anak angkat dari Afrika tetapi tidak seorang anak angkat itu meninggalkan Afrika.

Kita masih boleh mengambil anak angkat dan membiayai kehidupan mereka tetapi mereka tinggal bersama keluarga atau jiran di Aceh. Kita boleh juga membiayai anak-anak angkat yang belajar di pesantren-pesantren. Kalau kerajaan Indonesia membenarkan, kita boleh juga membiayai anak-anak angkat dari Aceh untuk dibawa belajar di sini.

Anak angkat kategori keempat barulah mereka yang dibawa untuk tinggal bersama kita. Tetapi anak angkat itu harus jangan dipisahkan daripada asal-usulnya. Masalahnya ada orang yang mahu anak angkat tetapi kalau boleh jadi macam anak sendiri dan lupakan asal keturunannya. Ini tidak adil, dan tentulah orang tidak mahu beri.

Saya fikir pendirian kerajaan Indonesia tidak membenarkan anak-anak Aceh dibawa keluar adalah satu ketegasan yang logik. Apa yang menjadi kebimbangan ialah kalau yang menjadi keluarga angkat itu terdiri daripada bukan Islam. Kita harus faham bahawa orang Aceh ini lebih rela mati daripada bertukar agama.

Boleh orang Aceh bangun semula seperti burung phoenix yang bangkit dari abu?

SANUSI: Saya fikir selepas ini Aceh akan bangun semula dengan lebih hebat. Orang yang membangun di dunia semuanya telah menghadapi durjana dan bencana yang hebat. Lihat saja orang Jerman dan Jepun. Saya percaya orang Palestin kalau ada negaranya sendiri juga akan begitu.

Orang yang boleh bangkit semula ini adalah mereka yang berani mengambil risiko. Bagi orang Aceh sekarang, soal mengambil risiko sudah tidak timbul lagi. Mati bagi mereka adalah perkara biasa; dulu dengan peluru sekarang kerana gempa bumi. Mereka sudah melalui pengalaman yang paling buruk dahsyatnya.

Saya tidak fikir kalau orang Aceh selepas ini masuk dalam bidang perniagaan mereka akan takut rugi atau gagal. Mereka sudah melihat yang lebih teruk daripada itu, hilang ahli keluarga dan segala-galanya - apalah sangat hilang sedikit keuntungan.

Saya percaya kalau mereka boleh bertahan daripada bencana ini, insya-Allah, mereka boleh bertahan daripada apa saja cabaran. Ahli fikir Islam, Syaqib Arsalan ditanya kenapa orang Islam mundur sedangkan orang lain jauh lebih maju. Katanya, orang Islam terkena penyakit cintakan kepada hidup dan takut kepada mati. Maksudnya, mereka penakut.

Orang Aceh kalau selepas bencana ini hilang takut dan mutlak keberaniannya, saya yakin mereka akan maju... kalau mereka menggunakan fikiran. Tetapi kalau mereka takut mengambil risiko, takut mahu meningkatkan ilmu pengetahuan, masa depan mereka akan gelap. Mereka tidak ada alasan untuk tidak berjaya selepas ini.

Mereka harus meminjam semangat bushido Jepun: Amanah, berani, disiplin, rajin dan setia. Ini sifat-sifat yang ada dalam Islam tetapi yang mengamalkannya orang Jepun. Saya super optimis tentang masa depan Aceh

DR. JEMILAH DI ACEH: ``Kami bertarung dengan emosi''

``Kami bertarung dengan emosi''
MUKADIMAH

DR. JEMILAH MAHMOOD tampak cukup letih dan lesu ketika ditemui di pejabatnya tengah hari semalam. Presiden Persatuan Bantuan Perubatan (Mercy) Malaysia itu baru saja kembali ke tanah air kelmarin selepas berada di Banda Aceh, wilayah yang paling teruk terjejas akibat bencana tsunami, selama 10 hari sejak 29 Disember lalu.

``Hanya baru sekarang saya rasa letihnya. Selama di sana, tidak fikir apa-apa asyik bekerja saja,'' katanya kepada wartawan NOOR AZAM SHAIRI dan HELMI MOHD. FOAD.

Dalam wawancara ini, Dr. Jemilah menceritakan pengalamannya bersama sukarelawan Mercy Malaysia berdepan dengan tragedi kemanusiaan kesan daripada bencana itu.

Beliau menceritakan tentang penderitaan mangsa-mangsa yang tercedera serta kesukaran dan cabaran memberikan bantuan perubatan kepada mereka dalam keadaan yang serba kekurangan.

``Kerja itu jadi lebih sukar kerana kita serumpun dan memahami bahasa pertuturan mereka. Kami faham cerita-cerita mereka tentang kesedihan dan kekesalan. Kami bertarung antara emosi sendiri dan luahan emosi mereka,'' katanya.

Tetapi selain cerita kemanusiaan itu ada satu perkara penting yang disuarakan oleh Dr. Jemilah untuk kita renungi bersama - tentang masa depan gerakan sukarela seperti Mercy Malaysia.

``Apa yang berlaku di Aceh itu adalah satu pengajaran yang bermakna,'' katanya.

Beliau menyebut tentang pentingnya sokongan masyarakat prihatin yang berterusan kepada kerja-kerja kemanusiaan dan bukan hanya semasa bencana menimpa.

Sementara itu, dalam satu wawancara berasingan, Presiden Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (Imam), Tan Sri Sanusi Junid berkongsi pandangan yang optimis tentang masa depan wilayah itu.

``Selepas ini, Aceh akan bangun semula dengan lebih hebat,'' katanya.

Sanusi yang juga berdarah Aceh bercakap tentang pembangunan semula wilayah itu serta bantuan yang boleh diberikan oleh kita atas semangat serumpun.

MINGGUAN: Bagaimana Mercy Malaysia mula terlibat dalam bencana ini?

DR. JEMILAH: Sebagai ahli jawatankuasa tindakan bencana Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNDAC), saya cepat mendapat maklumat. Laporan awal membayangkan keadaan di Aceh tidak teruk dan kerana itu kami mula memantau laporan dari Sri Lanka.

Saya memutuskan untuk menghantar satu pasukan penilai yang kecil ke Aceh, tiga orang. Lagipun jaraknya dekat dan kalau keadaan memerlukan kami boleh berangkat bila-bila masa. Pasukan yang diketuai oleh Norazam Abu Samah ke sana sehari selepas kejadian dengan pesawat komersial. Pada masa yang sama pasukan kedua diarahkan bersiap sedia.

Gambaran pertama yang diberikan oleh Norazam ialah selain mayat yang bergelimpangan keadaan terlalu buruk dengan banyak mangsa tercedera dan pasukan perubatan susulan mesti dihantar segera. Jadi saya dan lima lagi sukarelawan terus berkemas dan berangkat. Dua hari selepas pasukan pertama berlepas, kami pula sampai ke Banda Aceh.

Gambaran pertama yang dilihat?

DR. JEMILAH: Apabila sampai di lapangan terbang kami tidak melihat tanda-tanda kesan bencana kerana kawasan itu tidak terjejas. Ketika itu pun belum banyak bantuan antarabangsa yang masuk kecuali daripada pihak Indonesia sendiri. Apabila tiba di pusat bandar Banda Aceh, barulah kami mengetahui keadaan sebenarnya - kubur besar, jenazah bergelimpangan, kemusnahan di mana-mana, bau mayat yang mengapung.

Hospitalnya dalam keadaan kelam-kabut; lantainya berlumpur dengan darah di merata tempat serta berselerak dengan sarung tangan, kapas yang telah dipakai dan sebagainya kerana doktor-doktor mengejar masa. Ini waktu kecemasan paling buruk yang pernah saya alami. Dalam keadaan itu orang tidak dapat lagi menjaga soal kebersihan sehingga memburukkan lagi keadaan yang sedia teruk.

Keadaan dalam wad cukup kelam-kabut. Pesakit diletak bercampur-campur - lelaki, wanita dan kanak-kanak. Ada yang di atas katil, ada yang hanya di lantai berlapikkan tikar.

Sebaik sampai di Rumah Sakit Tentera Kesdam itu kami tidak menunggu lama - letak beg dan terus bekerja. Ketika itu sudah ada doktor dari Indonesia bertungkus-lumus membuat pembedahan. Kami bekerja di luar mengasing-asingkan kes, menentukan pesakit yang perlu dihantar untuk pembedahan. Ini membolehkan proses rawatan kecemasan lebih cepat.

Sukarelawan yang ada tidak mencukupi. Saya arahkan ibu pejabat hantar pasukan tambahan enam orang. Pasukan ketiga yang diketuai oleh Dr. Fauziah Mohd. Hassan berlepas Ahad lalu untuk menyertai kami bersama pakar-pakar bedah, bius dan perubatan dalaman.

Katanya empat daripada enam hospital di Banda Aceh musnah?

DR. JEMILAH: Ya, ada enam hospital utama di sana. Tetapi selepas bencana itu hanya sebuah yang beroperasi iaitu hospital tempat kami bekerja. Ia sebuah hospital kelas ketiga yang hanya mampu mengendalikan maksimum 150 pesakit pada satu-satu masa. Ada bilik bedah tetapi kemudahan tidak cukup. Tabung darah pun tidak ada. Tabung Darah Nasional pula habis bekalan. Jadi ketika itu tidak ada bekalan darah untuk seluruh Banda Aceh.

Hospital terbesar iaitu Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin pula terpaksa ditutup kerana diliputi oleh lumpur sampai ke lutut dan semua bekalan elektrik serta air terputus. Hanya baru-baru ini saja mereka membuka semula hospital itu tetapi tingkat bawah masih tidak boleh digunakan.

Sebuah pusat perubatan swasta, Rumah Sakit Sakinah juga tidak ada bekalan elektrik dan air. Rumah Sakit Harapan Bunda iaitu sebuah hospital bersalin juga membenarkan kita mengendalikan kes yang melibatkan pembedahan tetapi hanya untuk sementara. Dua buah hospital lagi rosak teruk.

Tenaga perubatannya bagaimana?

DR. JEMILAH: Separuh daripada 300 kakitangan perubatan yang ada di seluruh Banda Aceh disahkan terkorban; daripada baki 150 yang hilang itu hanya 17 saja yang melaporkan diri untuk bertugas. Mungkin ada yang tidak melaporkan diri atau sibuk mencari ahli keluarga.

Tetapi secara umum sistem kesihatannya pincang. Hospital tentera itu sekarang terpaksa mengendalikan 500 pesakit di wad dan di kaki lima bangunannya. Semasa mula-mula sampai kami cuba memperbaiki sistemnya. Kami cuci sendiri lantai bagi membolehkan wad pediatrik dan pusat rawatan rapi dibuka dan kami asingkan pesakit mengikut jantina.

Apa masalah kesihatan yang ada?

DR. JEMILAH: Luka-luka pesakit mula dijangkiti dan berulat. Ada yang sudah bernanah teruk, ada yang mengalami gangren dan terpaksa dibedah. Kebanyakan mereka juga mengalami radang paru-paru dan cirit-birit tetapi belum sampai ke tahap kolera.

Kanak-kanak pula bagaimana?

DR. JEMILAH: Tidak ramai yang selamat. Hasil tinjauan kumpulan Doktor Tanpa Sempadan (MSF) hampir 40 peratus kanak-kanak terbunuh dalam bencana itu. Mereka yang terselamat pula dalam keadaan trauma.

Saya tidak dapat melupakan satu pengalaman melihat seorang kanak-kanak yatim piatu menangis di atas katil. Seorang pesakit yang dewasa yang patah tangan di katil sebelah mengangkat kanak-kanak itu dan membawanya tidur bersama. Saya sungguh terharu dan kagum melihat betapa rapatnya ikatan masyarakat yang sama-sama menderita itu.

Ada yang menyangka sesetengah kanak-kanak itu bisu, sebenarnya mereka trauma. Selepas sukarelawan kita datang mencucikan badannya, berbual dan bermain dengannya barulah dia mengeluarkan suara.

Kes paling teruk yang doktor saksikan?

DR. JEMILAH: Terlalu banyak. (Terdiam seketika) Ada seorang wanita, mukanya hancur tidak menampakkan wajah asalnya, tidak boleh buka mata, bengkak-bengkak, kaki pecah dan dengan luka di serata tubuh badan. Ulat pun sudah nampak memakan daging di muka dan mulutnya yang cedera teruk. Saya tahu dia tidak ada harapan. Dr. Quah Boon Leong (seorang lagi sukarelawan) kata kepada saya: ``Sayang kalau kita tidak dapat buat apa-apa.''

Tetapi saya dapati semua organ badannya tidak lagi berfungsi, dan kencingnya pun sudah berdarah. Oleh itu saya katakan kepada rakan-rakan, kita tahu wanita itu akan mati tetapi biarlah dia pergi dengan aman dan baik. Kami mandikan dia dan Dr. Leong mengutip satu persatu ulat dari mulut wanita itu.

Saya ajar dia mengucap dua kalimah syahadah. Dia mengikuti lafaz itu dengan jelas sekali. Wanita itu berkata dengan sayu: ``Sakit, nak tetapi saya tahu sakitnya tidak lama. Terima kasih kerana menolong saya.'' Sebelum dia pergi, wanita itu kelihatan tabah dan tenang. Saya cukup terharu melihatnya. Kami tidak tahu nama wanita itu dan kami tidak tahu umurnya.

Pengalaman itu sungguh memberikan kesan yang mendalam dalam hati kami. Kami sebenarnya berada dalam keadaan yang sungguh tertekan dan sedih kerana 10 hingga 20 pesakit kami meninggal dunia setiap hari.

Pada hari-hari pertama saya terpaksa memilih pesakit mana yang hendak dirawat - antara mereka yang masih ada harapan atau sebaliknya. Di hospital itu, pesakit memanggil-manggil kami tetapi kami terpaksa berjalan dan meninggalkan mereka begitu saja.

Itulah yang paling menyedihkan. Saya dilatih untuk membantu pesakit tetapi di Aceh ada pesakit-pesakit yang terpaksa saya tinggalkan kerana tahu sekiranya saya menolong mereka saya tidak boleh merawat pesakit lain. Kami tahu kami boleh melakukan lebih daripada itu tetapi tidak berdaya kerana kelengkapannya tiada, ia tambah menyakitkan. Itulah yang juga dialami oleh doktor-doktor yang sampai awal di sana.

Apakah yang paling menyentuh hati Dr.?

DR. JEMILAH: Melihat kanak-kanak yang sesak nafas. Lebih menyedihkan apabila anak-anak itu memanggil emak. Ibu mereka kemungkinan sudah meninggal dunia. Tiada sesiapa di sisi mereka kecuali sesetengahnya yang masih ada adik-beradik atau sanak-saudara yang terselamat. Sebagai seorang ibu, saya terkenang anak saya sendiri. Apa yang tambah menyedihkan kami tahu mereka hanya menunggu masa.

Menjelang malam tahun baru, kebanyakan kami sudah mula tertekan. Pada malam tahun baru itu saya dan Dr. Leong tidak dapat menampung air mata melihat anak-anak yang menderita itu. Malam itu juga seorang kanak-kanak meninggal dunia. Saya tenangkan Dr. Leong yang kelihatan putus asa kerana tidak dapat membantu kanak-kanak itu. Selain kanak-kanak itu, ada dua lagi kanak-kanak yang mengalami masalah serupa. Kami memutuskan untuk memindahkan mereka.

Apa yang Dr. lakukan?

DR. JEMILAH: Kami berkeras mendesak supaya mereka dipindahkan. Alhamdulillah, keesokan harinya pada hari tahun baru mereka dapat dibawa keluar dari Banda Aceh .

Pada hari itu juga berlaku gempa bumi. Kami semua lari keluar dari bilik. Ia memang menakutkan. Ada sesetengah sukarelawan baru yang menggeletar. Ia satu tahun baru yang tidak dapat dilupakan. Kami tidak tidur sampai pukul 4 pagi, bukannya bergembira tetapi berdepan dengan kematian dan gempa bumi, bertarung dengan emosi sendiri dan penderitaan orang lain yang kami lihat di depan mata.

Alhamdulillah juga saya sempat berehat untuk menyambut kumpulan ketiga yang sampai Ahad lalu. Saya kembali ke Aceh bersama-sama mereka tetapi Dr. Leong tinggal sekejap di Medan. Beberapa hari kemudian, dia menelefon saya memberitahu siaran berita televisyen melaporkan dua kanak-kanak itu sudah pulih, boleh duduk dan bercakap.

Berita itu memberikan harapan dan memulihkan semangat kami, lebih-lebih lagi Dr. Leong yang masih muda 26 tahun dan ini merupakan pengalaman barunya dalam kerja sukarelawan.

Apakah yang menjadi pendorong Dr. selama di sana?

DR. JEMILAH: Naluri saya tidak membenarkan saya untuk duduk berdiam diri melihat orang lain menderita. Saya sedar ini adalah kurniaan Allah kepada saya. Saya merasakan ini adalah tanggungjawab dan amanah-Nya.

Saya mahu menunjukkan kepada dunia bahawa kita orang Malaysia mampu melakukan kerja-kerja kemanusiaan, bukan setakat itu saja tetapi yang setanding dengan mereka. Ada banyak orang melakukan kerja sukarelawan tetapi kita mahu organisasi antarabangsa lain melihat kita ini berada pada tahap yang sama. Alhamdulillah, kami sudah membuktikannya.

Mercy Malaysia yang mula-mula sampai di Aceh dan dilaporkan oleh CNN. Laporan itu menyiapkan dunia untuk berdepan dengan realiti yang lebih buruk di Aceh.

DR. JEMILAH: Dunia pada mulanya terlalu banyak memberikan reaksi kepada Phuket dan Sri Lanka, masyarakat antarabangsa cepat ke sana. Saya mungkin tersilap tetapi itu barangkali kerana banyak pelancong dan ekspatriat di sana.

Aceh juga tidak dapat menyebarkan maklumat apa yang sebenarnya berlaku dengan cepat kepada dunia. Saya juga fikir kerajaan Indonesia pada awalnya bimbang untuk menghebahkannya pada peringkat awal kerana sensitiviti Aceh. Itu (pandangan mereka) harus kita hormati.

Tetapi saya rasa tindak balas antarabangsa terhadap Aceh agak terlewat. Kita jiran Indonesia yang paling dekat, masuk akallah kalau kita sampai dulu. Kalau bukan kita yang mula-mula sampai, saya akan rasa sangat malu. Malah semasa bencana banjir di Pulau Nias dekat Sumatera pada Ogos 2001 kami satu-satunya pertubuhan antarabangsa yang ada di sana.

Saya tidak rasa bangga apa-apa tentang itu. Ia sesuatu yang memang sepatutnya berlaku.

Laporan itu mengubah banyak perkara.

DR. JEMILAH: Ya, ia benar-benar meletakkan Mercy Malaysia di arena antarabangsa. Kami mula mendapat sumbangan dana individu dari serata dunia. Sebenarnya bukan laporan CNN itu saja tetapi BBC, CBS News dan ABC. Alhamdulillah, daripada laporan-laporan itu kami mula mendapat sumbangan dari Kanada, Australia malah saya baru dapat satu SMS dari Switzerland. Ada pihak yang membuat kutipan dana untuk Mercy Malaysia hari ini.

Saya bimbang juga kalau-kalau sumbangan makin lesu kerana cabaran sekarang ialah semua pihak meminta sumbangan. Kami selalu dituduh tidak berbakti di Malaysia, hanya ke luar negara. Ini tuduhan yang tidak adil. Hakikatnya kami begitu aktif di dalam negara cuma media tidak berminat melaporkannya.

Tetapi saya juga percaya sekiranya Mercy Malaysia terpaksa memberikan respons kepada semua kecemasan dalam negara tentu ada sesuatu yang tidak kena dengan negara ini, baik sistem mahupun kerajaannya.

Sistem kesihatan kita sangat baik. Kerajaan juga ada mekanisme untuk bertindak balas kepada kecemasan dan bencana. Oleh itu, Mercy Malaysia tidak perlu mengulangi tugas itu.

Ini antara kritikan yang dilemparkan?

DR. JEMILAH: Pengkritik saya yang paling keras ialah orang Islam. Malah ada yang menelefon ke pejabat, marah-marah dan menghempaskan telefon. Ini sangat mengecewakan. Cuba tunjukkan saya dalil yang mengatakan bahawa orang Islam hanya perlu membantu orang Islam sahaja. Mereka mengkritik kami kerana membantu orang bukan Islam dan negara luar. Kenapa kita terlalu singkat akal?

Tetapi mereka yang marah-marah ini hanya segelintir saja, majoritinya orang menyokong kami. Malah sekarang Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu juga mendukung kami di Aceh. Dalam mesyuarat-mesyuarat mengenai kesihatan, saya diminta mempengerusikannya bersama.

Kritikan itu melemahkan semangat Dr.?

DR. JEMILAH: Saya tidak mahu putus asa. Saya bersyukur dengan apa yang mampu kami lakukan. Saya tidak mahu kritikan-kritikan itu melemahkan kami. Saya berserah kepada Allah.

Kalau mereka tidak mahu menolong, tidak mengapa, berdoalah saja untuk kami. Kalau kami sudah membuktikan apa yang boleh kami lakukan, janganlah pula menghalang atau melemahkan semangat kami.

Saya tahu ada orang menyebarkan fitnah mengatakan Mercy tidak memerlukan doktor sebaliknya hanya hantar pakaian dan air. Kami akan terus menghantar doktor apabila diperlukan.

Apakah kekesalan Dr. kalau ada?

DR. JEMILAH: Kami tidak dapat meyakinkan masyarakat bahawa sebuah pertubuhan sukarelawan seperti ini memerlukan satu dana yang kukuh sepanjang masa kerana bencana boleh berlaku dalam sekelip mata. Kami ada dana yang kukuh untuk Iraq dan Iran kerana kerajaan memberikan bantuan. Tetapi apabila tiada bantuan kerajaan kami sebenarnya tidaklah sekukuh mana. Masalahnya orang tidak percaya bahawa kami memerlukan dana yang kukuh juga untuk hal ehwal pentadbiran. Mana-mana pertubuhan pun tidak boleh beroperasi dengan baik tanpa pentadbiran yang baik.

Kami berjaya selama ini kerana dedikasi tinggi ahli-ahli. Mereka meninggalkan kerjaya yang lebih lumayan untuk bekerja dengan Mercy Malaysia sepenuh masa. Tetapi saya berfikir sekiranya kami ada dana yang kukuh, insya-Allah kami boleh mempunyai sebuah gudang yang lengkap dengan ubat-ubatan dan peralatan yang boleh dihantar ke mana-mana pada bila-bila masa.

Ini memerlukan dana yang kukuh. Masalahnya orang hanya mahu menyumbang kalau ada krisis atau bencana. Apa yang berlaku di Aceh ini adalah satu pengajaran kepada kerja-kerja kemanusiaan, kepada saya dan kepada Mercy Malaysia. Kami tidak mahu lagi terperangkap dalam keadaan tidak bersedia seperti ini. Kami sebenarnya boleh melakukan lebih baik daripada ini.

Manusia Aceh, manusia Phuket

Manusia Aceh, manusia Phuket

SEBAGAI seorang wartawan, Awang ingin berada di Aceh, di Sri Lanka dan di Phuket pada masa yang sama. Sebagai seorang wartawan, Awang ingin mencatat dan merakamkan malapetaka 26 Disember 2004 untuk ditatap dan dibaca dengan harapan ia akan membawa suatu erti baru kepada hidup manusia.

Bagaimanapun kerana terikat kepada meja di pejabat, Awang terlepas peluang untuk melakukan apa yang seorang wartawan ingin lakukan - menyingsing lengan dan berada di tengah-tengah segala macam yang sedang berlaku selepas tsunami melanggar muka bumi dan meninggalkan bahana di luar gambaran manusia.

Kerana tidak dapat menahan keinginan untuk turun padang, Awang menerima pelawaan seorang Hamba Allah untuk membuat kunjungan kilat ke Aceh dan Phuket, Selasa lalu. Agak malang, pesawat kami tidak dapat kebenaran untuk mendarat di Lapangan Terbang Iskandar Muda di Banda Aceh. Bagaimana pun setelah merayu berkali-kali menara kawalan membenarkan pesawat kami terbang serendah 3,000 kaki menyusur pantai Aceh yang dilanda ombak besar tsunami dan meragut lebih 100,000 nyawa.

Apa yang dilihat dari udara sungguh menyayat hati. Perkampungan tepi pantai sudah tiada. Apa yang tinggal kelihatan seperti sawah padi yang ditakungi air akibat hujan berlebihan. Air laut masuk jauh ke darat. Itulah keadaannya.

Awang tergamam bila tiba-tiba ternampak sebuah masjid berdiri tegak dikelilingi kekosongan. Ia tampak sendirian dan kesepian, dikelilingi punah ranah.

Suatu perasaan yang tidak dapat Awang gambarkan menusuk kalbu - suatu perasaan yang akan membuat hati sekeras mana pun insaf. Ia dengan serta-merta akan membuat siapa sahaja menerima hakikat betapa kerdilnya manusia - betapa kecilnya apa juga kuasa dan kekuatan yang ada pada manusia di sisi kuasa dan kekuatan alam dan Penciptanya.

Bila pesawat mula meninggalkan ruang udara Aceh dan masjid yang kesepian itu semakin sayup dan perlahan-lahan menghilang, Awang bergelut dengan rasa sebak sambil cuba membayangkan keadaan di bawah, di wilayah yang diberi julukan Serambi Mekah.

Penduduk Aceh yang hampir semuanya Islam diketahui sebagai umat yang berpegang kuat kepada ajaran agama. Awang cuba membayangkan puluhan ribu mayat yang masih belum dikebumikan; puluhan ribu anak yatim; dan hidup yang akan dipenuhi dugaan dan penderitaan bagi masa yang panjang.

Khamis lalu, atas dorongan perasaan untuk menghayati kedukaan itu, Awang berusaha dan berjaya mendapat tempat dalam sebuah pesawat MAS yang hendak ke Aceh menghantar bekalan makanan dan ubat-ubatan. Kerana kesibukan di lapangan terbang yang kecil dan serba kekurangan itu, pesawat hanya dapat mendarat di Banda Aceh bila hari sudah mula gelap.

Awang sangat terkilan kerana kami hanya dibenarkan berada selama satu jam sahaja kerana terlalu banyak pesawat sedang menunggu untuk mendarat membawa bekalan bantuan.

Lapangan Terbang Iskandar Muda lebih kecil daripada Lapangan Terbang Alor Star. Kekecilannya hanya membolehkan empat hingga lima pesawat sahaja berada di situ. Walaupun hanya dapat sejam, Awang dapat merasai sengsara yang menimpa penduduk Serambi Mekah itu.

Manusia dengan wajah-wajah kosong, hampa dan hilang arah, memenuhi kawasan lapangan terbang, mungkin mengharapkan untuk mendapat bekalan yang tidak henti-henti dibawa masuk.

Di tepi-tepi jalan berdebu, manusia berteduh di bawah apa sahaja yang boleh diguna untuk dijadikan bumbung. Ia sungguh mengharukan. Tiba-tiba rumah teres yang sesetengah daripada kita merasakan belum cukup selesa sebagai tempat berteduh di dunia sementara ini, terasa bagai mahligai.

Tiada air bersih untuk diminum; tiada bantal empuk untuk meletak kepala.

Di Phuket, lain ceritanya. Lapangan terbang pusat peranginan itu tidak menampakkan wajah-wajah kosong dan hiba. Walaupun tidak begitu sibuk, tapi semuanya teratur. Ada pelancong; ada pemandu pelancong. Di pantai, orang sudah bersantai semula. Badan ditutup di mana perlu sahaja, seolah-olah tiada apa yang berlaku. Laut biru dan tenang, seolah-olah ia tidak pernah berkocak.

Para pekerja pula bertungkus-lumus membersihkan sampah sarap yang ditinggalkan tsunami. Kedai minum arak, rumah urut, kedai makan dan tempat hiburan lain sedang tergesa-gesa diperbaiki.

Mereka mahu hidup dikembalikan seperti dulu. Entah bila tsunami akan menggila lagi. Ini sungguh berbeza dengan wajah-wajah kosong dan duka di Banda Aceh di mana manusia mencari pengertian hidup. Bagi Phuket, hidup macam itu juga, tiada apa akan berubah kerana itulah hidup.

Bangunkan semula Aceh

Bangunkan semula Aceh
Oleh Zulkiflee Bakar


DALAM sejarah Republik Indonesia, Aceh sentiasa sahaja dirundung malang, malah suatu ketika Aceh pernah dianggap sebagai wilayah berdarah berikutan pelaksanaan pemerintahan tentera yang menyaksikan ramai penduduknya terbunuh.

Malah ketika peristiwa berdarah itu masih meninggalkan kesan yang mendalam kepada penduduk kini mereka ditimpa lagi bencana iaitu tsunami yang menghapuskan beratus-ratus generasi penduduk.

Sememangnya tsunami akan tercatat dalam sejarah Indonesia memandangkan ia dianggap tragedi bencana alam paling buruk yang pernah dialami oleh negara itu.

Sementara menanti sejarah itu akan dikenang sepanjang hayat, kini pemerintah Indonesia bertungkus-lumus memikirkan apakah usaha yang boleh dilakukan bagi membangunkan semula Serambi Mekah itu.

Mungkin buat seketika pemerintah Indonesia boleh menarik nafas lega apabila mereka menerima bantuan tanpa henti dari pelbagai negara termasuk pertubuhan sukarela.

Bantuan seumpama ini sudah tentulah akan mengurangkan beban pemerintah yang sudah pasti tidak menduga sama sekali bahawa tsunami hampir melenyapkan sebuah wilayahnya.

Itulah yang dialami oleh Aceh apabila tiga kali lipatan ombak besar telah meranapkan daerah Meulaboh dan melumpuhkan aktiviti ekonomi serta kehidupan di Banda Acheh.

Sesiapa juga menyaksikan kemusnahan yang dialami Aceh akan menganggap usaha membangunkan semula wilayah itu bakal memakan masa yang cukup panjang apatah lagi jika terdapat terlalu banyak kerenah birokrasi dalam usaha itu.

Berdasarkan kepada keadaan itulah, majoriti rakyat Aceh meletakkan sasaran bahawa wilayah itu hanya akan pulih sepenuhnya dalam tempoh 10 tahun.

``Itu pun jika semua proses pembahagian kontrak kepada pihak-pihak berkenaan dilakukan terus kepada rakyat Aceh, kalau ia diberikan kepada orang luar melalui pegawai kerajaan, percayalah masa yang diperlukan lebih lama,'' kata Mohamed Yunus salah seorang ahli perniagaan di Aceh.

Walaupun pemerintah Indonesia meletakkan tempoh lima tahun untuk membangunkan semula Aceh namun bagi kalangan penduduk wilayah itu mereka tidak yakin ia menjadi kenyataan.

Apatah lagi selama ini pemerintah Indonesia sejak zaman Suharto hinggalah kepada Megawati Sukarnoputri dilihat tidak bersungguh-sungguh untuk membangunkan Aceh dan kini di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mereka tidak mengharapkan apa-apa komitmen.

Ini kerana mereka melihat jika pemerintah Indonesia serius sudah pasti sejak awal lagi mereka akan membangunkan Aceh yang kaya dengan hasil minyaknya.

Oleh itu musibah ini dianggap sebagai ujian sebenar kepada pemerintah Indonesia sama ada membangunkan semula Aceh atau membiarkan ia dalam keadaan sekarang.

Jika dilihat dari segi komitmen yang diberikan oleh Malaysia dan negara-negara anggota ASEAN serta Pertubuhan Persidangan Islam (OIC), Aceh hakikatnya tidak sukar dibangunkan semula.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan lebih mengutamakan bantuan yang hendak dihulurkan oleh negara-negara rantau ini atau mana-mana negara Islam.

Kenyataan ini dibuat kerana sudah ada ura-ura bahawa Amerika Syarikat (AS) akan menghantar lebih 13,000 tenteranya ke Aceh bagi melaksanakan kerja-kerja pemulihan seperti membuang sisa-sisa runtuhan.

``Kita bimbang jika perkara ini menjadi kenyataan, pertolongan yang dihulurkan oleh AS itu mempunyai motif tersendiri bak kata orang ada udang di sebalik batu,'' kata seorang pegawai kanan diplomatik dari sebuah negara Islam.

Justeru, apa yang berlaku di Aceh ini dan dengan imej wilayah itu yang terkenal dengan ciri-ciri masyarakatnya yang teguh berpegang kepada ajaran Islam, ramai pihak melihat ia adalah kesempatan terbaik kepada negara-negara Islam terutamanya Malaysia memainkan peranannya.

``Inilah masanya untuk kita membantu rakyat Aceh kerana mereka amat menghargai dan menyukai Malaysia,'' kata Konsul Jeneral Mohd. Yusoff A.Bakar kepada penulis ketika ditemui di Banda Acheh.

Kenyataan Mohd. Yusoff itu seharusnya diambil perhatian oleh pihak-pihak berkenaan memandangkan rakyat Aceh sememangnya menghormati Malaysia malah mereka melihat Malaysia sebagai negara Islam contoh.

Atas sebab itulah ketibaan pasukan bantuan dari Malaysia terutamanya NGO seperti Yayasan Salam mendapat sambutan hangat daripada mangsa-mangsa tsunami.

Mereka memahami bahawa Malaysia datang membantu dengan ikhlas atas dasar persaudaraan Islam dan tidak mempunyai apa-apa agenda tersembunyi di masa depan.

Kuasa-kuasa besar jika menurut pandangan rakyat Indonesia walaupun dialu-alukan kehadiran mereka ketika saat-saat kecemasan terutamanya dalam usaha menyelamat namun untuk jangka panjang ia mempunyai kesan tersendiri kepada negara itu.

``Kita bukannya ingin mempertikaikan keikhlasan mereka tetapi kita hanya berhati-hati kerana sejarah telah membuktikan bahawa Indonesia pernah diperdaya oleh negara asing,'' kata seorang penganalisis politik Indonesia kepada sebuah akhbar tempatan.

Namun semua ini hanya menjadi kenyataan jika pemerintah Indonesia benar-benar inginkan Malaysia membantu membangunkan semula Aceh. Tambahan pula Malaysia seperti kata Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi mempunyai kepakaran sama ada dalam bidang kejuruteraan mahupun kemanusiaan.

Seperkara lagi, bencana yang menimpa Aceh juga menjadi medan ujian kepada negara-negara Islam untuk bersatu dalam OIC bagi menyumbangkan segala kepakaran yang mereka ada.

Setakat ini sudah ada komitmen oleh negara-negara Islam berkenaan dan apa yang perlu ia diterjemahkan dalam bentuk pelaksanaan. Peristiwa tsunami bukan sahaja memaksa Aceh menderita malah ia seolah-olah meruntuhkan segala sistem kehidupan penduduknya.

Mereka bukan sahaja memerlukan bangunan dan kediaman malah bantuan dari segi kemanusiaan terutamanya trauma yang dialami oleh mangsa-mangsa tsunami.

Malah apa yang lebih penting daripada itu ialah menyelamatkan masa depan lebih 38,000 kanak-kanak Aceh yang kini sebatang kara. Nasib kanak-kanak ini harus menjadi perhitungan utama sama pentingnya dengan soal pembangunan kepada Aceh. Ini memandangkan jika negara-negara Islam tidak berhati-hati kanak-kanak itu boleh `terperangkap' dengan pihak-pihak yang boleh merosakkan masa depan mereka.

Walaupun pemerintah Indonesia memberi jaminan bahawa langkah segera akan dilakukan bagi membantu kanak-kanak tersebut namun keterbatasan dari segi kewangan dan menyediakan kemudahan boleh menyebabkan masa depan mereka terjejas.

Oleh itu, negara-negara Islam seperti Malaysia boleh mengambil kesempatan dengan melaksanakan program anak angkat tanpa memerlukan kanak-kanak itu meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Negara-negara Islam mungkin boleh menyalurkan pelbagai bantuan termasuk menjadi penaja dan membiaya rumah-rumah anak yatim yang sekali gus akan memastikan masa depan kanak-kanak itu terjamin.

Namun apa pun andaian dan harapan kita, apa yang pasti Aceh memerlukan komitmen sepenuhnya daripada pemerintah Indonesia untuk dibangunkan semula, negara-negara lain boleh menawarkan apa juga bantuan tetapi kesudahannya keputusan ada di tangan pemerintah Indonesia.

Kita harap pemerintah Indonesia benar-benar serius kali ini. Aceh sudah lama menderita, berilah peluang kepada mereka untuk menikmati pembangunan kekayaan Aceh.

Kini semua pihak sedang menanti sejauh manakah kesungguhan pemerintah Indonesia untuk membantu Aceh kerana mereka hakikatnya tidak lagi mempunyai masalah berdasarkan ikrar untuk membantu oleh negara-negara luar.

Apa yang pasti jika Aceh terus dibiarkan tidak dibangunkan semula Serambi Mekah yang kehilangan lebih 100,000 penduduk akan terus berkabung dan menderita dalam segala aspek terutamanya ekonomi dan pembangunan manusia.

Tsunami dedah kelemahan umat

Tsunami dedah kelemahan umat -- Orang Islam gagal menguasai ilmu sains, teknologi, politik dan ekonomi
Oleh Zin Mahmud


WALAUPUN bencana tsunami tidak mengenal bangsa dan agama tetapi ternyata malapetaka 26 Disember mengorbankan lebih banyak orang Islam daripada penganut agama lain.

Indonesia saja melalui Aceh yang merupakan wilayah Islam sudah menyumbangkan lebih 100,000 korban. Negara-negara Islam lain yang turut dilanda tsunami ialah Malaysia, Maldives, Somalia, Tanzania dan Bangladesh.

Bagaimanapun, korban tsunami di Sri Lanka dan India juga banyak daripada kalangan umat Islam. Galle di Sri Lanka merupakan sebahagian daripada wilayah penempatan orang Islam. Begitu juga di Tamil Nadu, India yang mempunyai banyak penduduk Islam. Malah wilayah Myanmar yang dilanda tsunami juga dipercayai daripada kalangan Islam kerana Arakan terkenal dihuni oleh bangsa Rohingya. Suku kaum Islam ini dinafikan hak kewarganegaraan oleh Yangon.

Walaupun mereka yang terkorban di Phuket, Thailand adalah kebanyakannya pelancong asing serta penduduk bukan Islam, tetapi dari segi sejarah, wilayah itu merupakan sebahagian daripada kawasan selatan Thailand yang menjadi rantau Melayu Islam. Phuket asalnya daripada perkataan `bukit'.

Malah di pesisiran Afrika Timur, kawasan yang dilanda tsunami itu adalah penempatan orang Islam. Ini kerana sememangnya dari segi sejarahnya, kebanyakan orang Islam di sekitar Lautan Hindi bermukim di pesisiran laut.

Ini kerana Islam bukan saja agama padang pasir tetapi juga agama laut atau maritim. Sebabnya ialah orang Islam berdagang dan berdakwah melalui laut.

Malah Lautan Hindi adalah sebenarnya lautan Islam dengan dikaitkan kepada kegemilangan laluan dagang pada zaman keagungan khalifah dan sultan yang memerintah Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika Timur.

Ketika itu, pelabuhan paling terkenal ialah Basrah di Iraq yang berkhidmat untuk Baghdad, ibu kota Khalifah Abasiah. Dari Basrah, keluarlah kisah-kisah pelayaran Ibn Batutah dan legenda Sinbad. Malah Sinbad digambarkan belayar hingga ke Kemboja.

Walaupun kemudian Baghdad tumbang di tangan Moghul tetapi laluan laut tetap di tangan orang Islam. Kapal-kapal dagang dan dakwah sampai ke pesisiran Afrika Timur dan mewujudkan penempatan-penempatan Islam di Somalia dan Kenya. Sultan Zanzibar di Tanzania mempunyai pelabuhan yang sibuk berkhidmat bagi pesisiran pantai benua itu hingga ke Afrika Selatan.

Sementara di India di bawah pemerintahan Moghul, pelabuhan-pelabuhan seperti Goa muncul untuk menjadi pusat laluan kapal dari kawasan Arab dan Afrika untuk ke Asia. Sebahagian daripada Tamil Nadu yang turut pernah diperintah oleh raja Islam mempunyai pelabuhan di Madras (daripada perkataan madrasah dan kini dikenali sebagai Chennai) yang mempunyai laluan hubungan hingga ke Benggala, Burma dan seterusnya Asia Tenggara. Sri Lanka turut mempunyai pelabuhan yang melengkapkan laluan kapal-kapal pedagang Islam.

Pada masa inilah pelabuhan-pelabuhan milik Muslim turut muncul di Asia Tenggara. Pendakwah dari Arab, Parsi dan India telah berjaya menyebarkan Islam ke kepulauan Melayu. Mula-mula pelabuhan Raja Samudera di Sumatera yang memeluk agama Islam.

Samudera ini terletak di sekitar Aceh hari ini. Kemudian satu per satu negeri Melayu di Sumatera memeluk Islam termasuklah Aceh. Banda Aceh menjadi pelabuhan persinggahan pedagang dan pendakwah.

Kegemilangan

Pengaruh Islam ini tersebar dan pelabuhan-pelabuhan milik Muslim wujud di Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi hinggalah ke Mindanao.

Pengaruh Islam sampai ke Pattani dan Champa di Vietnam.

Tetapi paling bermakna bagi orang Melayu ialah kemunculan Kesultanan Melaka yang menjadi pelabuhan penting Islam di Asia Tenggara. Kegemilangan Melaka ini dapat dipertahankan kerana China di bawah dinasti Ming mempunyai istana yang dipengaruhi kuat oleh pembesar Islam.

Mereka pula mengambil polisi untuk menjadi negara maritim. Cheng Ho yang beragama Islam belayar hingga ke Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Barat.

Pelabuhan Zaytun di China terkenal sebagai pusat perdagangan Islam. Dinasti Ming hampir menjadi Islam dan kekuatannya membolehkan Melaka mengelak daripada penjajahan Siam.

Ketika itu sememangnya, umat Islam adalah kuasa besar dan seluruh Lautan Hindi dikuasai mereka.

Kekuatan Islam itu runtuh dengan kemunculan Portugis yang merintis penguasaan Barat ke atas Lautan Hindi. Portugis menguasai Goa, Melaka hinggalah ke Maluku dan Timor Leste.

Kejatuhan Melaka memaksa operasi pedagang Islam berpindah ke Banda Aceh. Tetapi kemunculan pelabuhan ini menarik minat Belanda yang bertubi menyerang dan mahu menguasainya.

Aceh menjadi negara terakhir yang dikuasai Belanda. Tetapi ketika itu Lautan Hindi telah dikuasai oleh penjajah Barat sama ada Britain atau Perancis.

Sejak itu umat Islam di seluruh rantau Lautan Hindi semakin lemah. Walaupun selepas Perang Dunia Kedua, muncul negara-negara Islam merdeka seperti Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Somalia dan Tanzania tetapi mereka gagal menjadi negara maju. Ini berlaku walaupun kekayaan minyak dinikmati oleh banyak negara Islam baik di negara-negara Arab mahupun Malaysia dan Indonesia.

Aceh juga terkenal sebagai wilayah yang kaya dengan minyak.

Tetapi negara-negara Islam di pesisiran Lautan Hindi dirundung dengan pelbagai masalah kritikal daripada kemiskinan, kejahilan hinggalah urus tadbir buruk oleh kepimpinan masing-masing yang kebanyakannya korup.

Lihatlah negara-negara Islam yang dilanda tsunami baru-baru ini. Somalia masih tidak bangkit daripada perang saudaranya dahulu. Tanzania pula dianggap miskin.

Sementara kedudukan orang Islam di Sri Lanka tersepit antara kerajaan bermajoriti Sinhala dengan pemisah Tamil Eelam. Kedudukan umat Islam di India tidaklah begitu baik. Umat Islam di Myanmar amat tersisih dan tertinggal. Begitu juga di Thailand yang masih bergolak. Phuket yang pernah satu masa dimiliki umat Islam sudah terlepas. Malaysia lebih bernasib baik tetapi umat Islam di Pulau Pinang juga ketinggalan.

Tetapi nasib paling buruk dihadapi oleh Aceh kerana sejak negara itu ditakluk Belanda dan Indonesia terbentuk, wilayah yang kaya minyak itu gagal dibangunkan. Mereka disisihkan baik semasa Sukarno mahupun Suharto. Selepas kejatuhan Suharto, peperangan antara tentera Indonesia dan pemisah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadikan penduduk wilayah itu menanggung kesengsaraan.

Maka apabila berlaku bencana tsunami ini, penderitaan dahsyat lebih ketara. Banyak orang Aceh beranggapan Jakarta tidak bersungguh-sungguh membantu mereka. Bukan saja bantuan lambat tiba tetapi armada tentera laut Indonesia dianggap gagal berusaha untuk menyelamat mangsa yang terapung-apung di laut berhampiran Meulabuh.

Banyak orang Aceh tidak percaya pada kesungguhan Jakarta. Kelemahan Indonesia yang merupakan negara paling besar penduduk Islam di dunia itu mencerminkan kelemahan umat Islam keseluruhannya.

Tetapi hakikat bahawa tsunami ini meragut banyak nyawa orang Islam di seluruh pesisiran Lautan Hindi itu menunjukkan kegagalan umat Islam untuk mencapai kecanggihan sains dalam bidang seismologi dan teknologi sistem amaran awal.

Indonesia yang tentunya sedar tentang kedudukan geologi mereka tidak berupaya untuk memiliki sistem amaran awal seperti yang dimiliki oleh Jepun dan Amerika Syarikat (AS).

Kelemahan Indonesia mendatangkan kesan buruk kepada semua negara Islam lain. Ini kerana jika mereka canggih dan maju sudah tentu sistem ini dapat dirangkaikan pada kesemua negara lain di rantau Lautan Hindi.

Sebab kedaifan ini, maka umat Islam tidak mempunyai persediaan untuk menghadapi bencana ini. Sesungguhnya, keselamatan umat Islam telah terjejas akibat kemunduran ini. Keadaan buruk ini menjadi lebih teruk apabila umat Islam tidak mampu membantu sesama sendiri.

Kekerasan

Akhirnya yang banyak membantu adalah negara-negara Barat yang diketuai AS. Bukanlah kerana negara-negara Arab tidak menghulurkan bantuan tetapi Barat lebih cepat dan cekap. Arab Saudi dan Kuwait memberi banyak bantuan tetapi mereka tidak dapat menyaingi negara Barat.

Dalam rantau Asia Tenggara sendiri, Singapura mengalahkan negara Islam lain dalam menunjukkan prihatin tersendiri dengan memberi bantuan besar kepada Aceh. Begitu juga dengan China.

Dipercayai badan-badan kebajikan Eropah dan AS yang berasaskan pada Kristian turut memberi sumbangan besar. Vatican sendiri telah menyeru supaya bantuan dihulurkan.

Bagaimanapun, akhirnya AS juga yang menampilkan kemampuannya untuk menghantar kapal besar mereka Abraham Lincoln. Mereka mampu menggunakan helikopter untuk menghantar bantuan dan menyelamatkan mangsa di lautan. Adalah dipercayai AS sampai dahulu daripada negara Islam di banyak tempat di Aceh.

Malaysia sendiri telah membuka laluan bagi AS di Langkawi untuk mengirim bantuan. Malah andai kata Indonesia membenarkan, banyak keluarga Kristian di Eropah yang bersedia untuk mengambil anak-anak yatim Aceh sebagai anak angkat.

Sungguh jelas kelemahan umat Islam yang tidak dapat membantu diri sendiri. Malaysia hanya mampu menyeru agensi-agensi kebajikan anak yatim di negara-negara Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) untuk membantu rakyat Aceh.

Banyak kalangan umat Islam yang gemar untuk menyifatkan bencana tsunami ini sebagai hukuman daripada Allah kerana manusia enggan mematuhi perintah-Nya. Apakah perintah-Nya itu?

Allah memerintahkan umat Islam supaya berilmu. Kalau dilihat daripada akibat yang ditanggung oleh umat Islam di rantau Lautan Hindi ini dapat dirumuskan bahawa hukuman itu dikenakan kerana umat Islam tidak membangunkan diri.

Andai kata umat Islam mencapai kecemerlangan dalam bidang politik, ekonomi, pertahanan, sains dan teknologi, maka ia mampu mewujudkan perdamaian dan sepakat sesama sendiri di samping membangunkan sistem amaran awal tsunami.

Malah umat Islam yang maju akan dapat membantu orang lain tanpa mengira agama. Orang Islamlah yang patut mampu menghulur bantuan kepada orang lain seperti kepada penganut agama Buddha, Hindu dan Kristian di Thailand, Sri Lanka dan India.

Tetapi hakikatnya sekarang, umat Islam menjadi peminta sedekah daripada badan-badan kebajikan Kristian di Eropah dan AS.

Bukan itu saja, bantuan tersebut yang disampaikan juga ada berkemungkinan turut bocor kerana rasuah.

Rasuah amat ditegah oleh Islam tetapi kebanyakan negara Islam menghadapi masalah korupsi yang berat. Banyak kakitangan kerajaan dan peniaga Islam di negara-negara Islam di seluruh dunia tidak beramanah. Sedangkan amanah amat dituntut oleh Allah.

Penderitaan yang ditanggung oleh umat Islam khususnya di Aceh adalah bukannya kerana aktiviti alam yang mendatangkan tsunami tetapi kegagalan umat Islam menguasai ilmu sains, teknologi, politik dan ekonomi.

Iktibar yang hendak diambil daripada tragedi ini ialah perlunya mematuhi ajaran Islam khususnya dalam soal penguasaan ilmu, berpemikiran tinggi, berakhlak dan kepimpinan yang baik. Penderitaan Aceh dan kegagalan Indonesia adalah juga penderitaan dan kegagalan umat Islam sejagat.

Malaysia yang lebih berkedudukan baik daripada Indonesia masih tidak mampu menolong jiran dengan sepenuhnya. Dalam negara pun, yang mampu menderma lebih banyak bukannya orang Islam.

Simpati untuk rakyat Aceh

Simpati untuk rakyat Aceh
KUALA LUMPUR 8 Jan. - Tabung Kemanusiaan Aceh dan Tabung Bencana Tsunami Utusan anjuran Utusan Malaysia bagi membantu mangsa bencana tsunami baru-baru ini terus mendapat simpati dan perhatian rakyat Malaysia.

Sambutan menggalakkan turut diterima oleh Tabung Kemanusiaan Aceh Utusan-Maybank yang ditubuhkan bagi menambah kemudahan orang ramai untuk menderma dan memulihkan keadaan di Aceh walaupun baru dilancarkan kelmarin.

Jumlah keseluruhan sumbangan yang berjaya dikutip bagi mengisi Tabung Kemanusiaan Aceh melalui cawangan pejabat Utusan Malaysia di seluruh negara ialah RM469,475.60 manakala Tabung Bencana Tsunami Utusan setakat ini berjumlah RM3,130,099.56.

Manakala Tabung Kemanusiaan Aceh Utusan-Maybank berjaya mengumpul sebanyak RM27,632.93 pada hari kedua kutipan sekali gus menyaksikan jumlah terkumpul tabung tersebut meningkat kepada RM49,106.93.

Sumbangan terbesar yang diterima bagi mengisi Tabung Kemanusiaan Aceh ialah dari syarikat pengeluar produk berasaskan getah, MARDEC Berhad berjumlah RM25,000.

Penyumbang lain termasuk Masjid Jamek Alam Shah, Jalan Tun Razak, di sini yang menghulurkan sumbangan berj umlah RM6,723 hasil kutipan derma masjid tersebut selama seminggu bermula 31 Disember lepas.

Selain itu, Masjid Universiti Putra Malaysia turut menyumbangkan kutipan derma berjumlah RM6,000 serta 26 kotak berisi baju untuk disalurkan kepada tabung kemanusiaan Aceh.

Persatuan Kebajikan dan Sukan Perkeso (Kespo) pula menyumbang sebanyak RM5,050. Sumbangan disampaikan oleh Menteri Sumber Manusia, Datuk Dr. Fong Chan Onn.

Turut menghulurkan sumbangan hari ini ialah Datin Normila Sulaiman sekeluarga (RM10,000), Suraizah Ahmad (RM2,200), Persatuan Kemajuan Masyarakat dan Penduduk Taman Datuk Senu, Sentul (RM1,265).

Selain itu Ahli Jawatankuasa Surau Rahmahniah, Jalan F, Kampung Pandan (RM600) turut menderma kepada tabung berkenaan.

Persatuan Bekas Tentera Malaysia Cawangan Lembah Pantai melalui ketua cawangannya, Mejar (B) Mohd. Ismail Salleh juga turut menghulurkan sumbangan berjumlah RM2,000 bagi mengisi Tabung Kemanusiaan Aceh.

Turut menyampaikan sumbangan ialah pelajar-pelajar dan guru-guru Sekolah Rendah Kebangsaan Gombak 2 yang diwakili guru penyelaras kutipan, Kharil Aswan yang menyerahkan derma berjumlah RM1,435.

Kesatuan Pekerja-Pekerja Koperasi Polis Diraja Malaysia (Keskop) juga turut menyampaikan sumbangan berjumlah RM760 menerusi Setiausahanya, Siti Nor Zila Mohd. Zain.

Dalam pada itu, seorang warga Myanmar, Amin Bashir, 39, memberi sumbangan peribadinya yang kedua sebanyak RM500 bagi mengisi Tabung Kemanusiaan Aceh selepas menderma jumlah yang sama kepada Tabung Bencana Tsunami Utusan sebelum ini.

Penyumbang lain termasuk Pengurus Perniagaan Madu Asli, Azman Daud berjumlah RM1,000; sepasang suami isteri daripada Sabah, Soo Shuang Hock dan Lim Yang Lang (RM500), wartawan KOSMO!, Jessabel Soo (RM500), Ismail Abu Samah (RM200) dan orang perseorangan (RM5,000).

Di Kedah, tiga beradik dari lorong pipit, Jalan Sultanah, Alor Star, Sumaiyah Ramli, 13, Mohd. Hafiz, 9, dan Farhan, 8, sanggup memecah tabung simpanan untuk menghulurkan sumbangan berjumlah RM745.80 kepada Tabung Kemanusiaan Aceh.

Pejabat Utusan Melayu Alor Star turut menerima sumbangan orang ramai berjumlah RM10,279.30 dengan penyumbang terbesar diterima daripada Agensi Pekerjaan NBC Evercare Sungai Petani sebanyak RM3,000.

Di Sabah, Timbalan Menteri Perumahan dan Kerajaan Tempatan, Datuk Azizah Mohd. Dun menyerahkan sumbangan sebanyak RM13,000 dari Perkumpulan Perempuan Sabah (PPS) dan RM500 dari seorang individu kepada Tabung Kemanusiaan Aceh.

Di Melaka, seramai 28 ahli Kelab Pemilik Proton Perdana Melaka (Prime) hari ini berjaya membuat kutipan sebanyak RM1,061.20 untuk Tabung Kemanusiaan Aceh.

Presidennya, Arifin Salleh berkata, inisiatif tersebut diadakan atas kesedaran setiap ahli kelab itu yang sudi membantu bagi meringankan bebanan mangsa-mangsa berkenaan.

Sementara itu, orang ramai boleh menghulurkan sumbangan kepada Tabung Kemanusiaan Aceh Utusan-Maybank itu dengan menggunakan nombor akaun 5-14011-38916-2.

Sumbangan juga boleh dibuat menerusi mana-mana kaunter cawangan Maybank bagi tunai dan cek, Mesin Deposit Cek Maybank, Pindahan Wang Ketiga melalui Mesin ATM atau melalui Internet di alamat www.maybank2u.com.my



Bantu bangun semula Aceh

Bantu bangun semula Aceh
BANDA ACEH 8 Jan. - Pertubuhan dan masyarakat Islam di Malaysia digesa mengambil kesempatan untuk bersama-sama membantu membangunkan semula wilayah Aceh yang mengalami kemusnahan teruk akibat dilanda bencana tsunami.

Konsul Jeneral Malaysia ke Medan, Mohd. Yusoff A.Bakar berkata, rakyat Aceh amat memerlukan sumbangan daripada masyarakat Islam Malaysia bagi mewujudkan sekolah-sekolah yang rosak atau musnah akibat bencana tersebut.

``Mereka juga amat memerlukan sokongan dan bantuan kita bagi membaik pulih masjid-masjid yang rosak akibat gempa bumi dan dilanda tsunami,'' katanya kepada Mingguan Malaysia ketika ditemui di sini, hari ini.

Dalam kejadian pada 26 Disember lalu, lebih 100,000 penduduk Aceh terbunuh dan beribu-ribu bangunan termasuk sekolah serta kediaman musnah akibat bencana berkenaan yang dianggap paling buruk dalam sejarah Republik Indonesia.

Mohd. Yusoff berkata, masyarakat Islam Malaysia juga perlu menghulurkan bantuan bagi mewujudkan rumah-rumah anak-anak yatim kepada lebih 38,000 kanak-kanak Aceh yang kini hidup sebatang kara.

Program

``Mereka itu kini ditempatkan di pusat-pusat penempatan sementara dan adalah lebih baik jika ada masyarakat Islam Malaysia membantu membina rumah dan membiayai pengurusan untuk anak-anak yatim ini demi masa depan mereka, katanya.

Beliau berkata, bantuan kepada kanak-kanak berkenaan boleh juga dilakukan melalui program anak angkat .

``Tetapi ia hanya dari segi pembiayaan dari jauh sahaja kerana pemerintah Indonesia tidak akan membenarkan kanak-kanak berkenaan dibawa keluar dari negara itu, katanya.

Bagaimanapun, Mohd. Yusoff berkata, bagi memastikan bantuan yang hendak diberikan itu berkesan yayasan dan masyarakat Malaysia perlu melakukannya secara bersama-sama.

``Maknanya, yayasan atau pertubuhan Islam yang berminat perlu bergabung dan bukannya bertindak secara bersendirian kerana kita bimbang langkah itu hanya akan menyebabkan bantuan yang hendak disalurkan menjadi sia-sia,'' katanya.



Aceh: Sukar mempercayai apa yang berlaku

Sukar mempercayai apa yang berlaku
KUALA LUMPUR 8 Jan. - Walaupun sudah beberapa jam tiba di sini selepas melakukan lawatan ke Aceh semalam, Menteri Pembangunan Wanita dan Masyarakat, Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil berkata, `hatinya' tetap terlekat di wilayah itu.

Menurutnya, pengalaman menyaksikan sendiri kesan bencana tsunami di wilayah itu membuatkan beliau masih berfikir bagaimana warga malang di wilayah itu melalui pengalaman amat perit dan menakutkan yang mungkin tidak terjangkau oleh fikiran manusia.

``Saya masih tertanya-tanya dan berfikir bagaimana mereka melalui pengalaman dahsyat itu. Ia akan memilukan hati sesiapa sahaja.

``Ia membuat kita berfikir pasal kehidupan, saya menyaksikan kemusnahan kepada suatu kehidupan, lenyap...pergi begitu saja,'' katanya ketika berucap merasmikan pejabat agensi pelancongan Pro Highway Travel di sini hari ini.

Sharizat berkata, semasa dibawa melawat kawasan bencana di Banda Aceh bersama Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, beliau sama sekali tidak menyangka kawasan yang pernah didiami manusia lenyap dengan sekelip mata.

``Saya asyik bertanya kepada lelaki di situ, betulkan di situ ada penempatan di situ sebelum ini? saya tanya soalan sama berulang kali.

``Sukar untuk mempercayai kawasan yang terbentang luas itu pernah diduduki ratusan ribu orang, yang tinggal jasad manusia yang sudah kaku dan bergelimpangan, ia benar-benar menyedihkan.

``Dan saya cakap pada diri saya, betapa kita sebagai manusia perlu menghargai hidup,'' katanya lagi.

Beliau yang juga Ahli Parlimen Lembah Pantai berkata, sejurus turun dari helikopter selepas membuat lawatan itu, beliau berkesempatan bertemu dengan beberapa ahli pasukan misi kemanusiaan Malaysia yang ditugaskan ke Aceh.

``Saya tengok tidak kira perempuan atau lelaki, dengan keadaan yang tidak teratur, mereka bertungkus lumus memberi bantuan. Mereka benar-benar membuatkan saya bangga.

``Kepada mereka, syabas saya ucapkan, kecekalan dan ketabahan mereka pasti menjadi kebanggaan seluruh rakyat Malaysia,'' ujarnya lagi.




Ibarat gambaran kiamat -- Pengalaman Mercy, pasukan bantuan pertama tiba di Banda Aceh
Oleh HELMI MOHD. FOAD dan NOOR AZAM SHAIRI
KUALA LUMPUR 8 Jan. - Bagaimana dahsyatnya kehancuran Banda Aceh dan sekitarnya begitu juga hebatnya kesengsaraan yang ditanggung oleh pesakit mangsa-mangsa bencana gempa bumi dan gelombang maut tsunami.
Tiada perkataan yang dapat menggambarkan kesengsaraan dan kesakitan mereka.
Bayangkan, lumpur hitam dan pekat mengalir keluar dari gegendang telinga dan hampir semua rongga mangsa-mangsa yang menerima rawatan.
Bayangkan juga lumpur yang sama bercampur rumput-rumput dan dalam sesetengah kes, ulat-ulat yang merenyut disedut keluar dari paru-paru mangsa.
``Keadaannya terlalu teruk dan saya melihat sendiri ada sesetengah mangsa yang muntah lumpur.
``Kanak-kanak pula bergelut untuk menarik nafas sehingga hampir tidak mengeluarkan sebarang bunyi kerana paru-paru mereka padat dipenuhi lumpur,'' cerita Presiden Persatuan Bantuan Perubatan (Mercy) Malaysia, Dr. Jemilah Mahmood kepada Mingguan Malaysia ketika ditemui di pejabatnya di sini, hari ini.
``Sudah tidak kelihatan seperti manusia kerana seluruh tubuh mereka bersalut lumpur,'' tambah beliau yang merujuk kepada mangsa-mangsa tsunami yang berada di hospital.
``Jadi kita kena bersihkan pesakit-pesakit itu, tetapi masalahnya, mereka tidak ada pakaian salin yang lain,'' tambahnya.
Beliau memberi gambaran para pesakit mangsa tsunami yang dirawat di hospital yang keadaannya cukup menyayat dan menyentuh perasaan mereka yang melihatnya.
Dr. Jemilah yang pulang ke tanah air semalam berkata, akibat terlampau banyak tertelan lumpur, mangsa-mangsa berkenaan dan paling menyedihkan kanak-kanak mengalami masalah komplikasi radang paru-paru yang teruk.
Jelas beliau, daripada cerita-cerita mangsa yang terselamat, ombak besar itu menggulung naik ke darat membawa bersamanya kandungan tanah dari perut bumi selepas kejadian gempa bumi 9.0 pada skala Richter itu.
``Mereka percaya air itu bukan air laut biasa, tetapi mengandungi asid.
``Apa yang dirempuh oleh air itu mati, baik manusia, pokok mahupun rumput,'' katanya.
Dr. Jemilah berkata, kebanyakan mangsa yang terselamat itu juga dipercayai tertelan air berlumpur yang hitam dan pekat itu, masuk ke dalam perut dan paru-paru.
``Kita terpaksa menyedut lumpur itu dari paru-paru mereka sebelum dapat memberikan rawatan,'' katanya.
Dr. Jemilah yang mengetuai pasukan kedua Mercy Malaysia berada di Aceh sejak 29 Disember lalu - dua hari selepas bencana tsunami dari Lautan Hindi yang melanggar beberapa negara Asia.
Mercy Malaysia adalah pasukan bantuan perubatan antarabangsa pertama memasuki Banda Aceh - antara bandar yang musnah teruk dengan menghantar pasukan penilai pada 28 Disember lalu.
Dr. Jemilah juga menceritakan tentang keadaan mangsa-mangsa yang mengalami trauma akibat bencana dahsyat itu.
Mereka katanya, berjalan seperti orang sasau - terpinga-pinga kebingungan dengan mata yang tidak menunjukkan sebarang emosi.
``Mereka tidak tahu ke mana hendak dituju, ke sana ke mari mencari anggota keluarga,'' katanya.
Ditanya tentang semangat mereka yang terselamat itu bertarung meneruskan hidup, Dr. Jemilah berkata: ``Semangat mereka sangat mengharukan saya.''
Katanya, ada mangsa yang sudah patah terkulai tangannya atau tulang tersembul keluar di kaki, tetapi masih kuat berjalan datang ke hospital.
``Ada yang terpaksa dijahit tanpa menggunakan bius, tetapi tidak meraung,'' katanya.
Ditanya apakah yang disaksikan olehnya sebaik sampai di Banda Aceh, Dr. Jemilah dengan penuh sebak menyatakan, beliau seperti melihat gambaran kiamat di depan mata.
Jelas beliau, apa yang diceritakan dalam al-Quran tentang hari kiamat itu semuanya berlaku - orang bertempiaran, anak terlepas dari tangan, ibu mengandung melahirkan anak.
Kebenaran peringatan kitab suci katanya jelas terbukti apabila beliau dan anggota pasukan Mercy Malaysia menyaksikan jenazah seorang ibu bergelimpangan dengan janin yang masih melekat tali pusat terkeluar daripada rahim.
``Ini sangat menginsafkan. Kami terpaksa berdepan emosi diri sendiri, emosi pesakit dan keadaan sekeliling.
``Ia sesuatu yang sangat mencabar dan dalam keadaan itu semua, saya terpaksa mengekalkan semangat para sukarelawan,'' katanya.

Mangsa tsunami terdedah ancaman pelbagai penyakit berbahaya

Mangsa tsunami terdedah ancaman pelbagai penyakit berbahaya
Oleh Raihanah Abdullah


MANGSA ombak besar tsunami kini diancam pelbagai penyakit bawaan air yang boleh membawa maut seperti taun, demam kepialu, malaria dan cirit-birit berdarah. Tanpa disedari dan dalam sekelip mata, ribuan manusia terdedah kepada penyakit berbahaya yang boleh meragut nyawa jika tiada rawatan khusus.



Taun atau kolera memang penyakit bahaya yang boleh menyebabkan maut jika penghidapnya tidak mendapat rawatan segera.

Ini kerana, pesakit taun akan mengalami masalah kehilangan air, zat dan garam galian daripada tubuh dan jika kehilangan itu tidak diganti segera, ia boleh mengancam nyawa mangsa.

Penyakit berjangkit itu amat berbahaya kerana bakteria halus berbentuk seperti tanda koma itu menyerang sistem penghadaman dan menyebabkan kehilangan air yang banyak daripada tubuh penghidapnya.

Pakar Perubatan Kesihatan Awam yang juga Ketua Bahagian Bebanan Penyakit Institut Kesihatan Umum Kementerian Kesihatan, Dr Ahmad Faudzi Yusoff, berkata penyakit taun berlaku apabila manusia dijangkiti sejenis kuman dikenali sebagai Vibrio cholerae.

Beliau berkata, taun lebih kerap ditemui di negara Asia Tenggara, dan negara lain seperti Bangladesh dan India.

Kelemahan mereka itu menyebabkan kuman taun yang boleh membiak dengan begitu pantas, bercambah dan menjadi sehingga beribu-ribu ekor dalam masa beberapa minit.

Faktor persekitaran iaitu yang kotor dan tidak terurus adalah punca utama merebaknya penyakit itu.

"Ini termasuk makanan, terutama makanan yang tidak dimasak, makanan sejuk seperti ais, ais krim, air batu campur dan cincau. Lalat, telaga yang terdedah dan tangan penghidap adalah ejen pembawa kuman taun yang ada pada najis dan muntah penghidapnya," katanya.

Dr Ahmad Faudzi berkata, lalat itu kemudian menyebarkan kuman taun dengan hinggap pada makanan terdedah, manakala punca air yang tercemar itu membawa kuman kepada mereka yang minum air tidak dimasak.

Tangan yang kotor dan dicemari kuman taun pula menyebabkan kuman taun tersebar apabila menyentuh makanan tanpa membasuh tangan terlebih dulu.

Katanya, pembawa taun mempunyai dua kategori, iaitu mereka yang menunjukkan tanda berpenyakit taun dan pembawa yang sihat tetapi kronik.

Beliau berkata, pembawa yang sihat tetapi kronik selalunya tidak menunjukkan sebarang tanda penyakit itu tetapi di dalam saluran penghadaman mereka dipenuhi kuman taun dan lazimnya akan menyebarkan kuman terbabit.

"Proses pengeraman kuman taun ialah di antara beberapa jam hingga lima hari dan selepas tempoh itu, mangsa akan mula menunjukkan tanda-tanda diserang wabak itu," katanya.

Katanya, pada tempoh itu juga kuman dalam saluran penghadaman mangsa akan menghasilkan sejenis toksin atau racun yang mengubah sistem dalam saluran penghadaman.

Beliau berkata, dalam proses normal, saluran penghadaman itu akan menyerap semua air tetapi toksin terbabit menjadikan mangsa cirit-birit dan muntah-muntah.

FAKTA:
Cara transmisi

MELALUI makanan dan minuman yang tercemar oleh agen penyebab dan mencemar secara langsung atau tidak langsung sama ada daripada najis pesakit atau pembawa atau dari muntah pesakit atau pembawa.

Makanan laut yang tercemar oleh kuman taun dan dimasak tidak sempurna. Contohnya, kerang, siput sedut dan lala.

Selain itu, makanan hasil susu, telur dan ayam yang tercemar oleh kuman taun juga boleh menyebarkan kuman penyakit itu jika ia tidak dimasak dengan sempurna.

Simptom:

Cirit-birit.


Najis yang dikeluarkan selalunya mengandungi banyak air dan bercampur garam dan potasium.


Mual dan loya.


Muntah-muntah berterusan.


Kulit badan menjadi kering dan pesakit selalu dahaga, lidah menjadi kering dan mata cengkung akibat banyak cecair hilang daripada badan melalui muntah dan cirit-birit.


Lidah kebiru-biruan.


Perut leper kerana cirit-birit.


Nadi lemah.


Percakapan menjadi perlahan.


Tekanan darah menurun.


Otot menjadi tegang dan berlaku tarikan atau kekejangan otot yang kerap.


Pitam dan pengsan.

Tindakan:

PENGHIDAP hendaklah segera ke klinik atau hospital berdekatan dan perlu minum air sebanyak mungkin bagi mengelak proses dehidrasi (kekeringan air) yang teruk.

Bagaimanapun, sebelum ke klinik, penghidap perlu meminum air sebanyak mungkin bagi mengelak proses dehidrasi yang teruk.

Panduan mencegah jangkitan


Minum air yang dimasak kerana suhu air mendidih akan membunuh bakteria. Gunakan air bersih seperti air paip atau telaga yang diletak klorin untuk kegunaan harian seperti membasuh pinggan mangkuk, makanan segar, menggosok gigi dan mengambil wuduk.


Pilih gerai atau tempat makan yang bersih. Bagaimanapun, langkah lebih bijak ialah dengan menghentikan pengambilan makanan di gerai makanan buat sementara waktu.


Pastikan makanan yang dibeli tidak dihurung lalat.


Pastikan pengendali makanan memakai apron, penutup kepala dan penyepit atau senduk apabila mengambil makanan.


Elakkan minum air sejuk, terutama ais kacang, cincau atau cendol.


Sebaik-baiknya, ambil makanan panas dan elakkan makanan sejuk seperti ais, ais krim, air batu campur kerana bakteria taun mudah membiak dalam suhu sejuk.


Pastikan persekitaran rumah bersih. Musnahkan semua tempat pembiakan lalat dan makanan hendaklah ditutup.


Sayur-sayuran dan buah-buahan segar hendaklah dicuci dengan sempurna menggunakan air bersih.


Pastikan tandas sentiasa bersih.


Jaga kebersihan tandas selepas menggunakannya.


Pam tandas setiap kali selepas menggunakannya.


Basuh tangan selepas keluar dari tandas.


Basuh tangan dengan sabun sebelum makan.


Basuh tangan sebelum memasak dan mengendalikan hidangan.


Lapangan Terbang Aceh sesak dengan pesawat bantuan asing

Ombak Besar: Lapangan Terbang Aceh sesak dengan pesawat bantuan asing
Daripada Wan Jailani Razak di Banda Aceh


PADA hari-hari sebelum 26 Disember lalu, Lapangan Terbang Aceh, Indonesia, hampir sunyi dan hanya digunakan bagi penerbangan domestik.



Dengan keluasan kira-kira sebesar Lapangan Terbang Ipoh, lapangan terbang itu dianggarkan mengendalikan tidak lebih 20 penerbangan sehari.

Bagaimanapun, selepas bencana tsunami paling teruk melanda wilayah ini, lapangan terbang itu kini bertukar wajah. Pelbagai jenis pesawat kargo dari seluruh dunia kini bertumpu di sini.

Semua hadir dengan satu tujuan – melaksanakan misi bantuan kemanusiaan bagi meringankan penderitaan mangsa.

Jika di pulau pelancongan Langkawi, Malaysia, ia hanya berlaku ketika Pameran Udara dan Maritim Antarabangsa Langkawi (Lima) yang diadakan setiap dua tahun apabila dikunjungi pelbagai pesawat canggih bertandang.

Di ini pula, ia boleh dianggap ‘mini Lima’ apabila dapat disaksikan pesawat dari Amerika Syarikat iaitu Hercules C-130, helikopter Blackhawk dan kapal perang USS Lincoln, manakala Tentera Udara Diraja United Kingdom dengan Hercules C-17.

Selain itu, pesawat C-130 dari Australia dan Singapura juga dilihat berlegar di ruang udara Aceh.

Deruan enjin pesawat di udara sebenarnya amat dinanti-nantikan penduduk Aceh. Setiap deruan bermakna ‘bantuan sudah tiba’.

Apa tidaknya, ada penduduk kampung hanya berkain dan tidak berbaju bagi lelaki dan kanak-kanak pula tanpa berselipar meluru ke arah bunyi deruan pesawat yang terbang rendah untuk menantikan kotak berisi makanan dan bantuan lain dijatuhkan dari pesawat.

Bagaikan ‘rezeki jatuh dari langit’. Perebutan sesama mereka bukan lagi keadaan luar biasa.

Kehadiran pesawat atas nama kemanusiaan menyebabkan berlaku kesesakan trafik di udara dan landasan lapangan terbang itu sehingga memaksa beberapa penerbangan asing terpaksa ditangguh.

Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) tidak terkecuali apabila dua Hercules C-130 terpaksa menangguhkan penerbangan, kelmarin selepas tidak mendapat lampu hijau daripada menara kawalan trafik udara di Medan.

Pasukan penyelamat yang menyertai penerbangan itu hanya selamat tiba di Lapangan Terbang Aceh di sini, pada jam 4 petang semalam (jam 3 petang waktu Indonesia), selepas dua jam penerbangan.

Bagaimanapun, mereka terpaksa menunggu setengah jam sebaik mendarat untuk mendapatkan ruang untuk meletak pesawat berikutan laluan trafik di landasan yang sibuk.

Kesukaran itu kemudian diatasi apabila sebuah helikopter Nuri milik TUDM dialihkan ke padang rumput berhampiran.

Ketika menunggu giliran itu, empat helikopter asing berlegar di udara untuk mendarat. Paling banyak, 10 pesawat bersaiz C-130 berada di landasan pada satu-satu masa.

Dalam pada itu, berbekalkan semangat tinggi untuk berkhidmat, seramai 100 anggota penyelamat yang menyertai misi kedua itu terus mengeluarkan barangan bantuan dari pesawat sebelum menghadiri satu taklimat mengenai operasi di sini bagi menyambung tugasan misi pertama.

Menceritakan mengenai penangguhan penerbangan sebelum itu, Pengarah Bahagian Keselamatan Negara (BKN), Jabatan Perdana Menteri, Nadzri Siron, yang mengetuai misi kedua itu, berkata penerbangan terpaksa ditangguhkan beberapa kali kerana tidak mendapat ’lampu hijau’ daripada menara kawalan di Lapangan Terbang Medan, Indonesia.

Bagaimanapun, katanya, anggota pasukan tetap bersemangat tinggi bagi membantu mangsa di wilayah yang paling teruk dilanda tsunami itu apabila semua hadir di pangkalan udara di sini sebelum jam 8 pagi untuk hari kedua percubaan berlepas.

“Kita tidak boleh menyalahkan sesiapa kerana ketika ini, lapangan terbang Aceh terus sesak dengan penerbangan bantuan kemanusiaan dari seluruh dunia yang prihatin dengan penderitaan mangsa.

“BKN juga terus menerima permohonan daripada banyak pihak yang mahu ke Aceh untuk menyertai pasukan bantuan kemanusiaan. Bagaimanapun setiap permohonan perlu diteliti demi keselamatan mereka,” katanya ketika ditemui sebelum berlepas.

BKN yang menjadi sekretariat kepada operasi menyelamat dan bantuan kemanusiaan sedang berunding dengan kerajaan Indonesia bagi mendapatkan sebidang tanah untuk dijadikan tapak stor simpanan.

Ini berikutan pusat operasi di lapangan terbang di sini tidak lagi sesuai berikutan kerja pemunggahan barang dan kemudahan untuk bertugas agak terhad.

Kelmarin, anggota pasukan yang mengikuti misi berkenaan sudah berada dalam ‘perut’ Hercules pada jam 7.15 petang dan sedia berlepas tetapi terpaksa keluar semula selepas juruterbang tidak mendapat kebenaran untuk mendarat, pada saat akhir.

Misi kedua itu disertai pegawai BKN, Smart, Jabatan Bomba dan Penyelamat, paramedik Angkatan Tentera Malaysia (ATM), Persatuan Bulan Sabit Merah Malaysia, Hospital Kuala Lumpur (HKL), Global Peace Malaysia dan wartawan.

Pemergian dengan dua pesawat Hercules C-130 milik TUDM itu ialah bagi menggantikan misi pertama yang sepatutnya pulang petang kelmarin, selepas 10 hari berada di Aceh.

Malaysia sehingga kini menghantar dua penerbangan bantuan kemanusiaan pada 28 dan 29 Disember lalu dan sebuah kapal KD Sri Mahawangsa milik Tentera Laut Diraja Malaysia, Rabu lalu.

Orang ramai di Malaysia boleh melayari mms.rmkl.fm untuk mengetahui berita terkini tsunami di Aceh.

Dr Jamilah Mahmood di Aceh

Sukarelawan tidak putus asa rawat pesakit


KUALA LUMPUR: “Sesuatu yang cukup menyedihkan buat seorang doktor apabila bertungkus lumus merawat pesakit, tetapi ia masih tidak dapat diselamatkan. Saya tidak mampu meluahkannya dengan kata-kata apabila ramai mangsa tsunami di Banda Aceh menemui ajal,” kata Presiden Persatuan Bantuan Perubatan Malaysia (Mercy), Datuk Dr Jamilah Mahmood.



Tanpa perasaan putus asa, Dr Jamilah dan sukarelawan lain meneruskan misi mereka memberikan bantuan, selain menyelamatkan nyawa mangsa yang tercedera.

Mercy Malaysia menjadi pasukan perubatan pertama tiba di Banda Aceh 28 Disember lalu, selepas dua hari bandar itu dilanda bencana tsunami.

Beliau yang kembali ke tanah air bersama dua sukarelawan lain, Dr Quah Boon Leong dan Che Tah Hanafi selepas hampir dua minggu berada di Banda Aceh menceritakan pengalamannya merawat beratus-ratus mangsa dan pesakit di Hospital Tentera Kesdam, sebuah hospital tentera kecil di bandar berkenaan.

Dr Jamilah berkata, beliau tidak pernah melalui pengalaman dan keadaan yang begitu teruk seperti di Banda Aceh, walaupun sebelum ini pernah memberi bantuan kepada ratusan mangsa bencana dan peperangan di negara lain.

“Mayat mangsa bencana berada di mana-mana. Lebih menyayat hati apabila melihat ratusan mayat bergelimpangan di lobi hospital.

“Saya tidak mam pu mengira ratusan mayat mangsa yang berada di ruang legar lobi hospital dalam sesuatu masa. Dengan lolongan kanak-kanak yang luka parah dan raungan pesakit yang menahan kesakitan sementara menunggu giliran untuk diberi rawatan cukup menghibakan,” katanya kepada pemberita dalam sidang akhbar di Hospital Pakar Ampang Puteri, di sini, petang semalam.

Sambil menitiskan airmata, Dr Jamilah berkata, keputusan paling menyukarkan baginya apabila terpaksa memilih hanya mereka yang mempunyai peluang cerah untuk hidup dari kalangan beratus-ratus mangsa yang memerlukan rawatan perubatan segera.

Katanya, seramai 19 sukarelawan Mercy Malaysia masih berada di Banda Aceh dan bekerja dengan Badan Bukan Kerajaan (NGO) Antarabangsa untuk memberikan bantuan. Kumpulan keempat seramai tujuh sukarelawan tiba di Banda Aceh semalam, membabitkan pakar bedah, gynaecologists dan cardiologists.

Sementara itu, Dr Quah Boon Leong, 25, berkata keadaannya tidak sama ketika memberi bantuan mangsa peperangan di Bam, Iraq, sebelum ini.

“Situasi di Bam tidak seteruk keadaan di Banda Aceh dan apa yang saya lihat apabila pertama kali menjejak kaki ke bumi itu adalah kemusnahan. Mayat manusia berada di mana-mana dan ia bukan lagi sesuatu yang pelik apabila hampir dua minggu memberikan bantuan perubatan pada mangsa,” katanya.

Dr Quah berkata, beliau tidak dapat menganggarkan berapa pesakit yang dirawat sejak mula memberikan bantuan perubatan pada mangsa.

“Sukar untuk saya ingat berapa ratus pesakit yang dirawat dalam masa sehari kerana ia terlalu ramai. Ada yang hampir dijemput maut dan ada juga yang masih boleh diselamatkan,” katanya.



Kembar Siam: ahmad & Muhammad

Alam ceria Along, Angah
Oleh Ahmad Fauzi Mustafa


SIAPA sangka pasangan kembar, Ahmad dikenali sebagai Along dan Muhammad dikenali sebagai Angah, yang selamat dipisahkan melalui pembedahan lebih 17 jam di Riyadh, Arab Saudi dua tahun lalu, semakin serasi mengharungi kehidupan normal.



Anak pasangan Rosli Abdul Rahim, 34, dan Aisyah Kanda, 30, terus ceria setelah mereka memulakan alam persekolahan, Isnin lalu. Pada wajah mereka, keperitan dan pengalaman pahit masa lalu tidak tidak lagi menghantui fikiran.

Bapa mereka, Rosli pernah menitiskan air mata gembira dan bersyukur apabila anaknya dapat bersekolah seperti kanak-kanak normal lain di Tabika Kemas Siber, Kampung Tengah di Puchong, awal Januari 2003.

Ahmad dan Muhammad dapat menyesuaikan diri dengan kanak-kanak lain walaupun baru kali pertama bertemu, malah ketika sesi memulakan persekolahan di taman bimbingan itu menjadi tumpuan ramai.

Situasi sama sekali lagi menjelma Isnin lalu pada sesi suai kenal hari pertama sekolah di mana Ahmad dan Muhammad kelihatan bersemangat dan ceria di Sekolah Rendah Kebangsaan Seksyen 27(2) Shah Alam yang terletak kira-kira 6.5 kilometer dari rumah mereka.

Kehadiran pasangan itu menjadi tumpuan kanak-kanak lain dan guru apabila mereka tidak janggal bergaul dengan rakan baru yang turut memberi bantuan kepada mereka untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Pasangan kembar itu yang tiba di sekolah pada kira-kira jam 7 pagi dengan berkerusi roda, disorong bapa mereka, Rosli yang kemudian membawa mereka ke kelas di tingkat dua sekolah berkenaan.

Ahmad dan Muhammad diletakkan dalam kelas Satu Anggerik. Penulis yang mengunjungi rumah pasangan kembar di Jalan Kempas, Kampung Tengah, terpaksa menunggu hampir empat jam apabila kedua-dua mereka tidur kerana kepenatan pada hari kedua persekolahan.

Sambil menunggu dan ditemani bapa mereka, penulis sempat menjeling ke arah dua beg sekolah yang tersusun rapi serta buku latihan yang diikat rapi di ruang tamu. Terdetik hati penulis, agaknya milik pasangan kembar itu.

Apapun sebaik terjaga dua kanak-kanak istimewa itu, suara Along dan Angah mula kedengaran memecah kesunyian.

Mungkin tidak perasan kunjungan penulis, kedua-dua adik beradik itu terus mencapai beg sekolah sebelum mengeluarkan pensil warna dan buku.

Wah! Semangat sungguh kedua-duanya sebelum disapa penulis dan bapa mereka sehinggakan Ahmad dan Muhamad tersipu-sipu. Namun perasaan itu hanya seketika dan mula tidak mempedulikan tetamu.

Semakin ligat tangan mereka mewarnakan gambar dan sesekali membaca dengan kuat.

“Saya suka bermain bola...saya suka makan...saya suka membaca...saya suka menyanyi.

“Sekarang abang (Along) pula baca buku ini,” kata Angah. Kemudian dibalas balik abangnya: “Nanti dulu, biar Along warnakan gambar ini. Lepas tu barulah baca buku.”

Penulis sempat bertanya apa perkara menarik yang ditempuhi sepanjang dua hari bersekolah. Secara serentak, Ahmad dan Muhammad mengatakan mereka mempunyai terlalu ramai kawan.

“Ramai kawan sampai tak ingat nama mereka. Semuanya baik-baik. Kawan banyak bantu (tolak kerusi roda). Kalau macam ni... kan bagus,” kata Ahmad.

Bapa pasangan kembar itu, Rosli, ketika ditemui berkata, dia melihat kedua-dua anaknya sungguh gembira dan tidak sabar untuk memulakan persekolahan.

“Walaupun mereka terpaksa bergerak menggunakan kerusi roda, semangat mereka berkobar-kobar untuk belajar.

“Malah saya sudah pesan kepada Ahmad dan Muhammad bahawa menerusi ilmu saja yang boleh membantu nasib mereka berjaya pada masa depan.

“Itulah harta yang saya boleh berikan kepada mereka. Tanpa ilmu seseorang itu tidak akan ke mana. Kerana itu, saya cuba terapkan (proses pembelajaran) secara perlahan kepada dua anak saya itu.

“Jangan kasihan mereka kerana ia boleh membuat anak saya terlupa dan terleka. Apa yang penting berikan peluang dan ruang,” katanya.

Pasangan kembar itu mendapat perhatian masyarakat selepas didedahkan media pada awal 1999. Lahir pada 23 April 1998 di Hospital Universiti Petaling Jaya, Ahmad dan Muhammad pada awalnya sebagai pasangan kembar siam.

Kedua-duanya bercantum pada bahagian dada hingga ke punggung. Anggota luaran tersendiri di atas dada dan kepala. Satu anggota bawah punggung dan berkongsi anggota yang tidak normal. Mempunyai tiga kaki. Satu daripadanya tidak berfungsi. Malah kedua-duanya berkongsi usus, berkongsi saluran kencing, berkongsi tulang pelvik di bahagian pinggul serta pembuluh darah banyak bersilang antara pundi kencing.

Di samping itu, hati dalam satu pundi pembalut, berkongsi dua buah zakar dan bahagian kemaluan bertindih (Muhammad miliki kemaluan luar).

Ketika detik kelahiran kembar itu, ibu Ahmad dan Muhammad terpaksa menjalani pembedahan kerana tidak boleh melahirkan anak secara normal.

Pada awalnya, Rosli tidak menyangka akan kehadiran anak sulung mereka sehingga dia tergamam tetapi dipujuk sanak saudara bahawa itu adalah ketentuan Ilahi dan mempunyai hikmahnya.

Selepas kelahiran itu, anak kembar siam diletakkan di dalam inkubator selama 40 hari supaya pengawasan rapi boleh dilakukan ke atas mereka. Selepas tempoh itu, kembar berkenaan dibenarkan pulang selama seminggu sebelum diletakkan di wad selama tiga hari dan diberi rawatan selama dua minggu.

Keperitan keluarga Rosli dan Aisyah menyara anak kembar mereka terus mendapat perhatian sehingga apa yang dianggap mustahil memisahkan Ahmad dan Muhammad akhirnya menjadi realiti.

Sumbangan, keprihatinan dan keikhlasan pelbagai lapisan masyarakat dari peringkat golongan Raja, bangsawan dan orang biasa membolehkan pasangan kembar siam itu berjaya dipisahkan.

Segala-galanya bermula dari kejayaan pembedahan diketuai Perunding Pembedahan Kanak-Kanak, Dr Abdullah al-Rabeeah serta 30 pakar perubatan dari Hospital King Fahd National Guard, Bandar Perubatan King Abdul Aziz di Riyadh, Arab Saudi, 17 September 2002.

Pembedahan itu selesai sepenuhnya tepat jam 12.40 malam (5.40 pagi waktu Malaysia). Pembiayaan pembedahan pemisahan yang bernilai RM1.69 juta ditaja Putera Mahkota Arab Saudi, Putera Abdullah Abdul Aziz.

Hasil pembedahan itu, Ahmad memperoleh kepala, tangan, jantung, sebahagian daripada hati, paru-paru, usus kecil dan dua pertiga kolon, satu buah pinggang dan saluran kencing yang disambung semula, zakar, satu buah zakar, satu kaki dan satu kaki palsu dan sebahagian pinggul.

Muhammad pula memperoleh kepala, tangan, jantung, sebahagian daripada hati, paru-paru, usus kecil dan satu pertiga kolon, satu buah pinggang dan saluran kencing yang disambung semula, zakar, satu buah zakar, satu kaki dan satu kaki palsu, sebahagian pinggul dan tiub saluran najis (tiruan).

Wardina: keluarga entah hidup, entah mati

60 lagi keluarga Wardina entah hidup, entah mati
Oleh Hanisah Selamat


BAYANGKAN 60 ahli keluarga saudara-mara kami di Meulaboh, di wilayah Aceh belum ditemui. Entah hidup entah mati. Siapa yang tidak sedih,” kata pelakon berdarah campuran Aceh – Australia, Wardina Saffiyah Fadhlullah ketika ditemui di rumahnya di Petaling Jaya, baru-baru ini.



Air matanya tidak mampu ditahan lagi sebaik saja bercerita mengenai saudara-maranya di sana. Sesekali dia mengesat air mata sambil meminta jurugambar supaya tidak merakamkan gambarnya sedang menangis.

“Hingga hari ini saya tidak boleh tidur lena, apatah lagi ibu saya... kami masih terputus hubungan dengan keluarga di sana. Begitupun, kami tidak akan putus memanjatkan doa untuk saudara mara kami dan mangsa tsunami walau di mana saja mereka berada. Insya-Allah, mungkin jika keadaan mengizinkan, kami sekeluarga akan ke sana dalam masa terdekat. Tanah Aceh tetap di hati biarpun ombak sudah membawa pergi segala kenangan dan orang yang kami sayangi...,” katanya.

Ketiadaan sistem perhubungan menyebabkan keluarga Wardina hanya menanti berita terbaru menerusi telefon bimbit dan kabel TV. Pada peringkat awal, ibunya sering menangis mengenangkan saudara mara mereka terutama di Meulaboh.

Tambahan pula, ketika itu salah seorang kakak ibunya belum dijumpai. Lebih menyedihkan apabila dikhabarkan ramai lagi saudara mara mereka masih tidak dapat ditemui dan sebahagiannya sudah disahkan meninggal dunia.

“Hanya doa yang mampu kami iringi untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Tetapi mereka yang masih diberi kesempatan untuk meneruskan hidup perlu dibantu. Bukan saja untuk saudara mara kami di sana malah mangsa lain terutama anak kecil yang menjadi yatim piatu.

“Keadaan itu menyebabkan kami berusaha mengumpul sumbangan daripada rakan dan saudara mara di sini. Sebenarnya, sudah enam lori barangan dihimpun dan dihantar ke sana. Syukur.... bukan saja kami, banyak pihak lain turut berusaha membantu semua mangsa,” katanya.

Khabar angin mengatakan kanak-kanak Aceh akan dibawa ke negara ini sebagai anak angkat menambah runsing ibu muda kepada seorang cahaya mata itu. Baginya, ia satu niat yang baik tetapi beliau berharap perkara berkenaan dikaji lebih terperinci dengan memikirkannya dari segenap sudut. Biarpun ramai warga Malaysia yang menyatakan berkeinginan memelihara anak itu, ia bukan penyelesaian terbaik.

“Ini sekadar pandangan peribadi saya. Sebagai bangsa Aceh, kami bangga dengan budaya dan warisan yang diperturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Mungkin ini bukan masa terbaik untuk bercerita mengenai salasilah keturunan, namun kita perlu memikirkan kesan jangka panjang. Anak-anak yang tinggal inilah yang akan meneruskan warisan nenek moyang,” katanya.

Menatap satu persatu keratan berita mengenai nasib anak kecil yang menjadi mangsa tragedi ini, Wardina mengakui perasaan terkejut, takut dan sedih saling berbaur. Terkejut kerana tidak menyangka ada manusia yang sanggup menculik dan mengambil kesempatan terhadap si kecil yang tidak mengerti apa-apa. Takut memikirkan masa depan mereka, malah beliau berasa cukup sedih kerana hanya mampu membantu dari jauh.

Anak kedua daripada lima beradik itu berkata, budaya Aceh diterapkan sejak mereka kecil, malah ibu mereka, Asmah Abdul Ghani, menjadikan dialek Aceh sebagai bahasa pertuturan di rumah, selain bahasa Melayu dan Inggeris. Setiap tahun, mereka sekeluarga tidak lupa menziarahi sanak saudara di sana yang kebanyakannya tinggal di Meulaboh, antara kawasan paling teruk ditimpa bencana itu.

Cuma sejak Wardina berusia 14 tahun, mereka tidak lagi dapat ke sana sekeluarga berikutan keadaan politiknya. Hanya ibu dan bapanya yang kerap pulang disebabkan adik-beradik sebelah ibunya masih tinggal di sana.

Bagaimanapun, hubungan dengan sanak saudara tidak pernah terputus apabila mereka sering mengunjungi keluarga Wardina di Petaling Jaya. Kali terakhir ibunya pulang ke Meulaboh, kira-kira dua bulan lalu. Malah ketika majlis perkahwinan Wardina dan suaminya, Ikhwan Johari, tiga tahun lalu, lebih 100 ahli keluarganya dari Aceh ‘berkampung’ di Petaling Jaya.

“Segala-galanya seperti mimpi. Macam baru semalam kami beramai-ramai berkumpul. Saya gembira kerana mereka dapat datang walaupun jauh. Apabila dikhabarkan mengenai bencana ini dan apabila mengetahui ramai sepupu, mak cik dan pak cik saya hilang, terbayang-bayang gurauan mereka ketika berkumpul dulu,” katanya dengan sebak.

Melihat pada bahagian depan rumah Wardina, sudah sedia terhimpun barangan keperluan yang didermakan orang ramai terutama pakaian, mainan dan tidak ketinggalan tilam serta bantal. Selain sekitar Selangor dan Kuala Lumpur, ada penderma yang sanggup datang dari Pulau Pinang untuk menyerahkan sumbangannya kepada keluarga pelakon dan model itu.

Wardina juga menjelaskan, atas usaha Presiden Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Datuk Seri Sanusi Junid, yang juga berketurunan Aceh, sumbangan berkenaan dapat dihantar segera. Bukan saja keluarganya rapat dengan keluarga bekas Menteri Besar Kedah itu tetapi hubungan persaudaraan sesama orang Aceh di sini terjalin erat, malah kediaman keluarga Wardina boleh dianggap sebagai ‘Aceh kecil’ di sini.

Fenomena aneh salji di padang pasir

Fenomena aneh salji di padang pasir
Oleh Meor Hisham Zulkifli


MINGGU penutup tirai 2004 menyaksikan dua keajaiban berlaku di dunia. Pertama bencana tsunami yang mengorbankan lebih 150,000 penduduk di pesisir pantai Lautan Hindi dan diikuti dengan turunnya salji di bumi padang pasir pada 28 Disember lalu.



Buat kali pertama dalam sejarah, penduduk Emiriah Arab Bersatu (UAE) menerima salji, fenomena yang amat pelik di negara gurun yang terkenal dengan suhu hingga 50 darjah Celsius ketika musim panas.

Ahli kaji cuaca melaporkan, salji tebal turun di kawasan pergunungan Ras al-Khaimah, kawasan paling utara di Emiriah itu ketika rantau berkenaan mengalami musim sejuk.

Perbadanan Penyiaran Britain melaporkan, penduduk memberitahu media tempatan, buat kali pertama sepanjang ingatan sejarah, salji turun di negara itu.

“Ia sudah pasti kejadian pelik yang berlaku setiap 20 atau 30 tahun sekali,” kata seorang pegawai kaji cuaca kepada Reuters.

Akhbar tempatan sebelum ini melaporkan, penduduk dikejutkan dengan hamparan putih salji di sebahagian jajaran pergunungan al-Jees.

Akhbar berbahasa Inggeris, Gulf News melaporkan, kawasan pergunungan yang terletak 1,737 meter daripada paras laut itu menyaksikan salji turun pada waktu malam dalam tempoh dua hari berikutan cuaca sejuk sehingga mencecah suhu serendah -5 darjah Celsius dan mengejutkan ramai penduduk negara ini.

Kawasan pergunungan itu bermula di UAE sehingga ke Oman dan tempat tertinggi di sesetengah tempat mencecah 2,500 hingga 3,000 meter.

Pada 27 Disember lalu, hujan lebat berukuran 12.6 milimeter berlaku di kawasan gurun Dubai, satu daerah yang jarang sekali menerima hujan.

Malah, turunnya salji di negara itu yang muncul berikutan hujan lebat dikatakan berlaku selepas pemimpin negara itu mengarahkan penduduk supaya mengadakan solat hajat dan berdoa meminta hujan pada November lalu.

Dan bulan lalu, Presiden UAE, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan dan Sheikh lain turut mengetuai penduduk Islam untuk sekali lagi mengadakan solat meminta hujan.

Mereka mengadakan solat hajat berikutan peningkatan penggunaan air di negara itu sejak beberapa tahun ini mencetuskan krisis bekalan air di negara berkenaan selain masalah jumlah hujan yang semakin sedikit.

Dan doa mereka itu dimakbulkan dan penduduk bergembira menerima hujan lebat malah mendapat imbuhan apabila dapat memegang salji di bumi bergurun itu.

Putera Mahkota dan timbalan pemerintah Ras al-Khaimah, Sheikh Saud Bin Saqr Al Qasimi, sempat melawat kawasan pergunungan bersalji itu dan membawa pulang salji itu untuk ditunjukkan kepada rakyatnya, lapor Gulf Times.

Suhu di Dubai yang menarik sejumlah besar pelancong kerana mereka mahu menikmati keadaan cuaca yang menyenangkan kerana tidak panas dan tidak pula sejuk, jatuh hingga 12 darjah Celsius pada 28 Disember lalu. Pada musim panas suhu mencecah 50 darjah Celsius.

Ketika ramai yang berpesta menerima hujan, polis pula melaporkan peningkatan kadar kemalangan jalan raya akibat hujan lebat.

Polis melaporkan 500 kemalangan jalan raya berlaku dalam tempoh 24 jam, termasuk satu nahas maut yang berpunca daripada hujan lebat selama tiga hari berturut-turut.

Dan seperti yang diramalkan oleh pegawai kaji cuaca, suhu sejuk di negara itu mula berkurangan pada minggu ini dan salji pula mula mencair.

Meskipun seketika, kenangan kemunculan salji di negara bercuaca panas pasti mencetuskan rasa aneh bagi penduduk UAE dan dunia.

Orang Islam kebumikan mangsa Kristian di selatan India

Teropong Riong: Orang Islam kebumikan mangsa Kristian di selatan India
oleh Munsyi


AKHBAR on-line, India, The Indian Express, 30 Disember lalu, memaparkan laporan dari selatan bertajuk “Caring has no religion, ask this Jamaat chief in a Cuddalore corner” (Keprihatinan tidak kira agama, lihatlah keikhlasan pemimpin tabligh ini di Cuddalore). Tajuk kecil laporan itu pula berbunyi: “Jemaah masjid bekerja habis-habisan menolong mangsa Hindu dan Kristian.” Laporan itu mendedahkan bagaimana jemaah sebuah masjid di kawasan perkampungan nelayan Hindu dan Kristian itu terselamat kerana berada di dalamnya sedang ramai nelayan dihanyutkan tsunami.



MUNSYI: Tentunya hidup kita lebih mulia dengan melakukan kebajikan. Kisah dibawa The Indian Express itu sungguh menyentuh jiwa dan menunjukkan betapa umat Islam, penganut Hindu dan Kristian boleh hidup saling bantu membantu dan dalam suasana aman dan sejahtera.

Beberapa minit selepas ombak besar melanda dan memusnahkan kampung nelayan Pudukuppam, Samyarpetah, Chinoor dan yang lain di pantai Cuddalore pada pagi Ahad itu, Mohammed Younus, presiden United Islamic Jamaat, menggembleng seluruh ahli tabligh melancarkan misi bantuan.

Dalam masa setengah jam saja, ahli pertubuhan itu, hampir semuanya peniaga menaiki van, kereta, beca atau basikal menghantar mangsa tsunami yang cedera parah ke hospital. Menjelang tengah hari, ahli tabligh itu sudah pun mendapatkan bekalan susu untuk beratus-ratus bayi dan makanan bagi lebih 3,000 mangsa yang terselamat.

Apabila malam tiba, kira-kira 3,000 orang Islam membantu lebih 10,000 mangsa Hindu dan Kristian di khemah-khemah dibina di padang sekolah tempatan. Beberapa ratus lagi mangsa diajak masuk ke pekarangan masjid, di madrasah milik pertubuhan itu dan pejabat berhampiran.

Laman web itu turut menceritakan bagaimana Rahmatullah bersama anak buahnya pulang ke masjid itu selepas mengebumikan mayat seorang lelaki Kristian dikenali sebagai salib dililit pada benang di lehernya. Mereka turut memasang sebuah salib kayu di kubur lelaki itu.

Sejak hari bencana itu, 24 tukang masak pertubuhan itu bekerja 24 jam untuk memasak makanan bagi 9,000 mangsa. Beras dibekalkan oleh kerajaan tempatan manakala kumpulan tabligh itu menyediakan sayur-sayuran dan keperluan lain dari tabungnya sendiri. Kumpulan itu mempunyai kira-kira 20,000 ahli di selatan India dan dapur mereka yang besar digunakan bagi memasak setiap kali ada perhimpunan digunakan sepenuhnya bagi membantu mangsa tsunami.

Laporan The Indian Express itu turut menyelitkan satu fakta menarik mengenai kejadian di Cuddalore itu - tidak seorang pun daripada penduduk Islam di kawasan itu yang mati atau cedera dalam malapetaka itu. Begitu juga tidak seorang pun daripada penduduk Islam itu menjadi nelayan, malah mereka adalah golongan peniaga yang kaya raya yang berbahasa Hindustan dan menghantar anak lelaki mereka belajar di negara Arab.

Antartika: Air mata menitis selepas dipintal angin

Tetamu BM: Air mata menitis selepas dipintal angin


DUNIA mengiktiraf kejayaan Datin Paduka Sharifah Mazlina Syed Abdul Kadir, merentasi benua sejuk Antartika dalam tempoh 22 hari. Kejayaannya bukan saja mencatat rekod sebagai wanita Malaysia dan Asia pertama berbuat demikian, malah beliau adalah wanita terpantas berjaya merentasi Kutub Selatan secara solo.



Kejayaannya juga menambah senarai wira negara yang menakluki ‘puncak’ sasaran masing-masing.

Namun, tidak ramai di antara kita yang dapat merasai kepayahannya mengharungi ekspedisi sejauh 1,100 kilometer dengan kaedah ski di persekitaran sepi dan sejuk dengan suhu jauh di bawah paras beku.

Sharifah Mazlina menceritakan pengalaman pahit manis sepanjang ekspedisinya itu beliau di Antartika kepada wartawan BERITA MINGGU, Hafizah Iszahanid untuk dikongsi bersama.



Impian menjadi kenyataan



SYUKUR Alhamdulillah. Apa yang saya impikan selama ini menjadi kenyataan. Tepat jam 10.45 malam pada 29 Disember lalu, tercatatlah suatu kenangan yang cukup manis. Bukan saja kerana saya menjadi wanita Malaysia pertama merentasi Antartika secara solo tetapi juga wanita Asia pertama berbuat demikian.

Meskipun pada awalnya saya menjangkakan akan menamatkan ekspedisi merentas Kutub Selatan sejauh 1,100 kilometer itu dalam masa 30 hari, saya berjaya menamatkannya dalam masa 22 hari.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan kerana akhirnya dengan izin-Nya, saya dapat juga menyempurnakan ekspedisi ini dalam masa yang lebih cepat daripada yang dijangkakan walaupun berhadapan dengan masalah angin dan kecederaan.

Walaupun lutut cedera dan kesakitan masih terasa, saya harus meneruskan juga cabaran ini kerana ia bukan sesuatu yang boleh dibuat sambil lewa. Sakit selagi boleh ditahan, saya kena tahan. Waktu itu saya banyak bergantung pada ubat penahan sakit, bandage dan knee guard.

Saya juga mengubah cara sailing supaya dapat mengelak bebanan yang banyak pada lutut yang sakit. Kalau sakit sangat, saya berhenti sekejap, sembur pain killer spray dan begitulah seterusnya. Pada waktu malam, saya akan tuam dengan heat pack dan sapu ameltz atau apa saja yang boleh kurangkan sakit.



Berjalan 80 kilometer sehari



SEPANJANG ekspedisi, saya menghabiskan perjalanan sejauh 70 ke 80 kilometer sehari tapi pada hari ke-20, saya berjaya bergerak 134 km dalam tempoh 11 jam. Hari itu adalah yang terbaik dan manis untuk saya kenang.

Bagaimana saya dapat habiskan hingga 134 km? Mudah saja, dalam waktu berjalan, saya sudah nampak Patriot Hills dari jauh. Setiap kali saya berasa letih, saya akan berkata kepada diri sendiri, sikit lagi, sikit lagi, begitulah seterusnya sehingga saya keletihan dan perlu berehat.

Satu lagi faktor yang mempercepatkan langkah, apabila saya dimaklumkan pihak base camp saya akan memasuki satu lagi kawasan tiada angin. Mengingatkan kejadian tidak bergerak pada minggu pertama semasa memulakan ekspedisi di kawasan seawal South Pole membuatkan saya bimbang akan terlewat untuk menamatkan cabaran ini kerana saya tahu jika tiada angin selalunya akan berpanjangan hingga 3-4 hari dan boleh hingga berminggu.

Tarikh penerbangan saya juga sudah ditetapkan 4 Januari. Jadi semua itu membuat saya bersemangat untuk sampai ke Hercules Inlet lebih awal.





Terseret angin hingga 50 kilometer



JIKA ditanya dari sudut formula psikologi, saya sebenarnya akan memastikan mental dan emosi tidak lemah atau terganggu. Memang saya melalui masa menjerihkan terutama pada hari ke-17, waktu itu untuk makan pun saya tidak lagi berselera hingga terpaksa makan dengan menelan makanan yang ditolak masuk dengan air glukos.

Tapi hari itulah saya terseret oleh angin sejauh 50 km apabila terjatuh dan sail saya ditarik angin. Lutut saya sangat sakit. saya menangis meminta tolong sendirian.

Saya tahu, saya tidak boleh lagi tidak makan kerana itu sumber tenaga. Saya harus menguatkan mental dan emosi bagi membantu fizikal saya bertenaga untuk meneruskan cabaran. Saya juga buat mental training setiap kali sebelum tidur, buat penilaian diri setiap hari dan melihat kemampuan diri. Saya mulakan hari dengan berzikir kepada Allah dan memohon doa supaya sentiasa tenang menghadapi cabaran.



Sebenarnya walau di mana pun berada, kita harus sedar bahawa Allah Maha Berkuasa dan menentukan segala-galanya. Kita hanya berikhtiar dan bertawakal.

Berada di Kutub Selatan dengan cuaca sejuk bukan alasan untuk tidak menunaikan solat. Selama di sana, tiada kesukaran untuk solat sama sekali. Malah saya merasakan kemudahan yang Allah beri kepada musafir dan pengembara seperti saya. Saya tunaikan solat secara jamak dan wuduk dengan tayamum.

Khemah saya ada tiga bahagian. Khemah depan untuk memasak, khemah tengah untuk tidur dan khemah belakang saya gunakan untuk dapatkan salji bersih untuk tayamum. Semuanya mudah, cuma saya sembahyang duduk. Solat subuh seawal pagi, Zuhur dan asar ketika berhenti makan tengah hari atau Asar sembahyang selepas tamat perjalanan. Maghrib dan Isyak selepas makan malam.





Cabaran hari ke-20



HARI yang menguji saya adalah yang ke-20, waktu tahap sejuk di bawah beku -47 darjah Celsius. Walaupun waktu itu matahari memancar tetapi suhu sangat sejuk. Saya sentiasa menggigil. Saya memakai lima lapis baju tanpa berani membuka sarung tangan walaupun sekejap kerana kesejukan yang sejuk menggigit sehingga dengan sekelip mata terasa beku dan kebas.

Waktu itu saya sudah tidak dapat merasa jari tangan kiri. Sakitnya tak terhingga dan jari saya bertukar menjadi biru. Saya cuba gerakkan jari kelingking itu tapi tidak berjaya sebaliknya jari terasa beku dan terlalu kebas. Ini sangat bahaya boleh menjadi frost bite. Pantas saya masukkan jari kelingking ke dalam mulut sebelum mencari glove dan dapatkan heat pack.

Sesuatu yang penting untuk elak frost bite dengan menggunakan pakaian yang sesuai mengikut cuaca dan suhu. Kalau pakaian terlalu tebal dan lapisan yang tidak betul hingga menyebabkan contohnya tapak kaki berpeluh dalam stokin yang terlalu tebal (sebab lapisan dan stokin yang tidak sesuai boleh membuatkan kita berpeluh dan peluh akan bertukar menjadi kristal ais dalam kasut). Kelembapan itu akan buat kaki sangat sejuk dan kebas dan frost bite mudah terjadi.

Pada waktu cuaca yang agak selesa, saya tidur dalam sleeping bag dengan baju yang betul supaya ia dapat membantu pengaliran udara panas dan mengatasi kesejukan yang amat sangat. Semasa sailing saya pastikan tiada anggota badan terdedah pada suhu yang ekstrem ini.

Jangan fikir semua ini mudah kerana tiga rakyat Australia menarik diri selepas empat hari memulakan ekspedisi manakala seorang lelaki Norway mengalah selepas berjalan 300 km kerana masalah kesejukan dan kecederaan.





Buang air jauh dari khemah



MUNGKIN ramai yang mahu tahu pengalaman saya sebagai seorang wanita dari segi kebersihan dan sebagainya.

Untuk membuang air besar dan kecil ketika di base camp tiada masalah sebab ada tandas disediakan tetapi semasa ekspedisi, saya boleh membuang najis di mana saja asalkan jauh dari tapak khemah.

Untuk buang air besar, saya perlu membawa penyodok dan gali lubang sedalam yang saya fikirkan sesuai. Kalau dalam khemah ketika tidur dan terasa ingin buang air kecil, saya ada ‘potee’ alat membuang air kecil seperti di hospital. Selepas itu saya hanya perlu buat lubang kecil di luar khemah dan jiruskan ke dalam lubang itu dan air kencing akan terus meresap dalam salji.

Jika berkhemah lama, saya boleh buat separuh igloo untuk melindungi dari tiupan angin atau gunakan shelter mini yang ada saya bawa bersama untuk proses membuang air besar.

Semuanya ini agak kekok awalnya tapi lama kelamaan ia menjadi biasa dan mudah. Saya bersihkan diri dengan bawa bekalan air panas untuk dibancuh dengan salji untuk menjadikannya suam dan boleh untuk mencuci atau guna tisu basah, tisu dan cuci semula dalam khemah dengan menggunakan air suam. Semua sampah harus dikumpul dan dibawa balik ke base camp.



Rindukan nasi lemak



SELEPAS menamatkan ekspedisi 22 hari ini, saya mahu pulang ke Malaysia secepat mungkin. Saya rindukan nasi lemak panas dan makanan segar seperti ikan dan sayur tetapi terpaksa menunggu kira-kira dua minggu lagi untuk pulang ke Malaysia.

Apapun, selepas ini saya mahu berehat dulu. Saya teramat letih setelah selesai ekspedisi dan dinasihatkan tidur secukupnya untuk mendapatkan kembali tenaga yang hilang. Bagaimanapun saya bersyukur kerana doktor mendapati tidak ada tanda saya mendapat penyakit akibat kesejukan atau frostbite. Doakan saya agar selamat pulang ke tanah air tercinta.

Saya mendapat pelbagai tawaran antaranya ekspedisi ke Kutub Utara. Biasanya apabila sudah sampai ke Kutub Selatan, seseorang itu akan juga ke Kutub Utara. Saya teringin juga, tapi saya mahu memikirkannya dulu dan tengoklah macam mana keadaan kekuatan fizikal dan kesihatan.

Buat masa ini saya hanya mahu berehat dan berkongsi pengalaman yang telah saya lalui dengan anda semua. Saya mahu pengalaman saya menjadi iktibar kepada semua orang bahawa kita boleh lakukan apa saja. Malaysia Boleh!

PROFIL

Nama penuh:
Datin Paduka Sharifah Mazlina Syed Abdul Kadir
Asal : Johor
Usia : 39 tahun
Pendidikan : Universiti McGill, Montreal Kanada
Jawatan : Pensyarah Psikologi Sukan, Fakulti Sukan dan Rekreasi Universiti Teknologi Mara (UiTM

Musibah sebagai kifarat penghapusan dosa manusia

Taqwil al-Quran: Musibah sebagai kifarat penghapusan dosa manusia
Bersama Prof Madya Dr Abdul Rashid Ahmad


"(PAHALA daripada Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kamu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Se siapa yang mengerjakan kejahatan nescaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat perlindungan dan tidak (pula) penolong baginya selain daripada Allah. Sesiapa yang mengerjakan amal baik, sama ada lelaki mahu pun wanita, sedangkan dia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." – (An-Nisa’ ayat 123 dan 124)



Menerusi ayat di atas, Allah menggariskan prinsip utama mengenai amalan dan balasannya. Sesungguhnya, ukuran pahala dan dosa, balasan baik dan jahat bagi seseorang, tidaklah terhenti kepada angan-angannya.

Tetapi ia dirujukkan kepada satu kaedah dan prinsip yang ditetapkan, satu peraturan yang tidak berubah dan ia adalah perundangan yang adil dan saksama, perundangan yang meletakkan semua orang sama rata di hadapan-Nya.

Berdasarkan prinsip itu, setiap yang melakukan kejahatan akan menerima balasan jahatnya. Dan sebaliknya orang yang melakukan kebaikan akan menerima balasan baiknya tanpa sebarang pilih kasih dan berat sebelah.

Dalam ayat tadi dengan jelas dan terang Allah menafikan balasan baik kepada kalangan musyrikin dan Ahli Kitab berdasarkan angan-angan mereka kerana kalangan musyrikin Quraisy berangan-angan serta mengharapkan berhala sembahan mereka akan menolong mereka di akhirat nanti, manakala Ahli Kitab, iaitu kaum Yahudi dan Nasrani pula mendakwa bahawa merekalah anak dan kekasih Allah.

Dakwaan mereka itu tercatat dalam firman Allah yang bermaksud: "Orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya. Katakanlah: Maka mengapa Allah menyeksa kamu kerana dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-Nya) tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang yang diciptakan-Nya." – (Al-Maidah, ayat 18)

Dalam ayat lain Allah berfirman, maksudnya: "Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja. Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji daripada Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" – (Al-Baqarah, ayat 80)

Demikianlah impian Yahudi dan Nasrani. Dan memang sejak dulu lagi kaum Yahudi sentiasa mendakwa bahawa merekalah bangsa pilihan Allah di dunia ini. Dan boleh jadi sesetengah umat Islam terlintas di hatinya bahawa merekalah golongan yang terbaik. Namun, walau apapun dakwaan dan harapan mereka itu, Allah tetap mengatasi segala-galanya.

Sesungguhnya nas dan ayat al-Quran di atas adalah sebesar-besar pendorong kepada semua pihak agar beramal dan bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan di sisi Allah, bukan hanya sekadar berangan-angan. Dorongan dan galakan yang menjurus ke arah satu nilai dan prinsip yang tetap iaitu pengabdian diri sepenuhnya kepada Allah serta iltizam dan komited dalam mengamalkan ajaran Islam yang sebenar.

Juga dalam ayat di atas, Allah berfirman, maksudnya: "Sesiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu."

Sesudah mendengar firman Allah itu, sahabat-sahabat Nabi dan umat Islam lainnya berasa keberatan dan susah hati kerana mereka mengetahui tabiat nafsu yang ada dalam diri manusia tidak terlepas daripada berbuat kejahatan sebagaimana baik pun orang melakukan kebaikan.

Kalangan sahabat menyedari hakikat diri mereka yang tidak sunyi daripada kekurangan dan kelemahan yang disebabkannya akan terlanjur melakukan kejahatan apabila kadang kala dikuasai nafsu sedangkan setiap kejahatan akan dibalas. Inilah yang menyebabkan mereka gementar dan takut menghadapi balasan itu.

Demikianlah keistimewaan kalangan sahabat yang boleh menghayati balasan akhirat yang bakal diterima seolah-olah benar-benar dirasai dalam hidupnya di dunia sekarang.

Dalam konteks ini, Al-Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis daripada Abu Bakar bin Abu Zuhair, katanya: "Diceritakan padaku bahawa Abu Bakar as-Siddik berkata: "Wahai Rasulullah! Bagaimana hendak melepaskan diri daripada ayat ini... di mana setiap kejahatan yang kita lakukan akan dibalas?"

Lantas Rasulullah menjawab: "Mudah-mudahan Allah mengampunkan dosamu hai Abu Bakar. Tidakkah engkau pernah sakit? Tidakkah engkau pernah keletihan? Tidakkah engkau pernah dukacita? Tidakkah pernah engkau ditimpa bencana? Jawab Abu Bakar: "Ya, pernah mengalami semua itu." Lalu baginda bersabda: "Maka itulah balasannya terhadap kejahatan itu."

Dalam satu riwayat lain daripada Abu Hurairah, katanya: "Apabila turun ayat tadi, orang Islam berasa berat. Lalu baginda bersabda: "Bersikap luruslah dan hampirkanlah dirimu kepada Allah. Sesungguhnya pada setiap apa yang menimpa seorang Muslim itu adalah sebagai kifarat (denda untuk menghapuskan dosa) sehingga sebarang duri yang mencucuk kaki dan sebarang bahaya yang menimpanya."

Daripada dua hadis di atas, dapatlah disimpulkan bahawa balasan terhadap kejahatan itu kadangkala dikenakan di dunia ini dalam bentuk sakit, letih, bala dan seumpamanya.

Tidaklah semua kejahatan itu dibalas di akhirat. Oleh itu, apabila sakit dan ditimpa bala hendaklah kita bersabar kerana itu satu daripada cara penghapusan dosa daripada Allah.

Seterusnya untuk melahirkan keadilan-Nya, Allah menegaskan bahawa sesiapa mengerjakan amal salih, sama ada lelaki mahupun wanita, asalkan mereka benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, tentu akan dapat masuk syurga. Mereka tidak akan dizalimi sekalipun amalannya hanya sedikit.

Kesimpulannya, jalan menuju ke kebahagiaan sebenarnya adalah amalan baik yang disertai dengan iman manakala jalan ke neraka pula perbuatan jahat dan buruk. Tiada gunanya sebarang dakwaan sekiranya tidak mengikuti syarat Allah dengan sebenar-benarnya.

EMPAT wajah menunjukkan aksi berbeza. Haliza sebak ketika
mayat anak perempuannya ditemui (gambar atas kiri), Jamilah
menyuapkan makanan kepada Siti Zulaikha yang terselamat daripada
dihanyutkan ombak besar, Datuk Dr Hilmi berjaya menyelamatkan
diri dan Zulkifli terlalu sedih apabila kehilangan lima
anak dalam kejadian tsunami di Pulau Pinang.
Coretan pengalaman mangsa bencana
Oleh Ziauddin Sharuddin
PENGALAMAN mangsa yang terselamat daripada bencana tsunami yang melanda rantau Asia penuh dengan seribu satu kisah sedih. Ada yang sungguh menyayat hati, namun ada juga yang berakhir dengan senyuman tanda syukur.


Sedih kerana walaupun terselamat, tetapi kehilangan orang tersayang. Gembira pula kerana walaupun harta benda musnah, tetapi nyawa tidak melayang.

Ada yang hilang anak bukan seorang dua, tetapi hingga lima orang sekali gus dalam sekelip mata. Begitu juga ada yang hilang isteri dan suami.

Tsunami juga tidak mengenal mangsa. Bukan sekadar penduduk negara terbabit yang menderita fizikal dan emosi akibat kehilangan orang tersayang, malah warga Barat yang melancong tidak terhindar.

Percutian mengelakkan musim sejuk di Eropah yang sepatutnya menjadi kenangan manis bertukar menjadi mimpi buruk bagi mereka hingga akhir hayat.

Ikuti sebahagian kisah mereka yang terselamat daripada menjadi mangsa tsunami dan perasaan mereka yang kehilangan orang tercinta.

Zulkifli Mohd Noor
– Hilang lima anak

LIMA anaknya, Siti Norain, 16; Mohd Sukri, 13; Siti Atikah, 10; Siti Noor Suraya, 8 dan Siti Noorsyuhada, 4, maut dalam sekelip mata dibawa ombak besar di pantai perkelahan Pasir Panjang, Balik Pulau, Pulau Pinang.

Zulkifli tidak menyangka ikan yang melompat ke darat sebelum ombak besar itu melanda sebenarnya adalah suatu perangkap yang meragut lima daripada tujuh anaknya.

“Ketika kami semua sibuk mengambil ikan, tiba-tiba datang ombak besar dan terus menghanyutkan semua orang. Saya dan isteri sempat menyelamatkan diri kerana berpaut pada pokok dan batu,” katanya.

Isterinya, Jamilah Majid, 36 dan dua lagi anaknya terselamat. Siti Fairuz, 15, sempat berpaut pada sebatang pokok.

Siti Zulaikha, 1, pula benar-benar bertuah diselamatkan buaiannya. Buaian itu tersangkut di pokok menyebabkan Zulkifli bertungkus lumus berenang ke arah pokok untuk menyelamatkan anak bongsunya.

Mohamed Said
– Kehilangan seorang anak

KELUAR memancing bersama anak lelakinya, Ayub, 17, sepatutnya menjadi pengalaman menyeronokkan bagi seorang ayah yang sukakan kegiatan luar.

Bagaimanapun, Mohamed, 60, kehilangan anak kesayangannya apabila sampan yang mereka naiki dipukul ombak besar.

Pada mulanya, mereka masih bertahan apabila ombak besar melanda sampan sebanyak dua kali, tetapi menyerah kalah kepada kuasa alam apabila ombak besar ketiga melanda.

"Selepas pukulan ombak kali kedua setinggi hampir tiga meter, sampan melambung sekurang-kurang tujuh kali ke udara.

"Ketika itu, saya hanya sempat berpaut pada sampan yang terbalik sambil menjerit kepada Ayub supaya menjaga diri,” katanya.

Tidak sampai lima minit, pukulan ombak ketiga yang sangat kuat menyebabkan pautan pada sampan terlepas dan saya hanya bergantung kepada sebatang buluh yang patah di tengah laut," katanya.

Mohamed berkata, dia menjerit berkali-kali memanggil nama anaknya, tetapi tiada balasan dan badannya begitu letih menyebabkannya hanya berserah kepada Allah.

Haliza Husaini
– Seorang anak maut

SELEPAS tiga hari menunggu, Haliza, 37, dan suaminya, Anuar Mahmud, 36, akhirnya menemui mayat anak perempuan kesayangan mereka, Nur Iffah, 5.

Haliza menangis tidak dapat menahan perasaan sedih melihat keadaan mayat anaknya dengan berkata: ”Ya Allah...kesiannya anak aku, Masya-Allah!”

Nur Iffah, anak ketiga daripada empat beradik dihanyutkan ombak besar ketika bersama keluarganya berkelah di Pantai Pasir Panjang dekat Balik Pulau, Pulau Pinang.

Menceritakan kejadian itu, Anuar berkata mereka baru saja sampai di pantai itu dan selepas meletakkan hamparan serta bekalan dan bersiap untuk mandi, dia ternampak ombak besar datang.

“Ketika cuba menyelamatkan diri, saya terjatuh dan berpusing-pusing serta tidak sempat memegang (Nur) Iffah yang agak jauh ketika itu,” katanya.

Haliza dan tiga anaknya yang lain terselamat kerana seorang sempat berpaut pada dahan pokok, seorang sempat ditarik seseorang, manakala seorang lagi dipegang isterinya.

Jillian Searle
– Nyaris kehilangan seorang anak

SEARLE dari Perth, Australia, terpaksa membuat pilihan yang sukar apabila tsunami melanda pantai peranginan Phuket, Thailand.

Apabila arus deras melanda kawasan berhampiran kolam renang sebuah hotel di bandar itu, Searle yang ketika itu memegang erat tangan dua anak lelakinya, Lachie, 5. dan Blake, 2, terpaksa membuat pilihan, iaitu melepaskan tangan seorang daripada anaknya atau pun tiga beranak itu terkorban.

Sambil berharap seorang daripada anaknya yang dilepaskan akan selamat, Searle akhirnya membuat keputusan melepaskan anak sulungnya.

"Saya tahu terpaksa melepaskan seorang daripada mereka dan rasa lebih baik melepaskan anak yang tua."

"Sebaik saja saya melepaskannya, seorang wanita berjaya memegangnya, tetapi terpaksa melepaskan Lachie kerana dia mula tenggelam," katanya.

Selepas ombak reda, Searle menjerit cuba mencarinya dan mula menyangka anaknya sudah mati.

Umur Lachie masih panjang kerana dia sempat berpaut pada pintu hotel dan ditemui semula dua jam kemudian. Searle bertuah kerana kedua-dua anaknya selamat hingga dia sendiri tidak percaya mereka berada di sisinya.

Datuk Seri Dr Hilmi Yahaya
– Bernasib baik

SETIAUSAHA Parlimen Kementerian Kewangan ini berada di pantai Kuala Sungai Burung, Pulau Pinang, apabila tiba-tiba melihat ombak besar bergulung ke arahnya.

"Saya menjerit meminta orang ramai yang berada di pantai supaya lari menyelamatkan diri. Ketika itulah saya ditarik seseorang ke tempat selamat,” katanya yang bersyukur kerana terlepas dari maut.

Mohd Alias Abdul Razak
– Menyangka ketibaan kiamat

PELAJAR Institut Agama Islam Ar-Raniry Darusssalam, Banda Acheh, berumur 24 tahun ini, menyangka ombak besar diiringi bunyi yang lebih kuat dari deruman kapal terbang mendarat adalah kiamat.

“Saya rela jika mati ketika itu, “katanya yang berlari bersama ribuan penduduk Banda Acheh apabila diarahkan polis melarikan diri.

Dari rumah sewanya di Jeulingke, dia dan beberapa rakan serumahnya berlari sejauh kira-kira 15 kilometer hingga ke Masjid Uleekareng.

Katanya, anggota polis menjerit dalan bahasa Acheh `ei katamong’ bermaksud `air dah naik’.

“Saya terus berlari tanpa memahami apa yang sebenar berlaku. Sepanjang perjalanan melarikan diri, kami ditunjukkan arah jalan oleh anggota polis.

“Sepanjang perjalanan, saya menyaksikan pelbagai kejadian yang menyedihkan hati ketika ombak besar itu mengejar mereka,” katanya.

Mohd Alias berkata, ada penduduk yang menyangka dapat menyelematkan diri dengan berdiri di atas lori tangki yang turut terpelanting dirempuh ombak.

“Saya bersyukur kerana semua pelajar Malaysia selamat, tetapi tidak menyangka bencana yang dahsyat ini melanda Acheh kerana gempa bumi sebelum ini adalah perkara biasa.

“Mungkin ini ada iktibarnya, terutama bagi segelintir anak muda di Banda Acheh yang terbabit dalam gejala pergaulan bebas,” katanya

Kebesaran Ilahi
Oleh Zainuddin Ayip
KESAN bencana tsunami di wilayah Aceh di utara Sumatera pada 26 Disember lalu begitu memilukan. Selain angka korban mencecah 100,000 orang, banyak bangunan, rumah, kemudahan awam, ladang dan ternakan musnah.


Namun satu keajaiban berlaku apabila berpuluh-puluh masjid tetap berdiri teguh dengan kubah masih tersergam megah di tengah-tengah kehancuran beberapa bandar dan kampung akibat amukan tsunami.

Menara masjid yang masih bersinar di bawah limpahan cahaya matahari adalah suatu fenomena yang menimbulkan kekaguman dan keinsafan terhadap kuasa Tuhan, seperti ungkapan ulama di Sigli, Aceh, Teuku Kaoy Ali: “Tuhan menghukum sesetengah daripada kita yang lupa diri, tamak dan angkuh, tetapi Tuhan melindungi rumah-Nya (masjid)."

Mukhlis Khaeran yang menyaksikan ombak menghanyutkan rumahnya di Baet dekat Aceh, berkata kekuasaan Tuhan menghalang masjid daripada ranap dan ini suatu keajaiban.

Bagi penceramah bebas, Daud Che Ngah ketika dihubungi di Kuala Lumpur, kelmarin, berkata, bukan sesuatu yang menghairankan masjid berusia ratusan tahun masih kukuh berdiri tanpa terjejas teruk.

“Jika kita imbau kejadian lalu - gempa bumi di Bam, Iran dan juga di Turki, masjid juga tidak terjejas dalam keruntuhan pelbagai bangunan dan kematian ribuan manusia. Ini petanda yang amat besar kepada kita semua. Iran dan Turki dua negara Islam tetapi Allah menguji mereka sebagai ingatan mungkin ada kepercayaan yang mereka amalkan tidak kena.

“Begitu juga di Aceh, Allah sebenarnya masih memberi peluang kepada umat Islam di mana saja untuk dijadikan bahawa masjid adalah tempat beribadah dan mewujudkan perpaduan, bukan tempat merebut jawatan atau mengumpat.

Disebabkan masjid adalah rumah Allah, ia dilindungi. Justeru itu, kata Daud, umat Islam harus menghidupkan masjid dengan amal ibadah.

Masjid adalah pemandangan biasa di kebanyakan tempat di Indonesia, terutama di Aceh, yang dianggap serambi Makkah dan pintu masuk Islam ke negara kepulauan itu yang mempunyai penduduk Islam paling ramai di dunia.

Ketika sesetengah penduduk bercakap mengenai kemurkaan Tuhan, beratus-ratus orang berlindung di masjid dalam keadaan panik untuk lari daripada ombak ganas sambil berdoa kepada Tuhan supaya terselamat daripada bencana tsunami.

Di perkampungan Kaju, dekat Aceh, ratusan rumah musnah manakala masjid di kawasan itu hanya rosak pada dinding.

"Penduduk Aceh berkata masjid adalah rumah Allah dan tiada siapa boleh merobohkannya melainkan Tuhan sendiri," kata Ismail Ishak, 42, yang menggali timbunan runtuhan rumahnya untuk mencari tujuh saudara maranya yang hilang.

Di Pasi Lhok, kira-kira 20 kilometer dari pekan Sigli, utara Aceh, 100 orang yang lari berlindung dalam masjid sambil melihat hampir setiap rumah di lima kampung sekitarnya ranap, kata imam besar kawasan itu, Teuku Kaoy Ali.

Di Meulaboh, pekan di barat Aceh yang terletak 150 kilometer daripada pusat gempa bumi yang mencetuskan ombak besar maut itu, 10,000 mati tetapi masjid di bandar itu tersergam di tengah-tengah kehancuran.

Seorang penduduk di sini, Achyar berkata, apabila melihat ombak besar muncul dari laut, dia terus lari ke masjid. "Saya memanjat menara masjid dan memegang kuat wayar elektrik sehingga air surut. Saya juga lihat kebanyakan rakan Cina lemas ketika mereka berlindung di tingkat dua kedai mereka," katanya.

Satu penjelasan yang diberi kenapa masjid tidak musnah adalah kebanyakannya dibina lebih kukuh daripada struktur lain. Namun, sebuah masjid di Sigli dibina daripada kayu tetapi masihterselamat walaupun bangunan lain di sekelilingnya musnah. Ini membuktikan kekuasaan Alah melindungi rumah ibadat.

Sebahagian Masjid Baiturrahman di Banda Aceh rosak sedikit tapi tidak lama selepas bencana berakhir, ia menjadi kawasan paling berguna untuk mereka yang terselamat berteduh sementara dan menunggu ahli keluarganya yang terperangkap.

Ramai yang bertemu sahabat dan saudara di masjid itu. Ia turut dijadikan hospital sementara untuk merawat mereka yang cedera dan juga rumah mayat.

Namun penduduk berasa mereka perlu memulakan pembinaan secepat mungkin dan masjid itu menjadi bangunan pertama yang diperbaiki. Seminggu selepas kejadian, 300 mangsa tsunami yang terselamat kembali semula mengerjakan sembahyang berjemaah di masjid itu, langkah pertama untuk mengembalikan suasana normal di Aceh.

’Saya ingat dah mati’
Lelaki 70 tahun ditemui hidup selepas 11 hari terperangkap
JAKARTA: “Saya tidak lagi ingat macam mana saya boleh selamat. Saya hanya minum air yang ada di sekeliling kerana tidak dapat menggerakkan badan. Saya ingat dah mati, tapi Tuhan menyelamatkan saya walaupun berhari-hari tidak menjamah nasi.”


Itulah antara kata-kata seorang lelaki tua Indonesia berusia 70 tahun yang ditemui hidup selepas 11 hari berada di bawah runtuhan rumahnya yang musnah dilanda malapetaka tsunami di Banda Aceh, semalam.

Menurut laporan, pekerja penyelamat menemui Muhammad Zaini yang berada dalam keadaan lemah dan uzur sewaktu mereka menyelongkar timbunan runtuhan bangunan di Puta Alam, Banda Aceh, yang teruk dilanda tsunami.

“Apa yang saya ingat, bumi bergegar dan dinding rumah saya roboh. Saya terus terapung dan dihanyutkan air sebelum dinding rumah menimpa dan menghimpit saya,” kata Zaini kepada akhbar Harian Kompas di Hospital Komando Angkatan Darat Iskandar Muda, Banda Aceh.

Sejak itu, dia tidak ingat lagi apa yang berlaku dan tidak sedar sama ada siang atau malam. “Saya sendiri menyangka mungkin saya sebenarnya sudah mati. Malah saya pernah bermimpi diberi makan oleh sekumpulan burung,” kata Zaini yang bersendirian dalam rumah ketika tsunami melanda.

Walaupun terselamat daripada bencana itu, Zaini mengakui lebih sedih kerana kehilangan isteri serta enam anak lelakinya yang terkoban dalam kejadian itu.

Gempa bumi serta banjir ombak yang menyusulinya menyebabkan sekurang-kurangnya 30,000 penduduk terbunuh di Banda Aceh saja dan dianggarkan hampir 80,000 lagi di seluruh wilayah berkenaan.

Penemuan Zaini menyusuli beberapa kes mangsa yang terselamat sebelum ini selepas dilanda tsunami 26 Disember lalu.

Kelmarin, seorang budak lelaki India di Port Blair, diselamatkan selepas duduk atas pokok selama 10 hari di kepulauan Andaman tanpa sebarang air dan makanan.

Murlitharan diselamatkan oleh krew helikopter dan salah seorang daripada 17 orang yang ditemui selamat di kepulauan itu.

Selasa lalu, seorang wanita Aceh diselamatkan sebuah bot nelayan Malaysia ketika berpaut pada sebatang pokok kelapa hanyut di Lautan Hindi, enam hari selepas tsunami melanda rantau ini.

Malawati, 23, ditemui bot ikan tuna, Hong Xiang No 8, yang berpangkalan di Pulau Pinang di Lautan Hindi, kira-kira 100 batu nautika dari pantai Aceh. – Agensi.

7.1.05


6 hari terapung di laut
Wanita Aceh berpaut pada pokok kelapa hanyut
Oleh Baharin Ramly
GEORGETOWN: Berpantang maut sebelum ajal, demikianlah nasib seorang wanita Aceh yang diselamatkan sebuah bot nelayan Malaysia ketika berpaut pada sebatang pokok kelapa hanyut di tengah Lautan Hindi pada Jumaat lalu, enam hari selepas bencana tsunami melanda rantau ini.
Malawati, 23, ditemui bot ikan tuna, Hong Xiang No 8, yang berpangkalan di Pulau Pinang kira-kira jam 2 petang pada kedudukan longitud 5 (Utara) dan latitud 94.23 (Timur) di Lautan Hindi, kira-kira 100 batu nautika dari pantai Aceh.

Ketika ditemui, Malawati dikatakan hanya berseluar dalam dan bercoli dengan kedua-dua kakinya luka, dipercayai dipatuk ikan ketika berpaut pada batang kelapa itu dengan kakinya terjuntai ke dalam laut.

Beliau yang dihanyutkan ombak besar selepas gempa bumi di perairan Aceh pada 26 Disember lalu, dipercayai hanya memakan beberapa bungkus mi segera yang ditemuinya terapung serta memamah isi kelapa muda, ketika bertarung dengan maut selama enam hari di lautan.

Malawati, dari Nunggayo Tenaom, Aceh Jaya, yang kelihatan lemah ketika tiba dengan bot itu di Pelabuhan Tuna Antarabangsa Malaysia di Batu Maung, dekat sini kira-kira jam 2 petang semalam, terus dikejarkan ke Hospital Pulau Pinang (HPP). Sehingga malam tadi, media belum dibenar menemuinya.

Pegawai dari pejabat Konsul Jeneral Indonesia, Helena Ferat, yang menemui Malawati di HPP, berkata wanita itu bersama suaminya berada di rumah mereka, kira-kira dua kilometer dari pantai, ketika gempa bumi melanda Aceh.

Mereka lari dari rumah untuk mencari tempat berlindung di sebuah masjid berdekatan tetapi belum sempat tiba ke masjid itu, ombak besar berada di belakang lalu menghanyutkan mereka.

Selepas itu, Malawati mendapati dirinya terapung di permukaan air dan suaminya entah ke mana. Mulanya ada beberapa orang lain di sekitarnya, tetapi dia hanya tinggal seorang diri sehari selepas itu.

Menurut Helena, Malawati memberitahu dia terserempak dengan beberapa ikan besar, tetapi bernasib baik kerana tidak dibaham oleh ikan itu.

“Ketika ditemu bual, dia menyatakan keinginan pulang ke Aceh Jaya untuk mencari suaminya, seorang nelayan,” kata Helena.

Ketibaan Malawati bersama tekong dan awak-awak bot itu disambut oleh Pengerusi Jawatankuasa Pertanian dan Industri Asas Tani Negeri, Datuk Azhar Ibrahim, yang mewakili kerajaan negeri; Konsul Jeneral Indonesia di Pulau Pinang, Erick Hikmat Setiawan; Penasihat Konsul, Noro Mudiyanto Adisasmito; Pengerusi Eksekutif Hong Xiang, Datuk Mohamad Waj-di Ishak dan Pengurus Pelabuhan Lembaga Kemajuan Ikan Malaysia (LKIM), Goi Kim Par.

Sementara itu, awak-awak bot berkenaan, Rizal Sarno Santoso, berkata dalam perjalanan pulang daripada menahan pukat tuna di Lautan Hindi, dia melihat mangsa duduk di atas batang kelapa yang hanyut sambil melambai tangan.

“Saya memberitahu tekong dan kami segera menyelamatkan mangsa. Kami memberikannya pakaian awak-awak bot untuk menutup tubuhnya sebelum diberi minum dan makanan,” katanya.

Tekong bot, Chern Dah Rong, berkata mangsa kelihatan seperti seekor burung di atas batang pokok kelapa yang hanyut.

“Selepas mangsa diselamatkan, saya segera menghubungi majikan di Pulau Pinang melalui radio,” katanya.

Bot pukat tuna milik Hong Xiang Industries Sdn Bhd yang mempunyai lapan awak-awak termasuk empat dari Indonesia itu, keluar ke Lautan Hindi sebelum 26 Disember lalu.

“Ketika dalam perjalanan pulang saya diberitahu awak-awak dari Indonesia ada orang hanyut di atas batang kelapa dan saya segera memperlahankan bot untuk mengambil mangsa,” katanya.

Azhar pula berkata, kerajaan negeri akan memberi layanan sewajarnya kepada mangsa termasuk rawatan perubatan di HPP sebelum diserahkan kepada polis dan Jabatan Imigresen untuk tindakan selanjutnya.

Rencana dan Pendapat -

Surat Pilihan: Berdoalah dengan ikhlas ketika hadapi kesusahan
KISAH tragik yang menimpa Rizal Sahputra dari Aceh yang hanyut di laut akibat bencana tsunami amat menyayat hati. Beliau hanya memakan mi segera, minum air laut dan yang menghairankan, beliau masih hidup – sesuatu yang aneh dan amat luar biasa.


Itulah kuasa Allah. Dia yang menghidup dan mematikan manusia. Apa yang menarik daripada kisah ini ialah beliau dapat hidup dan bertahan lama berkat doa dan solat. Doa adalah senjata bagi orang mukmin. Dalam al-Quran disebut: “Berdoalah kepada aku (Allah) nescaya Aku perkenankan permohonan ka-mu.”

Dalam hadis disebut: “Awasilah doa orang yang kena zalim kerana doa mereka akan terus naik tanpa hijab (dinding) yakni akan terus diperkenankan Allah.”

Pernahkah kita berdoa seperti Rizal?

Mungkin bagi kita di Malaysia yang hidup dalam serba kemewahan dan kesenangan tidak akan menghayati doa sebenarnya.

Bagi saya yang pernah mengalami peristiwa berkenaan di Pulau Kapas pada awal 1980-an amat mengerti betapa besarnya keikhlasan berdoa kepada Allah ketika menghadapi kesusahan berbanding ketika kita senang.

Waktu itu saya sedang menuntut di sebuah kolej di Terengganu. Saya bersama beberapa rakan bercadang berkelah di Pulau Kapas, Marang, Terengganu. Setelah segala persiapan dibuat, kami sampai di sana pada jam 8 pagi.

Sebaik saja sampai di pantai, saya dan dua rakan terus merayau dan mengelilingi pulau berkenaan.

Kami seolah-olah ditarik ‘kuasa ghaib’ yang membawa kami memanjat bukit di pulau itu. Kami meredah hutan di situ sehingga akhirnya baru kami sedar tersesat.

Dalam keadaan lapar dan hujan lebat, kami hanya minum air lopak. Pada kira-kira jam 6 petang, kami turun di sebelah belakang pulau itu dengan rasa letih dan menangis kesedihan.

Timbul rasa penyesalan di hati kami. Kawan saya termenung kesedihan, saya mengambil kesempatan pada waktu itu untuk berdoa kepada Allah, satu doa yang paling ikhlas dalam sejarah hidup saya yang mengharap belas ihsan Allah.

Saya berdoa: “Ya Allah, selamatkan kami bertiga.” Walaupun doa itu nampak ringkas tetapi kerana timbul daripada keikhlasan hati saya, dengan tidak semena-mena kami melihat seorang lelaki sedang bermain jet ski.

Kami pun melambai kepada beliau dan beliau melihat lambaian kami. Selepas itu, bot yang kami naiki untuk ke pulau datang menyelamatkan kami. Peristiwa yang dihadapi Rizal hampir sama dengan apa yang saya alami. Sudah pasti doa Rizal lebih syahdu dan ikhlas serta mendalam di lubuk hati beliau kerana pada waktu itu, tiada lagi sesiapa yang boleh diharapkan membantu kecuali Allah.

Allah berada sangat hampir dengan kita dan mendengar apa yang kita bisikkan.

Oleh itu, kita sebagai orang Islam dan beriman kepada Allah hendaklah sentiasa berdoa dan mengingati Allah sama ada kita berada dalam kesenangan atau kesusahan. Apabila kita sentiasa mengingati Allah ketika senang nescaya Allah akan mengingati kita sewaktu kita susah.

ABDUL HADI SALLEH,
UiTM Melaka.

‘Saya tak mahu pulang ke Aceh’


KLANG: Peristiwa ngeri dilanda tsunami serta hanyut di tengah Lautan Hindi selama lapan hari dan kemungkinan kehilangan semua anggota keluarga menyebabkan Rizal Sahputra (gambar) enggan pulang ke tanah airnya di Aceh.
Sebaliknya, pemuda berusia 23 tahun dari Banda Aceh itu mahu menetap dan bekerja di negara ini bagi meneruskan kehidupan.

“Saya tidak mahu kembali ke sana kerana semuanya sudah musnah. Saya berharap dapat tinggal dan bekerja di negara ini.

“Saya tidak mahu ingat lagi peristiwa ngeri itu. Bencana itu menjadikan saya seorang yang cukup tabah dan percaya segala yang berlaku sudah ditentukan Tuhan.

“Tetapi, saya lebih rela menetap di negara anda daripada kembali ke sana dan dibayangi kejadian menggerunkan itu,” kata Rizal, 20, yang hanya memakan kelapa, mi segera, serbuk Milo dan minum air hujan ketika berseorangan di atas rimbunan pokok sejak 26 Disember sehingga di selamatkan Isnin lalu.

Beliau ditemui ketika dirawat di Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) di sini, semalam.

Anak kedua daripada tiga beradik itu berkata, selepas dibenarkan keluar dari hospital, beliau bercadang memulakan hidup baru dan mencari kerja secara sah di Malaysia.

Beliau yang masih sedih dengan kejadian itu berkata, kepulangannya ke Aceh tidak bermakna kerana semua ahli keluarganya dipercayai terkorban dalam bencana itu.

Rizal ditemui kira-kira 100 batu nautika dari pantai Aceh dengan hanya memakai kemeja-T jingga dan berseluar pendek hijau tua, sedang berdiri di timbunan pokok yang terapung.

Kelibatnya yang melambai ke arah kapal, dikesan anak kapal kontena Durban Bridge di Lautan Hindi pada kedudukan longitud 58.4 darjah utara dan 93.4 darjah timur, kira-kira jam 5.20 petang waktu tempatan.

Rizal kini beransur sihat dan semakin bertenaga selepas mendapat rawatan serta makanan secukupnya di hospital.

“Saya juga gembira dan sangat terharu kerana ramai warga Indonesia yang menetap di negara ini datang melawat. Kedatangan mereka dapat mengurangkan kesakitan saya.

“Walaupun sedih kehilangan ahli keluarga, saya bersyukur kerana diberikan peluang untuk terus hidup,” katanya dalam nada sebak sambil menitiskan air mata.

Sementara itu, Timbalan Pengarah HTAR, Dr Ismail Mohd Yusof, berkata Rizal yang mengalami banyak luka pada kedua-dua kaki kini stabil dan beransur pulih.

Beliau berkata, mangsa perlu berehat dan diberikan rawatan rapi, manakala lukanya sudah dibalut dan disapu antibiotik untuk mengelakkan ia merebak.

“Kita akan membawa Rizal bertemu pakar kaunseling supaya trauma yang dialaminya dapat dikurangkan. Dia mungkin dibenarkan keluar hospital jika semuanya baik,” katanya.

Terdahulu, Setiausaha Parlimen Kementerian Penerangan, Noriah Kasnon dan Ketua Wanita Umno Selangor, Datin Paduka Seripah Noli Syed Hussin menyampaikan sumbangan RM500 kepada Rizal.

KETUA pegawai kapal
Durban Bridge, Huang
Wen Peng, menunjukkan
barang serta bungkusan
makanan yang ditemui
bersama Rizal.


‘Saya baca doa tahan lapar’
Rizal tak tinggal solat sepanjang 8 hari di Lautan Hindi
Oleh Fazallah Pit dan Norakmah Mat Youb
PELABUHAN KLANG: Rizal Sahputra, mangsa tsunami dari Aceh yang terapung di Lautan Hindi selama lapan hari sebelum diselamatkan sebuah kapal kontena Isnin lalu, sentiasa membaca doa menahan lapar dan tidak meninggalkan solat sepanjang berada di lautan.


Rizal, 20, yang berasal dari Banda Aceh berkata, sebelum diselamatkan anak kapal Durban Bridge Isnin lalu, beliau tidak pernah berhenti membaca doa tahan lapar dan memohon semoga selamat daripada bencana yang dihadapinya.

Menceritakan pengalamannya, Rizal berkata, ketika tsunami melanda Banda Aceh pada tengah hari 26 Disember lalu, dia bersama beberapa rakannya menyertai satu gotong-royong membina sebuah masjid.

“Ketika sedang membuat masjid, tiba-tiba datang kanak-kanak yang menjerit ‘lari, ombak besar’. Masya-Allah, saya nampak ombak besar datang lalu terus berlari dan memanjat sebuah gedung (kedai) dua tingkat.

“Bagaimanapun, ombak yang merempuh itu terlalu besar sehingga menyebabkan semua tenggelam, saya seorang saja tinggal. Kemudian, datang lagi ombak yang lebih besar, setinggi kira-kira 15 meter dan saya terus dihanyutkan ke laut.

“Ketika itu saya lihat mayat di sekeliling saya. Kiri, kanan semuanya mayat tetapi saya enggak (tidak) takut, cuma saya terfikir... alah kalau-kalau orang tua saya sudah meninggal, ya udah (andainya orang tua saya sudah meninggal, apa nak buat),” katanya.

Lelaki dengan ketinggian 1.67 meter dan berat badan 55 kilogram itu ditemui sejurus selepas kapal Durban Bridge berlabuh di Dermaga 21, Pelabuhan Utara di sini, kira-kira jam 7.30 pagi, semalam.

Kapal itu tiba lewat daripada jangkaan awalnya jam 2 pagi berikutan masalah tertentu, termasuk cuaca. Rizal kemudiann dihantar dengan ambulans ke Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR), Klang bagi mendapatkan rawatan lanjut dan keadaannya dilaporkan stabil.

Rizal dijumpai anak kapal Durban Bridge, kira-kira 100 batu nautika dari pantai Aceh dengan hanya memakai kemeja-T jingga dan berseluar pendek hijau tua, sedang berdiri di timbunan pokok yang terapung.

Kelibatnya yang melambai ke arah kapal, dikesan anak kapal itu di Lautan Hindi pada kedudukan longitud 58.4 darjah Utara dan 93.4 darjah Timur kira-kira jam 5.20 petang Isnin lalu, waktu tempatan.

Seorang anak kapal kemudian melemparkan pelampung kepada Rizal yang kemudian terpaksa berenang sejauh kira-kira 100 meter untuk menghampiri kapal berkenaan, sebelum dibawa naik.

Kapten kapal itu, Liu Xiang Ping, kemudian memaklumkan penemuan mereka kepada pihak berkuasa pelabuhan Northport dengan menghantar e-mel dan meminta supaya persiapan dilakukan setibanya di pelabuhan ini.

Jumaat lalu, seorang mangsa tsunami dari Aceh yang dikenali sebagai Malawati, 23, ditemui hidup selepas terapung selama enam hari di Lautan Hindi oleh sebuah bot nelayan yang menangkap ikan tuna.

Malawati yang berasal dari Nunggayo Tenaom, Aceh Jaya selamat tiba dengan kapal berkenaan ke Pelabuhan Tuna Antarabangsa Malaysia Batu Maung, Pulau Pinang kira-kira jam 2 petang, Isnin lalu.

Ditanya mengenai detik paling menyedihkan baginya sepanjang tragedi itu, Rizal yang masih kelihatan lemah berkata, hatinya amat pilu apabila melihat sendiri bagaimana ahli keluarganya ditelan tsunami itu.

“Selain itu, saya juga menyaksikan sendiri bagaimana seorang lagi rakan saya yang masih selamat dengan berpaut di timbunan batang hanyut, hilang dan lemas hanya dua hari sebelum saya diselamatkan kapal ini.

“Barangkali, kini semua keluarga saya sudah meninggal dunia. Saya tidak tahu,” katanya sambil kesedihan terbayang di wajahnya tetapi segera ditahannya dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Rizal yang mengalami banyak luka di kedua-dua belah kaki berkata, sepanjang tempoh di laut, dia terpaksa berpaut pada pokok yang menjadi pelampungnya serta minum air hujan dan air kelapa serta makan makanan yang terapung berdekatannya.

Ketika hanyut katanya, dia juga nampak beberapa kapal dan cuba memberikan isyarat tertentu bagi meminta bantuan tetapi kedudukannya agak jauh manakala seorang anak kapal lain sekadar membalas lambaiannya.

Rizal berkata, dia juga pernah jatuh ke laut beberapa kali berikutan ombak kuat pada 26 hingga 29 Disember lalu kerana gagal berpaut pada batang pokok yang menjadi pelampungnya, tetapi berjaya naik semula.

Ditanya bagaimana dia boleh terselamat sedangkan hanyut lama di laut, Rizal berkata: “Segalanya berkat izin dan kebesaran Allah. Allah mengizinkan saya panjang umur... maka ya, saya panjang umur,” katanya.

Sementara itu, Penolong Pegawai Keselamatan Northport, Inspektor Polis Bantuan Abdul Rashid Harun, berkata Rizal memberitahunya yang dia mengamalkan bacaan doa menahan lapar dan tidak meninggalkan solat sepanjang terapung di laut.

Beliau yang berkesempatan berbual dengan mangsa sebaik saja kapal itu berlabuh di Pelabuhan Utara berkata, mungkin berkat doa dan solat, menyebabkan Rizal mampu menahan kelaparan selama lapan hari.

“Cuma, banyak kesan luka di kedua-dua kakinya dan Rizal nampak lemah serta keletihan tetapi dia boleh berjalan dan bercakap,” katanya.

Pegawai Northport yang pertama menerima maklumat mengenai penemuan Rizal berkata, e-mel Durban Bridge disedari kira-kira jam 9 pagi semalam dan beliau terus memaklumkannya kepada ejen kapal, pegawai kanan serta Pusat Mencari dan Menyelamat Maritim (MRCC

Susilo minta tentera ditempatkan serta-merta
JAKARTA 6 Jan. - Indonesia hari ini menggesa negara-negara ASEAN supaya mempastikan pasukan tentera mereka boleh ``ditempatkan dengan serta-merta'' untuk menjalankan misi pemulihan sebagai sebahagian daripada pelan tindakan kecemasan serantau.
Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono berkata, negara-negara anggota ASEAN boleh berusaha lebih keras lagi untuk membantu satu sama lain semasa dilanda malapetaka.
``Apabila kita bercakap tentang `komuniti masyarakat prihatin' di rantau ini, kita sedang merujuk kepada kerjasama besar-besaran seumpama ini,'' katanya semasa berucap merasmikan Mesyuarat Khas Ketua-Ketua Negara ASEAN Mengenai Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di sini hari ini.
Beliau juga mengumumkan beberapa langkah untuk dilaksanakan bagi membolehkan negara-negara ASEAN membantu satu sama lain secara lebih cepat dan lebih berkesan.
Langkah-langkah itu juga katanya, melibatkan kerjasama lebih erat di antara kerajaan-kerajaan ASEAN dan bantuan ketenteraan yang lebih meluas.
Beliau mengumumkan satu ``pelan tindakan'' yang telah pun dilaksanakan untuk membentuk Komuniti Keselamatan ASEAN yang membolehkan pasukan tentera dan logistik dari negara-negara anggota ditempatkan segera untuk operasi pemulihan dan menyelamat.
``Marilah kita bertindak bersama-sama bagi memperkukuhkan pelan tindakan ini dengan mewujudkan satu mekanisme bagi membolehkan sumber-sumber pertahanan awam dan tentera digunakan dengan serta-merta bagi menyelamatkan nyawa semasa berlakunya sesuatu bencana,'' kata Yudhoyono.
Beberapa negara ASEAN, terutamanya Singapura dan Malaysia, telah pun memainkan peranan dalam membantu Indonesia yang kini berhempas pulas untuk menangani malapetaka gempa bumi dan ombak besar yang telah meragut sekurang-kurangnya 94,200 nyawa di wilayah Aceh setakat ini.
Singapura dan Malaysia membenarkan lapangan terbang tentera di negara masing-masing digunakan sebagai transit untuk beratus-ratus pesawat antarabangsa yang menghantar bantuan ke Indonesia.
Kedua-dua negara itu juga menyediakan pesawat pengangkutan dan helikopter.
Susilo turut menggesa supaya dilaksanakan segera program pengurusan bencana serantau ASEAN, yang membenarkan negara-negara anggota membentuk satu sistem bagi menyelaras dan membantu penyaluran bantuan di seberang sempadan.
``Marilah kita menterjemah komitmen itu menjadi satu realiti yang konkrit,'' katanya. - AFP

Mayat orang Islam mangsa tsunami di Aceh boleh dibakar?
Oleh: MOHD. KHUZAIRI ISMAIL
KUALA LUMPUR 6 Jan. - Beberapa tokoh agama berbeza pendapat berhubung sama ada mayat umat Islam mangsa ombak besar tsunami di Aceh yang berjumlah berpuluh-puluh ribu boleh dibakar atau sebaliknya.
Mufti Negeri Perak, Datuk Harussani Zakaria berpendapat, mayat umat Islam boleh dibakar mengikut syarat menjaga yang hidup lebih utama daripada yang telah meninggal dunia.
Katanya, sekiranya pelbagai pihak termasuk pakar perubatan dan ulama telah bersetuju bahawa membakar mayat boleh mengelakkan bencana penyakit yang lebih dahsyat berlaku, maka ia dibenarkan oleh Islam.
``Dalam situasi di Aceh, pakar dan ulama di sana perlu memastikan adakah sekiranya mayat tersebut tidak dibakar, ia akan menyebabkan lebih banyak nyawa terkorban berbanding akibat tragedi tsunami.
``Jika tidak, usaha menanam mayat mesti diutamakan dan jika sebaliknya, membakar mayat dibolehkan di bawah maksud darurat iaitu mengharuskan yang terlarang,'' ujarnya kepada Utusan Malaysia.
Kemudahan asas yang musnah di Aceh menyebabkan jentera-jentera pengorek gagal dibawa masuk ke wilayah itu. Ini menyebabkan banyak mayat terbiar dan tidak boleh diuruskan dengan sempurna.
Laporan Utusan Malaysia di wilayah itu hari ini mendapati masih banyak mayat di tepi jalan, di dalam bangunan dan sungai.
Mufti Negeri Johor, Datuk Noh Gadut pula berpendapat, mayat umat Islam wajar dihormati sebaik mungkin termasuk dimandi, dikafan dan disembahyangkan sebelum ditanam mengikut lunas ajaran Islam sebenarnya.
``Membakar mayat tidak dibenarkan dalam agama Islam kerana selain menyeksa mayat, ia juga meniru sesetengah agama lain yang berbuat demikian,'' katanya ketika dihubungi Utusan Malaysia di sini.
Menurut Noh, bagi menguruskan mayat dalam situasi darurat seperti di Aceh, ia boleh dilakukan mengikut kemampuan termasuk mengkafankan mayat dengan satu lapisan kain sahaja selain ditanam beramai-ramai dalam satu liang lahad yang besar.
Tambahnya lagi, penyebaran penyakit akibat mayat yang reput juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membakar mayat umat Islam kerana ia boleh dicegah melalui penggunaan teknologi dan rawatan perubatan.
``Mayat pengidap HIV pun kita uruskan mengikut lunas Islam walaupun risiko jangkitan penyakit adalah tinggi, apatah lagi mereka yang ditimpa nasib malang seperti tragedi itu,'' jelasnya.
Bagaimana pun, Noh berkata, keputusan tersebut terserah kepada Indonesia melalui majlis fatwa negara berkenaan kerana mereka lebih memahami situasi dan keadaan yang berlaku di negara itu.
Bagi pendakwah bebas, Md. Daud Che' Ngah lain pula pendapatnya, Islam mengharamkan mayat umatnya dibakar kerana menghormati dan memuliakan mayat tersebut.
``Dalam Surah Toha ayat 55 ada mengatakan yang bermaksud: Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu seterusnya daripadanyalah Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.
``Dengan itu, seluruh ulama mengatakan bahawa semua mayat-mayat hendaklah dikebumikan (dikembalikan ke dalam tanah) sebagai mematuhi ayat tersebut,'' katanya.
Tambahnya, bagi menguruskan mayat dalam jumlah yang banyak seperti di Aceh, ia boleh dikebumikan dalam satu liang lahad yang besar dan ditutup dengan kain kapan yang panjang dan dialas dengan papan sebelum ditanam.
Katanya lagi, mayat-mayat tersebut juga walaupun mungkin berlainan agama boleh dimandikan secara direnjis air dan disembahyangkan sebelum ditanam bersama-sama.
``Mayat umat Islam yang meninggal akibat kebakaran pun kita usahakan untuk ditanam walaupun hanya abunya sahaja,'' jelasnya lagi.

Ambil pengajaran hubungan tsunami, masjid
Saudara Pengarang,
MALAWATI seorang muslimah dari Aceh yang berusia 23 tahun terselamat dari bencana tsunami setelah berpaut pada pokok nipah selama enam hari di lautan.
Beliau ketika tsunami menyerang sedang berlari menuju ke masjid.
Rizal Shahputra muslim Aceh yang berusia 20 tahun, terapung selama sembilan hari di tengah lautan berpaut pada pokok kelapa, tidak meninggalkan solat walau satu waktu pun sepanjang tempoh terapung di lautan.
Beliau ketika tsunami menyerang, sedang membina masjid.
Dua orang kanak-kanak di Sri Lanka menjadi yatim piatu apabila ibu bapa menjadi mangsa korban tsunami.
Kedua kanak-kanak ini berada di masjid ketika tsunami menyerang rumah mereka.
Masjid di Kampung Masjid Terapong, Tanjung Bungah, Pulau Pinang tidak mengalami kerosakan bahkan dikatakan lantai dan permaidaninya kering, walhal rumah di sekeliling dilanda ombak besar.
Semua ini ada tanda-tanda peringatan Allah s.w.t. untuk kita ambil sebagai pengajaran.
Adakah benar kita telah merasa insaf?
Adakah jemaah yang hadir solat lima waktu ke masjid atau surau di tempat kediaman kita bilangannya adalah sama, bertambah atau berkurang selepas tsunami?
Adakah derma kita kepada masjid, surau, anak-anak yatim, orang-orang susah di sekeliling kita bertambah selepas tsunami ?
Adakah kita masih mencari kelemahan orang lain, mengumpat orang lain, mempunyai perasaan hasad-dengki terhadap orang lain selepas tsunami ?
Adakah kita sudah mencari kelemahan diri kita, kesilapan diri kita selepas tsunami?
Marilah kita menilai diri kita apakah benar kita telah mengambil pengajaran daripada tanda-tanda yang Allah berikan melalui peristiwa ini? - ROZMAL MALAKAN, Senawang, Negeri Sembilan.

5.1.05


Pesisir pantai Aceh

Tsunami carnage shocks Powell
Wednesday, January 5, 2005 Posted: 8:49 AM EST (1349 GMT)
BANDA ACEH, Indonesia (CNN) -- U.S. Secretary of State Colin Powell has taken a firsthand look at the tsunami-ravaged Indonesian province of Aceh by helicopter, saying he was shocked by what he saw.
"I have never seen anything like this," Powell, a military veteran, told reporters at a news conference in the provincial capital of Banda Aceh following a two-hour helicopter tour of the surrounding area with Florida Gov. Jeb Bush, President Bush's brother.
"We've all seen pictures on our television sets and in our newspapers of the damage that occurred here, but only by seeing it in person from a helicopter flying low over the city can you get a real appreciation of what it must have been like when the tsunami came through and caused so much death and destruction."
Powell spoke shortly before millions of people in Europe observed three minutes silence to mourn the dead and the missing. (Full story )
Meanwhile, German Chancellor Gerhard Schroeder announced that his country was pledging 500 million euros ($660 million) for the tsunami-stricken area.
Hundreds of villages along the coast of Sumatra have vanished. All that remains are a few blocks or pieces of wood -- and in some cases a mosque, better built than other buildings.
Roads and bridges, too, are gone, making reaching the survivors -- who would have been forced to flee into the hills, mountains and rain forests beyond the coast -- all but impossible.
Banda Aceh airport has become the nerve center of the relief effort following the disaster that has killed at least 94,000 people on the northwest end of the Indonesian island of Sumatra.
Aid packages for Indonesia are being flown first to Medan, on the east coast, then northwest by airplane to Banda Aceh, where U.S. helicopters fly aid to survivors where they are found.
When the helicopters return to the airport, they usually bring a load of seriously injured people who have gone without medical care for 10 days. With hospitals full, many are being treated at a makeshift medical clinic at the airport.
Many of those less seriously injured are walking up the beach, subsisting on coconuts as they try to make their way to help.
Powell, who will brief the president and members of Congress when he returns to Washington, said the trip gave him a better understanding of the needs of Banda Aceh and the challenges facing the Indonesian government.
The United States will increase the number of helicopters working out of Banda Aceh, Powell said, without giving specifics.
Washington has said it plans to double the number of U.S. military helicopters operating in the tsunami-stricken regions from 46 to more than 90. (Full story )
The death toll from the earthquake and tsunamis, which shattered tourist resorts and seaside communities from Thailand to East Africa, has topped 155,000.
The United States has thrown its financial and military weight into southern Asia relief efforts, not to gain favor in the Islamic world, but because it's what Americans do, Powell said earlier.
"We are doing it regardless of religion," Powell said, "but I think it does give the Muslim world -- and the rest of the world -- an opportunity to see American generosity, American values in action, where we care about the dignity of every individual and the worth of every individual." (Full story )
Indonesia is the largest Muslim nation in the world and was the hardest hit by the disaster.
The United States has so far pledged $350 million for relief efforts, and Powell promises more if it is needed "because of the human dimensions of this catastrophe."

Other developments
Indonesian authorities have taken steps to protect displaced or orphaned children from traffickers after last week's disaster, barring people from leaving the country with children under 16 from its hard-hit Aceh province. (Full story )
Sweden has begun paying homage to the many nationals who died, putting on a formal and symbolic ceremony for the first bodies returning to home soil. (Full story )
Myanmar's rocky shoreline and the angle of the coast prevented the damage that killed more than 5,000 in Thailand and thousands more on India's Andaman Islands which are about 200 miles (320 km) off the coast, a Red Cross official has told CNN (Full story )

Marines in Sri Lanka
Meanwhile, a contingent of U.S. Marines has arrived in Sri Lanka, charged with Herculean humanitarian tasks left in the wake of last month's tsunamis.
Between 900 and 1,200 Marines will be deployed in Sri Lanka, along with heavy-lifting helicopters, bulldozers, generators and tons of food, water and medical supplies.
Indian officials report that almost 6,000 people are missing on the Andaman and Nicobar islands, which run northward from Sumatra in the Bay of Bengal. Most of those -- more than 4,600 -- are missing from a single small island, Katchal.
India has experienced the same difficulties as Indonesia in reaching the remote islands, which are closer to Indonesia and Thailand than to their mother country. And, because they are islands, access is even more limited as few have any place to land an aircraft and the waves destroyed boat docks.
U.N. Secretary-General Kofi Annan said the world has donated or pledged more than $2 billion for the relief effort, and more will be needed.
He said he will launch a fresh appeal after Thursday's meeting of ASEAN countries.
CNN Correspondents Mike Chinoy in Aceh, Satinder Bindra in Sri Lanka, and Aneesh Raman contributed to this report

4.1.05


6 hari terapung di laut
Wanita Aceh berpaut pada pokok kelapa hanyut
Oleh Baharin Ramly
GEORGETOWN: Berpantang maut sebelum ajal, demikianlah nasib seorang wanita Aceh yang diselamatkan sebuah bot nelayan Malaysia ketika berpaut pada sebatang pokok kelapa hanyut di tengah Lautan Hindi pada Jumaat lalu, enam hari selepas bencana tsunami melanda rantau ini.
Ketika ditemui, Malawati dikatakan hanya berseluar dalam dan bercoli dengan kedua-dua kakinya luka, dipercayai dipatuk ikan ketika berpaut pada batang kelapa itu dengan kakinya terjuntai ke dalam laut.

Beliau yang dihanyutkan ombak besar selepas gempa bumi di perairan Aceh pada 26 Disember lalu, dipercayai hanya memakan beberapa bungkus mi segera yang ditemuinya terapung serta memamah isi kelapa muda, ketika bertarung dengan maut selama enam hari di lautan.

Malawati, dari Nunggayo Tenaom, Aceh Jaya, yang kelihatan lemah ketika tiba dengan bot itu di Pelabuhan Tuna Antarabangsa Malaysia di Batu Maung, dekat sini kira-kira jam 2 petang semalam, terus dikejarkan ke Hospital Pulau Pinang (HPP). Sehingga malam tadi, media belum dibenar menemuinya.

Pegawai dari pejabat Konsul Jeneral Indonesia, Helena Ferat, yang menemui Malawati di HPP, berkata wanita itu bersama suaminya berada di rumah mereka, kira-kira dua kilometer dari pantai, ketika gempa bumi melanda Aceh.

Mereka lari dari rumah untuk mencari tempat berlindung di sebuah masjid berdekatan tetapi belum sempat tiba ke masjid itu, ombak besar berada di belakang lalu menghanyutkan mereka.

Selepas itu, Malawati mendapati dirinya terapung di permukaan air dan suaminya entah ke mana. Mulanya ada beberapa orang lain di sekitarnya, tetapi dia hanya tinggal seorang diri sehari selepas itu.

Menurut Helena, Malawati memberitahu dia terserempak dengan beberapa ikan besar, tetapi bernasib baik kerana tidak dibaham oleh ikan itu.

“Ketika ditemu bual, dia menyatakan keinginan pulang ke Aceh Jaya untuk mencari suaminya, seorang nelayan,” kata Helena.

Ketibaan Malawati bersama tekong dan awak-awak bot itu disambut oleh Pengerusi Jawatankuasa Pertanian dan Industri Asas Tani Negeri, Datuk Azhar Ibrahim, yang mewakili kerajaan negeri; Konsul Jeneral Indonesia di Pulau Pinang, Erick Hikmat Setiawan; Penasihat Konsul, Noro Mudiyanto Adisasmito; Pengerusi Eksekutif Hong Xiang, Datuk Mohamad Waj-di Ishak dan Pengurus Pelabuhan Lembaga Kemajuan Ikan Malaysia (LKIM), Goi Kim Par.

Sementara itu, awak-awak bot berkenaan, Rizal Sarno Santoso, berkata dalam perjalanan pulang daripada menahan pukat tuna di Lautan Hindi, dia melihat mangsa duduk di atas batang kelapa yang hanyut sambil melambai tangan.

“Saya memberitahu tekong dan kami segera menyelamatkan mangsa. Kami memberikannya pakaian awak-awak bot untuk menutup tubuhnya sebelum diberi minum dan makanan,” katanya.

Tekong bot, Chern Dah Rong, berkata mangsa kelihatan seperti seekor burung di atas batang pokok kelapa yang hanyut.

“Selepas mangsa diselamatkan, saya segera menghubungi majikan di Pulau Pinang melalui radio,” katanya.

Bot pukat tuna milik Hong Xiang Industries Sdn Bhd yang mempunyai lapan awak-awak termasuk empat dari Indonesia itu, keluar ke Lautan Hindi sebelum 26 Disember lalu.

“Ketika dalam perjalanan pulang saya diberitahu awak-awak dari Indonesia ada orang hanyut di atas batang kelapa dan saya segera memperlahankan bot untuk mengambil mangsa,” katanya.

Azhar pula berkata, kerajaan negeri akan memberi layanan sewajarnya kepada mangsa termasuk rawatan perubatan di HPP sebelum diserahkan kepada polis dan Jabatan Imigresen untuk tindakan selanjutnya.

2.1.05

Mangsa cerita pengalaman sambut mayat bayi `tersenyum'

Mangsa cerita pengalaman sambut mayat bayi `tersenyum'
Oleh: FAUZIAH AROF

PUTRAJAYA 1 Jan. - Menyambut mayat bayi yang dihulurkan seorang lelaki yang tertimbus dalam rekahan tanah adalah antara pengalaman yang tidak dapat dilupakan oleh pelajar Malaysia yang terselamat dalam gempa bumi dan ombak tsunami di Acheh, Indonesia.

Shahrul Iswar Idris, pelajar Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Acheh berkata, bayi berusia dalam lingkungan satu tahun itu berlumuran darah tetapi air mukanya tenang dan seolah-olah tersenyum.

``Mungkin lelaki itu bapanya kerana dia menjerit kepada saya bahawa dia hendak mencari beberapa orang lagi anaknya dalam timbusan tanah itu,'' katanya ketika ditemui di Wisma Putra, di sini hari ini.

Shahrul antara 18 pelajar Malaysia dari Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry dan seorang ahli perniagaan yang selamat tiba di Lapangan Terbang Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), Subang pada pukul 10.15 malam tadi.

Semua mangsa diterbangkan dari Lapangan Terbang Medan pada kira-kira pukul 8.30 malam menggunakan pesawat C130 Hercules TUDM yang diketuai oleh Mejar (U) Saidi Ali Sahul.

Shahrul pelajar tahun akhir jurusan Usuluddin di institut itu berkata, peristiwa tersebut berlaku pada hari kejadian gempa bumi dan ombak besar tsunami Ahad lalu setelah air mulai surut dan orang ramai yang terselamat mencari saudara-mara yang hilang.

Sewaktu kejadian, katanya, dia dalam kawasan institut tetapi terpaksa melarikan diri kerana mendengar teriakan orang ramai bahawa ada limpahan air yang kuat dari arah laut yang terletak kira-kira tiga atau empat kilometer dari institut itu.

``Saya meletakkan mayat bayi itu di tempat yang selamat supaya tidak dilanggar oleh sesiapa. Sebahagian besar mayat-mayat itu, katanya, adalah bayi, kanak-kanak dan orang tua yang tidak sempat menyelamatkan diri,'' katanya.

Dia yang berasal dari Guar Cempedak, Kedah berkata, keadaan mula disedari teruk apabila air surut yang menyaksikan banyak mayat bergelimpangan.

Rakannya, Nor Affida Abdul Razak, 24, yang berasal dari Sik, Kedah pula berkata, dia melihat keperitan dan penderitaan mangsa-mangsa yang kehilangan keluarga di sana.

``Ada yang hanya membawa anggota badan keluarga mereka yang terkorban seperti tangan dan kaki sambil meratap dan meraung. Keadaan ini menjadi trauma kepada saya,'' katanya.

Affida, pelajar jurusan syariah berkata, dia dan rakan-rakannya sempat mengambil paspot antarabangsa dan berlari ke kawasan yang selamat.

Pelajar jurusan usuluddin, Nurul Faezah Yahya, 22, berkata, dia dan beberapa pelajar Malaysia yang terselamat mencari perlindungan di sebuah masjid yang dijadikan penempatan sementara untuk mangsa-mangsa gempa bumi itu.

``Di sana, kami tidur di atas rumput dan makan apa sahaja yang ada. Kami hidup dalam ketakutan kerana bimbang gempa bumi dan ombak besar berulang,'' jelasnya.

Dalam pada itu, Syafarini Ahmad Ahyat, 24, berkata, sesiapa sahaja akan mengalami trauma jika berada di Banda Acheh pada ketika kejadian sehingga sekarang.

``Sehingga kami menaiki pesawat untuk pulang ke Malaysia, kawasan itu masih dipenuhi mayat dan kami dapat melihatnya dari udara dengan jelas,'' katanya.

Bagi Mohd. Sayuti Mokhyiddin dari Baling, Kedah, dia dan rakannya bergegas ke bilik masing-masing untuk mengambil pasport dan mahu menyelamatkan diri ke tempat selamat ketika gempa bumi sedang berlaku.

Bagaimanapun jelasnya, air naik dengan pantas serta bergelombang kira-kira 100 meter di belakangnya, menyebabkannya mengambil keputusan berlari ke arah masjid.

``Meskipun saya berlari laju tetapi air yang datang lebih laju lagi sehingga saya terjatuh akibat pukulan gelombang itu.

``Pada masa itu saya sempat berpaut pada sebatang tiang dan memanjat melepasi paras air,'' katanya.

Menurut Mohd Sayuti, selepas 30 minit, air mula surut dan beliau ke masjid berjumpa rakan-rakan.

Bagaimanapun katanya, air naik semula menyebabkan semua yang berada di masjid terpaksa memanjat bumbung untuk menyelamatkan diri.

Mahadzir Zamri, 28, dari Kampung Gajah, Perak pula berkata, gegaran pertama gempa bumi di kawasan berkenaan menyebabkan 20 orang maut dan setiap minit muncul berita kematian baru.

Menurutnya, pada masa itu semua orang itu panik dan terdengar jeritan di mana-mana sahaja manakala pelajar-pelajar Malaysia telah berjanji akan berkumpul di masjid jika berlaku sebarang perkara yang tidak diingini.

Dia yang berasal dari Guar Cempedak, Kedah berkata, keadaan mula disedari teruk apabila air surut yang menyaksikan banyak mayat bergelimpangan.

Rakannya, Nor Affida Abdul Razak, 24, yang berasal dari Sik, Kedah pula berkata, dia melihat keperitan dan penderitaan mangsa-mangsa yang kehilangan keluarga di sana.

``Ada yang hanya membawa anggota badan keluarga mereka yang terkorban seperti tangan dan kaki sambil meratap dan meraung. Keadaan ini menjadi trauma kepada saya,'' katanya.

Affida, pelajar jurusan Syariah berkata, dia dan rakan-rakannya sempat mengambil pasport antarabangsa dan berlari ke kawasan yang selamat.

Pelajar jurusan Usuluddin, Nurul Faezah Yahya, 22, berkata, dia dan beberapa pelajar Malaysia yang terselamat mencari perlindungan di sebuah masjid yang dijadikan penempatan sementara untuk mangsa-mangsa gempa bumi itu.

``Di sana, kami tidur di atas rumput dan makan apa sahaja yang ada. Kami hidup dalam ketakutan kerana bimbang gempa bumi dan ombak besar berulang,'' jelasnya.

Dalam pada itu, Syafarini Ahmad Ahyat, 24, berkata, sesiapa sahaja akan mengalami trauma jika berada di Banda Acheh pada ketika kejadian sehingga sekarang.

``Sehingga kami menaiki pesawat untuk pulang ke Malaysia, kawasan itu masih dipenuhi mayat dan kami dapat melihatnya dari udara dengan jelas,'' katanya.

Bagi Mohd. Sayuti Mokhyiddin dari Baling, Kedah, dia dan rakannya bergegas ke bilik masing-masing untuk mengambil pasport dan mahu menyelamatkan diri ke tempat selamat ketika gempa bumi sedang berlaku.

Bagaimanapun jelasnya, air naik dengan pantas serta bergelombang kira-kira 100 meter di belakangnya, menyebabkannya mengambil keputusan berlari ke arah masjid.

``Meskipun saya berlari laju tetapi air yang datang lebih laju lagi sehingga saya terjatuh akibat pukulan gelombang itu.

``Pada masa itu saya sempat berpaut pada sebatang tiang dan memanjat melepasi paras air,'' katanya.

Menurut Mohd Sayuti, selepas 30 minit, air mula surut dan beliau ke masjid berjumpa rakan-rakan.

Bagaimanapun katanya, air naik semula menyebabkan semua yang berada di masjid terpaksa memanjat bumbung untuk menyelamatkan diri.

Mahadzir Zamri, 28, dari Kampung Gajah, Perak pula berkata, gegaran pertama gempa bumi di kawasan berkenaan menyebabkan 20 orang maut dan setiap minit muncul berita kematian baru.

Menurutnya, pada masa itu semua orang panik dan terdengar jeritan di mana-mana sahaja manakala pelajar-pelajar Malaysia telah berjanji akan berkumpul di masjid jika berlaku sebarang perkara yang tidak diingini.

Kita terdedah tsunami -- Akibat tindakan banyak negara uji senjata nuklear di dasar laut


SEBAHAGIAN penduduk Aceh melalui jalan raya di Leupung yang runtuh akibat gempa bumi untuk kembali ke Banda Acheh bagi mendapatkan perlindungan dan makanan, semalam

Kita terdedah tsunami -- Akibat tindakan banyak negara uji senjata nuklear di dasar laut
Oleh: HASHNAN ABDULLAH
KUALA LUMPUR 1 Jan. - Malaysia antara negara yang dijangka terus dilanda oleh ombak besar tsunami ekoran tindakan negara kuasa nuklear yang kerap mengadakan ujian ke atas senjata itu dalam perut bumi termasuk di dasar laut.
Pensyarah di Jabatan Geologi Universiti Malaya (UM), Prof. Madya Mohd. Ali Hasan berkata, tindakan negara kuasa nuklear tersebut menyebabkan pergerakan dalam perut bumi bergerak dengan lebih cepat berbanding secara semula jadi.
Beliau tidak menolak kemungkinan jika berlaku gegaran yang melebihi 5 pada skala Richter di Pulau Sumatera akan memberi kesan kepada kawasan di sepanjang pantai barat Semenanjung Malaysia.
``Kejadian itu akan terus berlaku bukan hanya pada negara yang berada dalam jajaran Lilitan Api tetapi juga negara yang berhampiran.
``Antara negara itu adalah Indonesia, Jepun, Benua Amerika, New Zealand dan Papua New Guinea,'' katanya kepada Mingguan Malaysia hari ini.
Pada Ahad lalu, tsunami yang berpunca daripada kegelinciran kepingan Plat Lautan Hindi dan Plat Eurasia, 90 kilometer dari Sumatera melanda pada tempat-tempat yang menjadi laluannya saja iaitu Sri Lanka, Tamil Nadu, Acheh, Phuket dan pantai barat Semenanjung.
Gegaran pada sembilan skala Richter di kawasan seluas 250 kilometer ke barat daya Sumatera kelmarin mungkin telah menyebabkan pulau-pulau kecil beralih sehingga 20 meter.
Gempa bumi itu disifatkan paling kuat dalam tempoh 40 tahun dan kesan tsunami mengorbankan beratus ribu nyawa dan memusnahkan banyak kawasan terutama di Banda Acheh, Indonesia dan Sri Lanka.
Di Malaysia, dua kawasan yang teruk dilanda tsunami ialah Pulau Pinang dan Kedah.
Sehubungan itu, Mohd. Ali memberitahu, kerajaan dan masyarakat umum tidak seharusnya terus berpegang kepada pemahaman bahawa negara ini bebas daripada sebarang bencana alam.
``Peristiwa Ahad lalu amat jarang berlaku tetapi pemantauan dan kerjasama antara negara di rantau ini perlu bagi memberi amaran awal,'' katanya.
Dalam pada itu, beliau berkata, sebahagian dari beberapa pulau di utara Sumatera yang dilanda oleh ombak besar tsunami pada Ahad lepas dijangka kekal tenggelam.
Katanya, ia kerana hakisan ombak dan pulau terbabit terletak dalam sempadan pergerakan bumi tersebut.
``Bagi negara yang jauh seperti Malaysia, Thailand, Sri Lanka dan Myanmar, ia berlaku untuk tempoh sementara,'' katanya

1.1.05

10 virus menarik sepanjang tahun

10 virus menarik sepanjang tahun


TAHUN ini menyaksikan pelbagai perkara mengenai virus seperti Sasser atau Mydoom dan peperangan siber antara kumpulan yang berusaha bersungguh-sungguh untuk membebaskan virus ciptaan mereka ke seluruh dunia (Bagle dan Netsky).



Firma perisian antivirus Panda Perisian mengkelaskan virus mengikut 10 kategori:

Virus yang paling merosakkan: Sasser – kesannya kepada pengguna Internet amat nyata kerana ia mengganggu operasi komputer dan secara maya menyebabkan komputer gagal beroperasi secara normal.

Bagaimanapun, berita baik yang diterima ialah pencipta virus berkenaan kini ditahan dalam penjara akibat perbuatan beliau.

Virus yang paling sofistikated: Noomy.A – virus cecacing yang menjangkiti laman web dan seterusnya menghantar mesej menerusi saluran sembang dan berkeupayaan menyamar seperti mesej normal. Ia tidak memudaratkan komputer pengguna tetapi secara teknikalnya ia adalah virus yang amat kompleks.

Virus yang paling banyak bercakap: Amus.A – virus yang dihasilkan di Turki dan menggunakan enjin percakapan di dalam sistem operasi Window XP. Amus.A akan mengumumkan kehadirannya sebaik saja memasuki komputer.

Virus yang menghasilkan lagu: varian – cecacing Netsky yang mampu menghasilkan pelbagai melodi selama tiga jam sebaik saja menjangkiti komputer.

Virus paling pemalu: cecacing varian Bagle – kerana ia memiliki kelebihan untuk melindungi dirinya daripada dikesan menggunakan fail ZIP kata laluan yang dilindungi untuk menghalang daripada aplikasi antivirus mengimbasnya sebaik saja memasuki komputer. Strategi ini banyak dilakukan kod virus tetapi Bagle dipilih kerana sebaran meluasnya tahun ini.

Virus yang pandai mengambil kesempatan: Zafi.D – sering kali menyamar menggunakan mesej tahun baru untuk mengelirukan mangsanya serta memanfaatkan pelbagai bahasa untuk menyebarkan mesejnya.

Virus yang menyebarkan gambar porno: Tasin.C – menyebarkan gambar selebriti Sepanyol yang terkenal sebaik saja ia dimuat turun.

Virus paling banyak varian: Gaobot – kumpulan virus yang memiliki hampir 2,000 varian terbaru sepanjang tahun ini.

Virus schizophrenik : Bereb.C – ia menggunakan 442 nama berbeza untuk menyebarkan aplikasi perkongsian fail P2P dan berkemungkinan penciptanya tidak dapat mengingati nama fail asalnya.

Virus paling hormat: StartPage.AV, Harnig.B dan Multidropper.AM – kerana ketiga-tiga virus ini akan memaklumkan kepada pengguna setiap kali ia berjaya menguasai komputer.

SEBAHAGIAN anggota penyelamat Malaysia menjalankan operasi pembersihan dan mengalihkan mayat-mayat mangsa kejadian ombak besar tsunami di Banda Acheh, Indonesia semalam. - Gambar Reuters

Kerja baiki Kaabah ambil masa lebih 377 tahun

Kerja baiki Kaabah ambil masa lebih 377 tahun


PADA Rabu, 3 April 1629 berlaku hujan lebat di kota Makkah hingga menyebabkan banjir besar, yang belum pernah berlaku sebelum itu.



Air melimpah masuk ke Masjidil Haram dan menenggelamkan kebanyakan tempat, termasuk Kaabah yang dinaiki air hingga ke paras pintu. Keadaan ini turut menyebabkan air melimpah masuk ke dalamnya.

Pada Khamis, 4 April 1629, dinding Kaabah di sebelah Hijir Ismail dan separuh daripada dinding di antara penjuru Hajar al-Aswad dengan penjuru Iraqi serta dinding di antara penjuru Syami dengan Yamani runtuh. Tangga ke sutuh dalam Kaabah juga runtuh akibat banjir itu.

Pada 13 April 1629, satu ijtimak diadakan di Masjidil Haram yang dihadiri Amir Makkah, Syarif Mas'ud bin Idris, utusan Raja Mesir Husin Agha al-Syawus, ulama serta pembesar bagi membincangkan kerja membaiki Kaabah.

Mereka sepakat memutuskan kerja pembinaan dijalankan secepat mungkin dengan menggunakan dana hasil jualan harta serta barang dalam Kaabah.

Selain itu, mereka menghantar perutusan untuk mendapatkan kebenaran daripada Khalifah Sultan Murad Khan di Istanbul.

Bagaimanapun, hingga November 1629, kerja itu masih belum boleh dimulakan.

Pada 27 Disember 1629, satu perjumpaan diadakan antara Amir Makkah, wakil Sultan Murad Khan, wakil Raja Mesir dan tukang bina al-Mu'allim Ali bin Syamsuddin.

Mereka mengambil keputusan diruntuhkan semua dinding Kaabah hingga ke paras tanah supaya binaan baru kelak akan lebih teguh.

Mereka juga mengambil keputusan supaya tiga dinding dibina mengikut binaan Abdullah bin Zubair, sementara dinding sebelah Hijir Ismail dibina atas asas binaan Hajjaj bin Yusof.

Pada bahagian tempat Hajar al-Aswad ditinggalkan seperti sedia ada.

Bagaimanapun, apabila kerja pembinaan berjalan, bahagian pada sebelah Hajar al-Aswad juga terpaksa diruntuhkan dan dibina baru untuk mengukuh dan mencantikkan binaannya.

Akhirnya kerja pembinaan Kaabah siap keseluruhannya pada 29 Zulhijjah 1040 bersamaan 29 Julai 1631. Pembinaan itu adalah yang terakhir, selepas itu tiada lagi pembinaan dibuat kecuali membaiki kerosakan kecil.

Selepas 377 tahun, kali terakhir pembinaan dan pembaikan dibuat, akhirnya Kerajaan Arab Saudi turut melakukan kerja pembaikan terhadap Kaabah. Ia dimulakan dengan majlis perasmian pada 17 Syaaban 1418 Hijrah (27 Disember 1996) oleh Putera Mahkota Arab Saudi, Putera Abdullah bin Abdul Aziz yang mewakili Raja Fahd bin Abdul Aziz.

Kerja pembaikan dan pengubahsuaian itu, termasuk merombak keseluruhan Kaabah, membuat loteng, memasang tiga batang tiang dan memasang dinding dalam dan luar Kaabah.

Kerja lain adalah memasang lantai dan lantai sutuh dengan marmar serta penyangkut tali pengikat kiswah Kaabah di lantai, tangga dalam Kaabah serta dinding sembilan Hijir Ismail dan Mihzab.

Aceh: Setiap tiga langkah mayat bergelimpangan

Acheh: Setiap tiga langkah mayat bergelimpangan
Oleh: SITI AINIZA KAMSARI

KUALA LUMPUR 31 Dis. - Banda Acheh hancur lebih teruk daripada kesan peperangan manakala setiap tiga langkah terdapat mayat yang bergelimpangan.

Keadaan di wilayah itu pula amat kelam kabut dengan banyak bangunan pentadbiran kerajaan lenyap sementara ramai petugas terkorban.

Gambaran menakutkan ini diceritakan oleh Timbalan Ketua Misi Pasukan Bantuan Kecemasan Malaysia (PBKM) Laksamana 1 Abdul Hadi A. Rashid kepada Utusan Malaysia yang menghubunginya di Banda Acheh hari ini.

Kumpulan PBKM yang terdiri daripada 96 anggota itu tiba di Banda Acheh, kawasan yang dilanda gempa bumi dan ombak besar tsunami, kelmarin.

Beliau yang benar-benar terkejut apabila menyaksikan kehancuran dahsyat Banda Acheh akibat bencana alam itu memberitahu lagi:

``Bercakap tentang mayat mangsa, istilahnya, setiap tiga langkah kita berjalan akan jumpa satu mayat. Ia bergelimpangan di sana sini.''

Abdul Hadi berkata, beliau tidak menyangka sama sekali keadaan di Acheh seburuk itu sehingga menyebabkan mereka sedar tugas kali ini adalah begitu mencabar.

``Lebih mencabar lagi apabila fungsi pentadbiran pihak kerajaan tempatan lumpuh berikutan banyak bangunan kerajaan yang lenyap dan ramai petugas terkorban.

``Keadaan ini lebih menyukarkan kita untuk mendapatkan kerjasama daripada pihak berkuasa tempatan.''

Meskipun begitu, kata beliau, anggotanya akan tetap meneruskan misi mereka untuk mencari dan menyelamatkan mangsa-mangsa gempa bumi dan tsunami.

``Walaupun kita dapat melihat mayat-mayat masih bergelimpangan di sana sini, namun kita lebih menumpukan kepada mangsa yang dipercayai masih lagi selamat tetapi terperangkap terutama pada bahagian bangunan dan sebarang binaan di Banda Acheh.

``Sehingga hari ini, PBKM telah menjumpai 182 mayat di celah-celah runtuhan bangunan terutama premis kedai dan perumahan,'' katanya.

Selain menghadapi masalah kekurangan beg mayat, PBKM menghadapi masalah mengagih-agihkan bekalan makanan kepada mangsa-mangsa yang terselamat.

``Bekalan makanan dilaporkan telah mencurah-curah tiba tetapi disebabkan banyak kenderaan turut musnah dalam bencana ini, ia begitu sukar untuk diagih-agihkan,'' tambah Abdul Hadi lagi.

Dalam pada itu, beliau berkata, seorang ahli perniagaan rakyat Malaysia, Nasharuddin Abu Bakar hampir kehilangan seluruh ahli keluarganya dalam bencana itu.

``Beliau berkahwin dengan rakyat Acheh di sini dan kerana bencana ini, beliau datang untuk mencari ahli keluarganya.

``Mayat dua daripada anaknya telah dijumpai oleh PBKM manakala isteri serta dua anaknya yang lain masih tidak dapat dikesan,'' katanya.

Nasharuddin, kata Abdul Hadi, adalah antara individu yang banyak membantu PBKM bagi melaksanakan misi mereka berikutan ahli perniagaan itu dikatakan lebih mengetahui selok-belok Banda Acheh.

PBKM kata beliau, bekerja bertungkus-lumus siang dan malam menjalankan pelbagai misi termasuk rawatan yang dikendalikan oleh beberapa orang doktor dari Hospital Kuala Lumpur.

``Walaupun kemudahan asas begitu terhad namun usaha-usaha tetap dijalankan bagi menyelamatkan nyawa mangsa yang juga begitu ramai tercedera akibat bencana itu,'' katanya.

ANTARA - National News

Berita Harian

Media Indonesia - Aktual